NovelToon NovelToon
Sumpah Di Atas Luka

Sumpah Di Atas Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Slice of Life / Teen Angst / Penyesalan Suami / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Romantis
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Peachy

Bagi Brixton, pernikahan ini bukanlah awal dari sebuah kebahagiaan, melainkan lonceng kematian bagi kebebasannya. Di bawah sumpah yang dipaksakan oleh ambisi keluarga, ia harus merelakan wanita yang ia cintai menjadi kenangan pahit, demi bersanding dengan seseorang yang dianggapnya sebagai kutukan hidup: dirimu. Brixton tidak pernah mencoba menyembunyikan kebenciannya. Baginya, setiap inci wajahmu adalah pengingat akan masa depan yang dirampas darinya. Di dalam rumah yang seharusnya menjadi surga, ia membangun tembok tinggi yang terbuat dari hinaan, penolakan, dan tatapan tajam yang menusuk. Puncaknya terjadi saat Brixton jatuh sakit dalam kesendiriannya. Di tengah demam yang membakar tubuh dan harga dirinya, ia tetap memilih untuk menderita daripada menerima uluran tanganmu. Baginya, sentuhanmu lebih panas dari demamnya, dan perhatianmu lebih menjijikkan daripada kematian itu sendiri. "Aku lebih baik merangkak menuju kematian daripada disentuh olehmu." Di antara benci yang mendarah daging dan luka yang tak kunjung kering, akankah sumpah di atas altar itu tetap menjadi penjara? Ataukah di balik rintihan sakitnya, tersimpan sebuah rahasia yang bahkan Brixton sendiri takut untuk mengakuinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peachy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kewajiban istri

Malam semakin larut, menyisakan kesunyian yang mencekam di lorong-lorong kediaman Vance. Hujan di luar sana telah reda, namun udara tetap terasa lembap dan dingin. Di dalam kamarnya, Alana terbaring di atas tempat tidur dengan napas yang masih terasa berat. Tubuhnya seolah menolak untuk diajak bekerja sama; setiap sendi terasa kaku, dan denyutan di kepalanya masih setia menemaninya sejak kepulangannya dari panti asuhan sore tadi.

Ia hanya ingin memejamkan mata dan menghilang dalam tidur yang panjang, berharap rasa sakit fisik dan batinnya bisa memudar barang sejenak. Namun, harapan itu hancur saat ia mendengar suara langkah kaki yang berat mendekati pintunya. Suara kunci yang diputar membuat jantung Alana berdegup kencang karena takut.

Brixton masuk. Ia tidak lagi mengenakan jas formalnya, melainkan hanya kemeja hitam yang kancing atasnya terbuka, memperlihatkan aura dominasi yang tak tertahankan. Matanya yang tajam menatap ke arah tempat tidur, di mana Alana meringkuk dalam kegelapan yang hanya diterangi oleh lampu tidur kecil di sudut ruangan.

Brixton tidak mengucapkan salam. Ia berjalan mendekat dan duduk di tepi tempat tidur, membuat kasur itu sedikit amblas di bawah beban tubuhnya.

"Kau belum tidur?" suara Brixton rendah, namun memiliki nada yang menuntut.

Alana mencoba membuka matanya, menatap wajah suaminya dengan sisa-sisa kesadaran. "Kepalaku masih sangat sakit, Brixton. Aku baru saja mencoba memejamkan mata."

"Kau terlihat lebih baik daripada tadi pagi," ucap Brixton sambil mengulurkan tangan, menyentuh rambut merah jambu Alana dengan kasar. "Riasanmu sudah hilang, tapi setidaknya wajahmu tidak semengerikan tadi saat di hadapan ibuku."

Alana menarik napas perlahan, mencoba mengabaikan sentuhan itu yang sama sekali tidak terasa lembut. "Aku benar-benar lemas. Kejadian di panti asuhan tadi... itu sangat menguras tenagaku."

"Kau melakukan tugasmu, itu sudah seharusnya," Brixton menggeser posisi duduknya lebih dekat. "Dan sekarang, aku ingin kau melakukan tugasmu yang lain sebagai seorang istri."

Darah Alana seolah membeku. Ia tahu persis apa arti tatapan itu. Itu bukan tatapan kerinduan, bukan pula tatapan cinta yang hangat. Itu adalah tatapan seorang pria yang ingin melampiaskan ego dan rasa frustrasinya pada satu-satunya objek yang ia miliki.

"Brixton, tolong..." bisik Alana, suaranya gemetar. "Bisa kita melakukannya besok? Aku benar-benar tidak kuat berdiri, apalagi melakukan... hal itu. Aku merasa sangat pusing, duniaku masih berputar."

Brixton menyipitkan mata, rahangnya mengeras. "Besok? Sejak kapan kau punya hak untuk menentukan jadwal di rumah ini?"

"Aku tidak sedang mencoba membangkang," Alana mencoba bangkit sedikit, menyandarkan punggungnya yang lemah pada kepala ranjang. "Tapi tubuhku sedang sakit. Aku memohon padamu, beri aku waktu semalam saja untuk pulih. Aku merasa tubuhku akan hancur jika kau memaksaku sekarang."

"Hancur?" Brixton tertawa dingin, sebuah tawa yang menyakitkan untuk didengar. "Jangan berlebihan, Alana. Kau hanya butuh sedikit melayani suamimu. Bukankah ini yang kau inginkan saat setuju menikahi pewaris keluarga Vance? Menggunakan tubuhmu untuk mendapatkan posisi ini?"

"Kau tahu itu tidak benar!" air mata mulai menggenang di mata hijau Alana. "Aku menikahimu karena keadaan keluarga kita, bukan karena aku ingin menjual diriku!"

"Lalu buktikan," Brixton mencengkeram bahu Alana, memaksanya untuk kembali berbaring. "Buktikan bahwa kau memang istri yang sah. Aku sedang stres, pekerjaanku sedang kacau, dan aku butuh sesuatu untuk melampiaskannya. Dan kau... kau adalah milikku. Apa kau paham?"

"Brixton, aku merasa sangat mual... aku mohon, lihatlah wajahku, aku tidak sedang berbohong," Alana mencoba meraih tangan Brixton, berharap ada sedikit belas kasihan di sana. "Tolong, biarkan aku istirahat malam ini. Aku janji besok aku akan melakukan apa pun yang kau mau."

"Aku tidak peduli dengan hari esok," desis Brixton. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Alana, aroma alkohol tipis dan parfum mahal tercium kuat. "Aku menginginkannya sekarang. Kau tidak punya hak untuk menolakku setelah semua uang yang keluargaku berikan untuk menyelamatkan ayahmu yang bangkrut itu."

"Jadi ini hanya tentang uang?" Alana bertanya dengan suara serak, air matanya akhirnya jatuh. "Semua siksaan ini, semua pemaksaan ini... karena kau merasa telah membeliku?"

"Tepat sekali," jawab Brixton tanpa ragu. "Aku membelimu, Alana. Aku membeli setiap inci kulitmu, setiap helai rambutmu, dan bahkan napasmu. Jadi, berhenti berlagak seperti wanita suci yang sedang sakit. Layani aku, dan mungkin aku akan bersikap sedikit lebih baik padamu besok."

"Kau tidak akan pernah bersikap baik padaku," Alana memalingkan wajahnya ke samping, pasrah saat Brixton mulai menarik selimutnya. "Kau membenciku. Kau melakukannya hanya untuk menghinaku, bukan?"

Brixton terdiam sejenak, menatap profil samping wajah Alana yang penuh dengan kesedihan. Di dalam hatinya yang terdalam, ada bagian kecil yang merasa terganggu melihat kerapuhan wanita itu. Namun, kemarahan dan rasa rindu yang terpendam pada masa lalunya segera menutupi rasa itu. Ia ingin menghancurkan Alana karena dengan menghancurkannya, ia merasa bisa membalaskan dendamnya pada takdir.

"Aku melakukannya karena aku bisa," bisik Brixton dengan nada yang kejam. "Dan karena kau adalah satu-satunya orang yang bisa kusakiti sesukaku tanpa ada yang berani melarang."

"Kau sangat kejam, Brixton..."

"Dan kau sangat keras kepala," potong Brixton.

Malam itu, di bawah temaram lampu kamar yang menjadi saksi bisu, terjadilah sebuah penyatuan yang jauh dari kata suci. Brixton melakukannya tanpa sedikit pun kelembutan. Tidak ada ciuman yang manis, tidak ada kata-kata cinta yang dibisikkan di telinga. Yang ada hanyalah dominasi satu pihak dan kepasrahan yang menyakitkan di pihak lain.

Alana hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat, menggigit bibirnya agar tidak mengeluarkan suara rintihan. Setiap sentuhan Brixton terasa seperti duri yang menusuk kulitnya. Ia merasa jiwanya terbang meninggalkan tubuhnya, berdiri di sudut ruangan dan menatap dirinya sendiri yang sedang dihancurkan oleh pria yang seharusnya melindunginya. Kepalanya semakin berdenyut hebat, dan rasa mual yang tadi ia rasakan kini terasa mencekik di kerongkongan.

"Buka matamu, Alana," perintah Brixton di tengah aktivitasnya. "Lihat aku."

Alana tidak bergerak. Ia menolak untuk melihat mata pria yang sedang merampas sisa-sisa harga dirinya.

"Aku bilang buka matamu!" Brixton mengguncang bahunya.

Saat Alana akhirnya membuka mata, yang terlihat hanyalah tatapan kosong—seperti mata mayat yang kehilangan cahaya. Brixton tertegun sejenak melihat kekosongan itu, namun nafsu dan egonya telah membutakannya. Ia terus melanjutkan, melampiaskan seluruh rasa frustrasinya, kemarahannya pada keluarga, dan kerinduannya yang tak tersampaikan pada Elena, ke atas tubuh wanita yang ia benci namun ia butuhkan sebagai pelampiasan.

Setelah semuanya berakhir, Brixton segera bangkit dan merapikan pakaiannya yang berantakan. Ia tidak tinggal untuk memeluk Alana atau memastikan apakah wanita itu baik-baik saja. Ia berdiri di samping tempat tidur, menatap Alana yang kini meringkuk diam dengan wajah yang tertutup rambut pink-nya yang kacau.

"Jangan berpikir ini berarti aku mulai menyukaimu," kata Brixton dingin sambil mengancingkan kembali kemejanya. "Ini hanya pemenuhan kebutuhan. Besok, semuanya kembali seperti biasa. Jangan berani-berani bersikap manja atau menuntut apa pun dariku hanya karena kejadian malam ini."

Alana tidak menjawab. Ia bahkan tidak bergerak. Ia hanya menatap dinding dengan mata yang masih berkaca-kaca, namun tidak ada lagi air mata yang jatuh. Sumber air matanya seolah telah kering bersamaan dengan hancurnya martabatnya malam itu.

Brixton berjalan menuju pintu, namun langkahnya terhenti sesaat saat mendengar suara gumaman lirih dari arah tempat tidur.

"Apa kau bilang?" tanya Brixton tanpa menoleh.

"Terima kasih..." bisik Alana, suaranya terdengar sangat jauh dan tanpa emosi. "Terima kasih karena telah mengingatkanku sekali lagi bahwa aku hanyalah barang di rumah ini. Aku tidak akan pernah lupa lagi."

Brixton merasakan sesuatu yang tajam menusuk hatinya, namun ia segera mengabaikannya. Ia keluar dari kamar dan menutup pintu dengan suara berdentum yang keras, meninggalkan Alana dalam kesunyian yang paling mematikan yang pernah ia rasakan.

Di dalam kamar yang gelap, Alana mencoba menarik napas. Kepalanya terasa sangat ringan, seolah ia akan melayang pergi. Rasa sakit di tubuhnya tidak seberapa dibandingkan dengan rasa dingin yang kini memenuhi seluruh jiwanya. Malam itu, bukan hanya fisiknya yang sakit, tapi sisa-sisa harapannya tentang pernikahan ini telah mati sepenuhnya. Ia tidak lagi membenci Brixton; ia merasa mati rasa. Dan di atas tempat tidur yang seharusnya menjadi tempat istirahatnya, Alana Clarissa kehilangan satu-satunya hal yang ia miliki: keberadaannya sebagai manusia di mata suaminya.

Sumpah di atas luka itu kini telah berdarah kembali, dan kali ini, lukanya terlalu dalam untuk bisa disembuhkan dengan sekadar kata maaf—yang bahkan mungkin tidak akan pernah diucapkan oleh Brixton.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!