Lahir dari keluarga islami, dituntut untuk selalu taat, memiliki saudara perempuan dan ternyata menjadi bahan perbandingan. Aluna gadis 20 tahun yang baru saja lulus kuliah dan memiliki banyak cita-cita harus menerima takdirnya saat dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria yang tidak dia kenal.
Aluna tetap pada keputusannya untuk mengejar karirnya, membuat Aluna harus meninggalkan pernikahannya untuk memenuhi janji kepada seseorang yang telah menunggunya.
Tetapi siapa sangka ternyata Aluna justru mendapatkan penghianatan dengan penuh kebohongan. Aluna harus menerima takdirnya atas kesalahan besar yang telah ia lakukan.
Setelah beberapa tahun meninggalkan pernikahannya. Aluna kembali terjerat dengan pria yang harus dia nikahi beberapa tahun yang lalu.
Bagaimana kelanjutan hubungan Aluna? apakah pria yang harusnya menikah dengannya membencinya dan ingin membalasnya?"
Jangan lupa untuk terus mengikut novel ini.
follow Ig ainunharahap12.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25 Seperti Parasit
Seperti biasa Zahra pagi-pagi seperti ini sudah siap-siap untuk berangkat ke kantor dengan menuruni anak tangga. Suaminya menyusulnya dari belakang sembari merapikan lengan kemejanya.
Hampir saja Zahra ditabrak oleh suaminya ketika langkah Zahra tiba-tiba saja berhenti. Ravindra sudah menghela nafas dengan apa yang di lakukan istrinya. Bagaimana langkah Aluna tidak terhenti ketika Jiya ternyata menjadi tamu di rumahmu.
"Aluna kalian sudah siap-siap untuk ke kantor," sahut Risma bersama suaminya berada di ruang tamu.
Aluna menganggukkan kepala dan kemudian menuruni anak tangga.
"Kenapa Kakak ada di sini?" tanya Aluna.
Jiya tersenyum dan berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Aluna.
"Kamu tidak memakan bekal yang sengaja Kakak siapkan kepada kamu," ucap Jiya membuat Aluna menyerngitkan dahi.
Mata Jiya menoleh ke arah meja dan terdapat kotak bekal yang kemarin malam dibuang Aluna di tong sampah di depan rumahnya.
"Aluna, jika tidak menyukai makanan yang telah Kakak masak dan seharusnya tidak kamu buang. Kamu juga tidak memberikan kepada Ravindra. Padahal Kakak hanya memiliki niat baik kepada kamu dan kamu sudah melakukan hal ini," ucap Jiya membuat Aluna menghela nafas.
Entah drama apa yang dilakukan Jiya sehingga membuat tatapan kedua mertuanya sedikit berbeda kepada Aluna.
"Maaf Tante, tetapi sesungguhnya kedatangan saya ke rumah ini bukan untuk mempermasalahkan makanan ini. Saya hanya ingin menyampaikannya niat kedua orang tua saya untuk mengajak Aluna dan Ravindra makan malam di rumah dan betapa kecewanya saat tadi saya melewati tong sampah di depan rumah dan menemukan kotak bekal ini," ucap Jiya klarifikasi.
"Aluna apa kamu membuang makanan itu?" tanya Haryono.
"Benar," jawab Aluna jujur dan memang menurutmu tidak ada yang salah karena makanan itu juga sudah basi.
"Entahlah bagaimana awalnya, tetapi Allah sangat membenci orang-orang yang mubazir. Apalagi makanan itu kakak kamu yang membuatkannya. Kamu seharusnya menghargai," ucap Haryono.
Aluna tidak bisa mencari pembelaan, seharusnya permasalahan itu hanya dia dan Jiya yang membicarakannya, tetapi Jiya sangat tidak dewasa dan membawa-bawa sampai kepada kedua orang tua suaminya.
"Ravindra, padahal aku juga menyiapkan makanan untuk kamu dan ternyata tidak diberikan Aluna kepada kamu, its ok, lain kali aku akan membuat untuk kalian," sahut Jiya.
"Tidak perlu, aku tidak pernah membawa bekal ke kantor dan juga makan siang aku selalu di luar bersama dengan klien, jika tidak maka aku akan makan di kantor," sahut Ravindra.
"Itu karena istri kamu tidak bisa memasak," seseorang berceletuk membuat semua arah pandang mata mereka termasuk Aluna, siapa lagi wanita yang berkomentar itu jika bukan Rami.
"Banyak pria sibuk dengan pekerjaannya, ketika masih lajang maka dia akan menghabiskan waktu makannya di luar bersama dengan klien tetapi ketika menikah semua akan berubah, seorang istri yang bijak dan tahu aturan akan membuatkan waktu untuk suaminya dan bukan malah ikut-ikutan suaminya untuk bekerja," sahut Rami.
Aluna menghela nafas, bagaimanapun saat ini maka dia akan disalahkan, sudah pasti dikalahkan. Aluna hanya pasrah dengan bagaimana tanggapan orang-orang kepadanya.
"Mungkin Aluna butuh waktu untuk belajar memasak. Aluna sejak kecil memang tidak pernah ke dapur, tetapi jika belajar maka Aluna akan bisa. Nenek, saya meminta maaf atas kekurangan Aluna berada di rumah ini dan tidak bisa menjalankan tugas dan kewajibanmu sebagai seorang istri, dalam hukum agama seorang istri memang harus melayani suami dalam hal apapun," ucap Jiya.
Ekspresi wajah Aluna rasanya benar-benar ingin muntah mendengarkan perkataan Jiya yang sangat berlebihan.
"Kami sudah terlambat. Ayo Aluna!" ajak Ravindra untuk ke kantor dan sebelum itu Ravindra mencium punggung tangan kedua orang tuanya dan begitu juga dengan Rami.
Aluna juga mengikuti suaminya walau Rami terlihat terpaksa memberikan tangannya dan takut ditegur oleh cucunya.
"Assalamualaikum!" sapa Ravindra.
"Walaikum salam," sahut semuanya dengan serentak dan kemudian mereka berdua langsung pergi.
Jiya tiba-tiba saja tersenyum seperti ada sesuatu yang sedang dia rencanakan, mungkin Jiya sangat senang jika melihat adiknya di pojokkan dan bukannya membela sang adik dan semangat orang yang paling bahagia melihat yang ada di perlakukan seperti itu.
Aluna harus menyimpan kekesalannya ketika berada di dalam mobil bersama dengan sang suami yang menyetir di sebelahnya.
Aluna sebenarnya bisa saja tadi menjawab semua perkataan Jiya. Hanya saja Aluna masih memiliki rasa malu dan tidak mungkin berdebat di rumah orang lain.
"Jadi kamu sengaja tidak memberikan makanan yang telah dibuatkan dengan sengaja kepadaku?" tanya Ravindra memulai pembicaraan membuat Aluna menoleh ke arahnya.
"Aku lupa memberikannya," jawab Aluna kesal.
"Lupa! Atau kamu benar-benar sengaja tidak memberikannya kepadaku? kenapa kamu takut jika makanan itu dicampur sesuatu, seperti pelet atau apapun itu yang membuatku tertarik kepadanya?" tebak Ravindra.
"Tidak! lagi pula jika dia melakukan hal itu juga aku tidak peduli," jawab Aluna dengan ketus.
"Tidak peduli, tetapi mencegahnya untuk dimakan agar tidak sampai kepadaku. Aneh sekali," gumam Ravindra.
"Issss, kenapa banyak sekali orang-orang menyebalkan di dunia sekecil ini, tidak dari keluarga kandungku sendiri dan bahkan dari keluarga suamiku, penuh drama," batin Aluna penuh dengan kekesalan.
Ravindra akhir-akhir ini memang suka sekali menggoda istrinya, suka jahil dan ini sepertinya bukan pernyataan yang dikatakan Ravindra bahwa dia akan membalas Aluna.
****
"What!" pekik Melly dengan mata melotot saat mendengar cerita sahabatnya yang mampir ke toko kue usaha mereka bersama.
"Kamu serius Kakak kamu melakukan hal seperti itu?" tanyanya sekali lagi membuat Aluna menganggukkan kepala sembari mengaduk-aduk minuman dengan menggunakan sedotan.
"Aku juga tidak mengerti apa tujuannya sebenarnya? Ketika datang ke kantor dan orang-orang langsung berpikiran bahwa dia itu adalah calon istri dari Ravindra atau seseorang yang memiliki hubungan spesial, ketika seseorang bertanya kepadanya dan jawabannya penuh arti yang membuat orang merasa spekulasi dengan mengarahkan arah seperti itu," ucap Aluna.
"Psikopat," hanya jawaban dengan tatapan mengerikan terlihat dari raut wajah Melly.
"Karena mendengar ocehan orang-orang kantor, aku jadi tidak mood makan bekal yang telah dia bawakan untuk. Aku benar-benar lupa memberikannya kepada Ravindra dan menurutku tidak ada salahnya. Tetapi pagi-pagi sudah datang ke rumahku dan membuat masalah membahas masalah bekal itu,"
"Ayah mertuaku sepertinya sangat kecewa kepadaku karena aku membuang makanan," Aluna tiba-tiba saja merasa bersalah dengan tampak kepasrahan di wajahnya.
"Kenapa kamu tidak mencoba untuk membela diri?" tanya Melly.
"Aku masih punya rasa malu dan tidak mungkin bertengkar di rumah orang lain," jawab Aluna.
"Kakak kamu benar-benar manusia aneh, bisa-bisanya dia berperilaku seperti itu. Memang ini zaman dahulu menyampaikan keinginan seseorang harus datang ke rumah adiknya secara langsung dan apa Umi dan Abi kamu tidak bisa menghubungi kamu lewat telepon," ucap Melly merasa tidak masuk akal kedatangan Jiya pagi-pagi sudah bertandang ke rumah Aluna.
"Apapun yang dia lakukan memang tidak pernah masuk akal," sahut Aluna.
"Aku sudah bisa menduga bahwa sebenarnya incarannya adalah suami kamu, kamu sebaiknya hati-hati hanya dari penampilan saja yang terlihat Wanita paling suci dan kita tidak tahu bagaimana sikap aslinya," ucap Melly memberi ingat kepada sahabatnya itu.
Bersambung.....