NovelToon NovelToon
JEJAK LUKA DI BALIK SENYUMAN

JEJAK LUKA DI BALIK SENYUMAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Anak Lelaki/Pria Miskin / Romansa / Menjadi Pengusaha / Preman
Popularitas:898
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Dyon Syahputra, anak yatim piatu yang hidup dari kerja serabutan, harus menghadapi perundungan sadis di SMA Negeri 7. Ketika ia jatuh cinta pada Ismi Nur Anisah—gadis dari keluarga kaya—cinta mereka ditolak mentah-mentah. Keluarga Ismi menganggap Dyon sampah yang tidak pantas untuk putri mereka. Di tengah penolakan brutal, pengkhianatan sahabat, dan kekerasan tanpa henti dari Arman, Edward, dan Sulaiman, Dyon harus memilih: menyerah pada takdir kejam atau bangkit dari nol membuktikan cinta sejati bisa mengalahkan segalanya.

---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# BAB 12: ISMI MERAWAT LUKA

Dyon nggak tau dia tidur berapa lama di selokan itu. Mungkin sejam. Mungkin lebih.

Yang dia inget cuma... dingin. Dingin yang nusuk tulang. Sakit yang nggak ada habisnya. Dan gelap.

Gelap yang dalam banget.

Sampe... ada suara.

"YON! DYON!"

Suara familiar. Panik. Keras.

Andra.

Dyon coba buka mata—berat banget. Kelopak mata kayak ditimpa batu. Pandangan kabur—cuma liat siluet seseorang loncat ke selokan, nyemplung, air kotor nyiprat kemana-mana.

"DYON! ASTAGA... DYON!" Andra pegang bahu Dyon—gemetar. "LO... LO MASIH HIDUP KAN?! JAWAB GUE!"

Dyon coba ngomong. Tapi yang keluar cuma desahan pelan. Bibir kering, gigi depan patah bikin lidah kesandung.

"Gue... gue bawa lo keluar," Andra angkat Dyon—pake tenaga penuh meskipun badannya kecil. Dyon berat—basah kuyup, lemas kayak karung beras. Tapi Andra paksa. Angkat, narik, sampai Dyon keluar dari selokan.

Ditidurkan di pinggir gang—aspal keras, tapi lebih baik dari air selokan busuk.

"Ya Allah... Ya Allah..." Andra nangis—air matanya ngalir deras. Tangannya gemetar ngelus muka Dyon yang penuh darah. "Siapa... siapa yang lakuin ini?! SIAPA?!"

Dyon cuma diam. Nggak bisa jawab. Tenggorokannya kering, sakit.

"Gue... gue bawa lo ke gubuk dulu," kata Andra sambil ngelap air matanya kasar. "Terus gue hubungin Ismi. Dia... dia pasti bisa bantu."

Dyon geleng pelan—lemah. "Jangan... jangan libatin... Ismi..."

"DIAM!" Andra bentak. Mukanya merah—campuran marah sama sedih. "LO PIKIR GUE BAKAL BIARKAN LO MATI?! DIEM DAN DENGERIN GUE!"

Andra angkat Dyon lagi—digendong kayak gendong pengantin. Jalan perlahan ke gubuk Dyon yang nggak jauh dari situ.

Pintu gubuk dibuka—bunyi engsel berkarat. Ditidurkan di kasur tipis yang bau apek. Dyon meringis—rusuk patahnya bergeser, nyeri nusuk kayak disambar listrik.

Andra langsung ambil hape butut dari saku—layar retak, tapi masih nyala. Telpon Ismi.

Satu nada. Dua nada. Tiga—

"Halo?" Suara Ismi—lembut, tapi kedengeran ngantuk.

"ISMI! INI ANDRA! DYON... DYON LUKA PARAH! LO HARUS KE SINI SEKARANG!"

Hening sedetik.

"APA?!" suara Ismi langsung panik. "DIMANA?! ANDRA, DIMANA KALIAN?!"

Andra kasih alamat—cepat, terbata-bata. Ismi bilang dia langsung ke sana.

---

Dua puluh menit kemudian—meskipun rasanya kayak berjam-jam—pintu gubuk dibuka lagi.

Ismi masuk—napasnya ngos-ngosan, mukanya pucat, jilbab agak miring gara-gara dia lari dari pangkalan ojek. Di tangannya ada tas kecil—isinya kotak P3K.

Matanya langsung liat Dyon.

Tergeletak di kasur. Baju basah, kotor, berdarah. Muka penuh luka. Tangan kanan bengkak—nggak bisa gerak.

"YA ALLAH!" Ismi langsung berlutut di samping kasur. Tangannya gemetar ngelus pipi Dyon—hati-hati, takut bikin sakit. "Dyon... Dyon, siapa... siapa yang lakuin ini?!"

Dyon buka mata pelan. Liat Ismi—mata cokelat cerah yang penuh air mata. Senyum tipis—meskipun sakit.

"Ismi..." suaranya serak. "Kamu... kamu datang..."

"JELAS AKU DATANG!" Ismi nangis—keras. Air matanya jatuh ke wajah Dyon. "KAMU... KAMU PIKIR AKU BAKAL NINGGALIN KAMU?!"

Andra berdiri di pojok—diem, ngelap matanya sendiri yang basah.

Ismi buka tas P3K—tangannya masih gemetar. Keluarin kapas, alkohol, perban, obat merah.

"Ini... ini bakal sakit," kata Ismi sambil basahin kapas pakai alkohol. "Tapi... tapi tahan ya. Kumohon."

Dyon angguk pelan.

Kapas menyentuh luka di pelipis—perih luar biasa. Dyon langsung ngigit bibir bawah—keras, sampe berdarah lagi.

"Maaf... maaf..." Ismi nangis sambil terus bersihin luka. "Aku... aku nggak sengaja bikin sakit..."

"Nggak... nggak apa-apa," Dyon bisik. "Aku... aku udah biasa."

Ismi berhenti sebentar. Natap Dyon—mata penuh kesedihan. "Kamu... kamu nggak seharusnya biasa sama hal kayak gini, Dyon."

Dyon diam. Nggak tau mau jawab apa.

Ismi lanjut bersihin luka—di kepala, di pipi, di bibir yang sobek. Tiap kali Dyon meringis, Ismi nangis makin keras.

"Andra," panggil Ismi sambil ngelap mata pakai ujung jilbab. "Tolong ambil air bersih. Banyak."

Andra langsung keluar—cari warung terdekat buat beli air mineral.

Tinggal Ismi sama Dyon.

Hening. Cuma bunyi nafas mereka berdua—Dyon yang berat, Ismi yang tersendat-sendat karena nangis.

"Dyon," kata Ismi pelan sambil terus bersihin luka. "Kenapa... kenapa kamu nggak mau lapor polisi?"

Dyon senyum pahit—gigi depan yang patah bikin senyumnya aneh. "Polisi... polisi nggak akan peduli sama orang kayak aku."

"Tapi—"

"Aku pernah coba, Ismi," Dyon potong. Suaranya lemah tapi tegas. "Aku... aku pernah lapor waktu Arman nyiksa aku bulan lalu. Tau hasilnya? Polisi dibayar. Aku yang disuruh minta maaf. Terus... terus aku dihajar lebih parah lagi."

Ismi terdiam. Tangannya berhenti di udara—kapas penuh darah di genggaman.

"Dunia ini... dunia ini keras buat orang miskin," lanjut Dyon. Matanya menatap langit-langit seng yang berkarat. "Uang... uang itu segalanya. Kalau lo punya uang, lo bisa beli keadilan. Kalau nggak... lo cuma sampah yang bisa diinjak-injak."

"JANGAN BILANG GITU!" Ismi bentak—tiba-tiba. Mukanya merah, matanya melotot. "KAMU BUKAN SAMPAH! JANGAN PERNAH BILANG GITU LAGI!"

Dyon kaget. Ismi... jarang marah.

"Kamu... kamu manusia, Dyon," kata Ismi sambil nangis lagi. "Kamu punya harga diri. Kamu punya... kamu punya hak untuk hidup bahagia. Kamu... kamu berharga!"

Dyon nggak bisa nahan. Air matanya jatuh—kayak air terjun. Seluruh emosi yang dia pendam selama ini—marah, sedih, lelah, putus asa—semuanya keluar.

"Tapi... tapi kenapa hidup aku... sesakit ini?" Dyon terisak. "Kenapa... kenapa aku harus... menderita terus? Apa... apa salah aku?"

Ismi turun—peluk Dyon erat. Hati-hati sama rusuknya yang patah, tapi tetep erat.

"Kamu... kamu nggak salah," bisik Ismi di telinga Dyon. "Dunia ini yang salah. Orang-orang yang jahat itu yang salah. Tapi kamu... kamu nggak salah apa-apa."

Dyon nangis di pelukan Ismi—keras, kayak anak kecil yang kehilangan ibunya. Tangan kiri yang masih bisa gerak—pegang punggung Ismi, genggam erat jilbabnya.

"Aku... aku capek, Ismi," tangisnya pecah. "Aku capek... capek terus dipukuli. Capek... capek dihina. Capek... capek hidup kayak gini. Aku... aku pengen mati aja."

"JANGAN!" Ismi teriak. Dia lepas pelukan—pegang pipi Dyon pakai kedua tangan, tatap matanya dalam-dalam. "JANGAN PERNAH BILANG PENGEN MATI! KAMU HARUS HIDUP, DYON! KAMU... KAMU HARUS HIDUP BUAT AKU!"

Dyon terdiam. Matanya melebar. "Buat... buat kamu?"

Ismi ngangguk—cepat. Air matanya ngalir deras. "Iya! Buat aku! Karena... karena aku nggak tau harus gimana kalau kamu nggak ada. Aku... aku butuh kamu, Dyon. Aku... aku..."

Dia berhenti. Gigit bibir bawah.

"Aku sayang sama kamu," bisik Ismi pelan—tapi jelas. "Aku... aku sayang sama kamu."

Dunia Dyon berhenti.

Jantungnya berhenti.

Nafasnya berhenti.

*Ismi... sayang... sama aku?*

"Kamu... kamu serius?" tanya Dyon—suaranya gemetar.

Ismi ngangguk. Senyum di tengah tangisnya. "Iya. Aku serius. Aku... aku nggak peduli kamu miskin. Nggak peduli kamu nggak punya apa-apa. Yang aku peduli... kamu. Dyon yang baik. Dyon yang kuat. Dyon yang... yang berjuang mati-matian meskipun dunia jahat sama dia."

Dyon nangis lagi—tapi sekarang beda. Nangis karena... bahagia. Campur sedih. Campur lega.

"Aku... aku juga sayang sama kamu," bisiknya. "Dari... dari pertama kali kamu senyum ke aku di perpustakaan. Aku... aku jatuh cinta."

Ismi senyum lebar—meskipun air matanya masih ngalir. "Kalau gitu... kalau gitu jangan pernah bilang mau mati lagi. Karena... karena aku peduli. Dan aku... aku nggak akan ninggalin kamu. Nggak akan."

Mereka peluk lagi—erat. Ismi nyandar di dada Dyon yang naik turun pelan. Dyon peluk Ismi dengan tangan kiri—genggam erat, takut dia hilang.

Andra balik dengan air mineral. Lihat mereka berdua pelukan—dia senyum kecil. Nggak ganggu. Cuma taruh air di samping kasur, terus keluar lagi.

Kasih mereka waktu.

Waktu untuk saling menyembuhkan.

---

**BERSAMBUNG**

**HOOK:** *Di tengah kehancuranku, dia datang seperti pelangi setelah badai. Tapi aku tau... badai belum selesai. Dan yang akan datang... jauh lebih dahsyat.*

1
checangel_
Tak ada lagi kata terucap 👍🙏
Dri Andri: Terima kasih semoga sehat selalu ya... simak kisah kelanjutannya dan jangan lupa cek juga cerita lainnya barang kali ada yg lebih cocok dan lebih seru
total 1 replies
checangel_
Nangis dalam diam itu, sekuat apa sih batinnya 🤧🤭
Dri Andri: 🤣 gimana caranya
total 3 replies
checangel_
Belum nikah, tapi sudah layaknya suami istri /Sob/
checangel_
Lelah hati lebih melelahkan dari semua lelah yang menyapa di dunia ini😇, karena yang tahu hanya dirinya sendiri
checangel_
Janji mana yang kau lukiskan, Dyon/Facepalm/ janji lagi, lagi-lagi janji 🤭
checangel_
Dengar tuh kata Dyon, kesempatan kedua tidak datang untuk yang ketiga /Facepalm/
Dri Andri
seperti kisah cinta ini maklum cinta monyet
checangel_
Iya musuh, kalian berdua tak baik berduaan seperti itu, bukan mahram /Sob/
Dri Andri: tenang cuma ngobrol biasa ko gak ada free nya 😁🤣😁🤣😁
total 3 replies
checangel_
Ismi, .... sebaiknya jangan terlalu lelap dalam kata 'cinta', karena cinta itu berbagai macam rupa /Facepalm/
checangel_
Sampai segitunya Ismi🤧
checangel_
Nggak semua janji kelingking dapat dipercaya, maka dari itu janganlah berjanji, jika belum tentu pasti, Dyon, Ismi /Facepalm/
checangel_
Ingat ya, kisah cinta di masa sekolah itu belum tentu selamanya, bahkan yang bertahan selamanya itu bisa dihitung 🤧
checangel_
Ismi kamu itu ya /Facepalm/
checangel_
Nah, tuh kan, jadi terbayang-bayang sosok Ismi /Facepalm/. Fokus dulu yuk Fokus /Determined/
checangel_
Jangan balas dendam ya/Sob/
Dri Andri: balas dendam dengan bukti... bukti dengan kesuksesan dan keberhasilan bukan kekerasan💪
total 1 replies
checangel_
Jangan janji bisa nggak/Facepalm/
checangel_
Jangan gitu Dyon, mencintai itu wajar kok, mereka yang pergi, karena memang sudah jalannya seperti itu 😇
checangel_
Bisa kok, tapi ... nggak semudah itu perjuangannya 🤧, karena jurusan itu memang butuh biaya banyak/Frown/
checangel_
Ismi kamu ke realita aja gimana? banyak pasien yang membutuhkan Dokter sepertimu /Smile/
checangel_
Iya Dyon, don't give up!/Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!