Seorang gadis yatim piatu tinggal dengan neneknya, bertemu dengan CEO tampan. Pertemuan yang tak di sengaja membuat mereka mereka terikat di sebuah pernikahan.
"Tuan Alex yang terhormat, jangan coba-coba menyentuhku atau kau harus ganti rugi." jari telunjuk Arie menegak tepat di wajah Alex, Arie merasa itu akal akalan Alex agar bisa menyentuhnya.
"Cih.. kau bahkan bukan levelku."
Alex menatap tak kalah mengintimidasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Drama Mertua
"Lapo aku muring muring, iku gugu urusan ku kan, ga ngurus, tapi nek bener dek ne dulur ku, akhh.... aku ga ngurus pokok e, utek ki bledos nek mikir keluarga iku terus" [Kenapa aku harus marah, itu semua buka urusan ku, aku ga perduli, tapi kalau benar dia saudara ku, akhh... aku ga perduli, bisa meledak otak ku memikirkan keluarga itu] Arie terus menggerutu tanpa henti sepanjang lift ini naik.
Bahagia itu yang seharusnya di rasakan seseorang, saat menemukan keluarga yang telah lama terpisah, namun saat keluarga itu tak seperti apa yang kita harapkan, apa yang harus kita lakukan, Arie lebih bisa menerima kalau dia hanya anak dari orang tua yang tak mampu untuk menghidupinya, atau hasil dari hubungan yang tak seharusnya di lakukan, tapi Arie harus di hadapkan dengan kenyataan bahwa, Nenek kandunganya sendiri yang membuangnya, hanya karena dia keturunan dari wanita yang tak di anggap sederajat bukankah itu terlalu tak masuk diakal. Bukankah di hadapan Tuhan kita semua sama, tak ada yang membedakan kita, dan bukankan setiap bayi itu suci, mereka tidak bisa memilih dari rahim mana mereka di lahirkan.
Ting..
pintu lift terbuka, Arie mempercepat langkahnya menuju Apartemennya.
"hem... sopo iku" [ hem.. siapa itu] Arie memicingkan matanya, melihat seorang wanita paruh baya yang sedang duduk di ruang tamu bersama Nuwa, saat ia memasuki apartemen.
"Ini nih.. Ma wanita ******" Ujar Nuwa sambil menunjuk nunjuk Arie, saat Arie berjalan mendekat ke arah mereka.
"Maaf Anda siapa?" tanya Arie berusaha untuk tetap ramah,
"Aku Li Wei Wang, ibu dari Suami mu" ujar wanita Paruh baya itu dengan pongah.
"Ohh.... berarti Anda adalah Ibu Mertua saya." Arie tersenyum ramah, Arie meraih tangan wanita itu hendak mencium tangannya.
"Jangan sebut Aku Ibu Mertua, aku tak sudi punya menantu seperti mu,"Li Wei menepis tangan Arie, memandang jijik padanya.
"Bukankah Anda sendiri yang mengatakan, kalau Anda adalah Mama dari Suami saya, berarti secara tidak langsung Anda sudah mengakui saya sebagai menantu Anda." Arie memasang tersenyum termanisnya. Li Wei mengeratkan giginya kesal, ternyata Arie bukan gadis sederhana yang seperti dia bayangkan.
"Kau... berani sekali kau berkata seperti itu pada Mama" Nuwa mengangkat tangan hendak mengarahkan ke pipi Arie, namun segera di tangkap oleh Arie.
"Aku bukan wanita lemah, Adikku sayang." Arie mempererat cengkramnya di pergelangan tangan Nuwa, Nuwa meringis kesakitan. Li Wei nampak Cemas saat melihat anaknya kesakitan.
"Hey apa yang kau lakukan, cepat lepaskan dia,"Li Wei mendorong tubuh Arie sampai tubuhnya jatuh tersungkur di lantai.
"Apa yang kalian lakukan" suara bariton itu membuat ketiga wanita itu menoleh secara bersamaan ke arah sumber suara.
"Alex.. sayang," Li Wei segera berhambur memeluk anaknya, namun Alex tak membalas pelukannya dia hanya diam.
"Ma .. apa yang mama lakukan" Dia istri Alex Ma." Alex melepaskan pelukan mamanya, lalu beranjak mendekati Arie yang masih di duduk di lantai.
"Apa kau baik baik saja." Alex berjongkok di hadapan Arie, memperhatikan Arie dari atas kebawah secara berulang ulang, lalu membantunya berdiri.
"Aku tidak apa apa." ucap Arie sendu, dengan masih menunduk.
"Alex...kenapa kau malah membela wanita Murahan itu, lihatlah karena dia, pergelangan tangan Nuwa merah seperti ini," Li Wei menarik tangan Nuwa, menyodorkannya di hadapan Alex.
"lihat apa yang Istrimu ini lakukan."
"Maaf aku tidak sengaja," lirih Arie.
"Mama dengarkan, Arie tidak sengaja melakukannya."
"Alex, kau sungguh berani menentang Mama." Li wei melotot, matanya hampir keluar saking kesalnya dengan Alex.
"Ma...bukan seperti itu maksud ku, tapi aku berharap Mama bisa untuk menerima pernikahan kami." imbuh Alex, Arie bersembunyi di belakang Alex, Arie malah dengan santai, menjulurkan lidahnya kepada ibu mertuanya.
"Hey wanita kampung berani kau mengejekku, dasar kau tidak tahu sopan santun." Li Wei menjulurkan tangannya hendak meraih rambut Arie, namun dengan sigap Alex menengahi mereka.
Nuwa pun tak tinggal diam dia memutari sofa menarik tangan Arie dari belakang, Arie pasrah dia biarkan Nuwa mendorong tubuhnya hingga jatuh, Nuwa mulai menjambak rambutnya, Arie mengerang kesakitan.
Plakk.. Plaakk..
Arie mendapatkan tamparan di kedua pipinya.
"Aakh.. sakit." Arie memegangi pipinya. Arie sengaja mendramatisir keadaan, tamparan yang Arie hanya seperti belaian pada pipinya. Mungkin karena badan Nuwa yang kecil atau memang Nuwa tak punya tenaga.
"Dasar wanita ******, gara gara kau, Keke menolak ku,... semua gara..gara kau dasar iblis." Nuwa menjambak rambut Arie lagi, mengacak acak. Arie memang sengaja tak membalasnya atau membela diri. Dia membiarkan apa yang Nuwa ingin lakukan padanya.
Alex melepaskan Mamanya yang sedari tadi memeluk erat dirinya, menghalanginya untuk menolong Arie, Alex menarik paksa Nuwa yang mengungkung Arie.
"Kenapa Keke membela wanita sialan ini," mata Nuwa sudah merah dan berkaca kaca, ia tak menyangka Kakak yang begitu ia sayangi malah mendukung wanita lain di bandingkan dirinya.
"Nuwa cukup, kau sudah keterlaluan." Alex mengangkat tubuh Arie mengendongnya ala bridel.
"Aku ingin kalian keluar dari rumah ini sekarang." Alex melangkah meninggalkan mereka.
"Alex.... kau keterlaluan kau mengusir kami, Mama tidak akan memaafkan mu," teriak Lu Wei. Alex memejamkan matanya sejenak, dia tidak menyangka Mamanya akan berbuat seperti ini. ia pun melanjutkan langkahnya menuju kamar.
"Ayo kita pergi," Li Wei menarik tangan Nuwa,
"Tapi Ma.. aku mau tinggal di sini, sama Keke" rengek Nuwa.
"Apa kau tidak lihat, Kakak mu sudah di hasut oleh ****** itu, kau tidak akan mendapatkan apa-apa jika terus di sini, kita pergi, Mama akan memikirkan sesuatu untuk mengusir perempuan itu dari hidup Alex."
"Baiklah" dengan lesu Nuwa mengikuti langkah Mamanya keluar dari apartemen.
Sementara di dalam kamar, Alex mendudukkan Arie di tepi ranjang dengan perlahan.
"Aku baik baik saja, jangan khawatir," Melihat muka Alex yang merasa bersalah, Arie berusaha menghiburnya.
"Tidak apa apa bagaimana, lihat keadaan mu sekarang, rambut awut awutan kayak singa,ini kedua pipi mu, dan ini lihat lenganmu kenapa bisa begini."
"Bukankah kau tadi juga lihat, bagaimana Adikmu bercanda denganku, dan kenapa kau malah memarahi ku, dasar aneh." Arie membuang mukanya ke samping. Alex mengusap wajahnya kasar.
"Maaf, aku tidak menyangka mereka akan seperti itu," Alex mendudukkan dirinya di samping Arie.
"Tak apa, aku bisa mengerti, lagi pula yang di katakan Mama mi benar, aku memang tidak pantas menjadi istrimu."
"Arie, aku..." Alex tak melanjutkan ucapannya, Alex bangkit dari duduknya, mengambil sebuah kotak P3K dari laci di bawah nakas, dia mulai mengoleskan obat pada luka cakaran di lengan Arie. Arie tersenyum melihat Alex yang dengan telaten mengobati lukanya.
Arie aku tidak suka melihatmu seperti ini, Aku tidak suka kau merendahkan dirimu sendiri, lirih. Alex dalam hati. khawatir namun egonya tak membiarkan dia mengungkapkannya.
"Tahan ini mungkin sedikit sakit," Arie mengangguk pelan, bagi Arie luka di lengannya tak terasa sama sekali.
"Alex"
"Hem"
"Boleh aku bertanya."
"Tentu." jawab Alex singkat sambil terus menunduk mengoleskan obat dengan perlahan, seakan kulit Arie bisa hancur bila dia terlalu menekannya.
"Kenapa Nuwa bilang kalau kau menolaknya, apa yang ingin dikatakan Nuwa sebenarnya." Alex mengadahkan wajahnya, perlahan dia menghembuskan nafas panjang.
"Aku dan Nuwa bukan saudara kandung, Nuwa adalah anak Mama dengan suami sebelumnya, dan Mama menikah dengan Daddy saat aku berusia 10 tahun."
"Dan Mama mu sendiri, dimana Beliau?"
"Mommy meninggal karena kecelakaan saat aku berusia 8 tahun," Wajah Alex berubah sendu.
"Maaf," Arie mengulurkan tangannya memeluk pinggang Alex, sejenak ia menikmati aroma maskulin suaminya yang begitu menenangkan.
"Ehem"
"S
Eh... maaf ke enakan, hehehe." Arie melepaskan pelukannya.
"Aku akan kembali ke kantor, jangan menungguku, hari ini aku pulang agak larut"
"Inikan sudah sore, tidak bisakah dia menemaniku di rumah." lirih Arie hampir tak terdengar.
"Kau bilang apa? "
"Ah... tidak, aku tidak bilang apa-apa, bagaimana dengan Mama mu?"
"Besok aku akan bicara dengannya."
"Kau istirahat lah." Arie hanya mengangguk kecil, memperhatikan punggung Alex yang sudah tak terlihat di Balik pintu. Arie menghempaskan tubuhnya di atas kasus empuk miliknya, dengan kedua tangan yang terbuka lebar.
"Satu kosong, Ibu Mertua." Arie tersenyum lebar menatap langit langit kamarnya.
"Aku tak akan membiarkan sejarah terulang, cukup di sekolah saja aku mengulang sejarah Indonesia, hehehehe."
cewek lain km perhatikan sedangkan istri sendiri km abaikan dasar gob**k