Arka Baskara, dikirim oleh dinas ke Desa Sukamaju. Tugasnya menjadi Pejabat (Pj) Kepala Desa termuda untuk membereskan kekacauan administrasi dan korupsi yang ditinggalkan kades sebelumnya.
Arka datang dengan prinsip kaku dan disiplin tinggi, berharap bisa menyelesaikan tugasnya dengan cepat lalu kembali ke kota.
Namun, rencananya berantakan saat ia berhadapan dengan Zahwa Qonita. Gadis ceria, vokal, dan pemberani, anak dari seorang Kiai pemilik pesantren cukup besar di desa.
Zahwa adalah "juru bicara" warga yang tak segan mendatangi Balai Desa untuk menuntut transparansi. Baginya, Arka hanyalah orang kota yang tidak paham denyut nadi rakyat kecil.
Bagaimanakah kisah Arka dan Zahwa selanjutnya? Hanya di Novel "Ada Cinta di Balai Desa"
Follow Me :
Ig : @author.ayuni
TT: author ayuni
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar Yang Menggetarkan Hati
Setelah Arka berpamitan pulang, suasana di kediaman utama Kiai Hasan terasa begitu tenang namun sarat akan makna. Kiai Hasan duduk di kursi kayu jati ruang tengah, ditemani Ummi Maryam yang sedang merapikan beberapa kitab.
Tak lama kemudian, Zahwa masuk. Langkahnya sedikit tergesa karena ia baru saja menyelesaikan tugas rutinnya memantau asrama putri. Jilbab instan yang ia kenakan tampak sedikit berantakan karena angin malam, namun wajahnya tetap terlihat teduh.
"Abah memanggil Zahwa?" tanya Zahwa sambil mencium tangan kedua orang tuanya.
Kiai Hasan tersenyum, mengisyaratkan putri tunggalnya itu untuk duduk. "Duduk dulu, Nak. Ada hal penting yang ingin Abah sampaikan."
Zahwa duduk meski dalam hatinya ia bertanya-tanya. Jarang sekali Abah memanggilnya selarut ini jika bukan urusan yang sangat mendesak.
"Barusan Nak Arka kemari," ujar Abah membuka percakapan.
"Tujuannya bukan soal urusan desa atau pembangunan wisata teh."
Zahwa terdiam, jantungnya mulai berdegup tidak beraturan. Ia sudah menduga sesuatu, namun tetap saja rasanya mengejutkan saat mendengarnya langsung.
"Dia datang membawa niat baik. Nak Arka mengutarakan keinginannya untuk melamarmu, Zahwa," lanjut Abah dengan nada yang sangat lembut.
Zahwa terhenyak. Matanya membulat sesaat, ada binar yang sulit ia sembunyikan. Benar saja, ia kaget, tapi bukan kaget yang menyesakkan, melainkan kaget yang membawa rasa hangat merambat ke seluruh dadanya. Selama ini, Zahwa selalu berusaha menjaga jarak, menetralkan hati agar tidak terjatuh dalam zina pikiran maupun hati. Namun, mendengar keberanian Arka datang langsung menemui Abahnya, benteng yang selama ini ia bangun seolah runtuh seketika.
"Abah dan Ummi melihat kesungguhan di matanya," tambah Ummi sambil mengelus pundak Zahwa.
"Tapi semua kembali padamu, Nak.. Kami setuju saja karena kami tahu bagaimana akhlak Arka selama di sini. Hanya saja, Arka meminta waktu sedikit lagi. Dia ingin menyelesaikan dulu beberapa program kerjanya di Sukamaju sebelum pulang ke Ibu Kota untuk menjemput orang tuanya."
Zahwa menunduk dalam, mencoba mengatur napasnya. "Zahwa... serahkan keputusan terbaik menurut istikharah Abah dan Ummi. Jika Abah dan Ummi sudah merasa ridha, maka Zahwa pun ridha."
Suaranya lirih, namun ada kemantapan di sana. Di dalam hatinya, Zahwa bersyukur bahwa rasa yang selama ini ia coba tekan, rasa yang hadir tanpa diduga dan tanpa diminta itu, ternyata menemukan muara yang benar melalui jalan yang diridhai agama.
"Alhamdulillah," ucap Kiai Hasan. "Kalau begitu, kita tunggu sampai dia menyelesaikan tugasnya. Dia laki-laki yang bertanggung jawab, dia ingin meninggalkan Sukamaju dalam keadaan baik sebelum memulai babak baru dalam hidupnya."
Sementara itu, Arka benar-benar menepati janjinya. Meski restu dari Kiai Hasan sudah di tangan, ia tidak lantas bersantai. Sebaliknya, ia justru semakin giat. Ia tidak ingin meninggalkan Sukamaju dengan hutang pekerjaan.
Pagi-pagi sekali, Arka sudah berada di lokasi pembangunan gerbang wisata teh. Ia memeriksa detail material, berdiskusi dengan para tukang, dan memastikan semua berjalan lancar. Ia ingin kado terakhirnya untuk Sukamaju adalah sebuah sistem wisata yang mapan, sehingga saat ia sibuk dengan urusan lamaran nanti, desa ini tetap bisa berjalan mandiri.
Sesekali, saat sedang meninjau lapangan, Arka melihat Zahwa dari kejauhan yang sedang mendampingi ibu-ibu PKK. Mereka tidak saling bicara, namun ada sebuah pemahaman baru yang menggantung di udara. Sebuah rahasia indah yang hanya diketahui oleh keluarga pesantren dan Arka sendiri.
"Pak Kades makin semangat saja, sepertinya mau kejar target ya?" goda seorang warga yang lewat sambil memikul keranjang teh.
Arka hanya tertawa kecil tanpa menjawab. Ia menyimpan rapat-rapat rencana besarnya. Ia ingin segalanya matang sempurna sebelum suara kabar bahagia itu meledak di warung Bu Sari.
***
Keesokan harinya, Zahwa baru saja menyelesaikan sesi olahraga memanahnya di lapangan samping pesantren. Masih dengan sisa napas yang sedikit terengah dan jemari yang terbungkus pelindung kulit, ia berjalan menuju gerbang depan ditemani Siti, salah satu santriwati setianya.
Pikiran Zahwa tidak sepenuhnya tenang. Tadi subuh, ia mendengar laporan dari seorang santri yang melihat Arka sempat dihadang oleh Fikri dan komplotannya di dekat rumpun bambu. Kabarnya, gerombolan itu bubar tepat saat azan berkumandang dan beberapa santri mulai terlihat melintas.
Suara deru motor dinas yang khas memecah lamunan Zahwa. Dari kejauhan, Arka tampak melaju pelan, baru saja kembali dari peninjauan pembangunan spot foto di puncak kebun teh. Debu tipis menempel di jaketnya, namun wajahnya tampak cerah.
Saat motor itu mendekat, Zahwa memberanikan diri mengangkat tangan sedikit, memberi isyarat agar Arka menepi. Arka pun mematikan mesin motornya tepat di depan gerbang.
"Assalamualaikum, Pak Kades," sapa Nunik, salah satu santri mendahului.
"Waalaikumsalam," jawab Arka sambil membuka kaca helmnya, lalu menatap Zahwa dengan binar mata yang sulit disembunyikan.
Zahwa berdehem pelan, mencoba menetralkan kegugupannya.
"Maaf, Pak... saya dengar dari santri, kemarin sore ada sedikit... gangguan di jalan rumpun bambu? Apa Bapak tidak apa-apa?"
Arka terdiam sejenak, lalu senyum simpul menghiasi wajahnya. Ia tahu berita di desa ini memang secepat angin. "Oh, soal itu? Tidak apa-apa. Hanya sedikit diskusi antarpemuda soal batas wilayah. Saya aman, tidak ada lecet sedikit pun."
Zahwa menghela napas lega, namun ia masih merasa ada yang mengganjal. Dengan nada sedikit protes namun lembut, ia melanjutkan, "Lalu soal semalam... kenapa Bapak tidak bilang kalau mau sowan ke Abah? Saya kaget sekali saat Abah memanggil saya setelah Isya."
Arka turun dari motornya, menyandarkan kendaraan dinas itu, lalu melipat tangannya di depan dada dengan gaya santai yang justru terlihat menggoda.
"Lho, kenapa saya harus bilang ke kamu?" tanya Arka dengan nada jenaka.
"Semalam itu urusan saya kan ke Abah, kepentingannya sama Abah, bukan sama kamu. Jadi saya lapornya ke pemilik rumah, bukan ke penghuninya."
Wajah Zahwa seketika merona merah. Jawaban jujur namun telak itu membuatnya kehilangan kata-kata. Nunik yang berada di sampingnya menunduk sambil menahan senyum.
"Tapi kan... setidaknya kalau Pak Kades bilang, saya bisa bersiap atau... apa gitu," gumam Zahwa malu-malu.
Arka melangkah satu tindak lebih dekat, matanya menatap Zahwa dengan tatapan yang sangat dalam namun penuh kelembutan. "Masih panggil 'Pak'?" godanya pelan, suaranya kini sedikit merendah.
Zahwa mendongak, matanya bertemu dengan mata Arka. "Eh? Memangnya harus panggil apa? Kan memang Bapak Kepala Desa kami."
Arka tertawa kecil, suara tawa yang membuat jantung Zahwa semakin tidak keruan. "Di kantor desa, saya memang Bapak Kepala Desa. Tapi kalau di depan gerbang pesantren dan setelah bicara sama Abah semalam... rasanya sebutan 'Pak' itu jadi terlalu formal, ya?"
Zahwa memalingkan wajah ke arah busur panahnya, mencoba menyembunyikan senyum yang mulai merekah.
Arka kembali menaiki motornya, ia harus segera kembali ke balai desa untuk rapat koordinasi terakhir sebelum benar-benar izin ke Ibu Kota. "Saya pamit ya. Tolong doakan proyek wisatanya lancar, agar saya bisa cepat-cepat urus proyek pribadi saya di Ibu Kota."
Arka menghidupkan mesin motor, meninggalkan Zahwa yang masih berdiri terpaku di depan gerbang. Panggilan "Pak" yang digoda Arka tadi benar-benar membekas, membuat Zahwa sadar bahwa status hubungan mereka kini telah bergeser ke arah yang jauh lebih serius.
...🌻🌻🌻...