NovelToon NovelToon
MALA & DERREN IKATAN TANPA RENCANA

MALA & DERREN IKATAN TANPA RENCANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / One Night Stand / Crazy Rich/Konglomerat / Mafia
Popularitas:360
Nilai: 5
Nama Author: zanita nuraini

---


Nirmala hampir saja dijual oleh ibu tirinya sendiri, Melisa, yang terkenal kejam dan hanya memikirkan keuntungan. Di saat Mala tidak punya tempat lari, seorang pria asing bernama Daren muncul dan menyelamatkannya. membuat mereka terjerat dalam hubungan semalam yang tidak direncanakan. Dari kejadian itu, mala meminta daren menikahi nya karena mala sedikit tau siapa daren mala butuh seseorang untuk perlindungan dari kejahatan ibu tiri nya melisa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20

Pagi di desa itu masih dipenuhi kabut ketika mobil hitam mewah berhenti di depan rumah Pak Wira. Tuan Armand berdiri dengan jas santainya, bersiap kembali ke ibu kota. Daren dan Nirmala ikut mengantar sampai teras, sementara para bodyguard yang baru direkrut berdiri tak jauh dari mereka.

“Ayah yakin pulang sendirian?” tanya Daren, sedikit ragu.

Tuan Armand tersenyum kecil, menepuk bahu putranya.

“Daren, Ayah sudah menghadapi lebih banyak orang gila daripada yang kamu bayangkan. Melisa baru setingkat anak magang untuk Ayah.”

Maya yang sudah kembali ke dalam rumah semalam mengantar suaminya sampai pintu.

“Hati-hati,” katanya lembut.

Armand mengangguk, lalu menatap Nirmala dan Aurelia yang berdiri di belakang Daren.

“Mala, Aurelia, kalian jaga diri baik-baik. Dan dengarkan instruksi Maya. Dia lebih tegas dari aku kalau soal melatih perempuan.”

Aurelia menelan ludah, masih belum terbiasa dengan keluarga besar suami kakak tirinya yang penuh wibawa.

Mobil pun melaju perlahan meninggalkan desa. Hanya Tuan Armand yang pulang ke ibu kota, sementara Maya memilih tetap tinggal untuk mengawasi latihan Mala dan Aurelia.

---

Tak lama setelah kepergian Armand, Nirmala dan Aurelia langsung dibawa ke halaman belakang rumah. Lokasi itu luas, dikelilingi pagar tinggi dan cukup aman untuk latihan.

“Baik, kita mulai!” seru Nyonya Maya, yang sudah memakai pakaian olahraga.

Aurelia memegangi pinggangnya. “Bu… aku belum pernah latihan beginian…”

“Nak, kamu diburu ibumu sendiri. Kalau kamu tidak mau belajar bertahan hidup, kamu akan habis duluan. Ayo!”

Nada Maya lembut tapi tidak memberi pilihan.

Nirmala sudah siap sejak awal. Tubuhnya tegap. Ia sudah punya dasar bela diri. Namun Maya ingin menguji apakah kemampuan itu cukup menghadapi ancaman nyata.

Latihan dimulai dari teknik menghindar, mempertahankan diri, hingga cara membaca situasi sekitar.

“Jika orang berjalan tanpa menatapmu tapi mengikuti langkahmu, waspadai,” ujar Maya sambil mendorong bahu Nirmala sedikit. “Dan kalau seseorang mengetuk pintu lebih dari dua kali, tapi ritmenya tidak sama—itu tanda bahaya.”

Aurelia mengangguk-angguk cepat seperti murid sekolah.

Nirmala memperhatikan dengan serius.

Ia sudah siap, tapi ancaman dari Melisa membuatnya harus lebih tajam dari sebelumnya.

---

Sementara itu, di ruang kerja Pak Wira, Daren sibuk memberikan instruksi pada para bodyguard baru.

Enam orang bodyguard sebelumnya tetap dipakai, namun kali ini ia menambah empat orang elite—dua ahli tempur, satu sniper pengawas jarak jauh, dan satu hacker profesional untuk memantau komunikasi Melisa serta sekutunya.

Daren berdiri di depan papan data sambil bicara tegas.

“Mulai hari ini, pengamanan diperketat. Kalian bukan hanya menjaga, tapi juga memonitor. Setiap telepon masuk dan keluar, setiap pengunjung, setiap kendaraan yang memasuki area desa—kalian harus tahu asal-usulnya.”

Salah satu bodyguard baru, pria berwajah tegas bernama Fadil, bertanya,

“Apakah kita diizinkan melakukan intervensi penuh jika ada ancaman tingkat tinggi?”

Daren menatapnya.

“Jika ancamannya mengarah pada Mala atau Aurelia… jangan ragu. Hentikan dengan cara apa pun.”

Rayhan berdiri di sampingnya sambil menyilangkan tangan. “Kalau bos sudah bicara begini, artinya situasinya serius.”

Daren menambahkan, “Ada satu lagi. Aku ingin satu hacker khusus ditempatkan di rumah ini. Monitor CCTV, monitor ponsel, monitor jaringan komunikasi di seluruh desa.”

Hacker bernama Lio mengangkat tangannya. “Tuan, saya sudah set up scanning system. Kalau Melisa atau sekutunya pakai ponsel, saya bisa deteksi dalam waktu dua detik.”

“Bagus,” jawab Daren. “Tidak boleh ada kelalaian.”

---

Siang itu, setelah latihan pertama selesai, Nirmala dan Aurelia duduk di teras untuk minum air. Tubuh Aurelia terasa remuk.

“Baru seperempat sesi?” keluh Aurelia, memegangi paha.

Nirmala tertawa kecil. “Aurelia, kamu harus kuat. Ini demi kamu sendiri.”

Aurelia memandangi Nirmala, hampir menangis.

“Aku… aku takut, Mala. Aku tidak pernah menyangka Ibu akan segila itu…”

Nirmala menepuk pundaknya.

“Aku juga tidak menyangka. Tapi kamu di sini. Kamu aman. Kita sama-sama.”

Aurelia tersenyum samar. “Terima kasih, Mala…”

Belum sempat melanjutkan percakapan, Pak Wira muncul dengan wajah cemas.

“Mala… Daren… kita harus ke pengadilan hari ini.”

Nirmala berdiri cepat. “Pengadilan agama?”

Pak Wira mengangguk.

“Iya. Aku tidak mau menunda lagi. Aku akan ajukan cerai dari Melisa.”

Daren menatap Pak Wira dengan hormat. “Keputusan yang bagus, Pak.”

Rayhan mengangguk setuju. “Akhirnya Bapak sadar juga.”

Pak Wira menepuk bahu Rayhan, sedikit tersenyum meski matanya tampak lelah.

“Aku terlalu lama membiarkan Melisa mengacaukan hidup Mala…”

---

Perjalanan ke pengadilan dilakukan dengan dua mobil pengawalan. Daren dan Pak Wira duduk satu mobil, sementara para bodyguard mengawasi dari mobil belakang.

Dalam perjalanan, Daren membuka pembicaraan.

“Pak Wira, setelah Bapak ajukan cerai… ancaman dari Melisa bisa semakin besar.”

Pak Wira menghela napas.

“Aku tahu. Tapi kalau aku tidak lakukan ini sekarang, dia tidak akan pernah berhenti.”

“Pak tidak menyesal?” tanya Daren hati-hati.

“Menyesal?” Pak Wira tersenyum pahit. “Aku menyesal karena terlambat mengambil keputusan. Bukan menyesal menceraikan Melisa.”

Daren mengangguk.

“Kalau begitu, aku akan pastikan semuanya aman.”

“Terima kasih, Daren,” ucap Pak Wira tulus. “Kamu benar-benar melindungi Mala.”

Daren menatap jalanan.

Bukan hanya melindungi.

Ia sudah jatuh terlalu jauh dalam perasaan yang tak bisa ia akui dengan mudah.

---

Setibanya di pengadilan agama, pengajuan cerai langsung diproses. Pak Wira menandatangani semua dokumen dengan tangan sedikit gemetar. Bukan karena ragu, tetapi karena luka panjang yang ia alami di dalam rumahnya sendiri.

Daren dan Rayhan menunggu di luar ruangan. Bodyguard lainnya menjaga area sekitar.

Setelah semua selesai, Pak Wira keluar dengan wajah letih namun lebih ringan.

“Sudah selesai,” katanya pelan namun tegas.

Daren berdiri. “Mulai sekarang, Melisa tidak lagi punya hak apa pun.”

Pak Wira menatapnya, mata berkaca-kaca.

“Mulai sekarang… aku akan menebus kesalahanku sebagai seorang ayah.”

---

Ketika mereka kembali ke rumah, Aurelia masih berlatih bersama Maya, sementara Mala menyambut mereka dengan cemas.

“Bagaimana, Ayah?”

Pak Wira mengangguk mantap.

“Sudah. Semua sudah diajukan.”

Mala memeluk ayahnya erat.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama… ia merasa ayahnya benar-benar melindunginya.

Di sudut halaman, Daren diam-diam tersenyum.

Hari ini langkah besar telah diambil.

Tapi perang belum selesai.

Melisa pasti akan mengamuk…

Assalamualaikum selamat siang

Jangan lupa like dan komen nya ya...

Selamat membaca....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!