NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Ketua OSIS Dingin

Menikah Dengan Ketua OSIS Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Ketos / Perjodohan
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Novia Maharani itu paket lengkap masalah: ratu bolos, langganan BK, dan hobi bikin rusuh di sekolah. Tapi hidupnya berbalik 180 derajat saat dijodohkan paksa dengan Reyhan Aldebaran, Ketua OSIS paling dingin, perfeksionis, dan kaku se-antara jagat.

Tinggal seatap dengan musuh bebuyutan itu neraka. Reyhan benci kekacauan, sedangkan Novia adalah kekacauan itu sendiri. Namun, di balik sikap pemberontak Novia, ada luka masa lalu yang ia sembunyikan dengan tawa. Dan di balik wajah datar Reyhan, ada rahasia yang membuatnya enggan menyentuh cinta.

Saat tembok pertahanan mereka mulai runtuh oleh perhatian kecil yang bikin baper, rahasia keluarga dan ego remaja mengancam segalanya. Bisakah si pembuat onar dan si Ketua OSIS belajar dewasa bersama, atau pernikahan ini justru menghancurkan mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Trauma Novia? 06.

Kegelapan total di dalam gudang lama itu bukan sekadar hilangnya pasokan cahaya bagi Novia, melainkan sebuah mesin waktu tak kasat mata yang menyeretnya kembali ke titik paling kelam dalam hidupnya.

Dinginnya lantai semen merayap naik melalui kaus kaki tipisnya, tapi itu tidak sebanding dengan rasa beku yang tiba-tiba menyergap dadanya.

Dia terengah-engah. Oksigen di sekitar seolah menolak masuk ke dalam paru-parunya.

Suara hujan yang menghantam atap seng di atas kepalanya berubah menjadi dengung bising yang memekakkan telinga.

Bersamaan dengan kilatan petir yang memutihkan jendela atas sesaat, bayangan masa lalu itu terproyeksi dengan kejam di dinding ingatannya.

Dia baru berusia tujuh tahun saat itu.

Malamnya sama persis seperti ini—hitam, basah, dan mencekam.

Suara pecahan kaca terdengar nyaring dari ruang tengah rumah mereka. Ibunya menangis terisak, memohon agar siksaan verbal itu dihentikan. Novia kecil yang ketakutan berlari keluar kamar, memeluk kaki ayahnya dengan air mata yang bercucuran. “Ayah, stop! Jangan bentak Ibu! Novia takut...”

Namun, bukannya kelembakan yang didapat, tubuh mungilnya justru didorong kasar hingga sikunya menghantam sudut meja.

Tatapan Baroto malam itu penuh kebencian yang murni. “Anak pembawa sial! Jangan ikut campur urusan orang tua!”

Tangan kekar ayahnya kemudian menyeret kerah bajunya, melempar tubuhnya ke dalam gudang bawah tanah yang gelap gulita, lalu mengunci pintunya dari luar. Novia kecil berteriak sampai tenggorokannya berdarah. Dia menghantam pintu kayu itu hingga jemarinya membiru, sementara di luar, suara bentakan ayahnya terus bersahut-bersahutan dengan badai.

**

"Nggak... tolong, jangan..." bisik Novia di masa sekarang.

Dia merosot di sudut gudang SMA Pelita Bangsa yang berdebu.

Kedua lututnya ditekuk erat ke dada, tangannya mencengkeram rambutnya sendiri dengan kuat. Dia berusaha mengusir suara gema bentakan Baroto yang mendadak berputar kembali di kepalanya seperti kaset rusak.

Logikanya tahu ini bukan rumahnya.

Logikanya tahu dia sudah remaja.

Tapi tubuhnya menolak bekerja sama. Trauma masa kecil itu adalah monster yang bangun setiap kali kegelapan dan isolasi datang bersamaan.

Novia mencoba bangkit, meraba-raba dalam gelap untuk mencari jalan keluar. Dengan tubuh gemetar hebat, dia berhasil mencapai pintu gudang. Jari-jarinya yang basah oleh keringat dingin mencengkeram kenop pintu, lalu memutarnya dengan panik.

Ceklek. Ceklek.

Pintu itu tidak bergerak.

Jantung Novia serasa merosot ke lambung. Dia baru ingat, kenop pintu gudang lama ini sudah rusak.

Jika tertutup terlalu rapat dari dalam, kaitnya akan macet total dan hanya bisa dibuka dengan kunci khusus dari luar.

"Tolong! Siapa pun di luar, tolong buka!" teriak Novia, memukul-mukul permukaan pintu yang berdebu.

Namun, suaranya langsung tertelan oleh gemuruh guntur yang menggelegar di langit.

Sekolah sudah sepi sejak dua jam lalu.

Siapa yang akan mendengarnya di bagian paling belakang kompleks sekolah ini?

Napas Novia semakin pendek dan cepat—tanda-tanda hiperventilasi mulai menyerang.

Dada sebelah kirinya terasa begitu sesak, seolah ada bongkahan batu besar yang menghimpit aliran darahnya.

Pandangannya berputar, air mata ketakutan mengalir deras tanpa bisa dia bendung lagi.

Ego pemberontaknya yang biasanya menyala-nyala kini padam total, menyisakan jiwa seorang gadis kecil yang rapuh dan ketakutan setengah mati.

Di tengah keputusasaan yang mencekik itu, sebuah nama berkelebat di benaknya. Reyhan.

Cowok egois yang menjebloskannya ke tempat ini. Cowok yang menghukumnya demi mempertahankan otoritas dan menyembunyikan rahasia pernikahan mereka.

Novia membencinya. Dia benar-benar membenci cowok itu karena telah membuangnya seolah dia adalah aib yang memalukan.

"Reyhan... lo jahat..." tangis Novia pecah, tubuhnya kembali merosot di balik pintu. "Gue benci sama lo..."

Petir kembali menyambar dengan bunyi dentuman yang sangat keras, membuat kaca ventilasi bergetar.

Novia memejamkan matanya rapat-rapat, menutup kedua telinganya, menenggelamkan diri dalam histeria trauma yang kian mengoyak kewarasannya.

Dia merasa seperti akan mati malam ini, mati sendirian dalam kegelapan yang paling dia takuti.

Brak!

Tiba-tiba, di tengah deru hujan yang menggila, sebuah suara asing memotong kesunyian koridor.

Itu suara langkah kaki. Langkah kaki yang terburu-buru, disusul suara sepatu yang berdecit keras di atas lantai koridor yang basah.

Langkah itu bergerak dengan kecepatan gila, menuju lurus ke arah gudang biologi.

Novia menahan napasnya, memicingkan mata dalam kegelapan. Apakah itu hantu? Atau ayahnya yang datang untuk mengurungnya lagi?

"Novia?!"

Sebuah teriakan bariton memanggil namanya dari balik pintu. Suara itu tidak terdengar seperti suara ayahnya.

Suara itu familier, namun nadanya sangat tidak biasa—tidak ada ketenangan, tidak ada keangkuhan. Hanya ada getaran kecemasan yang teramat sangat.

Klak! Klak! Klak!

Kenop pintu diputar paksa dari luar dengan kasar, memicu bunyi besi yang beradu.

"Sialan, pintunya macet!" umpat suara di luar.

Brak!

Sebuah hantaman keras menghantam pintu kayu tua itu. Seseorang di luar sedang mencoba mendobraknya dengan bahu.

Brak! Jedar!

Bersamaan dengan kilatan petir ketiga yang membelah langit malam, pintu gudang lama itu akhirnya terbuka paksa.

Engsel besinya mengerang keras sebelum pintu itu terayun lebar, menabrak dinding di sampingnya.

Cahaya temaram dari lampu koridor luar seketika menerobos masuk, membelah kegelapan gudang.

Di ambang pintu, berlatarkan hujan badai yang membingkai tubuh tegapnya, seorang cowok berdiri dengan napas yang memburu hebat. Kemeja putih OSIS-nya basah kuyup hingga mencetak lekuk dadanya, rambut hitamnya yang biasa tertata rapi kini berantakan menempel di dahi, dan tetesan air hujan mengalir dari ujung dagunya.

Reyhan berdiri di sana dengan mata elang yang melebar tipis dan rahang yang mengeras penuh kepanikan—sebuah ekspresi mentah yang belum pernah Novia lihat sebelumnya dari sang robot sekolah.

......................

...****************...

Tbc,

1
Shabrina Darsih
laura laura naksir Rehyan samoe segitu nya sm Novia
Gege Mas
otor berusaha untuk mulai mematik apa yang bisa di sulut...naees...🤣
Gege Mas
Dan terjadi lagi...Nov..Nov...ck..ck..ck
Gege Mas
Dan ondolomon pun muncul ditengah kegelapan...🤣
Gege Mas
lanjuut Thor..belom berasa ini....10k kata gasss luncurkan
Gege Mas
yuklaah gass kasih intrik intrik kekinian yang membakar cemburu Dan bikin senyum senyum sendiri...semangaat..luncurkan 10k kata Thor...💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!