Reina mentari seorang gadis pekerja keras, ceria, dan pantang menyerah. Kehidupannya berjalan normal sampai suatu hari ia bertemu dengan Saina putri kecil Revan yang mengubah seluruh alur cerita kehidupannya yang biasa saja.
"Menikah lah denganku" hal itu tentu menjadi kata paling bahagia untuk semua wanita yang ada di dunia, tapi tidak untuk Reina karena Reina tahu Revan tidak mencintainya. Namun demi Saina gadis kecil yang merindukan sosok seorang ibu di hidupnya sehingga mau tidak mau Reina harus menekan sedikit egonya untuk kebahagian Saina.
Perlahan alur kisah Reina mulai berubah, tabir rahasia yang ditutupi orang tuanya selama ini ikut naik kepermukaan meluluhlantahkan hatinya.
Akan kah Reina menerima Revan? Rumah tangga seperti apa yang akan dialami Reina? mampukah Reina melewati segala kesulitannya? ikuti terus kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon senja liana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 Apa bedanya aku dengan j*l**g?
...Adegan di dalam bab ini murni rekayasa jadi tidak untuk ditiru ya, mohon kebijakannya bagi para pembaca....
..............................
...Revan kemudian perlahan mulai menuruni leher jenjang Reina dan memberinya kecupan kecupan di area sensitif Reina tentu dengan meninggalkan banyak tanda cinta di leher jenjang Reina. Reina terus saja memberontak namun tidak pernah berhasil malah tenaganya yang kian melemah karena kalah banding dengan Revan, kini yang bisa Reina lakukan hanya menangis dan menangis meratapinya....
" Jangan van aku mohon, jangan lakukan itu" ucap Reina dengan sesenggukan karena tidak tau lagi harus bagaimana.
Pikiran Reina mulai berkelana membayangkan yang tidak tidak. Ia sadar betul bahwa ini merupakan kewajibannya sebagai seorang istri namun haruskah seperti ini. Jika begini apa bedanya Reina dengan j***** di luaran sana.
" Bagus Iriana menangis lah aku suka itu, apa kau sekarang menyesal?" ucap Revan dengan tawa yang menggema memenuhi ruangan kamar Revan.
Deg
" Iriana? semakin lengkaplah aku sebagai ****** nya. Bahkan ketika berhubungan pun wanita lain yang terus Revan sebut namanya." ucap Reina dalam hati sambil terus menangis tanpa bisa melakukan apapun.
...Kalau ditanya kecewa jelas saja Reina kecewa, siapa wanita yang tidak kecewa ketika suaminya melakukan hubungan suami istri menyebut nama wanita lain terus menerus. Reina terus menangis tanpa bisa melawan ia sudah tidak tau lagi apa yang harus ia lakukan untuk menyadarkan Revan. Hingga pada akhirnya Reina berada di titik lelahnya dan pasrah akan apapun yang terjadi, tidak ada lagi perlawanan yang dilakukan Reina hanya air mata yang mewakili segala perasaan Reina saat ini yang terus mengaliri pipinya....
...Revan terus menelusuri tubuh Reina tiap inci kemudian melucuti pakaian Reina satu persatu dengan kesetanan dan membuangnya ke segala arah. Reina diam terpaku bahkan berusaha sebisa mungkin untuk tidak mengeluarkan suara kala Revan memberi kecupan demi kecupan pada area sensitifnya. Revan yang melihat Reina menggigit bibirnya agar tak mengeluarkan suara hanya tersenyum miring dan kemudian melanjutkan aksinya dengan kembali memainkan aset berharga milik Reina....
...Sampai ketika di rasa sudah waktunya Revan kemudian memasukkan pusaka nya ke dalam milik Reina. Sedangkan Reina yang baru pertama kali melakukannya tentu rasanya sangat sakit Reina mencengkram erat seprei kamar Revan dengan kedua tangannya. Mata Reina sudah tidak lagi berbentuk karena terlalu banyak menangis sehingga bengkak dan tak lagi mengeluarkan air mata. Reina seperti mati rasa sekarang ia sudah sepenuhnya menjadi milik Revan, hancur sudah segala impiannya bahkan mahkota yang Reina jaga selama bertahun tahun kini sudah hilang dan direnggut secara paksa oleh suaminya sendiri yang lebih parahnya lagi Revan terus menerus menyebut nama wanita lain....
Revan yang melihat ada noda darah ketika memasukkan pusaka nya lantas langsung mengernyitkan dahi bingung.
" Masih perawan? bukankah Iriana sudah pernah hamil?" ucap Revan dalam hati dengan berbagai tanda tanya.
...Karena penasaran Revan kemudian perlahan mendongakkan kepalanya dan menatap wajah seseorang yang ia yakini itu adalah Iriana. Ketika pandangan Revan berhenti tepat di wajah Reina alangkah terkejutnya Revan kala mendapati ternyata itu Reina bukan Iriana. Rasa bersalah Revan kian menjalar ketika melihat wajah Reina yang sudah bengkak seperti sudah menangis berjam jam namun hanya diam mematung tanpa melakukan apapun, apalagi noda darah di seprei putih milik Revan semakin menambah rasa bersalah dalam dirinya....
" Arrrggggg sial, apa yang sudah kau lakukan van?" ucap Revan dalam hati sambil menjambak frustasi rambutnya sendiri.
...Revan kemudian bangkit berdiri dan mengambil selimut untuk menutupi Reina yang sudah telanjang tanpa sehelai benangpun. Revan menyesal sungguh menyesal apalagi ketika melihat banyaknya tanda cinta yang ia berikan pada tubuh Reina. Reina yang di selimuti oleh Revan tidak bereaksi apapun hanya diam mematung dengan tatapan yang kosong....
" Maafkan aku Rein aku benar benar menyesal." ucap Revan lirih tepat di telinga Reina sehingga membuat air mata Reina kembali jatuh membasahi pipinya.
...Setelah mengatakan itu Revan langsung memunguti pakaiannya yang sudah berceceran dan mengenakannya secara tergesa gesa kemudian pergi keluar meninggalkan Reina....
...Setelah kepergian Revan, Reina kembali menangis dan meringkuk di bawah selimut yang menutupi tubuhnya....
.......................
...Keesokan paginya Revan bangun seperti biasa tadi malam setelah melakukan hal itu pada Reina, Revan tidak pergi kemana mana ia hanya pindah ke ruang kerja sambil menyesali perbuatannya hingga pagi....
...Ketika Revan menuruni anak tangga ia sudah melihat Saina duduk di meja makan menunggu makanan di hidangkan sedangkan Reina tengah berada di dapur sedang menata makanan ke piring saji. Dengan langkah cepat Revan menuruni anak tangga dan menghampiri Reina kemudian berhenti tepat di belakang Reina....
" Rein aku minta maaf untuk apa yang aku lakukan semalam aku...." perkataan Revan tercekat tak tau lagi harus mengatakan apa.
...Reina yang mendengar hal itu lagi lagi air matanya jatuh kala mengingat kejadian semalam, namun kemudian ia mengusap pipinya dengan gerakan cepat dan berbalik menatap Revan dengan tatapan kosong....
" Bukankah itu kewajiban ku sebagai seorang istri? jadi kamu tidak perlu minta maaf. Jika kamu memintaku dengan baik tentu aku akan memberikannya karena itu sudah menjadi hak mu, namun bisakah kamu jangan menyebut nama wanita lain ketika melakukannya? apa kamu tahu rasanya aku seperti menjadi pemuas nafsumu kala itu." ucap Reina dengan nada datar kemudian berjalan meninggalkan Revan.
" sepertinya aku telah melukai hati mu terlalu dalam Rein, apakah ada pintu maaf untukku?" ucap Revan dalam hati kemudian ikut duduk bergabung di meja makan.
...Tidak ada yang berubah dari tingkah laku Reina ia tetap seperti biasa melayani Revan dan Saina dengan cekatan, semua tampak normal hanya saja pandangan matanya nampak kosong seperti sedang melamun. Revan yang menyadari hal itu hanya bisa menghela nafas panjang karena ia sadar apa yang Revan lakukan semalam merupakan sebuah kesalahan yang fatal bagi Reina....
...Revan terus memperhatikan gerak gerik Reina di meja makan sampai pada akhirnya ia memutuskan untuk tidak pergi bekerja karena takut jika Reina nantinya akan melakukan hal gila yang dapat membahayakan dirinya dan Saina....
...Setelah sarapan Revan lantas pergi naik ke atas ke ruang kerjanya untuk menghubungi Wili asistennya, sedangkan Reina yang melihat Revan malah naik keatas bukannya pergi bekerja hanya melihat dan mengekori langkah Revan dengan matanya kemudian acuh tak acuh dan meneruskan kegiatan makannya lagi....
Revan yang sudah memasuki ruangannya kemudian mengambil ponsel di sakunya dan menghubungi Wili.
Call on
" Wil tangani semua urusan di kantor dan kirim sisanya melalui email. Jika ada dokumen penting bawa kesini." ucap Revan pada Wili
" Bawa kemana tuan?" ucap Wili dengan polosnya.
" Ya ke rumah lah wil, pertanyaan bodoh macam apa itu " ucap Revan dengan nada ketus menanggapi pertanyaan bodoh dari Wili.
" Ba... baik tuan " ucap Wili yang terkejut dengan nada bicara tuannya itu.
Call off
Bersambung