Terlahir dengan bakat rendah dan tubuh lemah, Ren Tao hanya dianggap sebagai murid sampah di Sekte Awan Hitam. Ia dihina, dimanfaatkan, dan diperas tanpa henti. Di dunia kultivasi yang kejam, orang sepertinya seharusnya mati tanpa meninggalkan nama.
Namun tak ada yang tahu Ren Tao tidak pernah berniat melawan dengan kekuatan semata.
Berbekal kecerdasan dingin, ingatan teknik kuno, dan perhitungan yang jauh melampaui usianya, Ren Tao mulai melangkah pelan dari dasar. Ia menelan hinaan sambil menyusun rencana, membiarkan musuh tertawa… sebelum satu per satu jatuh ke dalam jebakannya.
Di dunia tempat yang kuat memangsa yang lemah, Ren Tao membuktikan satu hal
jika bakat bisa dihancurkan, maka otak adalah senjata paling mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YeJian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 – Papan yang Diperluas
Pemanggilan itu datang dari aula pusat.
Bukan melalui pengawas biasa, bukan pula lewat batu giok tugas. Kali ini, nama Ren Tao bersama tiga unit lain dipanggil langsung oleh stempel tetua.
Itu sudah cukup untuk membuat suasana berubah.
Di Aula Tengah, delapan unit berdiri berjajar. Aura mereka beragam, beberapa tajam, beberapa tertahan. Unit Ketujuh berada di barisan tengah. Ren Tao bisa merasakan tekanan dari segala arah, bukan karena qi melainkan karena perhatian.
Di atas panggung batu, seorang tetua berjubah biru tua duduk dengan mata terpejam. Tetua Lu. Namanya jarang terdengar, tapi setiap keputusan yang keluar darinya selalu bersifat final.
“Gangguan qi di wilayah sekte meningkat,” ucapnya tanpa membuka mata. “Dan terlalu banyak kebetulan muncul di waktu yang sama.”
Beberapa murid menegang.
“Kalian,” lanjut Tetua Lu, “akan mengikuti misi pemetaan ulang. Antar-unit. Tanpa pembagian hierarki tetap.”
Kalimat terakhir itu seperti pisau tipis.
Tanpa hierarki berarti tanpa perlindungan.
Wei Kang berdiri di sisi aula, tenang seperti biasa. Tatapannya menyapu cepat, berhenti sesaat di Ren Tao, lalu berpaling.
Ren Tao menunduk sedikit. Dalam hati, ia sudah memahami maknanya.
Ini bukan misi.
Ini seleksi terbuka.
Wilayah target terbagi menjadi beberapa zona. Setiap unit diberi kebebasan memilih pendekatan. Tidak ada perintah detail. Tidak ada batasan metode selama laporan akhir lengkap.
Begitu keluar aula, suasana langsung berubah.
Unit-unit lain mulai membentuk kelompok kecil, berbisik, menyusun strategi. Beberapa melirik Unit Ketujuh dengan tatapan mengukur.
Zhou Min mendengus. “Sekarang kita target empuk.”
Li Shen mengangguk pelan. “Semua akan mengawasi semua.”
Ren Tao berbicara datar. “Bagus. Berarti tidak ada yang berani bermain kotor secara terang-terangan.”
“Dan secara gelap?” tanya Han Yue.
Ren Tao menatap wilayah peta di udara. “Itu justru lebih mudah dibaca.”
Mereka bergerak ke zona timur, wilayah dengan aliran qi tak stabil. Di sana, Unit Ketiga sudah lebih dulu tiba. Murid-muridnya tampak percaya diri, bergerak cepat.
Terlalu cepat.
Ren Tao memperhatikan dari kejauhan. “Mereka mengabaikan lapisan kedua.”
Li Shen mengernyit. “Kau yakin?”
Ren Tao mengangguk. “Formasi lama tidak dihapus. Hanya ditutupi.”
Seolah menanggapi, tanah di depan Unit Ketiga bergetar. Satu murid terpeleset, qi-nya terganggu. Tidak parah tapi cukup untuk dicatat.
Catatan kegagalan pertama hari itu.
Unit Ketujuh tidak mendekat. Mereka mencatat dari jarak aman. Semua prosedur dilakukan rapi, lambat, dan bersih.
Beberapa unit lain mulai tidak sabar.
Sore hari, tekanan meningkat. Zona-zona mulai tumpang tindih. Klaim wilayah saling berbenturan. Tidak ada konflik terbuka, tapi gesekan terasa jelas.
Ren Tao berdiri di tepi formasi retak, matanya fokus. Ia menandai pola di udara dengan qi tipis cukup untuk dianalisis, tidak cukup untuk memicu reaksi.
“Kita laporkan temuan parsial,” katanya.
Zhou Min terkejut. “Belum lengkap.”
“Justru itu,” jawab Ren Tao. “Kita laporkan apa adanya. Tanpa spekulasi.”
Li Shen berpikir sejenak, lalu mengangguk. “Lakukan.”
Saat laporan sementara dikirim, beberapa unit lain masih belum menyerahkan apa pun. Mereka menunggu hasil besar.
Itu kesalahan lama.
Malam tiba. Tetua Lu membaca laporan satu per satu. Laporan Unit Ketujuh singkat, jelas, dan konsisten dengan data sebelumnya.
Tidak mencolok.
Tapi stabil.
Wei Kang berdiri di belakang, memperhatikan reaksi tetua. Tidak ada ekspresi puas. Tidak ada kekecewaan.
Hanya keheningan.
“Kalian boleh kembali,” kata Tetua Lu akhirnya. “Misi berlanjut besok.”
Di luar aula, beberapa murid melirik Ren Tao dengan ekspresi berbeda sekarang.
Bukan iri.
Bukan curiga.
Waspada.
Di kamarnya, Ren Tao duduk bersila, membuka catatan pribadinya. Papan permainan jelas sudah diperluas.
Bukan lagi soal satu unit.
Bukan lagi soal Wei Kang saja.
Sekarang—
seluruh sistem
sedang melihat.
Ren Tao menutup mata.
Bagus.
Semakin banyak mata tertuju padanya,
semakin sulit bagi siapa pun
untuk menggerakkannya secara sembunyi.
Dan itu selalu
menjadi posisi favoritnya.
semangat terus ya...