NovelToon NovelToon
Adek Gue BAD

Adek Gue BAD

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Komedi / Contest / Keluarga / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Dendam Kesumat / Pihak Ketiga
Popularitas:80.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lily Biru

Terlahir dengan nama Ulyana Zahra Fitriangsih, orang tuanya berharap anak mereka tumbuh elok seperti namanya.

Namun, itu semua hanyalah angan semata. Masa lalu mengantarkannya untuk menapaki dunia hitam yang tak seharusnya ia jamah. Bahkan, ia yang memegang kendali atas semuanya.

Satu nama yang tersamarkan di publik, nama yang memuat banyak rahasia. Tidak ada yang tahu apa yang ada di balik punggungnya, tapi ketidaktahuan itu lebih baik dari pada membawa petaka.

Darel Ario Kusuma, seorang kakak yang sangat menyayangi Zahra. Gadis itu segalanya, hidupnya.

Lantas, bagaimana cara Rio menjaga Zahra tanpa kehadiran kedua orangtuanya?

****

Simak terus cerita ini, jangan lupa dukungannya dengan vote, like dan komen.
Terimakasih 🌹

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30. Keluar Rumah Sakit

Terkadang, suatu kebohongan sangat dibutuhkan untuk mencegah suatu keburukan. Bukan tentang dosa, tapi tentang bagaimana menjaga keadaan agar tetap membaik.

.......

.......

.......

Sudah tiga hari Zahra menjalani perawatan di RS Sakura Sakti. Rio dan Rizki telah sampai di RS dan segera membawa adik kesayangan mereka pulang. Sementara itu, Putra dijemput oleh Devan.

Mereka sedang berada di mobil, di depan ada Rio dan sang supir, sedangkan bangku belakang diisi oleh Rizki dan seluruhnya dipenuhi Zahra. Zahra tidur di mobil, dengan paha Rizki menjadi bantalnya.

Setelah menempuh perjalanan selama 20 menit akhirnya mereka sampai di mansion megah mereka.

Rio telah keluar terlebih dahulu dengan Pak Mahes, sementara Rizki bertugas membopong Zahra masuk rumah. Rizki sudah berkali-kali membangunkan Zahra, nyatanya gadis itu masih nyaman dengan mimpinya.

Belum sempat Rizki mengaitkan tangannya pada pinggang Zahra, gadis itu terbangun. Yah, karena Zahra terbangun duluan ia tidak jadi menggendong Zahra.

"Udah sampai, ya?" tanyanya serak, khas suara orang bangun tidur. Rizki mengangguk.

Pria itu kembali ke posisi awal dan membantu Zahra duduk. Mereka berjalan beriringan dengan kepala Zahra yang disandarkan pada lengan Rizki.

Zahra membawa Rizki duduk di sofa yang ada di ruang keluarga sebelum ia ke kamar. Gadis itu ingin beristirahat sebentar sembari mengumpulkan nyawanya yang belum genap. Memejamkan mata dan bersandar di dada bidang Rizki. Rizki sendiri hanya cuek sambil memainkan handphone yang dipegangnya.

Setelah dirasa cukup, Zahra menguap lebar kemudian duduk dengan benar—bersandar pada sofa. Ia menggaruk kepalanya pelan sebelum mengambil remot yang berada di bawah meja, lalu menghidupkan televisi. Perilakunya barusan membuat baju atasnya sedikit tersingkap ke atas, menampilkan area perut yang mulus serta punggung putihnya yang menggoda.

Rizki mencoba mengalihkan pandangan, nyatanya ia tidak melewatkan pemandangan tersebut, ia memandangi bagian tubuh Zahra yang nampak sempurna. Pahatan Tuhan memang luar biasa.

Sedetik saja Rizki nampak sadar akan sesuatu, ia menepuk paha Zahra.

"Ra!"

Zahra menengok dengan menaikkan alis lalu melihat televisi kembali.

"Cowok lo yang mana sih? Gue jadi bingung, perasaan dua-duanya perhatian sama lo."

Zahra terkekeh mendengarnya, ia lupa jika kakaknya ini tidak tahu akan hubungan mereka yang sebenarnya. Menjalin hubungan dengan Putra dan mencintai Devan, sudah nampak seperti play girl belum dia? Gadis itu hanya menggeleng mengingat statusnya yang tidak jelas.

"Nanti lo juga paham sendiri, gue males cerita."

"Ayolah, Ra. Gue kepo tau," desak Rizki.

Zahra menghela napas. "Males," ucapnya sambil menjulurkan lidah.

Saat Zahra berdiri, Rizki menarik pinggangnya, sehingga Zahra kembali duduk di samping pemuda itu.

Rizki mem-baghug Zahra, ia mencium pipi Zahra yang gemas.

"Apa siii!" Zahra kesal karena Rizki terus-terusan menciumi pipinya.

Zahra terengah-engah karena Rizki menggelitiknya, ia mengerucutkan bibir kesal. Dirinya sampai terantuk meja karena Rizki terus menggelitiknya. Alhasil, ia sekarang bersandar pada bagian bawah sofa, sementara Rizki terkekeh kencang di atas.

"Seneng banget?" Suara Rio mengagetkan keduanya.

Rio duduk di depan keduanya sambil meletakkan beberapa cemilan.

Zahra berdiri dengan wajah kusutnya, ia mengabaikan keberadaan Rio lalu menjambak rambut Rizki kuat.

"Ra, sakit, lepas ah!" Semakin Rizki bicara, Zahra semakin kuat menarik rambutnya.

Rio merasa jika adiknya kelewatan. "Dek!" tegur Rio tegas.

Begitu Zahra mendengar suara Rio, ia melepaskan tangannya dengan kesal. "Huft ...." Gadis itu melangkah menjauhi mereka, mungkin kembali ke kamar.

"Panas, kliengan lagi."

Rio menatap Rizki miris, ia lupa jika adiknya itu bisa berubah menjadi macan. "Lo tadi ngapain, sih?"

Rizki kembali merapikan rambutnya yang sudah seperti tertiup angin. "Gue tadi cuma nanya, sebenarnya cowoknya dia itu siapa, terus dia ga mau jawab. Akhirnya gue gelitikin, eh malah dia merusut terus kepentok meja. Tau-tau berdiri terus jambak gue," ucap Rizki dengan kesal.

Rio terkekeh ganteng saja. "Cowoknya itu orang yang masuk rumah sakit bareng dia, Putra. Mereka udah pacaran dari sehabis ospek sampai saat ini. Sementara Zahra sama Devan saling suka. Ga paham juga gue sama hubungan mereka, tapi kata Zahra, dia sama Putra itu pacaran kontrak gitu. Gue juga baru tau."

"Ribet amat, kenapa ga putus aja tuh?"

Rio mengidikkan bahunya. "Entahlah, Zahra masih pengen menikmati pacaran sama Putra, soalnya dulu gue ga ngerestuin hubungan mereka."

Rizki mengangguk kemudian memandang Rio serius. Yang dipandang hanya menaikkan alis bingung.

"Lo ngerasa ga sih, kalau penjelasan Putra soal senjata itu ngada-ngada. Coba lo pikir, ngapain juga sepasang kekasih ngasih hadiah model begitu. Ya gue tau, Zahra itu ga terlalu suka sama yang romantis-romantis—tapi apa ga ada hadiah yang lebih manusiawi? Terus ingat video itu ga, dia sama Putra lihai banget mainin senjata, kayak ga ada takut-takutnya."

Rio menunduk, ia bingung sebenarnya. "Entahlah, Ki. Gue capek kalau harus mikirin itu, tapi gue ga mau mendesak dia. Dulu gue udah pernah nyoba soalnya, dia malah menghindari gue. Gue ga mau kehilangan dia lagi, tunggu aja kapan dia mau bilang yang sebenarnya."

Rizki mengangguk terpaksa, pada akhirnya ia memilih diam. Mengambil camilan yang dibawa Rio kemudian memakannya.

...****...

Empat orang gadis baru saja keluar dari kawasan mall terbesar di Jakarta. Mereka keluar dengan menenteng belanjaan mereka yang banyaknya tidak bisa dihitung. Mulai dari make up, baju, sepatu, dan lain-lain.

Para bodyguard membawakan sebagian besar belanjaan nona mudanya. Mereka masuk ke mobil masing-masing.

Sekelompok orang menghadang mereka, mereka seperti perampok.

"Serahkan gadis-gadis itu pada kami!"

"Tidak. Mereka nona kami, kami tidak akan menyerahkan mereka padamu," ucap bodyguard itu.

"Nona, pergilah! Biar kami yang mengurus!"

Keempat gadis itu bingung harus ke mana, mereka memutuskan kembali ke dalam mall dan berpencar.

Namun, pelarian mereka tidak lebih cepat. Mereka tertangkap, dimasukkan ke mobil dan dibawa paksa.

"Lepaskan kami!" geram mereka.

"Diam! Atau kalian akan bermain dengan kami di sini terlebih dulu." Dalam sekali gertak mereka menciut. Mereka menghela napas dan pasrah, mereka telah salah dalam mempercayai orang asing.

Mereka menuju sebuah rumah gedong yang di dalamnya telah ada empat orang pria yang sedang menunggu mereka.

Salah satu pria berdiri menyambut kedatangan empat gadis tersebut.

"Selamat datang nona-nona manis."

Mereka tersenyum sinis kemudian duduk. "Apa mau kalian?" desis salah satu gadis.

"Mau kita?" tanya salah satu pria pada ketiga sahabatnya.

Mereka menunjukkan smirk-nya. "Kita mau kalian."

Salah satu gadis itu berdiri. "Maksud kalian apa?" Para gadis berdiri mengikuti temannya yang telah berdiri.

Mereka sebenarnya mengerti maksud dari ucapan pria di depannya, tapi mereka hanya pura-pura.

Mereka adalah pria seumuran hanya saja mempunyai tubuh yang lebih berotot dan senang bermain wanita. Tenaga mereka pasti kuat, tidak. Keempat gadis itu tak bisa melawan mereka.

Keempat gadis itu dijebak, awalnya keempat pria itu baik pada mereka. Tapi, setelah tahu mereka yang sebenarnya, mereka ingin kabur. Tapi, sudah terlambat. Keempat gadis itu terjebak oleh pria yang sama sekali tidak dikenalnya.

Mereka ingin kabur, tapi selalu saja tertangkap, bahkan anak buahnya selalu mengawasi keempat gadis itu.

Kaki jenjang gadis-gadis itu ingin beranjak, tapi suara bariton lebih dulu menyahut.

"Bawa mereka ke kamar kami masih-masing, pastikan mereka hanya menggunakan lingerie saat kau membawanya ke kamar kami."

Gadis-gadis berlari, tapi sebuah tangan kekar anak buah pria itu sudah menangkap mereka.

Anak buah menggendong gadis-gadis ala karung beras. Mereka dimasukkan dalam sebuah kamar. Seorang bodyguard yang berada di sana tersenyum iblis, membuat gadis-gadis menundukkan kepala takut.

Mereka menangis di hati masing-masing.

Bodyguard itu dan satu orang lainnya merobek baju yang mereka kenakan dengan tidak berperasaan. Sementara anak buah tadi memegangi gadis yang berontak.

Pakaian mereka telah rusak, tinggal dalaman yang menempel di tubuh mereka.

Mereka dipaksa mengenakan lingerie. Sebelum diantar pada pria-pria itu, bodyguard lebih dulu menampar ****** sintal mereka. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Sampai bagian tubuh yang ditampar memerah dan gadis itu lemas.

Setelah itu mereka dicekoki berbagai minuman dan anehnya setelah meminum itu gadis-gadis tidak lemah lagi.

Mereka butuh pelampiasan.

Orang yang tadi membawa mereka, mengantar mereka menuju kamar tuannya masing-masing.

Terjadilah malam yang panjang antara mereka berdelapan. Para pria menginginkan mereka hingga pagi.

Para gadis pasrah dengan apa yang menimpa mereka, tapi mereka tetap menikmati apa yang pria-pria itu lakukan. Ini semua karena minuman itu, minuman yang membuat mereka ingin ... entahlah.

...****...

Malam ini suasananya cerah, bulan dan bintang terlihat terang dan bersinar, tidak seperti biasanya yang tertimpa mendung.

Seperti biasa, Zahra menikmati malam tenangnya di balkon, menikmati semilir udara dingin yang masuk hingga memenuhi rongga paru-parunya.

Ia ingin menjernihkan pikirannya, ia tidak peduli siapa yang menyerang ia dan Putra tempo hari. Kakak dan abangnya serta mereka sudah pasti mengurusnya.

Netra Zahra melihat ke bawah, beberapa pengawal terlihat sedang berjaga-jaga di samping rumah.

Zahra menghela napas, ia baru saja mendapatkan kabar bahwa markasnya diserang kembali. Ia tak peduli, ia ingin menikmati santainya. Dia menyerahkan tanggungjawab itu pada Revan.

Sebuah ketukan terdengar, diikuti sebuah suara yang memanggilnya.

"Dekkk!"

Zahra berbalik, menutup pintu balkon lalu berjalan membukakan pintu.

"Turun dulu, yuk. Kita makan malam," ajaknya.

Zahra mengangguk, lalu meraih lengan kakaknya dan memelukknya. Entahlah, ia merasa tenang kalau dekat dengan kakaknya.

Rio yang sadar akan perubahan Zahra bingung. "Kenapa?" tanyanya heran.

Gadis itu hanya menggeleng.

Mereka sampai di meja makan, di sana sudah ada dua orang yang menunggu. Kedua orang itu menatap mereka bergantian, Zahra mengabaikan keduanya.

Zahra dan Rio duduk di kursi yang kosong.

"Loh, masih di sini?" tanya Zahra pada pria di sebelahnya.

"Makan dulu, nanyanya ntar. Gue dah laper, lo-nya lama."

"Baiklah Tuan Rizki yang terhormat." Zahra sedikit membungkuk sambil menghadap Rizki.

Rio dan bibi yang baru saja ingin memasukkan makanan ke mulutnya tersenyum. Pemandangan seperti inilah yang mereka inginkan sejak lama.

***

Uye update...

Coba tebak, 4 gadis yang di atas itu siapa? Yang nebak bener ku kasih gift

See you in next chapter ❤️

1
Zalma Fauzia
karya ini sangat sangat sangat bagus ☺️☺️
💞 Lily Biru 💞: terimakasih kak zalma uda baca Uda mampir... untuk up masih aku usahakan ya kaka... makasih bnyak sehat selalu ❤️😭
total 1 replies
Zalma Fauzia
lanjut terus KK ke BAB selanjutnya KK😉
Ir Syanda
Mereka seakan berkata, "Abang2 juga harus ikut!"
Ir Syanda
Simple sih, mereka hanya terlalu sayang sama kamu, Zahra ...
Ir Syanda
Hati2 over dosis weh ...
Ir Syanda
Zahra kenapa?
Ir Syanda
Kembali ke rutinitas, ye kean ...
Ir Syanda
Biasalah ...😌
Ir Syanda
Janinmu tak salah apa2 loh, janganlah sampe diaborsi ...
Manami Slyterin🌹Nami Chan🔱🎻
sip lah
Manami Slyterin🌹Nami Chan🔱🎻
good 👍😎
Manami Slyterin🌹Nami Chan🔱🎻
wow
Radiah Ayarin
Zahra perduli dan tak ingin terulang kesalahan yang kedua
Zaenab Usman 💓
luar biasa 🌹
..
gk baik buruk sangka hrs ttp baek sangka
..
lah adeke nangis lais kowe 🚶🚶
..
wkwkwkwk kutukan cinta
ᖴαуѕнα
kan si Putra malah usaha deketin Una padahal dia masih jadi pacar Zahra, emang gk bener si Putra ini🙄
ᖴαуѕнα
astaga Ra, napa gk sama Devan aja sih daripada sama Putra yg badboy itu
ᖴαуѕнα
Zahra sama Putra kayaknya sering bolos ya🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!