follow igku @zariya_zaya
Bagaimana kalau tunangan yang sudah lama tak kau temui, tiba-tiba dia menjadi buta, apa kau percaya?
Yuna, bidan cantik dari desa tak sengaja bertemu dengan pria asing yang menyelamatkannya beberapa kali. Pria asing itu tak sengaja mengalami kecelakaan yang disebabkan oleh Yuna karena suatu hal dan menjadi buta.
Pria buta itupun meminta Yuna menikah dengannya. Awalnya Yuna menolak karena ia sudah bertunangan, tapi rasa bersalah telah membuat Yuna mengambil keputusan pahit dalam hidupnya, yaitu melanggar janjinya pada tunangannya yang tak pernah ia temui sejak ia masih kecil. Tak disangka, ternyata pria buta itu adalah tunangan masa kecilnya sendiri, yang baru saja kembali dari Swiss, yaitu Yeon.
Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Apakah Yeon benar-benar buta atau hanya pura-pura?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titin Supriatin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 31 Keuwuan Yeon dan Yuna
Perasaan Yuna berkecamuk tak karuan. Ingin menangis tapi tidak bisa. Harusnya ia menikah dengan Yeon, bukan dengan Leon. Itulah yang ada di hati dan pikiran Yuna sekarang. Namun ini sudah terjadi. Beberapa menit yang lalu, Yuna sudah sah menjadi milik pria buta yang wajib ia rawat hidupnya. Kini, Yuna … hanya boleh mengabdi pada Leon seorang dan melupakan Yeon tanpa ia tahu bahwa dua nama pria itu adalah orang yang sama.
Dengan lemas dan gontai, kedua tangan kanan dan kiri Yuna di papah Seok Mang Ga dan Seo Ma I menyambut suaminya yang sedang duduk rileks di atas kuda. Begitu Yuna menampakkan diri, semua orang langsung terkesima melihat betapa cantiknya Yuna yang memakai pakaian pengantin dengan pita putih menghiasi kepalanya. Meskipun pakaiannya agak sedikit terbuka dibagian bahunya, tetap tak mengurangi kecantikan Yuna yang sempurna.
Untuk sesaat, Yeon memang terpana, tapi ia segera menguasai diri supaya bersikap biasa seolah tak bisa melihat wajah cantik Yuna. Padahal dalam hati, sungguh … Yeon sangat terlena melihat wajah ayu nan molek istri tercintanya ini. Ingin rasanya ia melompat turun dan merengkuh wanita yang sudah ia jadikan miliknya seutuhnya kedalam pelukannya, tapi niat itu Yeon urungkan sampai waktunya tiba.
“Pak Leon, turunlah dan jemput istrimu!” suruh pak Park To-No.
Sontak Yeon agak bingung. Ia tak bisa melakukan itu dihadapan Yuna. Masalahnya, suami Yuna harus berpura-pura buta di depan istrinya meskipun di depan para penduduk desa, ia terlihat normal-normal saja. Yeon juga tak mungkin meminta bantuan pengawal untuk menuntunnya karena pasti akan menimbulkan tanda tanya besar yang akan menimbulkan banyak masalah.
Gawat bagaimana ini? batin Yeon dan ia sedang mengalami jalan buntu.
Hampir saja Yeon memutuskan untuk membuka kedoknya dan mengakhiri sandiwara sebagai orang buta, tapi diluar dugaan, ia melihat Yuna berjalan pelan sambil menjinjing gaun indahnya mendekat kearah Yeon berada sekarang.
Seakan tahu kegalauan yang dirasakan suaminya, Yuna memang memberanikan diri memilih berjalan lebih dulu menghampiri Yeon dan berdiri didekatnya. Gadis cantik itu sengaja menyentuh tangan Yeon yang duduk di atas kuda putihnya seolah memberi tanda bahwa ia sudah ada di samping Yeon.
Tanpa suara, Yeonpun menarik tangan Yuna dan membantu menaikkan tubuh mungil istrinya itu untuk duduk didepannya. Secara tidak langsung, Yeon memeluk tubuh Yuna agar ia tak terjatuh. Wajah Yeon dan Yuna saling bertatapan mesra. Satunya dengan perasaan sedih dan rasa bersalah yang amat sangat, satunya lagi dengan perasaan bahagia tak terkira. Dua insan yang sedang terjebak dalam drama ikan terbang ini pun saling memandang dan terbenam akan perasaan mereka masing-masing.
Kalau dilihat dari dekat, suamiku ini tampan sekali, batin Yuna. Ia tak malu menatap Yeon karena menyangka suaminya ini tak bisa melihatnya. Itulah kenapa keduanya bisa saling beradu pandang lebih lama.
“Terima kasih, kau menyelamatkanku,” gumam Yeon lirih agar tak didengar oleh penduduk desa lainnya. Wajah keduanya hanya berjarak 3 cm saja.
“Sama-sama.” Suara Yuna gemetar karena merasa kedinginan. Tak terasa, hari sudah berganti malam karena matahari sudah terbenam.
Mengetahui Yuna kedinginan, Yeon melepas jasnya dan memakaikannya pada Yuna. “Rangkul bahuku dan pegangan yang erat agar kau tak terjatuh. Sebentar lagi, kita akan pergi ke kediamanku,” ujar Yeon lembut setelah berhasil memakaikan jasnya pada Yuna.
“Terimakasih,” balas Yuna dan wajahnya langsung memerah karena dengan ragu ia mengalungkan lengannya di leher Yeon.
“Cieee, suit suit … so sweetnya pengantin baru … aku juga mau nikah dong … hai girls ada yang mau nikah sama aku nggak?” seru Soo Li Khin pada seluruh kaum hawa yang patah hati dibelakangnnya.
“NGGAK!” seru semua wanita dengan lantang menolak mentah-mentah tawaran Soo Li Khin yang sok ke-PeDe-an itu.
“Kok nggak mau, sih? Wajahku kalau dipermak juga 11 12 dengan pak Bos kok!” Soo Li Khin masih mempromosikan diri dan tak lama sebuah lemparan sandal melayang mengenai muka si preman kampung ini.
“Minggir sono lu! Ngrusak mata aing aja, lu!” teriak emak-emak paling belakang.
“Huuuuuu,” seru semua orang sorak sorai menertawai lawakan Soo Li Khin yang ngebet ingin nikah padahal calon saja tidak punya.
Yuna sendiri ikut tertawa melihat tingkah konyol semua penduduk di desa ini. Ia tidak sadar kalau sejak tadi, Yeon terus memerhatikan Yuna dan ikut tersenyum melihat tawa istrinya yang semakin tampak cantik saja.
“Cantik,” ujar Yeon spontan dan langsung mengagetkan Yuna.
“Hah, apa?” Yuna langsung menatap Yeon dan suaminya itu langsung berakting buta.
“Mereka semua ribut … pasti karena kau sangat cantik. Sayang saja aku tak bisa melihat wajah cantik istriku.” Yeon beralasan dan kata-katanya itu langsung memudarkan senyuman Yuna.
“Maafkan aku,” ujar Yuna lirih.
“Tidak perlu, jangan minta maaf dihari pernikahan kita, miss Leon. It’s ok. Aku baik-baik saja asal kau bersamaku. Tersenyumlah, meskipun aku tak bisa melihatnya, aku bisa merasakannya. Jangan menangis ataupun bersedih, sebab semua orang akan mengira aku menyiksamu.” Ucapan Yeon benar-benar bikin bengek. Apa yang ia lakukan ini memang sudah sangat menyiksa Yuna. Entah apa yang bakal gadis itu lakukan jika ia tahu bahwa suaminya ini adalah Yeon.
“Wuaah, sweet sekali pengantin baru ini, bikin iri …” itulah kata-kata yang diucapakan semua orang ketika melihat keuwuan Yuna dan Yeon. Apalagi keduanya lebih sering saling bertatapan mesra.
Yuna salah tingkah tapi tak berani banyak bergerak sebab ini pertama kalinya bagi Yuna ia menungggangi kuda. Mau tidak mau Yuna memeluk tubuh Yeon saat kuda ini mulai berjalan agar ia tak ketakutan.
“Jangan takut, aku memegangimu. Selama kau mengeratkan peganganmu, kau takkan jatuh.”
“Bukan begitu … ini pertama kalinya aku naik kuda,” ucap Yuna sambil gemetar sampai tidak sadar kalau kepalanya sudah bersandar di dada Yeon.
“Aku akan mengajarimu naik kuda nanti. Agar kau tak takut lagi.” Yeon menenangkan Yuna.
“Bagaimana caranya? Kau kan tidak bisa melihat?”
“Kau bisa jadi mataku, my dear Yuna? Nanti kalau ada waktu, kita berkuda bersama. Aku janji.” Yeon tersenyum senang dan Yuna langsung terdiam. Belum apa-apa Yuna sudah membayangkan hari-hari yang akan ia lalui bersama suaminya ini.
Sepasang pengantin baru yang so sweet itu digiring kembali kekediaman Yeon beramai-ramai dengan diiringi lantunan musik serta persembahan tarian dan nyanyain yang dilakukan orang-orang desa sebagai bentuk suka cita mereka atas pernikahan spektakuler ini. Bahkan kembang api dan lampu obor dinyalakan sepanjang jalan sehingga suasana kampung menjadi sangat ramai melebihi keramaian di malam tahun baruan.
"Sekarang kita sudah menikah, Miss Leon. Aku suamimu, dan kau istriku. Apa kau senang?" tanya Yeon dan Yuna tidak tahu harus menjawab apa. Keduanya sama-sama duduk di atas kuda dengan diikuti rombongan pengantin satu desa.
BERSAMBUNG
***