Shen Yu hanyalah seorang anak petani fana dari Desa Qinghe. Hidupnya sederhana membantu di ladang, membaca buku-buku tua, dan memendam mimpi yang dianggap mustahil: menjadi kultivator, manusia yang menentang langit dan mencapai keabadian.
Ketika ia bertanya polos tentang kultivator, ayahnya hanya menegur jalan itu bukan untuk orang seperti mereka.
Namun takdir tidak pernah meminta izin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH.8
Setelah kehebohan di gerbang kota, Jin Bo segera menarik Shen Yu menjauh sebelum penjaga kota datang. Mereka menyusup ke gang-gang sempit Kota Batu yang berliku, menuju distrik yang lebih gelap dan kumuh: Pasar Gelap.
"Pukulanmu tadi hebat, tapi ceroboh," komentar Jin Bo sambil berjalan cepat. "Kau menggunakan Qi seperti orang buta melempar batu. Boros tenaga. Jika lawanmu punya teknik pertahanan tingkat menengah, tanganmu yang akan hancur."
Shen Yu tahu Jin Bo benar. "Aku tidak punya guru. Aku hanya meniru buku rusak."
Jin Bo berhenti di depan sebuah toko tua dengan papan nama miring: Paviliun Seribu Barang.
"Masuklah. Kita lihat-lihat disini sesuatu yang berguna."
Di dalam, aroma dupa menyengat hidung. Seorang pedagang tua bermata satu menatap mereka curiga. Namun, saat Jin Bo mengeluarkan sebuah lencana tembaga dengan lambang Keluarga Jin, sikap pedagang itu berubah 180 derajat menjadi ramah.
Shen Yu mengeluarkan Inti Kelelawar itu sebelum mengubur nya waktu di lumbung. Meski sudah agak rusak, pedagang itu menghargainya cukup tinggi karena intinya (Monster Core) masih utuh.
"Tiga Batu Roh," kata pedagang itu.
Jin Bo mengangguk pada Shen Yu. "Itu harga yang adil."
Dengan tiga batu roh pertama di tangannya, Shen Yu merasa gugup. Jin Bo kemudian menunjuk ke rak berisi gulungan bambu berdebu di pojok ruangan.
"Cari teknik dasar. Dengan tiga batu roh, kau tidak bisa membeli teknik tingkat Bumi, apalagi Langit. Kau hanya bisa dapat tingkat Fana kelas menengah."
Shen Yu memilah-milah gulungan itu. Matanya tertuju pada sebuah buku kusam berjudul: Tinju Penghancur Batu (Stone Crushing Fist).
Teknik ini tidak elegan. Itu hanya mengajarkan cara memadatkan Qi di titik (kepalan tangan) untuk meledakkan daya hancur maksimal dalam satu titik. Sederhana, kasar, dan cocok untuk seseorang dengan Qi yang sedikit.
"Pilihan bagus," komentar Jin Bo. "Itu teknik brutal. Cocok untukmu."
Sore harinya, mereka menuju Alun-Alun Kota Batu untuk mendaftar Ujian Sekte Awan Putih.
Tempat itu lautan manusia. Ribuan pemuda dari berbagai desa dan kota berkumpul. Namun, suasana riuh tiba-tiba senyap ketika sebuah kelompok berbaju sutra putih tiba.
Mereka dikelilingi pengawal, dan di tengahnya berjalan seorang pemuda tampan dengan wajah sedingin es.
"Itu Bai Jianfei," bisik Jin Bo, kipasnya berhenti bergerak. Wajahnya serius. "Tuan Muda Klan Bai. Jenius nomor satu di Kota Batu tahun ini."
Di tengah alun-alun, terdapat sebuah pilar kristal setinggi tiga meter: Pilar Pengukur Bakat.
Bai Jianfei melangkah maju. Ia meletakkan tangannya di kristal itu.
Wuuuung!
Cahaya menyilaukan meledak dari pilar. Warna ungu pekat membumbung tinggi hingga mencapai puncak pilar, diikuti oleh bayangan naga samar.
"Surga!" teriak penguji sekte dengan gemetar. "Akar Roh Petir! Tingkat 9! Bakat Surgawi!"
Kerumunan meledak dalam sorakan kagum. Tetua sekte yang mengawasi dari panggung tinggi langsung berdiri, tersenyum lebar. Bai Jianfei tidak tersenyum, seolah ini adalah hal yang wajar. Ia berjalan masuk ke area VIP tanpa menoleh.
Giliran Shen Yu tiba beberapa jam kemudian. Hatinya berdebar. Apakah dia juga jenius tersembunyi?
Ia meletakkan tangannya. Dingin.
Kristal itu berkedip... lalu bersinar suram. Lima warna (Merah, Biru, Hijau, Kuning, Emas) bercampur aduk secara kacau, dan cahayanya hanya naik sampai mata kaki pilar.
Penguji itu menguap bosan. "Akar Roh Campuran Lima Elemen. Kualitas: Rendah. Hampir sampah. Lulus seleksi administrasi saja, tapi jangan harap banyak."
Hati Shen Yu mencelos jatuh ke dasar jurang.
Akar Roh Campuran adalah yang terburuk. Ia butuh lima kali lipat usaha untuk hasil seperlima dari orang lain. Perbedaan antara dirinya dan Bai Jianfei bagaikan lumpur dan awan.
Shen Yu berjalan mundur dengan kepala tertunduk, mengabaikan tatapan mengejek orang-orang. Jin Bo menepuk punggungnya, tidak berkata apa-apa, tahu bahwa kata-kata penghibur takkan berguna saat ini.
Malam itu, Shen Yu duduk sendirian di meja kamarnya di penginapan murah. Gulungan Tinju Penghancur Batu tergeletak belum dibuka. Bayangan cahaya ungu Bai Jianfei terus menghantuinya.
Apa gunanya berlatih jika takdir sudah menentukan batasnya?
Tok. Tok.
"Masuk," kata Shen Yu lemah.
Pintu terbuka. Bukan Jin Bo, melainkan seorang pelayan membawa nampan berisi surat tersegel lilin abu-abu.
"Tuan Shen Yu? Seseorang menunggu Anda di Paviliun Teh Angin Malam."
Shen Yu mengerutkan kening. Siapa yang mengenalnya?
Didorong rasa penasaran, ia pergi. Di ruang privat paviliun teh yang sunyi, duduklah Tetua berjubah abu-abu yang melihat pertarungannya siang tadi.
"Duduklah, Shen Yu," suara tetua itu serak seperti gesekan pasir.
"Tetua... siapa Anda?"
"Namaku Tetua Mo. Aku salah satu pengawas ujian luar Sekte Awan Putih." Tetua Mo menuangkan teh. Matanya tajam menatap Shen Yu. "Aku melihat bakatmu di pilar tadi. Menyedihkan. Kau akan gagal di ujian tahap kedua besok. Ujian itu membutuhkan stamina Qi yang besar, sesuatu yang tidak dimiliki Akar Roh Campuran."
Shen Yu mengepalkan tangannya di bawah meja. "Jika Anda hanya ingin menghina saya, saya pamit."
"Tunggu," Tetua Mo meletakkan sebuah token besi hitam di meja. "Aku suka matamu saat bertarung tadi. Mata serigala yang lapar. Sekte Awan Putih penuh dengan domba berbakat seperti Bai Jianfei, tapi kami kekurangan serigala yang mau melakukan pekerjaan kotor."
Shen Yu terdiam. "Apa maksud Anda?"
"Ambil token ini. Saat ujian besok, ini akan membukakan jalan pintas rahasia bagimu. Kau akan lolos menjadi Murid Luar tanpa perlu bersaing dengan para jenius itu."
Jantung Shen Yu berpacu. Ini adalah kunci emas.
"Tapi..." lanjut Tetua Mo, senyum tipis tersungging di bibirnya. "Tidak ada makan siang gratis. Jika kau masuk lewat jalanku, kau adalah milikku. Aku butuh mata dan telinga di dalam sekte. Laporkan apa yang kuminat, curi apa yang kuperintah, dan bunuh siapa yang kutunjuk."
Shen Yu menatap token hitam itu.
Di satu sisi, ini adalah jaminan masuk ke dunia yang ia impikan. Di sisi lain, ini adalah kontrak perbudakan dan pengkhianatan moral. Ia teringat wajah jujur ayahnya, dan harapan ibunya.
Tapi jika aku gagal besok, aku harus pulang sebagai petani gagal. Bisakah aku menerimanya?
"Waktumu sampai fajar," kata Tetua Mo, berdiri dan pergi. "Pikirkan baik-baik. Kehormatan tidak bisa dimakan, Nak. Tapi kekuasaan... kekuasaan bisa mengubah segalanya."