Naoto Raiden, seorang tentara yang tewas dalam konspirasi militer, bereinkarnasi ke masa perang klan di dunia Naruto sebagai bagian dari keluarga Senju. Namun, identitas aslinya jauh lebih agung: ia membawa darah murni Otsutsuki beserta mata Tenseigan yang legendaris.
Memilih untuk hidup santai namun tetap melindungi keluarga angkatnya, Raiden tumbuh sebagai kakak dari Hashirama dan Tobirama. Setelah melewati hibernasi panjang demi berevolusi di planet asing dan mengalahkan Momoshiki, ia kembali ke era Naruto dengan kekuatan yang melampaui dewa. Kini, dengan identitas sebagai suami Tsunade dan mentor rahasia bagi Naruto, Raiden bergerak di balik bayang-bayang untuk membersihkan Konoha dari kegelapan dan menghadapi ancaman klan Otsutsuki yang mulai mengintai bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orpheus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
unknown
Hanya berselang satu hari setelah keberangkatan Naruto, suasana di kantor Hokage kembali sibuk. Namun, kesibukan itu terusik oleh suara pintu yang diketuk dengan cepat.
Seorang gadis berambut merah muda masuk dengan langkah mantap. Matanya memancarkan tekad yang jauh lebih kuat daripada biasanya. Sakura Haruno berdiri tegak di depan meja Tsunade.
"Hokage-sama! Tolong... jadikan aku muridmu! Ajari aku medis dan cara bertarung yang benar!" seru Sakura sembari membungkuk dalam.
Tsunade, yang sedang menyandarkan kepalanya di bahu Raiden sembari malas-malasan memeriksa dokumen, sedikit tersentak. Ia menatap Sakura dengan pandangan lelah, lalu beralih menatap suaminya dengan tatapan manja yang memelas.
"Aduh, Sakura... kau lihat sendiri kan? Pekerjaan Hokage ini sangat menumpuk. Aku benar-benar tidak punya waktu luang," keluh Tsunade sembari mengeratkan pelukannya pada lengan Raiden. "Kenapa kau tidak minta diajari Raiden saja? Dia jauh lebih kuat dariku."
Raiden yang sedang asyik memilin rambut pirang Tsunade langsung menggeleng cepat. "Haisss... Tsuna, kau ini ada-ada saja. Mengajar satu bocah rubah saja sudah membuat kepalaku pening, apalagi harus mengajar murid resmi. Aku ini pengembara, bukan kepala sekolah."
Sakura masih tetap dalam posisi membungkuk, tidak bergeming sedikit pun. "Tolong, Hokage-sama! Naruto sudah pergi berlatih, Sasuke sudah memilih jalannya sendiri... aku tidak mau hanya menjadi beban yang menangis di belakang mereka! Aku ingin berdiri sejajar dengan mereka!"
Melihat tekad yang membara di mata Sakura, Raiden sedikit tertegun. Ia melepaskan tangan Tsunade dengan lembut dan berjalan mendekati Sakura. Ia bisa merasakan aliran cakra Sakura yang sangat stabil dan terkontrol dengan baik—potensi yang sempurna untuk ninjutsu medis.
"Tsuna, lihat matanya," ucap Raiden pelan sembari menyeringai. "Gadis ini punya api yang sama denganmu. Jika kau menolaknya sekarang, kau mungkin akan menyesal kehilangan pewaris kekuatan medis sehebat dirimu."
Tsunade menatap Sakura dalam-dalam. Ia melihat bayangan dirinya yang muda di dalam diri gadis itu. Akhirnya, sang Hokage menghela napas panjang dan tersenyum tipis.
"Baiklah, Sakura. Mulai besok, bersiaplah untuk neraka yang sesungguhnya. Aku tidak akan memberimu keringanan sedikit pun hanya karena kau teman Naruto," ucap Tsunade tegas.
Sakura mendongak dengan wajah cerah dan air mata haru. "Terima kasih, Hokage-sama! Terima kasih, Raiden-sama!"
Raiden tertawa keras hingga suaranya mengguncang ruangan. "Hahahahaha! Akhirnya... bibit 3 Sannin muda sudah muncul sepenuhnya. Dunia ini akan menjadi sangat menarik dua tahun lagi."
Setelah urusan Sakura selesai, Raiden memutuskan untuk mencari udara segar. Ia berjalan santai menuju danau tersembunyi di pinggiran Konoha, membawa alat pancing kayu sederhananya.
Sesampainya di sana, ia melihat sosok yang sangat ia kenali sedang berbaring malas di dahan pohon besar yang menjorok ke arah air. Rambut perak yang berdiri tegak dan masker yang menutupi separuh wajah—Kakashi Hatake. Pria itu tampak sangat fokus membaca buku saku kecil bersampul oranye dengan gambar siluet sepasang orang.
Raiden menyeringai nakal. Dalam sekejap, ia menghilang dari posisinya semula.
Wuuushhh!
"Yo, Kakashi. Serius sekali bacanya," bisik Raiden tepat di depan wajah Kakashi yang sedang berbaring.
"Waaaa!!!" Kakashi tersentak hebat hingga hampir jatuh dari dahan pohon. Ia segera melakukan gerakan akrobatik untuk menyeimbangkan tubuhnya, namun ia terlambat menyadari satu hal. Tangannya terasa ringan.
"Mencari ini?" tanya Raiden sembari berdiri dengan santai di dahan yang sama, memutar-mutar buku Icha Icha Paradise di jarinya.
"Raiden-sama! Berikan itu kembali! Itu... itu referensi taktik yang sangat penting!" seru Kakashi dengan wajah yang memerah (meski tertutup masker), mencoba merebut buku itu.
Raiden dengan mudah menepis tangan Kakashi hanya dengan satu jari. Ia membuka buku itu secara acak dan membacanya dengan cermat. Alisnya berkerenyit, lalu ia menutup buku itu dengan kasar dan melemparkannya kembali ke wajah Kakashi.
"Cih, buku yang tidak berguna. Alur ceritanya sampah, narasinya picisan... pantas saja kau menjomblo seumur hidup, Kakashi," ejek Raiden sembari melompat turun ke batu besar di tepi danau untuk mulai memancing.
Kakashi menangkap bukunya dengan penuh kasih sayang, lalu menghela napas pasrah. Ia ikut melompat turun dan duduk di samping Raiden. "Anda tidak mengerti seni, Raiden-sama. Ini adalah karya besar Jiraiya-sama."
Suasana hening sejenak, hanya terdengar suara riak air dan kicauan burung. Kakashi menatap permukaan air dengan pandangan serius, menyimpan bukunya kembali ke dalam tas ninja.
"Raiden-sama... soal Akatsuki. Kabar tentang pergerakan mereka semakin sering terdengar. Mereka benar-benar mengincar para Jinchuriki. Anda... apakah Anda tidak merasa perlu melakukan sesuatu?" tanya Kakashi pelan.
Raiden tetap fokus pada pelampung pancingnya yang mulai bergoyang. "Akatsuki ya? Hahaha, bagi mata ini, mereka hanyalah sekumpulan anak kecil yang sedang bermain petak umpet dengan takdir. Hal itu mudah diatasi, Kakashi. Jika aku mau, aku bisa menghapus markas mereka dalam satu malam."
"Lalu kenapa Anda diam saja?"
Raiden terdiam sebentar, ia menarik alat pancingnya yang ternyata kosong tanpa umpan. Ia menatap langit biru yang luas.
"Aku tidak akan membiarkan desa ini hancur lebur, itu janji aku pada Tsuna. Tapi..." Raiden menggantung kalimatnya. "Mungkin sedikit kekacauan itu perlu demi kemajuan desa ini. Jika aku selalu menyapu bersih semua musuh mereka, shinobi Konoha akan menjadi manja dan lemah. Mereka butuh badai untuk bisa terbang lebih tinggi."
Raiden menoleh ke arah Kakashi dengan tatapan yang sangat dalam, membuat Kakashi merasa seolah seluruh jiwanya sedang dibaca.
"Biarkan mereka berjuang. Biarkan Naruto, Sakura, dan bahkan bocah Uchiha itu menemukan jati diri mereka di tengah perang. Aku hanya akan bertindak jika 'skenario' dunia ini sudah mulai keluar dari jalurnya, fufufu," lanjut Raiden.
Kakashi mengangguk pelan, ia merasa sedikit tenang namun juga waspada. "Anda benar-benar melihat dunia ini dari sudut pandang yang berbeda, ya."
"Tentu saja. Karena aku adalah penguasa dari segalanya," sahut Raiden sombong sembari kembali melemparkan kailnya ke air. "Sekarang diamlah, kau membuat ikan-ikanku takut dengan aura surammu itu!"
Kakashi hanya bisa tersenyum di balik maskernya. Ia kembali mengambil posisi santai, namun kali ini ia tidak membaca buku mesumnya. Ia memilih untuk menutup mata, menikmati ketenangan sementara sebelum badai besar yang diramalkan Raiden benar-benar datang menghantam dunia shinobi.