Aruna Pramesti mencintai dalam diam, ia menerima perjodohan dengan Revan Maheswara dengan tulus.
Menikah bukan berarti dicintai.
Aruna menjadi istri yang diabaikan, disisihkan oleh ambisi, gengsi, dan bayang-bayang perempuan lain. Hingga saat Revan mendapatkan warisan yang ia kejar, Aruna diceraikan tanpa ragu.
Aruna memilih pergi dan membangun kembali hidupnya.
Sementara Revan justru terjerumus dalam kegagalan. Pernikahan keduanya berakhir dengan pengkhianatan, menyisakan luka, kehampaan, dan penyesalan yang datang terlambat.
Takdir mempertemukan mereka kembali. Revan ingin menebus kesalahan, tapi Aruna terlalu lelah untuk berharap.
Namun sebuah amanah dari ibunya Revan, perempuan yang paling Aruna hormati, memaksanya kembali. Bukan karena cinta, melainkan karena janji yang tidak sanggup ia abaikan.
Ketika Revan baru belajar mencintai dengan sungguh-sungguh, Aruna justru berada di persimpangan. Bertahan demi amanah atau memilih dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamak3Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu yang Tidak Diundang
Setelah menjawab panggilan di ponselnya, Aruna buru-buru keluar rumah. Ia berlari ke pagar dan membukanya, “selamat malam Aruna, maaf aku mengganggu.”
Senyum menghiasi bibir Aruna, “malam Pak Daniel, saya gak nyangka bapak beneran ke sini. Ayo, silahkan masuk, pak.”
Aruna mempersilahkan Daniel masuk, saat mereka masuk. Revan sudah berdiri di ruang tamu, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku.
“Pak Daniel, kenalkan ini suami saya.” Aruna mengenalkan suaminya.
“Halo Pak Revan, saya Daniel Raymond Atmaja.” Daniel mengulurkan tangannya untuk berjabatan.
Revan melihat Daniel dengan tatapan sinis, “saya Revan Aditya Maheswara.” Jawab Revan dengan nada datar.
“Silahkan duduk, pak. Oh iya, bapak mau minum apa?” tanya Aruna.
“Air putih aja Runa, gak usah repot-repot.” Jawab Daniel.
“Ok, tunggu sebentar ya pak.” Aruna langsung ke dapur dan kembali ke ruang tamu, dengan membawakan segelas air putih untuk Daniel.
Tidak ingin berlama-lama di ruang tamu, Revan balik badan dan melangkah ke atas. Naik ke kamarnya, sebenarnya dalam hati Revan bertanya-tanya. Siapa Daniel dan punya apa hubungan apa dengan Aruna, kenapa Aruna terlihat bahagia dengan laki-laki itu.
Tapi gengsi dan ego membuat Revan terdiam, ia tidak ingin menjatuhkan harga diri dan membuat Aruna berpikir kalau dirinya cemburu. Walapun sebenarnya tanpa disadari, Revan memang cemburu.
“Ada apa pak? tumben malam-malam kesini.” Tanya Aruna.
“Saya mau kasih ini ke kamu.” Jawab Daniel sambil menyerahkan paper bag kecil berisi dua bungkus coklat ukuran besar.
“Wah, coklat. Kok bapak tahu, saya suka coklat.” Aruna tampak senang menerimanya.
“Kan dulu kamu pernah cerita, Runa.”
Aruna tidak menyangka, atasannya ini masih ingat. “Makasih banyak ya, pak.”
“Sama-sama Runa, saya senang melihat kamu tersenyum.” Daniel menatapnya dengan tatapan penuh arti.
Untuk sesaat Aruna merasa terpana, tanpa sadar pipinya memerah. “Oh iya, kapan Pak Daniel balik dari Australia?” Aruna berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Baru dua hari yang lalu, tapi saya minta cuti dulu. Besok baru masuk kantor lagi.” Ujar Daniel.
“Kok buru-buru banget masuknya pak, gak apa-apa ambil cuti lagi pak. Itung-itung istirahat.” Ucap Aruna.
“Gak ah, saya gak betah lama-lama di rumah.” Jawab Daniel.
“Makanya cari pacar atau istri pak, biar betah di rumah. Gak sendirian.” Canda Aruna.
“Maunya gitu, tapi sayangnya kamu udah nikah.”
Kata-kata Daniel membuat Aruna salah tingkah, ia takut atasannya ini hanya sekedar menggombal. Selain itu Aruna ingin menjaga agar hubungan dirinya dengan Daniel tetap profesional.
“Ehem, ehem. Aruna, udah jam berapa ini.” Tiba-tiba terdengar suara Revan dari atas.
Aruna melihat ke atas, ternyata sedang berdiri depan kamarnya sambil memperhatikan ia dan Daniel. Daniel yang sadar telah disindir oleh suami Aruna, akhirnya merasa tidak enak hati.”ya udah Runa, aku pulang dulu. Sampai ketemu besok di kantor.” Ujar Daniel berpamitan.
“Iya pak, sampai besok. Sekali lagi terima kasih untuk coklatnya.” Jawab Aruna.
Aruna mengantar Daniel hingga ke depan gerbang. Ia berdiri sejenak, menatap saat Daniel masuk ke dalam mobilnya. Kendaraan itu melaju perlahan, lalu menghilang di ujung jalan kompleks.
Saat Aruna masuk ke dalam rumah, Revan sudah duduk di kursi ruang tamu. Ia menatap Aruna dengan tatapan sinis, “teman kantor kamu itu bertamu gak tahu waktu ya.”
Aruna menghela napas, “dia atasanku, bukan teman kantorku.” Jawab Aruna.
“Aku gak peduli siapa dia, mau atasan kamu. Mau teman kamu, pokoknya aku gak suka dia datang ke rumahku malam-malam begini.” Kata Revan dengan nada tinggi.
“Ya udah, aku akan ngomong ke Pak Daniel untuk jangan datang kesini lagi.” Jawab Aruna.
“Kalau dia gak kesini, berarti kamu ada alasan untuk ketemu dia diluar dong.” Ujar Revan.
Aruna menatap Revan dengan tatapan kesal, “sebenarnya mau kak Revan apa? Tadi kakak bilang gak suka Pak Daniel ke sini, aku jawab akan ngomong ke Pak Daniel untuk jangan datang ke sini lagi. Kakak malah nyindir aku ketemuan diluar sama Pak Daniel.”
“Kamu pikir aja sendiri.” Jawab Revan ketus.
“Asal kakak tahu ya, mau aku janjian diluar dengan siapa pun. Itu bukan urusan kakak, ingat ya kak. Kita punya kesepakatan, jangan mencampuri urusan pribadi masing-masing. Aku aja gak pernah tuh melarang kak Revan ketemu dengan perempuan mana pun, sebaliknya kak Revan juga gak berhak melarang aku untuk ketemu dengan laki-laki mana pun.” Ujar Aruna kesal.
Mendengar kata-kata Aruna, Revan semakin emosi dan ingin membalas. Tapi belum sempat menjawab, Aruna langsung menutup pintu dan beranjak ke kamarnya. Meninggalkan Revan sendirian di ruang tamu.
Di kamarnya Aruna merebahkan diri di tempat tidur dan berusaha memejamkan matanya, sementara di kamar utama. Revan kembali terngiang-ngiang dengan kata-kata Aruna, kalau dirinya tidak berhak melarang Aruna untuk bertemu dengan laki-laki lain.
“Kenapa aku jadi merasa kesal? Apa ini yang namanya cemburu? Tapi aku cemburu dengan Aruna? Rasanya tidak mungkin.” Ujar Revan.
Keesokan harinya di kantor, Daniel menghampiri Aruna ke mejanya. “Runa, nanti mau makan siang bareng?” tanya Daniel.
Aruna sebenarnya agak canggung kalau makan siang dengan atasannya, tapi ia tahu kalau Daniel tidak menerima penolakan. “Ok pak,” akhirnya Aruna mengiyakan.
“Ok, nanti jam 12 siang. Aku samperin kamu ya, aku yang pilih restoran nya.” Jawab Daniel sambil tersenyum.
Aruna mengangguk. Tepat jam 12 siang, Daniel menghampiri Aruna dan mereka keluar untuk makan siang. Daniel mengajak Aruna makan di salah satu restoran yang letaknya tidak jauh dari kantor mereka.
Saat mereka tiba, suasana di dalam restoran belum begitu ramai. Daniel memilih meja yang berada di sudut ruangan, mereka pun duduk dan memesan makanan.
“Jadi Aruna, gimana pernikahan kamu? Kamu bahagia?” Daniel memulai pembicaraan.
Aruna bingung, karena pertanyaan Daniel sangat sulit untuk dijawab. Ia ingin berbohong dengan mengatakan kalau pernikahannya bahagia, tapi di sisi lain. Itu sama saja, ia membohongi perasaannya. “Runa, kok melamun.” Kata-kata Daniel menyadarkan Aruna.
“Maaf pak.” Jawab Aruna gugup.
“Jadi gimana? Kamu bahagia?” Daniel mengulang pertanyaannya.
“Saya sedang mencoba untuk bahagia, pak.” Jawab Aruna.
Daniel tertawa, “jawaban kamu ambigu, Runa. Bilang aja kalau kamu gak bahagia.”
“Kok bapak bisa ngomong gitu?” tanya Aruna.
Daniel menatap Aruna, tatapannya terasa dalam. “Karena aku bisa melihat dari mata kamu, Runa.”
Aruna terdiam, ia tidak menjawab. “kamu diam, itu artinya aku benar.” Ujar Daniel lagi.
“Maaf pak, saya tidak bermaksud membahas masalah pribadi saya.”
“Gak apa-apa, aku yang bertanya duluan. Tapi Runa, kalau kamu tidak bahagia kenapa kamu menikah dengannya?” tanya Daniel.
Aruna terdiam sesaat, “saya dijodohkan, pak.”
Siang itu Aruna bercerita tentang pernikahannya pada Daniel, ia mencurahkan semua perasaan dan kesedihannya pada Daniel. Hingga tanpa Aruna sadari, dari arah lain. Ada sepasang mata yang memperhatikan kedekatan antara dirinya dengan Daniel.