NovelToon NovelToon
Penghubung Tiga Dunia (The Envoy Of Three Realms)

Penghubung Tiga Dunia (The Envoy Of Three Realms)

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: waseng

Di alam semesta, eksistensi terbagi menjadi tiga: Alam Langit (Tempat para Dewa), Alam Manusia, dan Alam Bawah (Tempat Iblis dan Roh). Selama jutaan tahun, ketiga alam ini dipisahkan oleh segel kuno yang kini mulai retak.

Jiangzhu, seorang yatim piatu di desa kecil Alam Manusia, lahir dengan "Nadi Spiritual yang Lumpuh". Namun, ia tidak tahu bahwa di dalam jiwanya tersimpan Segel Tiga Dunia, artefak yang mampu menyerap energi dari ketiga alam sekaligus. Ketika desanya dihancurkan oleh sekte jahat yang mencari artefak tersebut, Jiangzhu bangkit dari kematian dan memulai perjalanan untuk menaklukkan langit, menguasai bumi, dan memimpin neraka. Ia bukan sekadar penguasa; ia adalah jembatan—atau penghancur—tiga dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Aula Penobatan dan Duel Alkemis Gila

Pintu emas di depan Jiangzhu tidak terbuka dengan suara berderit, melainkan bergeser dengan keheningan yang tidak wajar, seolah-olah dilapisi oleh minyak gaib. Begitu ia melangkah masuk, aroma herbal yang sangat tajam menyergap indra penciumannya campuran antara wangi bunga lili yang memabukkan dan bau menyengat dari sulfur serta darah naga yang dikeringkan.

Aula ini luas, namun terasa menyesakkan karena ribuan rak tinggi yang menempel di dinding, penuh dengan toples kaca berisi organ-organ makhluk mistis yang masih berdenyut dalam cairan formalin gaib. Di tengah ruangan, terdapat selusin kuali perunggu raksasa yang di bawahnya menyala api berwarna hijau neon.

"Berhenti!" sebuah suara melengking memecah keheningan.

Seorang pria kecil dengan jubah yang terlalu besar hingga menyapu lantai berlari ke arah mereka. Rambutnya putih acak-acakan seolah baru saja tersambar petir, dan di matanya yang menonjol terdapat kacamata tebal dengan lensa yang berbeda ukuran.

"Darah... darah segar! Tapi tunggu..." Pria itu berhenti tiga langkah dari Jiangzhu, hidungnya kembang kempis mengendus udara. "Bau ini... ini adalah bau kegagalan yang paling sempurna! Dan kau!" Ia menunjuk ke arah Awan. "Kau berbau seperti Jantung Roh yang paling murni yang pernah kulihat!"

Jiangzhu secara insting menyembunyikan Awan di belakang punggungnya, tangannya mencengkeram gagang pedang hitam. "Siapa kau, Pak Tua gila?"

"Gila? Aku adalah Master Zuo, Kepala Alkemis di lantai ini!" Pria itu tertawa histeris sambil memutar-mutar sebuah botol ramuan di tangannya. "Di sini, kekuatan fisikmu tidak berharga. Kau bisa membunuh raksasa di jembatan sana, tapi di aula ini, jika kau tidak bisa membedakan antara Esensi Sawi Langit dan Akar Kematian, kau hanya akan menjadi bahan tambahan untuk sup alkimiaku!"

Yue melangkah maju, topeng peraknya berkilat di bawah cahaya api hijau. "Master Zuo, dia adalah tamu yang dibawa oleh Bayangan Senja. Biarkan kami lewat."

"Aturan adalah aturan, Yue!" Master Zuo mendengus, asap kecil keluar dari telinganya. "Siapa pun yang ingin naik ke lantai enam belas harus membuktikan bahwa mereka memiliki kontrol energi yang halus. Menara ini tidak butuh binatang buas, ia butuh penguasa!"

Master Zuo menunjuk ke sebuah kuali kecil di pojok ruangan yang tampak tidak terurus. "Tantangannya sederhana, Bocah. Masukkan energimu ke dalam kuali itu. Masaklah sebuah 'Pil Penstabil Jiwa' dalam waktu sepuluh menit. Jika pil itu tidak meledak di wajahmu, kau boleh lewat. Jika gagal... anak itu tetap di sini sebagai asistenku selamanya!"

"Jangan setuju, Kakak!" Awan menarik jubah Jiangzhu, matanya penuh ketakutan.

Jiangzhu menatap kuali itu. Ia tidak pernah belajar alkimia. Ia menghabiskan hidupnya hanya untuk bertahan hidup dari pukulan orang desa. Bagaimana mungkin ia bisa membuat pil dalam sepuluh menit?

Bocah, jangan panik, suara Penatua Mo terdengar di kepalanya. Alkimia bukan soal resep, tapi soal kontrol 'Suhu Jiwa'. Kau punya tiga jenis energi di tubuhmu. Gunakan energi Iblis untuk membakar, energi Langit untuk memurnikan, dan esensi manusiamu sebagai perekatnya.

"Aku akan melakukannya," kata Jiangzhu datar.

"Hahaha! Bagus! Nyali yang besar untuk seorang calon mayat!" Master Zuo melemparkan beberapa bahan mentah ke atas meja sebuah bunga berwarna ungu, sebutir batu energi, dan sebotol kecil air raksa.

Jiangzhu mendekati kuali. Ia bisa merasakan tatapan Yue yang meragukannya dan tatapan Master Zuo yang haus akan kegagalan. Ia meletakkan telapak tangannya di dinding kuali yang dingin.

"Mulai!" teriak Zuo.

Jiangzhu memejamkan mata. Ia mulai mengalirkan energi Iblisnya yang panas. Kuali itu mulai bergetar hebat, api hijau di bawahnya mendadak berubah menjadi merah darah.

"Terlalu panas! Kau akan meledakkannya!" ejek Zuo.

Jiangzhu tidak mendengarkan. Ia memasukkan bunga ungu ke dalam kuali. Dalam hitungan detik, bunga itu menjadi abu. Ia mengumpat dalam hati. Terlalu kasar!

"Fokus, Bocah! Bayangkan energimu seperti benang sutra, bukan palu godam!" teriak Mo.

Jiangzhu menarik napas dalam-dalam. Ia mulai memanggil energi putih Langit dari sudut terjauh jiwanya. Energi ini terasa dingin dan murni. Ia menggunakannya untuk membungkus energi Iblis yang liar. Di dalam kuali, pertarungan antara es dan api mulai terjadi, menciptakan pusaran energi yang stabil.

Awan, yang berdiri di dekatnya, mulai menggumamkan sesuatu yang terdengar seperti nyanyian kuno. Tanpa sadar, cahaya biru jernih dari tubuhnya merembes ke arah kuali, menenangkan gejolak energi di dalamnya.

"Apa?! Bagaimana mungkin..." Master Zuo terbelalak melihat pusaran energi di dalam kuali yang kini berwarna emas-ungu-biru.

Tiga menit berlalu. Bau harum mulai tercium, menggantikan bau sulfur yang menyengat. Jiangzhu berkeringat deras, otot-otot di dahinya menonjol karena konsentrasi yang luar biasa. Ia memasukkan batu energi terakhir.

BUM!

Kuali itu bergetar untuk terakhir kalinya sebelum asap putih tebal keluar dari dalamnya.

Saat asap menipis, di dasar kuali terdapat sebuah pil berbentuk bulat sempurna berwarna ungu gelap dengan garis-garis emas yang berputar. Pil itu mengeluarkan aura yang begitu menenangkan hingga Master Zuo jatuh terduduk karena terkejut.

"Pil Penstabil Jiwa... Kualitas Sempurna?" Master Zuo tergagap, tangannya gemetar saat mengambil pil itu. "Ini bukan sekadar pil... ini adalah hasil dari sinkronisasi tiga alam! Siapa sebenarnya kau, Bocah?"

Jiangzhu menyeka keringat di wajahnya, napasnya parau. "Hanya seseorang yang bosan dengan ujian bodohmu. Sekarang, buka pintunya."

Yue menatap Jiangzhu dengan pandangan yang benar-benar berbeda sekarang. Ia menyadari bahwa potensi Jiangzhu jauh melampaui apa yang organisasinya bayangkan. Dia bukan hanya senjata; dia adalah pencipta.

Master Zuo berdiri, wajahnya yang gila kini menunjukkan rasa hormat yang mendalam. Ia membungkuk rendah. "Pintu ke lantai enam belas terbuka untukmu, Master Alkemis Bayangan. Tapi berhati-hatilah... di atas sana, mereka tidak akan menguji ilmumu. Mereka akan menguji kesetiaanmu."

Jiangzhu mengambil pil itu kembali dan memberikannya kepada Awan. "Makan ini. Ini akan membantu memulihkan energimu."

Awan menelan pil itu dan seketika rona merah kembali ke pipinya. Jiangzhu berbalik dan melangkah menuju tangga selanjutnya, meninggalkan Master Zuo yang masih terpaku.

Setiap lantai di menara ini mengupas satu lapis kemanusiaan Jiangzhu, namun sekaligus membangun fondasi dewa yang baru.

Jiangzhu bisa merasakan asam lambungnya naik saat ia menghirup sisa-sisa asap dari kuali yang baru saja ia padamkan. Tangannya masih bergetar, bukan karena takut, tapi karena saraf-saraf di ujung jarinya terasa seperti baru saja dipaksa mengalirkan ribuan volt petir cair. Ia menatap telapak tangannya yang memerah, kulitnya terasa tipis seolah-olah lapisan teratasnya baru saja terkikis oleh gesekan energi murni.

"Jangan hanya berdiri di situ seperti patung bodoh," desis Jiangzhu pada Master Zuo yang masih melongo menatap pil ungu di tangan Awan. Jiangzhu meludah ke lantai kayu yang menghitam, meninggalkan noda kemerahan. "Aku sudah membayar harga masuknya. Jangan buat aku harus membakar rak-rak busukmu ini hanya untuk menemukan jalan keluar."

Master Zuo tersentak, wajahnya yang tadi penuh kegilaan kini berubah menjadi pucat pasi. Ia bisa merasakan aura dingin yang terpancar dari pedang hitam Jiangzhu—aura yang tidak lagi sekadar haus darah, tapi penuh dengan dominasi yang mencekik. "T-tentu... lewat sini, Tuan Muda," gagap Zuo sambil buru-buru menarik sebuah rantai besi yang tergantung di plafon.

Kreeeeeek!

Dinding di belakang rak organ terbuka, memperlihatkan sebuah lift kayu tua yang ditenagai oleh roda gigi raksasa yang berlumuran oli hitam. Baunya jauh lebih buruk dari lantai ini bau logam berkarat yang dipanaskan.

"Bocah, kau harus segera menstabilkan alirannya," bisik Penatua Mo, suaranya terdengar sangat letih di dalam kepala Jiangzhu. "Energi Langit dan Iblismu sekarang sedang saling mengunyah di dalam nadimu. Jika kau tidak duduk bermeditasi dalam satu jam ke depan, kau akan meledak menjadi kabut darah sebelum sampai ke lantai tujuh belas."

Jiangzhu tidak menjawab. Ia hanya meraih pundak Awan dan menariknya masuk ke dalam lift kayu itu. Yue menyusul dengan langkah yang sangat hati-hati, seolah-olah ia sedang berjalan di atas lapisan es tipis yang bisa pecah kapan saja. Begitu pintu lift tertutup, kegelapan total menyelimuti mereka, hanya menyisakan suara derit besi yang memekakkan telinga.

"Tugasmu berikutnya bukan lagi memasak pil," suara Yue terdengar dari kegelapan, sangat dekat di telinga Jiangzhu. "Lantai enam belas adalah sarang dari Sekte Bayangan Merah. Mereka akan memintamu memilih satu sisi. Dan di menara ini, memilih sisi yang salah berarti menjadi tumbal untuk dewa mereka."

Jiangzhu menyandarkan punggungnya pada dinding lift yang kasar, membiarkan rasa dingin logam menyerap panas dari tubuhnya yang melepuh. "Aku tidak akan memilih sisi mana pun," gumam Jiangzhu parau, matanya berkilat ungu di kegelapan. "Aku akan menjadi sisi yang mereka takuti."

1
Nanik S
Monsternya sekarang Jiangzhu sendiri
christian Defit Karamoy: ikutin terus ya bang🙏
total 1 replies
Nanik S
Jangan sampai tersesat karena hasutan Iblis
christian Defit Karamoy: ikutin terus alur ceritanya bang ,trimakasih
total 2 replies
Nanik S
B urunan langit dan Bumi
christian Defit Karamoy: ikutin terus ya bang🙏
total 1 replies
Nanik S
Awal yang sangat bagus 👍
christian Defit Karamoy: trimakasih🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!