TAMAT SEASON 1
Seorang dosen cantik yang berniat untuk melupakan rasa sakitnya dan memulai hidup baru tanpa cinta, kini dikejar-kejar oleh pria yang jauh lebih muda setelah pertemuan pertama mereka di Bali.
Liburan singkat yang tadinya tak ingin saling mengenal, justru berlanjut hingga menumbuhkan rasa cinta.
Perbedaan umur yang lumayan jauh, membuat Yasmin menolak mentah-mentah ungkapan hati Eza.
Eza yang ternyata adalah mahasiswa di tempatnya mengajar, membuatnya berpikir dua kali tentang niat untuk hidup tanpa cinta lagi.
Yasmin dan Eza terlibat cinta penuh gejolak. Wanita itu pun bingung, apakah itu benar-benar cinta, ataukah hanya nafsu belaka.
Akankah percintaan mereka bisa berjalan mulus?
Sementara banyak faktor yang wanita itu pikir mustahil untuk melanjutkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MamGemoy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari kedua
...***...
"Wooww … mantan jomblo kita akhirnya balik," seru seorang pria pada Eza yang baru saja masuk ke kamar.
Tiga orang sahabatnya sedang memandangi dengan tatapan yang beda-beda. Dion tersenyum memeluk tubuhnya, duduk di sofa. Aldo pun melakukan hal yang sama, sambil bersandar di kepala ranjang, hanya saja senyumnya tak selebar Dion. Sedangkan Rizal—yang menyambut Eza tadi, raut wajahnya sedikit kesal melihat padanya. Ponsel yang tadi ia mainkan, di letakkan sedikit kasar di meja.
"Dari mana aja, Lo Bro?" tanya Rizal kemudian.
Eza tak mempedulikan. Ia membaringkan tubuhnya di kasur, dengan helaan napas panjang. Hal itu membuat ketiga mata sahabatnya itu saling pandang, saling bertanya melalui sorotan mata mereka.
Rizal memberi isyarat pada Dion. Biasanya, Eza akan mau terbuka jika Dion yang memulai pembicaraan. Kemudian Dion bangkit dan menghampiri Eza. Masih dengan memeluk tubuhnya, Ia
berdiri di depan Eza yang kakinya menjuntai ke lantai.
"Lo kenapa, Za? Bukannya habis seneng-seneng sama gebetan baru?"
Namun, Eza masih diam menatap langit-langit kamar. Dion lantas menyentuh kaki Eza dengan kakinya. Dia yakin, sahabat baiknya itu sedang termenung.
"Hahh … apaan?" tanya Eza benar-benar tak tau dengan pertanyaan Dion. Sangat terlihat Eza tak fokus dengan ketiga sahabatnya itu.
Dion mendesis. "Gue tanya … Elo kenapa?"
Dengan sekali gerakan, Eza bangun hingga berhadapan dengan Dion. Ia menatap Dion yang posisinya lebih tinggi dari dirinya. Eza kembali menghela napas, kali ini terdengar putus asa.
"Lo ditolak?" tanya Dion kemudian. Eza menggeleng.
"Trus? Kenapa muka Lo kaya kebo gak dikasih makan sebulan?"
Aldo dan Rizal meledakkan tawa bersama. Jika dilihat, Eza memang tampak tidak bersemangat. Dion memberi ungkapan yang tepat. Belum pernah Eza terlihat murung karena seorang wanita, sebab itu keduanya tertawa.
Eza pun bangun dan mendorong kecil tubuh Dion. "Ntar aja gue cerita, mau mandi dulu," ucap Eza, lalu masuk ke kamar mandi.
"Yaelah, Bro! Kita udah nungguin padahal," sungut Rizal padanya. "Besok kita mau snorkeling. Lo jadi ikut gak?" teriak pria itu kemudian, karena Eza telah masuk ke dalam.
"Gue besok kencan!" jawab Eza dengan berteriak juga.
"Ciihh, udah dapat target, temen di lupain," gerutu Rizal kemudian.
"Udah, biarin aja. Kita seharusnya seneng, si perjaka bentar lagi pecah telor," tukas Aldo menyahut ucapan Rizal.
"Hahaha, kaya dagangan aja pecah telor," balas Rizal.
Ketiganya pun tertawa bersama. Kemudian Dion berkata, "Lagipula dia datang ke sini juga karena mau lupain masalahnya, kan?"
"Lo bener, Dion. Dan kita disini hanya untuk bersenang-senang!"
Ketiga sahabat Eza itu tak berpikir bahwa Eza akan benar-benar jatuh cinta. Mereka sudah membuat kesepakatan bersama, termasuk Eza sendiri. Apapun yang akan mereka alami selama di Bali. Itu semua adalah bagian dari liburan mereka. Tak akan ada apa-apa setelah kembali ke kota asal mereka nantinya. Liburan hanyalah untuk bersenang-senang.
___
Keesokan paginya. Hari kedua bagi Eza dan Yasmin menghabiskan waktu bersama.
Sesuai janjinya, Eza menjemput Yasmin tepat jam tujuh pagi. Wanita itu telah pun bersiap. Setelah sarapan, Eza pun mengajak Yasmin keluar lagi. Kali ini dia membawa wanita itu berjalan-jalan di ladang indah yang dipenuhi dengan bunga gemitir atau Marigold.
Bunga gemitir memiliki makna yang sangat penting bagi masyarakat Bali. Bunga yang sering diasosiasikan sebagai matahari karena warnanya yang jingga dan kuning cerah. Gemitir juga merupakan simbol dari semangat dan kreativitas, sering digunakan sebagai ornamen pernikahan.
Eza dan Yasmin menikmati pemberian alam—sebuah keindahan visual yang lengkap dan jaminan ketenangan. Dengan warna-warni jingga yang menakjubkan. Termasuk spot foto dengan latar belakang Gunung Agung.
Kemudian Eza membawa Yasmin berkeliling Pasar Seni Sukawati. Kawasan pasar yang sedikit rumit, serasa di dalam sebuah labirin. Namun, banyak hal-hal unik di toko-toko yang tersembunyi sepanjang gang, setelah masuk lebih jauh ke dalam.
Yasmin membeli beberapa barang untuk dibawa pulang. Tas buatan tangan, barang tembikar/tanah liat, celana batik yang nyaman, dan barang-barang dari kerang yang menawan. Sedangkan Eza berburu sejumlah karya seni lain, yaitu lukisan.
...***...