Note : Alur lambat dan episode panjang. Karena begitu banyak tokoh di dalamnya. Semua punya cerita, dan tidak asal lewat.
Hidup terlihat begitu sempurna bagi seorang Darren Mahendra. Memiliki istri yang cantik, dan juga anak-anak yang hebat.
Tapi siapa sangka, semakin bertambah usia pernikahannya, semakin banyak kejadian-kejadian yang menguji kebahagiaan keluarganya.
Keluarga, sejatinya adalah tempat ternyaman untuk pulang dan berbagi kehangatan setelah penat mendera.
Sebuah ikatan kuat saling mengasihi satu sama lain, selalu dikedepankan untuk menyelesaikan setiap ujian bersama.
Tidak ada yang mutlak sempurna, masing-masing memiliki peran dalam mengatasi dan menghadirkan masalah. Namun tentu saja kendali tetap berada di tangan seorang Darren Mahendra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devi21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perkelahian Derya
"Buat, Bu Senja saja. Biar saya cari yang lain," ucap Rangga memecah kecanggungan.
Jelas pria itu tahu, Senja sedang salah tingkah. Mungkin teringat akan kacamata berenda yang dia temukan.
"Terimakasih, Pak. Sepertinya ini cocok untuk Zain. Pak Rangga mau mencari kemeja juga? ehmmm ... sepertinya di sana ada yang cocok untuk Bapak." Senja juga mencoba memupus kecanggungan. Dia berusaha bersikap biasa saja.
Perempuan itu lalu beralih ke deretan kemeja New Arrival yang ada di tenant brand ternama khusus kaum adam itu.
"Nah, ini dia. Pas sekali dengan Bapak. Di jamin bundanya Genta akan semakin nempel sama Pak Rangga." Senja tersenyum begitu manis, dia memang masih belum tahu kisah Genta dan Ayahnya yang sebenarnya. Bahkan Senja tidak tahu kalau pria itu seorang duda.
Rangga mengambil kemeja yang dipilihkan oleh Senja, sangat sesuai dengan karakternya memang. Dalam hati dia mengagumi selera perempuan cantik itu.
"Bu Senja, sendirian?" tanyanya kembali pada mode basa basi.
"Iya, hari ini anak-anak dan Daddynya memberikan saya waktu untuk bersenang-senang sendiri. Tapi namanya perempuan, tetap yang diingat keperluan suami dan anak," jawab Senja, begitu ramah dan hangat.
Keduanya sembari memilih-milih kemeja lagi. Senja sudah mendapatkan masing-masing tiga untuk Zain dan Darren.
"Ini kayaknya juga bagus untuk Pak Rangga. Mirip sih sama punya suami saya ini, cuman beda warna. kalau suami saya penggila warna biru, jadi jarang mau memakai kemeja warna lain. Kalau kaos dia masih oke pakai warna lain." Senja menunjuk kemeja warna mustard di depan Rangga persis.
Tanpa melihat dan berpikir panjang, pria itu pun langsung mengambilnya.
Keduanya kembali bertemu saat akan membayar barang belanjaan mereka di kasir. Senja membuka dompet yang berisi deretan kartu Debit nasabah prioritad dari beberapa bank.
Diam-diam, Rangga memperhatikan Senja dengan sangat detail. Ada beberapa hal yang membuatnya ingat pada seseorang. Cara bicaranya yang tegas dan geraknya yang cekatan.
"Saya duluan ya Pak Rangga," pamit Senja, langsung melenggangkan kakinya ke luar tenant.
Sementara itu, Darren sedang meradang karena berkali-kali dia tidak bisa menghubungi Senja. Dia mengira, mematikan ponsel hanyalah wacana. Tapi ternyata memang dilakukan.
Kini Darren harus ke sekolah Derya sendiri, wali kelas menelponnya karena Derya terlibat pemukulan. Hal yang tentu saja membuat Darren murka, seburuk apapun kelakuannya dulu, dia paling tidak suka dengan yang namanya sok jagoan.
Di saat yang paling dibutuhkan, Senja malah tidak bisa dihubungi. Masalah anak tentu bukan hal yang main-main. Darren terus mengumpat sepanjang perjalanan.
Senja baru akan memasuki sebuah resto, tapi tepukan keras di pundaj disertai wajah cemas membuatnya kaget.
"Pak Rangga, kenapa?" tanya Senja, heran.
"Apa Bu Senja tidak tahu, wali kelas menghubungi saya barusan, Derya dan Genta terlibat pemukulan dengan siswa lain," jawab Rangga.
"Astaga, Bapak mau ke sana kan? Saya boleh kan sekalian bareng Pak Rangga? driver saya sudah terlanjur saya suruh jemput tiga jam lagi."
"Tentu saja, boleh."
Keduanya langsung menuju lobby. Senja ingin mengaktifkan ponselnya, tapi dia ragu. Pasti wali kelas Derya sudah menghubungi Darren, dan sudah pasti dia akan terkena amukan suaminya nanti.
Mobil yang dikendarai driver, melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi. Beberapa kali Senja melihat ke depan. Karena takut kalau mereka malah yang kenapa-kenapa. Tangannya berkeringat bukan hanya karena mencemaskan Derya sekarang, karena kecepatan mobil sungguh di atas rata-rata.
Rangga melihat wajah Senja yang jadi pucat. Jelas sekali raut ketakutan di sana. Dia pun memberi isyarat agar drivernya mengurangi kecepatan kendaraan.
"Silahkan, Bu." Rangga memberikan botol air mineral kecil pada Senja.
Perempuan itu memejamkan mata sekaligus mengatur nafasnya. Sudah bertahun-tahun berlalu, tapi kalau dia menaiki kendaraan dengan kecepatan yang sangat tinggi. Senja masih teringat peristiwa kecelakaannya dengan Rafli dan Zain dulu.
"Terimakasih,pak. Saya tidak bisa naik kendaraan dengan kecepatan setinggi ini."
"Saya yang minta maaf, Bu. Saya tidak tahu." Rangga yang duduk di bangku sebelah Senja mencoba menenangkan.
Setelah kecepatan mobil kembali normal, Senja pun menjadi lebih tenang.
Sampai di depan gerbang sekolah, Senja seolah lupa kalau tadi dia datang bersama Rangga. Dengan tidak sabar, Senja langsung berlari ke ruang kepala sekolah.
Belum sampai ke sana, Senja melihat suaminya sudah berada di sana, merangkul Derya yang wajahnya mengalami beberapa memar. Di sebelah Derya, ada Genta yang juga mempunyai luka yang sama.
"Der ... kenapa bisa? seperti ini?" Senja menyentuh pipi Derya dengan hati-hati.
Rangga tidak banyak bertanya pada Genta. Matanya pun tidak banyak menuntut penjelasan. Tadi dia sempat berpikir, anaknya itu sudah babak belur.
Kepala sekolah mempersilahkan semua untuk masuk, termasuk tiga anak yang terlihat tidak luka sama sekali. Anehnya, orangtua dari ketiga anak itu tidak ada yang datang.
"Mohon maaf, pak, sebenarnya apa yang terjadi? kenapa wajah anak Saya bisa sampai babak belur seperti ini?" Darren berbicara dengan nada agak tinggi.
Sejauh ini, Derya adalah anak penurut, tidak suka berkelahi dan mencari masalah. Beda jauh dengan Dasen.
"Begini, Bapak dan Ibu, Mohon maaf sebelumnya, karena mengganggu waktu bapak ibu sekalian. Kami dari pihak sekolah, sungguh menyesalkan terjadinya insiden perkelahian antar siswa yang baru saja terjadi. Kami sama sekali tidak menyangka, apalagi melibatkan Derya dan Genta." Kepala sekolah mulai angkat bicara untuk menenangkan suasana.
"Apa pihak sekolah membiarkan begitu saja kejadian ini? Kenapa tidak ada yang melerai? lihat ketiga anak ini utuh, tidak ada goresan sedikit pun di kulit mereka? apa harus menunggu anak Saya masuk IGD dulu baru kalian akan bertindak?" cecar Darren.
Senja mengelus pelan, lengan sang suami untuk meredam emosi yang nampak sangat jelas di wajahnya.
Sementara, Rangga masih diam dan mengamati tanpa bersuara. Jelas Derya dan Genta adalah korban di sini. Benar kata Darren, ketiga anak itu tidak tergores sedikit pun. Anehnya orangtua mereka juga tidak datang.
"Kami pihak sekolah, mohon maaf karena kejadian ini luput dari pantauan. Tempat kejadian jauh dari jangkaun CCTV. Kami baru tahu, setelah ada beberapa siswi yang melapor." Kepala sekolah terlihat sangat hati-hati saat menjelaskan.
Darren adalah salah satu anggota komite sekaligus donatur di sekolahnya. Rangga meskipun bukan anggota komite, setiap ada acara sekolah selalu mensupport untuk kebutuhan catering.
Dilema sedang dihadapi pihak sekolah. Ketiga anak yang lain, salah satunya adalah pemilik yayasan.
"Bagaimana bisa perkelahian seperti ini bisa terjadi kalau tidak ada sebabnya." Senja mulai ikut angkat bicara.
"Setelah kami menginterogasi para siswa yang berkelahi, kami mengetahui penyebabnya." Lagi-lagi Kepala Sekolah mengucapkannya seolah ada beban.
"Bisa langsung, Bapak jelaskan saja?!" tegas Ranga, mulai tidak sabar karena pihak sekolah seperti sengaja mengulur waktu.
di lanjut nyook bisa nyoook 🤗🤗🤗🤗
percuma kuliah jauh2 keluar negeri 😅😅😅😅
kira2 senja merestui hubungan dasen Denok g ya😅😅😅😅