Dijual oleh ayah kandung sendiri adalah luka terdalam Aluna. Namun, saat ia terjebak dalam pernikahan kontrak dengan pria asing, takdir memainkan leluconnya. Aluna mengalami regresi ingatan!
Ingatan Aluna kembali ke usia 17 tahun—masa di mana dia belum dihancurkan oleh dunia. Baginya, suaminya hanyalah "Paman Mesum". Sanggupkah pria itu menghadapi Aluna versi remaja yang liar, atau justru ini kesempatan kedua bagi mereka untuk memulai segalanya dengan cinta, bukan lagi kontrak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon apelcantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Versi ini pemberani bangett
Kesel ya? Sama guys... Pokoknya jangan diginiin apa sih namanya?
...****************...
"Sudah saya katakan berkali-kali, Dion." ucap dokter Samuel untuk terakhir kalinya. Dia dibujuk Dion agar segera memberikan izin rawat jalan di rumah, namun sepertinya dokter muda itu tak mengizinkan sama sekali sebelum genap satu bulan lagi.
Dion menunduk dengan wajah masam, "Saya tahu Samuel, kau memang orang yang ketat pada pasien-pasienmu. Tapi kalau terlalu lama, keluarga Seo bisa terguncang dengan keadaan Nyonya Aluna."
Terdengar desahan berat dari napas dokter Samuel. Pria itu menggeleng kecil, bahkan sampai ke kantornya saja tetap diikuti oleh Dion.
Samuel berhenti di tengah pintu, menatap tajam dari samping. "Cukup. Dion, coba dirimu mengajak nyonyamu itu berbicara. Kalau dia terus diajak ngobrol pasti lama-lama akan membaik." saran Samuel, sebelum dia menutup pintu kantornya.
...****************...
Pharita melihat kedatangan Dion dari celah pintu. Wanita itu memutar bola mata jengah melihatnya, "Diam di sana saja? Kalau gak mau masuk ya silakan."
Aluna yang nampak sedang tidur dengan nyaman sedikit terbangun oleh langkah Dion yang mendekati ranjang kamar rumah sakit. "Sst! Pelan-pelan!"
"Sudah, bodoh!" seru pria itu kesal sendiri. Dia duduk di sisi sebelah kanan, karena sisi kiri sudah ditempati khusus untuk Pharita—wanita tomboi itu duduk dengan mengangkat sebelah kakinya ke atas.
"Bosmu di mana? Dia gak ikut jenguk?"
"Kenapa nanya? Urusanmu apa?"
Pharita langsung mengepal tangan kesal, dia murka sendiri kalau harus berhadapan dengan lelaki pendek itu. Tapi wanita itu harus menahan diri, seorang wanita tak boleh marah-marah di depan pasien yang sedang sakit.
"Nyonya..." lirih Dion melihat Aluna tertidur pulas.
"Kenapa?"
"Aku mau ngajak Nyonya bicara, kata dokter itu akan menyembuhkannya..."
Pharita terperangah. Dia tak percaya sama sekali kalau yang bisa menyembuhkan kondisi Aluna adalah pria itu. Asisten dan tuannya kan sama-sama jahat!
"Kak Pharita... em..."
"Aluna, udah kamu tidur aja..."
"Kak, dia—"
"Perkenalkan Nyonya, saya Dion."
Aluna tak menjawab sama sekali karena dia sangat asing dengan sebutan Nyonya. Pharita langsung berbisik kepada Dion untuk mengganti nama panggilan Aluna.
Dion seketika paham apa yang dimaksud, segera cepat-cepat memanggil wanita itu dengan nama panggilannya. "Aluna... saya,"
"Saya— tetanggamu."
Pharita langsung mendelik. Kenapa pria itu malah mengcopy statusnya? Ini sungguh tak masuk akal. Dengan gerakan bibir, Pharita menyuruh untuk mengganti yang lain saja karena status tetangga sudah dia ambil. Tapi yang namanya Dion, pastinya tak mau menuruti perkataan wanita tomboi itu bukan? Dia langsung tancap gas saja dengan alasan yang sama.
Aluna angguk kepala paham, dia berusaha untuk duduk. "Salam kenal juga... Maaf Mas, aku merasa tidak mengenal kamu sama sekali karena situasi ini..."
"Iya tak apa Aluna, saya doakan agar kamu cepat sembuh dan bisa beraktivitas seperti sedia kala."
Aluna tersenyum senang mendengarnya. Dia mengambil setangkai bunga dari buket lalu diberikan ke pria itu. Padahal saat dirinya dikurung didalam kamar gelap, Dion tak pernah memberikan bantuan, kini seolah Aluna tak mempermasalahkan semua apa yang dia alami. Bagaikan ia memiliki ingatan masa remaja yang sangat indah,melupakan semua masalah yang terjadi.
"Ini untuk Masnya, nama Mas siapa?"
"Di—Dion."
"Mas Dion, ini ada bunga lebih buat Mas sama Mbak Pharita. Sebenarnya, aku ga perlu banyak bunga... di rumah Bibi selalu tanam bunga banyak banget di taman, jadi aku agak bosan haha..."
Pharita dan Dion saling menatap. Bersama-sama mereka menanyakan, siapakah bibi dari wanita itu? Seperti apa orangnya?
...****************...
Aluna mengusap bibir keringnya dengan pelembab khusus. Di dalam cermin, ia mengedip mata pelan lalu menaruh anak rambut panjangnya ke belakang. Ia tersenyum melihat versi dewasanya yang sangat cantik. Seingatnya, ia saat remaja terlihat culun sekali. "Ah ini pasti bukan aku... aku mana ada secantik ini, tapi kalau dilihat-lihat aku jadi artis cocok deh... kalau aku pamer sedikit ke Abang Zion, dia gak akan ngejek aku lagi karena wajahku penuh bintik-bintik jerawat..."
"Terlalu percaya diri itu tak baik,"
Aluna langsung menoleh, dia menaikkan sebelah alis. Lagi-lagi, paman itu datang. Kali ini dia membawakan makanan yang dipesan langsung dari restoran untuk dibawa pulang, ditaruhlah bungkus putih tersebut di depan pangkuannya. "Paman—"
"Paman lagi?!"
"Ah maaf, pasti paman tersinggung karena umur belum setua itu tapi sudah saya panggil paman kan?"
Arkan mengepal tangan erat, dia menarik napas dalam. "Diam. Mau saya kurung lagi Aluna? Sikapmu menjengkelkan. Gara-gara satu minggu saya diamkan di ruangan saja sudah berubah total seperti ini. Kalau dari awal saya tahu kamu memiliki riwayat gangguan jiwa pasti saya sudah membuangmu."
Seketika mata Aluna melemah, dia memejam mata erat. "Kamu jahat sekali. Kamu bukan tetanggaku, kamu adalah orang asing yang tiba-tiba datang menggodaku, apa itu pantas! Memang kamu ini tipeku banget tapi ishh! Kenapa paman lebih tua dariku?!"
"BO—BODOH! KECILKAN SUARAMU!" seru Arkan. Dia memundurkan badan agar Aluna yang mendekatinya tidak berbuat macam-macam. Wanita yang sedang sakit itu memegang tongkat infus, dibawa ke samping bahu Arkan. "Tapi sayangnya, paman tidak punya kesempatan untuk mendapatkan hatiku, karena... aku punya orang yang kucintai! Dia selalu menungguku di bawah sungai, aku... ingin segera menemuinya..."
"Ck, siapa lagi itu Aluna?!" desis Arkan. Dia kepalang emosi mendengar pria lain disebut, apalagi ingatan Aluna pada saat itu masih dalam masa remaja. Maklum saja kalau di masa remaja itu pasti memiliki banyak kisah romantis. Entah mengapa kali ini Arkan lebih sensitif bila ada orang lain yang dibahas.
"Aduh! Aduh!"
"Sakit!" pekik Aluna. Dia tak diam saja—wanita itu langsung menendang perut six pack pria itu dengan kaki kecilnya. Arkan hanya merasakan ngilu, tak benar-benar membuatnya mundur atau jatuh karena tendangan wanita itu. Aluna terlihat puas, dia memegang lehernya sendiri. "Bibi pernah bilang padaku, kalau orang lain mengancam diriku seenaknya dia harus tanggung jawab."
"Jadi paman harus tanggung jawab! Leherku sakit karena paman! —"
"KAU BERANI SAMA SAYA?! DULU KAU ITU PENAKUT YA! APA-APA SUKA NUNDUK!!"
"Oh ya? Sejak kapan ya? Sejak abad Masehi kah? Paman tidak tahu kita sudah hidup di tahun 2019! Untuk apa paman terus merasa lebih menguasai kalau Tuhan pencipta langit saja tak searogan paman."
"Fuck!"
"Ah sial!!"
'Dia ini... benar-benar membuat saya kesal. Lihat saja nanti Aluna, kalau kau sudah mengingat siapa dirimu, saya pastikan kau akan menderita seumur hidup karena berani melawan.' batin pria itu.
Setelah puas menceramahi Arkan, wanita itu duduk kembali menepuk kedua pipinya, seolah membanggakan diri di sini. "Ya ampun, aku cantiknya... Bibi... ah Paman, aku mau menelepon Bibi! Aku sangat rindu dengan Bibi, karena sejak aku bangun Bibi sama sekali belum menjengukku!"
"Bibi? Dasar gila, bibi dari mana? Kau tinggal dengan ayahmu saja. Kau kira saya akan gampang ditipu?" tanya Arkan. Dia tidak tahu kalau istrinya di masa remaja memiliki seorang bibi yang telah merawatnya dengan penuh hati-hati.
Analisis Arkan sejak dulu tentang Aluna tak bisa dipastikan sempurna. Buktinya pria itu kebingungan dengan semua perkataan Aluna dengan nada anak remaja ngeyel.
"Iya karena mungkin paman ini orang asing jadinya paman tidak tahu. Sebetulnya aku ini—"
"Sudah tak perlu kau ceritakan, bikin malas saja."
Aluna terdiam, dia membuka kantung makanan. Bisa ia cium aroma sedap di dalamnya. Saat ia buka kotak kemasannya tercium aroma steak panggang dengan saus barbecue sedap yang dapat menghipnotis siapapun yang mencium aromanya. Perutnya kala itu langsung keroncongan. Dia mengambil garpu di atas laci memotong daging dengan presisi dan terlatih.
'Kenapa dia bisa memotongnya dengan sempurna? Setiap dirinya makan malam bersamaku tak pernah aku melihatnya dia memakai garpu untuk memotong daging, dia malah kesusahan sendiri dan lebih memilih untuk memotong daging dengan pisau. Ini jelas berbeda...' batin Arkan.
Aluna menoleh, dia melihat tatapan mata tajam yang diberikan Arkan padanya. Aluna memotongkan separuh daging yang ukurannya sedikit lebih besar dari potongannya barusan, "Paman juga mau?"
"Ah kamu tak mau dipanggil paman ya? Tapi aku bingung biasanya kamu dipanggil apa kalau bukan paman? Pak? Mas? Abang? Kang?"
"Mas."
"Mas?" tanya Aluna memastikan jawaban dari pria itu benar-benar bukan suatu kebohongan. Arkan angguk kepala, "Hm. Biasanya kau panggil saya Mas Arkan, kadang juga Mas..."
Aluna menjatuhkan garpunya, dia nampak sangat terkejut. "Apa kita saling mengenal sebenarnya? Ya ampun, bagaimana ini? Kalau tiba-tiba disuruh manggil kayak gitu... kita... kita—seperti pasangan suami istri..."
Mendadak Arkan berdiri, dia mencubit pipi wanita itu kencang. "Katakan sekali lagi?"
"Apwha? Swakit..."
"Soal suami istri tadi, katakan lagi."
"Mwemwang kwenwapa?"
Arkan terdiam. Dia melepaskan cubitannya di pipi wanita itu. Menutup wajahnya cepat, "Tak ada... makan saja makananmu itu, jangan ditawarkan ke siapa-siapa. Nanti sakitnya menular, kau mau?"
Gluk— Aluna langsung geleng kepala cepat, dia melahap daging yang berada di tusukan garpu. "Enak... enak Mas Arkan!"
Diam-diam tanpa sengaja Arkan dibuat tersenyum sendiri, padahal jelas dia tak menyukai wanita itu yang bertingkah konyol. Namun ia merasa kali ini wanita yang menjabat jadi istri kontraknya ini memiliki hal menarik yang tak ada sebelumnya, entah apa itu.
...****************...
Seorang pria dengan wajah berantakan menghampiri sel tempatnya tinggal. Borgol di kedua tangannya akhirnya terlepas juga. Kedua mata pria berambut kuning itu menatap ke samping. Para preman yang sok jagoan langsung bersujud di hadapannya.
"Mas Zion! Silakan diminum!" kata salah satu preman berbaju oranye. Dia memberikan susu makan siangnya barusan. Pria bermata hitam pekat itu menoleh tak acuh, dia memegang gelas susu tersebut lalu dibanting ke seorang lelaki yang duduk diam saja di pojokan sambil membaca koran.
"Apa yang kau baca?" tanya Zion. Matanya menatap nyalang ke lelaki yang lebih kecil darinya. Tangan laki-laki itu gemetar hebat, dia memberikan koran yang sedang panas-panasnya. Awalnya pria itu tak tertarik dengan beberapa berita tentang presiden ataupun kementerian yang membuat perbincangan panjang lebar padahal tak ada khasiatnya. Mata Zion terus melacak keberadaan sesuatu yang ia cari-cari, dari atas sampai bawah jemarinya menari.
Ia menurunkan pelan melihat lebih dekat dengan pupil mata bulatnya, melihat seorang wanita dengan balutan dress pink muda yang sedang bergandengan tangan dengan seorang pria. Zion langsung tersenyum tajam, dia mengelus pelan wajah bahagia wanita itu.
"Setelah ini aku akan keluar... tunggu sebentar lagi, Ina. Ini masih belum berakhir, kau harus setia menungguku di sana..." lirih pria itu, menekuk wajah Aluna di koran dengan dua jemari panjangnya.
...****************...
Setelah Dion dan Arkan saling berdiskusi akhirnya mereka sepakat akan satu hal yang baru saja keduanya yakini. "Tuan, tenang saja."
"Awas kalau dia tidak menurut, kontrak kerjamu habis sekarang juga." ancam Arkan tak main-main. Dion angguk kepala, dia mulai masuk ke dalam kamar rawat inap, perlahan menarik napas sebelum memulai apa yang akan dia kerjakan.
"Oh—kukira siapa? Mas Dion, ada apa?"
"Begini Aluna, dokter sudah mengizinkan dirimu untuk pulang."
Aluna langsung melebarkan mata tak percaya. Saking kagetnya dia sampai berdiri dari atas ranjang dan melompat ke depan.
Bruk!
Berisik sendiri.
"Benarkah Mas Dion?! Yeay! Ayo Mas! Cepet! Nanti Bibi nunggu lho!"
"Iya, tapi Aluna. Ada yang ingin aku bicarakan, bibimu menitipkanmu ke rumah Tuan— maksud saya ke Arkan."
"Paman Arkan? Eh maksud saya Mas Arkan? Kenapa? Dia itu saudaranya Bibi atau apa?"
Dion angguk kepala. Dia mengiyakan saja agar terlihat meyakinkan. Walau sedih tak bisa bertemu bibinya, ia kembali bersemangat seperti sedia kala. "Gak papa deh Mas Dion! Ayo cepet kita ke rumah Mas Arkan!"
"Mas Arkan itu tetangganya Mas Dion juga?"
Mendengarnya Dion langsung terpukul. Mana pantas dia jadi tetangga tuannya? Yang pantas untuk menempati komplek perumahan besar biasanya dewan atau menteri negara. Kalau ia? Cukup tinggal di hotel sudah cukup. Dion geleng kepala, cukup tahu diri. "Tidak... kami tidak bersebelahan sama sekali, tapi saya dekat dengan... Arkan..."
"Owalah begitu! Jadi Mas Dion juga dekat kan dengan abang sepupuku? Mas Zion! Dia udah kuliah sekarang."
Aluna versi remaja ini sangat banyak bicara, Dion tak bisa menjawab satu persatu. Pria itu tak tahu siapa Zion siapa juga bibi wanita itu. Demi menarik kepercayaannya ia terpaksa berbohong. "Tentu saja Nyo—maksud saya Aluna, mari setelah infusnya dilepas, aku bantu bereskan barang-barangnya ya?"
Aluna geleng kepala. Dia menunjukkan otot kecilnya dengan bangga, "Tidak perlu Mas Dion! Aku itu perempuan kuat! Aku akan malu kalau minta tolong!!" seru wanita itu, sambil tersenyum selebar mungkin.
Dalam lubuk hati, Dion berpikir beginikah keadaan sang Nyonya bila tidak terlalu stres? Tidak berpikiran untuk mengakhiri hidup? Inikah dia yang selalu bahagia di mana-mana?
Dion berpikir sejenak, 'Apa benar karena kecelakaan hari itu Nyonya Aluna berubah menjadi pemalu dan pendiam dari yang lain...' pikir Dion. Dia geleng kepala cepat tak ingin terlalu dipikirkan. Di depan pintu, Arkan hanya berdiri saja. Pria itu nampak bersedekap dada, mempererat pegangannya di depan bidang dadanya. 'Dasar wanita konyol. Kau mau membuat lelucon? Tidak lucu, kembalilah seperti dulu lagi biar saya bisa menekanmu sepuasnya...' batin pria itu, tak tahu apakah dia berpikir jujur atau tidak karena jantungnya berdebar tak karuan.
Bersambung...