Gadis ABG yang di dekati seorang dokter tampan berwajah bule asli Perancis tapi sayangnya dia adalah seorang Casanova.
Sebuah pernikahan yang terjadi karena kondisi yang tidak diinginkan sang gadis, membuatnya frustasi, merasa kehilangan masa depannya. Cintanya dengan laki-laki yang telah mengisi hatinya semenjak pertama bertemu harus kandas sebelum di mulai.
Bagaimana kisah mereka bertiga? Akankah si gadis bahagia dengan pernikahannya, atau ia akan memperjuangkan cintanya kepada laki-laki yang ia cintai semenjak awal???
Nantikan dan simak terus ceritanya di sini sampai tamat yah ...
jangan lupa untuk di share ke teman, di like, juga klik favorit...🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alarice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Galau
Beberapa hari setelah sang ibu menghubungi, Damar meminta ijin ke Seno dan Armell untuk pulang ke kampung selama dua hari. Pipit yang mengetahui hal itu dari kakaknya, merasa ada yang aneh.
" Masak sih, cuma gara-gara kucing yang lagi hamidun, bang Damar bela-belain pulang ke kampung? Emang bang Damar lakinya? Nggak kan? " ucap Pipit bermonolog sambil berjalan keluar dari dalam rumah hendak mencari Damar dan menanyainya sambil sesekali menggerakkan kepalanya seperti sedang berpikir.
Dug
Pipit menabrak sesuatu yang ada di hadapannya. Ia yang sedang serius berpikir, tidak melihat jika ada seseorang yang berdiri tepat di depan pintu sambil terus memperhatikannya.
" Au...au...au....Jenong Pipit benjolllll....." seru Pipit sambil mengusap dahinya. " Hidung Pipit juga makin pesek ini. " lalu dia mengusap pucuk hidungnya.
" Siapa sih yang narok tiang sembarangan di depan pintu? Mana keras dan gede lagi ah. " gerutunya sambil memukul-mukul sesuatu yang di tabraknya lagi.
" Abang ada-ada aja deh...Masak tiangnya di pakein baju segala. " gumamnya sambil tersenyum mengejek.
" Kebiasaan kamu ya. " orang yang ada di depan pintu yang ditabraknya tadi mulai bersuara.
" Kok...Bisa bicara. " gumam Pipit kembali.
" Kalau jalan matanya suka meleng kemana-mana. " tambah orang itu
Pipit mendongakkan kepalanya melihat apa yang ada di depannya yang telah ia tabrak.
" Bang bule...." teriaknya.
Bryan menutup kedua telinganya menggunakan kedua telapak tangannya. " Nggak usah pakai teriak. " ujarnya.
" Ihh, Pipit kaget tahu, tiba-tiba Abang ada di depan Pipit. Kayak hantu aja, nggak ada suara tiba-tiba muncul aja. " seru Pipit.
" Makanya, kalau punya mata itu di buat ngeliat yang bener, biar nggak suka nabrak kalau jalan. Orang aku udah dari tadi berdiri di sini. Kamunya aja yang lagi sibuk mikir. Mikirin apa emangnya? " sahut Bryan.
" Mikirin kucing. " jawab Pipit asal karena sedari tadi yang ada di pikirannya hanya kucing dan kucing.
" Kucing? " tanya Bryan sambil mengernyit.
" Udah, nggak usah di bahas. Eh, abang kok jam segini udah kesini? Nggak kerja emangnya? " cerocos Pipit.
" Udah pulang. Masak iya mau kerja 24 jam. "
" Oh. Ngomong-ngomong, abang bule sekarang kok rajin bener kesininya? Hampir tiap hari loh Abang kesini. "
" Nggak nyadar kamu? Kenapa aku sering kesini? "
" Nggak. " jawab Pipit sambil menggelengkan kepalanya.
Bryan memijat pelipisnya, " Ck. Dasar bocah. " gerutunya.
" Aku sering kesini karena istriku ada di rumah ini. " ujar Bryan tegas.
" Oh. " hanya itu yang Pipit ucapkan, membuat Bryan geram dengan jawaban ala kadarnya dari si burung Pipitnya. Entah gadis itu sadar yang di maksud Bryan adalah dirinya atau tidak. Rasanya ingin sekali Bryan menggigit bibir tipis dan seksi milik Pipit itu.
" Cuma gitu doang? "
Pipit mengangguk, " Sok atuh. Silahkan masuk. Mau ketemu istrinya kan? " Pipit menggeser posisi berdirinya ke samping dan mempersilahkan Bryan untuk masuk.
" Helloooo....Kamu lupa, siapa istriku? " ujar Bryan geram.
Pipit mendongakkan kepalanya melihat ke arah Bryan. Ia harus mendongak, karena tingginya hanya sampai bahu si dokter bule.
Selanjutnya, Pipit menepuk jidatnya sendiri, " Oh iya Pipit lupa. Istri bang bule kan Pipit ya. " lalu ia manggut-manggut. " Ya udah, sok atuh, abang masuk duluan. Entar Pipit susulin ke dalam. Kebetulan bang bule di tungguin bang Seno tadi. " lanjutnya dan kemudian dia mulai melangkah kembali.
" Ngapain si bule setengah nyariin aku? "
Mendengar Bryan bertanya, Pipit menghentikan langkahnya, lalu mengendikkan bahunya, " Di ajak main catur kali. "
" Main catur? Sok-sokan ngajakin main catur dia? Emang bisa? " gumam Bryan.
Bryan mencekal lengan Pipit saat Pipit mulai melangkah kembali, " Kamu mau kemana? "
" Ke depan bentar. Abang bule masuk aja dulu. "
Lalu Pipit kembali melangkah keluar rumah. Sedangkan Bryan menatapnya sebentar, lalu segera masuk ke dalam rumah.
Di luar rumah, Pipit celingak-celinguk kesana-kemari. Mengitari seluruh bagian luar rumah kakak iparnya. Tapi yang di cari tidak terlihat batang hidungnya. Lalu Pipit memutuskan untuk bertanya ke pak satpam.
" Pak, lihat bang Damar nggak? "
" Oh mas Damar udah balik sekitar setengah jam yang lalu, non. " jawab pak satpam.
" Kok tumben baru jam segini udah balik ya pak? "
" Katanya tadi udah ijin sama pak bos. Dia mau pulang kampung kalau tidak salah. Dan bisnya berangkat sore ini. "
" Ya udah deh pak. Makasih. "
Pipit balik badan dengan rasa kecewanya.
' Kok bang Damar pulang, nggak pamit Pipit dulu sih. Aneh deh. Biasanya kan bang Damar bilang. ' gumam Pipit dalam hati.
Moodnya jadi anjlok sore ini karena hal ini. Ia kembali masuk ke dalam rumah, dan mendapati Bryan sedang ngobrol sama Seno juga Armell.
" Lesu amat dek? Kenapa? " tanya Armell.
Pipit menggelengkan kepalanya lesu sambil mendudukkan pantatnya sembarangan di sofa. Lalu ia mengangkat kedua kakinya ke atas sofa, dan duduk meringkuk.
' Ni anak kenapa jadi kelihatan BT kayak gini? Tadi baik-baik saja perasaan. ' gumam Bryan dalam hati.
Bryan menoleh sebentar ke luar rumah sambil berpikir.
" Sen, gue pengen ngopi sambil duduk di taman belakang. Temenin gue bentar. " ajak Bryan ke Seno
Seno nampak melihat ke arah istrinya untuk meminta ijin, karena saat ini mereka sedang bersama baby Dan yang sekarang sudah bisa di goda. Usianya sudah hampir tiga bulan.
Armell mengangguk tanda mengiyakan. Seno lalu berdiri, " Ayo. " ajaknya.
Bryan mengikutinya berdiri dan melangkah mengikuti Seno.
" Mau bicara apa Lo? " tanya Seno saat mereka sudah duduk bersebelahan di kursi taman belakang.
Seno sudah hapal betul gelagat Bryan jika ingin berbicara serius dengannya.
" Ck! Selalu ketebak. " gerutu Bryan.
" Ya iyalah. Lo lupa, udah berapa lama kita barengan, sahabatan? Bahkan sekarang kita beneran jadi sodara. "
Bryan menghela nafas berat. Lalu ia menyatukan kedua tangannya dengan lutut sebagai tumpuan.
" Ada hubungan apa adik ipar lo sama bodyguard bini Lo? "
" Pipit sama Damar maksud Lo? "
" Hem. Siapa lagi? "
" Biasa aja hubungan mereka. "
" Tapi gue ngeliatnya nggak kayak gitu. Lo jujur aja ke gue. Jangan nutup-nutupin apapun dari gue. Gue tahu, Lo tahu semuanya. Gue nggak pa-pa jika emang hubungan mereka seperti yang gue pikirin. " Bryan menjeda omongannya dengan menarik nafas panjang. " Gue emang cinta sama adik Lo. Tapi jika nggak boleh egois juga. " tambahnya.
" Bry, Lo nggak boleh pesimis gitu lah. Lo harus berjuang dan berusaha untuk mengambil hati adik gue. Gue yakin, Lo bisa. " Ucap Seno sambil menepuk pundak Bryan.
" Gue ini laki-laki be*jat. Mungkin emang nggak pantes gue bersanding sama adik Lo. " Bryan menunduk.
Seno merangkul bahu Bryan. " Jangan bilang seperti itu. Buat gue, Lo pantes buat adik gue. Lo berhak buat bahagia,bro. Gue yakin, bini gue juga seneng adiknya punya laki kayak Lo. "
Bryan tersenyum miris mengingat masa lalunya. " Lo belum jawab pertanyaan gue tadi. Kalau emang Damar ada hubungan sama Pipit, gue bakalan ikhlasin adik lo sama Damar. Gue yaki, dia laki-laki yang jauh lebih daripada gue. "
Seno menarik nafas dalam-dalam. " Mereka memang saling mencintai. Tapi mereka sedang tidak dalam hubungan asmara. Mereka hanya sekedar dekat. Buat gue, Lo masih jauh lebih baik dari siapapun. Lo yang paling pantas buat Pipit. Bukan laki-laki lain. Apalagi si Damar. "
" Damar laki-laki yang baik, bro. Lo kenapa seperti itu ke dia? "
" Yah, mungkin dia memang laki-laki yang baik dan bertanggung jawab. Tapi nasibnya yang tidak baik. Sebenarnya, Damar juga sudah menikah. Dengan gadis dari kampungnya karena perjodohan. Dan sekarang, istrinya itu sedang mengandung. "
" What? Are you kidding? " Bryan nampak sangat terkejut.
" Gue serius. Gue selalu tahu apa saja yang terjadi dengan semua anak buah gue. Apapun itu. Tapi Pipit belum mengetahui tentang hal ini. Bahkan gue juga belum cerita sama Armell. "
Bryan mengusap wajahnya kasar. " Dunia memang senang sekali bercanda. Bagaimana Damar ke Pipit setelah ia menikah? "
" Aku perhatikan, masih sama. Dia masih tetap mencintai Pipit. Sepertinya dia enggan untuk menceritakannya ke Pipit. Seperti halnya Pipit yang enggan untuk jujur tentang pernikahannya sama Lo. "
" Jangan memberitahu Pipit lebih dulu. Biarkan ia tahu sendiri kebenarannya. " pinta Bryan.
" Gue juga berencana seperti itu. Gue yakin, nggak lama lagi, Pipit akan tahu dengan sendirinya. Karena ibu Damar meminta Damar untuk membawa istrinya yang sedang hamil itu ke Jakarta. "
Bryan manggut-manggut.
Seno menepuk pundak Bryan, " Jadi Lo jangan pernah menyerah untuk mendapatkan hati adik gue. Dia pasti bisa membuka hatinya buat elo. Lo harus lebih gencar mendekatinya. "
***
bersambung
Like...like...like....jangan lupa, di like ya guys....🙏🙏🙏
KARNA BIKIN TRAUMA RMH TANGGAKU YG PERTAMA.😡😡😡😡😡😢😢😢😢😢