Mikael Wijaya, putra milyuner dari Surabaya Wijaya Agra mengalami kecelakaan di Dubai setelah memergoki calon istrinya berselingkuh. Kecelakaan fatal itu membuatnya hilang ingatan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35 Masih di rumah sakit
"Aku jadi berpikir, kenapa.aku bodoh saat dikhianati," gumam Kael sambil menatap Adelia.
"Banyak orang seperti itu." Adelia ngga bermaksud menyindir.
Kael tersenyum. Ucapan Adelia menyelusup di dalam dadanya.
Hanya saja, kalo dia sangat mencintai gadis yang sudah mengkhianatinya, kenapa perasaan cinta itu tidak meninggalkan sisa sedikit pun sekarang?
Sangat jelas terlihat, dia datang ke apartemen gadis.itu dengan membawa buket bunga mawar merah. Ngga lama kemudian di keluar dengan marah. Gadis itu sempat keluar dan meneriakinya, tapi kemudian masuk lagi.
Mereka bertengkar?
Kael dapat melihat wajah marah dirinya sendiri yang sangat mengerikan.
Awalnya Kael heran, ditambah lagi setelah gadis itu masuk ke dalam unitnya, ada beberapa orang datang ngga lama kemudian.
Sepersekian detik Kael melihat orang orang itu menggotong laki laki yang tidak jelas wajahnya karena tertutup darah. Perempuan itu juga terlihat berjalan di dekat rombongan itu.
Siapa laki laki itu?
Kael memejamkan matanya. Berharap ingatan lama itu muncul, tapi sia sia. Hanya rasa sakit yang dia dapatkan.
"Sepertinya kamu sudah menonjok laki laki itu sampai parah," komen Adelia di heningnya suasana yang melingkupi mereka.
Kael menatap gadis itu yang juga sedang menatapnya.
"Ya."
Apalagi yang bisa membuatnya semarah ini kalo bukan perselingkuhan yang terpampang di depan matanya.
"Kamu tau siapa laki laki ini?"
Adelia menggeleng. Dia terpaksa berbohong. Bukan ranahnya terlalu ikut campur dalam urusan Kael. Lagi pula dia takut Kael malah tertekan dan ingatannya akan semakin lama muncul ke permukaan.
Kael tersenyum ngga yakin, tapi itu hak Adelia untuk tidak mengatakannya.
"Besok kamu akan datang lagi?" ucapan itu meluncur saja dari mulut Kael. Seingatnya, dia yang sering mendatangi gadis itu. Tapi kondisi kesehatannya tidak memungkinkan dia melakukannya.
Jadi kalo bisa dia berharap Adelia yang akan mendatanginya.
"Harus, ya?"
Kael ngga menjawab, tapi dia melihat ke arah botol minumannya yang ada di meja di dekat tempat tidurnya.
"Kamu haus?"
Kael mengangguk. Dia mencoba meraih botol minumannya. Adelia membantu mengambilkannya dan membuka tutup botol dan menyerahkannya pada Kael.
Kael seperti sengaja menyentuh lama tangan Adelia pada botol minuman sebelum melepaskannya.
Adelia berusaha tetap bersikap biasa dengan menahan debar aneh di dadanya.
Adelia menatap Kael yang tampak minum perlahan.
Sebentar lagi kayaknya dia akan cepat pulih. Syukurlah, batin Adelia lega.
TOK TOK
Seorang pengawal mengangguk sopan saat membuka pintu kamar Kael lebih lebar. Adelia berjalan mendekat karena di tangan pengawal itu ada sebuah goody bag.
"Nona, ada titipan dari nyonya, omanya tuan Kael."
"Ooh.... Terima kasih." Dari harumnya, Adelia sudah yakin kalo titipan ini adalah makanan. Kedua oma tadi juga belum kembali. Padahal sudah hampir satu jam perginya. Adelia jadi ngga enak mau pulang karena kata oma omanya mau pergi sebentar.
"Oma beli bubur buat kamu." Adelia mengeluarkan mangkok bertutup yang ada di dalam goody bag itu.
"Kamu makan juga. Oma pasti beli buat kamu, kan."
Adelia mengangguk, tapi belum sempat dia mengeluarkan mangkok plastik itu, terdengar suara ketukan pintu
TOK TOK
Pengawalnya muncul lagi.
"Dokter, nona, mau periksa Tuan Kael."
Adelia belum sempat mengiyakan ketika melihat kehadiran Luna bersama teman dokter laki lakinya.
Senyum lebarnya seakan melambangkan perasaan Luna yang berhasil menangkap basah Adelia yang sedang bersama Kael.
Tapi untungnya Luna masih menjaga perasaannya di depan Kael, juga dokter temannya dan seorang perawat laki laki.
"Hasan ngga cemburu melihat kamu dikelilingi laki laki gitu?" bisik Adelia yang menjauh bersama Luna, membiarkan dokter dan perawat memeriksa keadaan Kael.
"Hasan ada di luar. Ngga enak sama kamu kalo ikutan masuk," tawa Luna perlahan.
Adelia menatap sebal.
"Aku sudah mau pulang, tapi tadi ada perawat yang ngomong kalo di kamar Kael ada perempuan. Jadi aku penasaran, sekaligus pengen ngusir perempuan itu. Eh, ngga taunya kamu," ceritanya dengan mimik jahil.
Adelia makin sebal mendengarnya.
"Sudah, ngga usah sebal. Aku ngga akan cerita kemana mana." Masih dengan mimik jahil Luna berjanji.
Adelia hanya berdecak pelan. Ngga mungkin dia bisa percaya. Bentar lagi Ayra pasti tau.
"Ayra ngga tau kamu di sini? Katanya kamu meeting di luar. Ternyata meeting di rumah sakit," ledek Luna lagi.
Adelia menatap Luna kesal.
"Kamu itu udah dapat suami ustad, masih juga suka gibah."
Luna hanya tertawa pelan menanggapinya. Kemudian dia menggandeng tangan Adelia mendekati Kael karena pemeriksaannya sudah selesai.
"Dia baik baik aja?" tanya Luna seolah mewakili Adelia.
"Butuh beberapa hari lagi aja untuk penyembuhan. Asalkan lukanya dijaga hati hati." Dokter Fandi yang seumur dengan mereka tersenyum jahil.
Adelia mendelik kesal, dokter nyebelin ini seolah sedang menuduhnya akan macam macam dengan Kael.
Sedangkan Kael melirik dokter itu tajam. Dia dapat melihat keakraban mereka.
"Sudah, sudah, jangan marah, jangan kesal. Kita pergi dulu, ya," lerai Luna mengusir Fandi dan dua perawatnya sebelum disemprot Adelia.
"Kamu pulangnya sendiri?" tanya Luna setelah berjalan beberapa langkah. Teman dokternya dan kedua perawatnya sudah keluar dari ruangan.
"Iya."
'Oke. Hati hati, ya." Luna sebenarnya agak cemas karena dia sudah tau tentang Kael.
"Iyaa...."
"Aku suruh Jetro atau Baim jemput?" tanya lagi setelah tiba di ujung pintu.
"Ngga usah. Amanlah," sahut Adelia sambil melambaikan tangannya.
"Oke." Luna menganggukkan kepalanya sebelum meninggalkan ruangan Kael.
Setelah menghembuskan nafas perlahan, Adelia berjalan ke arah Kael.
"Kalian akrab sekali," cuit Kael sambil membuka mangkok buburnya dan meletakkan bubur itu di atas meja khusus di atas tempat tidurnya.
"Kami, kan, sepupu. Akrab, dong." Adelia mengeluarkan mangkok yang satu lagi. Ketika sia buka tutupnya, sesuai tebakannya, nasi dengan ayam bakar dan sambal bawang.
"Sama dokternya," cuit Kael setelah menelan buburnya.
"Oooh.... Iyalah. Kan, temannya Luna," jawab Adelia santai. Dia mulai menikmati makanannya, agar omanya Kael merasa senang, karena dia menyukai makanan yang dibelikannya.
"Kamu.... ngga naksir sama dokternya?"
Adelia spontan melirik Kael.
Pertanyaan apa, sih? sungut Adelia kesal. Hampir saja dia keselak sambal yang untungnya pedasnya hanya level dua.
"Udah punya tunangan. Dokter labil itu. Dulu sempat naksir Luna, tapi Luna udah sama Hasan. Kemudian naksir Ayra, tapi ditolak," cerita Adelia sambil menusuk potongan ayamnya dengan garpu.
"Oooh.... " Tanpa setau Adelia, Kael tersenyum lega.
*
*
*
Luna yang sedang berjalan bersama Hasan masih memikirkan Adelia. Dia merasa ngga tenang.
"Kenapa diam saja?" tanya Hasan lembut
"Kita..... nunggu Adelia, ya. Aku agak khawatir," ucap Luna terua terang.
Hasan mengangguk.
"Oke. Mau periksa cctv di parkiran?" tanya Hasan serius.
Luna terdiam.
"Biar kamu tenang," sambung Hasan lagi.
"Boleh juga. Aku akan telpon kepala cctvnya." Luna segera mengeluarkan ponselnya.
yongki... kamu salah pilih musuh...
Bruse Willis dkk..
RASAKAN.. LAKI LAKI KURANG BERSYUKUR.. Berlian kamu ganti dgn baru kali... 😡
bentar lagi juga kena ciduk
kan enak rasanya diselingkuhi ya pak agra??
rasakan itu