ARE YOU A MERMAID? SEASON 2
Please don't SPAM!! Hargai sesama author.
Update : Di usahakan seminggu 3-4 kali Up.
Diharapkan untuk membaca cerita sebelumnya agar dapat memahami jalan ceritanya. Terima kasih 🙏
Sinopsis :
Namaku Deryne Mikaelson, kalian tidak akan pernah tahu seberapa besar rasa takutku saat aku mengetahui takdirku yang sebenarnya!
Aku ditakdirkan mati di usia 18 tahun karena tidak bisa meminum darah kedua orangtuaku sesuai ritual yang sudah di tentukan oleh kakek buyut'ku...
Aku ingin merubah takdirku, merubah nasib buruk yang diberikan oleh gadis gila itu! Mampukah aku melewati ini semua? Apakah mereka akan percaya jika aku bilang aku ini putrinya? Sementara umur kita sama di tempat ini.
~
Jangan lupa LIKE!! dukungan dari kalian sangat berarti bagi saya!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nessa Cimolin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MERAH
Bug!
Bug!
Densha memukuli sahabatnya dengan gemas, pria itu sampai mencekik leher Moa segala walaupun tak serius melakukannya.
"Kau lihat kan?!"
"Iya-iya aku minta maaf"
"Sudah kubilang, rencanamu bakal gagal kenapa masih ngeyel?!"
"Aku kan tidak tahu kalau kau yang meminum obatnya, lagipula rencanaku tak benar-benar gagal"
"Apa?!" Densha melepas kedua tangannya dari leher Moa.
"Aku sudah melakukannya"
"HAH?!" Wajah Densha merah padam, ia segera menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
"Kenapa kau yang malu??"
"Sana pergi dari sini! Dasar tidak perjaka"
"Apa sih?!" Moa tertawa terbahak-bahak.
"Tidak tahu malu, kenapa kau menceritakannya padaku?"
"Karena aku percaya padamu"
Kata-kata Moa membuat jantung Densha berdebar, ia merasa bahwa Moa sungguh menganggap dirinya penting.
"HEI KALIAN BERDUA TIDAK MAU IKUT SARAPAN YA??" Teriak Ryn dari luar.
"Ayo!" Moa menarik lengan Densha.
"......"
"Ngomong-ngomong, apa kau semalam tak berbuat apapun pada Fuu??"
"Berbuat apa??" Densha memalingkan wajahnya.
"Hayo, ngaku!"
"Aku tak melakukan apapun! Sungguh"
"Oh iya??" Goda Moa lagi.
"Moa, apa kau tahu bahwa kau ini menyebalkan?!"
"Hehehe... Iya-iya, maaf"
Dua pria itu berjalan beriringan menuju dapur, di meja makan terlihat Mod yang mengenakan syal tebal untuk menutupi bagian lehernya. Gadis itu menundukkan kepalanya, entah apa yang sedang ia pikirkan.
"Syal di musim panas ya?!" Ledek Densha tanpa menatap Mod.
Perhatian semua orang langsung tertuju pada Mod, gadis manis itu melotot menatap Densha yang menunggingkan salah satu sudut bibirnya.
"Berisik!" Maki Mod.
"Iya... Kenapa Mod memakai syal?? Apa Mod sakit??" Fuu menyentuh dahi Mod lembut.
"Ah! Tidak, aku tidak sakit"
"Benarkah??" Fuu masih tidak percaya karena kemarin Moa memberi tahu Fuu bahwa Mod sedang tak enak badan.
"Hahaha... Apa kau malu??" Celetuk Ryn yang tiba-tiba ikutan nimbrung.
Mulai hari ini, Ryn akan memanggil Mod mama jika berdua saja. Gadis bermata biru itu tak ingin membuat Densha semakin membencinya.
"Cih! Kenapa kalian semua ingin tahu sih?!"
Semua orang di meja makan menertawai Mod, tapi mereka tak sungguh-sungguh mengatai gadis manis itu.
"Sudahlah, jangan menggodanya" pinta Moa menyudahi ledekan mereka.
"Baiklah, saatnya makan!" Ryn tertawa senang. "Akan aku siapkan!"
"Kau kan tidak bisa memasak!" Moa menatap Ryn serius, "Memangnya apa yang kau siapkan??"
"Hohoho... Jangan khawatir, aku punya dua menu! Dan mama Fuu yang mengajarkannya"
"Hah?!" Densha dan Moa saling pandang kemudian menggelengkan kepala.
Jangan-jangan... - Densha.
"Tara!!!" Ryn menunjukan kreasi menu buatannya.
"Apa'an ini??" Moa mendelik, meremehkan masakan Ryn.
Tuh kan?! - Densha.
"Menu andalan mama Fuu, roti dengan selai dan selai dengan roti"
Densha menepuk jidatnya kuat, ia terlihat seperti seseorang yang sedang frustrasi.
WTF! Sekarang ada dua Fuu dirumahku - Densha.
"HAHAHAHA"
Moa tertawa terpingkal-pingkal, ia menepuk-nepuk bahu Mod saking gelinya melihat kebodohan Ryn dan Fuu. Bagaimana mungkin pria cerdas seperti Densha di kelilingi dua gadis naif seperti itu?
"Ehm... Apa ada yang salah??" Fuu memandangi semuanya satu persatu.
"Tidak, tidak ada! Ayo makan" ucap Densha datar.
"Uhm" Fuu mengangguk.
Pria berambut pirang itu memakan rotinya tanpa menghilangkan senyuman lebar di wajahnya.
"Wow, selai dengan roti ini enak loh!" Sindir Moa halus, "Apa lagi yang ini..." Moa mengunyah roti lagi.
"Hmm! Roti dengan selai juga tak kalah enak, hahaha" imbuh Moa lagi.
"Eh?? Benarkah?? Itu resep andalan Fuu loh" ucap Fuu senang.
"Iya benar! Aku tak berbohong, hahaha"
"Wah... Syukurlah..."
PLETAK!
Densha menjitak kepala Fuu keras, membuat gadis duyung itu refleks menyentuh kepalanya dan menatap Densha.
"Ng??"
"Bodoh!" Ledek Densha kesal, "Dia sedang menghinamu tau!"
"Hahahahaha" Moa semakin menjadi-jadi.
"Jika kau masih berani tertawa, aku bersumpah piring ini akan mendarat ke dalam mulutmu!" Ancam Densha ketus.
Ryn melirik ke arah Densha, gadis bermata biru itu tersenyum senang. Ia merasa bahwa sekarang Densha sedang membelanya.
"Apa sih?!" Moa tetap tertawa, "Habis keluargamu ini unik sekali"
"Diam Moa!"
"Hihihi..."
"Sudahlah, Moa!!" Mod membenarkan syal yang melingkar di lehernya, gadis itu nampak gerah memakai syal hari ini.
"Lepas saja Mod jika gerah" pinta Ryn pelan.
"Apa?! Tidak kok"
Mata Fuu terus menatap Mod, gadis itu mendelik ketika melihat syal Mod sedikit terlalu naik. Tidak sengaja, Fuu melihat bekas kemerahan di leher gadis itu.
"Apa Mod terluka??" Fuu meletakkan ikan mentahnya ke piring.
"Eh?? Tidak tuh!"
"Leher Mod penuh bercak merah-merah" Fuu menunjuk leher Mod dengan tangan kanannya.
"Hah?!"
Ryn dan Densha refleks memperhatikan leher Mod, Densha terus menatap tajam Mod dan Moa secara bergantian. Seolah ingin mengatakan 'Ayo mengakulah!'.
"Ti... Tidak kok"
"Coba Fuu lihat, mungkin Fuu bisa membantu"
"Ini bukan karena aku sakit Fuu!"
"Hmm??"
Mod memutar kedua bola matanya kesal, ia akhirnya menyerah dan melepas syal tebal yang melilit leher jenjangnya.
"Oke, ini dia..." Mod menatap semua orang disana, "Aku dan Moa melakukannya..."
"Ya Tuhan! Banyak sekali?!" Ceplos Ryn tak sengaja dan langsung menutup mulutnya.
"Moa sialan ini yang membuatnya! Aku juga marah padanya tadi pagi!!"
Mod melirik Moa dengan sinis, gadis itu menarik telinga Moa keras membuat kekasihnya meringis kesakitan. Namun seperti biasa, Moa hanya membalasnya dengan senyuman.
"Apa itu??" Fuu mengernyitkan dahi.
"Jangan di jelaskan!" Densha melarang Mod untuk menjelaskannya secara rinci, karena sejujurnya pria itu sedikit risih.
"Moa menciumku terlalu berlebihan dan jadilah ini" Terang Mod seadanya, setidaknya kata-kata itu akan mudah di pahami Fuu.
"Oh... Begitu ya??" Fuu menganggukkan kepala pelan.
Gadis duyung itu melirik ke arah Densha dan Moa bergantian, lalu kembali menatap Mod yang sedang memakan rotinya.
"Kalau begitu..." Ucap Fuu ragu, "Fuu juga punya"
"Punya apa??" Mod memandang Fuu.
Fuu mengangkat tangan kirinya dan menyentuh ujung kerah bajunya, tanpa aba-aba ia sedikit menurunkan leher kerah bajunya ke bawah, hampir memperlihatkan bagian atas benda bulat miliknya.
"Ini...." Fuu tersenyum menunjukkan titik merah kecil di atas dadanya.
"UHUK! UHUK! UHUK!" Mod dan Moa terbatuk-batuk melihat aksi Fuu, Moa refleks memejamkan kedua matanya.
"Hei, benarkan bajumu!" Ryn menarik kerah baju Fuu ke atas untuk menutupi barang berharga milik mamanya.
"Eh??" Fuu terlihat kebingungan.
Densha mengusap wajahnya dengan gusar, wajah pria tampan itu memerah. Ia menoleh pada Fuu, gadis duyung yang memasuki kehidupannya dan merubah segalanya.
"Siapa yang melakukan itu??" Tanya Densha ragu.
"Eh?? Kenapa Densha bertanya??" Fuu tersenyum senang menatap Densha, lalu beralih menatap Mod. "Densha juga mencium Fuu berlebihan lalu jadilah ini"
Sepertinya rohku sekarang beranjak keluar dari tubuh - Densha.
Semua wajah orang di rumah Densha memerah kecuali Fuu, Moa sepertinya sedang tertawa dalam keheningan. Ia menahan tawanya sampai wajahnya betul-betul merah padam.
Apa aku harus membunuh Moa?? - Densha.
Ya Tuhan! Apa mama dan papa melakukannya?? - Ryn.
Kenapa dia polos sekali? - Mod.
Kenapa semuanya diam?? - Fuu.
Hahahaha.... - Moa.
Bersambung!!!
Jangan lupa Like, komentar, Favorit, Follow dan Rating ya? Dukungan dari kalian sangat berarti bagi saya! Terima kasih 😘
baru tahu ad novel sebagus ini tentang mitologi..
kebetulan aku sangat suka mitologi..
maaf ya jarang meninggalkan kesan pd eps🙏
tp fiks aku suka...
tp yg manis2 saja...
tp berharap tdk ad katrina ke 2