NovelToon NovelToon
An Affair Ashford

An Affair Ashford

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Roman-Angst Mafia
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Sepuluh tahun Dominic Qiel Ashford mempertaruhkan kesetiaannya hanya untuk ditolak berulang kali oleh Florence Nightingale, wanita yang menolak ikatan pernikahan. Luka penolakan itu akhirnya mendorong Dominic pada keputusan gila di sebuah malam yang pekat.

Di tengah frustrasi, ia mendapati Ester Alba—mahasiswi berbeasiswa sekaligus guru privat keponakannya—terjebak dalam gaun seksi di bar elit demi mencari biaya operasi sang ayah.

Demi menyelamatkan harga dirinya sekaligus melampiaskan keputusasaan, Dominic mengajukan penawaran berbahaya. Sebuah kesepakatan terikat yang menuntut kepatuhan mutlak, jauh dari ranah cinta.

Namun, saat rahasia alasan sebenarnya di balik kebencian Florence pada pernikahan mulai terkuak, Ester menyadari bahwa ia bukan sekadar pelampiasan—melainkan kunci dari permainan emosi yang siap menghancurkan mereka bertiga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#35

Malam pengantin yang seharusnya menjadi malam paling sakral dan romantis bagi pasangan yang baru menikah justru menjelma menjadi sebuah panggung sandiwara paling absurd di dalam sejarah dinasti Ashford.

Di dalam kamar pengantin utama mansion Ashford yang didekorasi dengan kelopak mawar putih dan pendar lampu temaram, suasana terasa begitu kaku.

Ester Alba berdiri di depan meja rias besar berbingkai ukiran emas. Ia baru saja selesai membersihkan riasan tebal di wajahnya.

Namun, alih-alih mengenakan gaun tidur satin transparan atau lingerie seksi yang biasa disiapkan untuk malam pertama, Ester justru mengenakan piyama katun flanel tebal berwarna hijau lumut berkerah tinggi—bahkan bagian lehernya tertutup rapat hingga menyentuh dagu, lengkap dengan kaos kaki wol tebal di kedua kakinya.

Ia tampak seperti hendak bersiap menghadapi badai salju di Siberia, alih-alih merayakan malam pertama pernikahannya dengan seorang miliarder tampan.

Ceklek.

Pintu kamar mandi terbuka.

Dominic Qiel Ashford melangkah keluar dengan mengenakan jubah mandi hitam sutra, rambut basahnya tersisir rapi ke belakang, dan aroma sabun mandi maskulin bercampur kayu cendana menguap di udara kamar.

Pria 32 tahun itu menghentikan langkahnya saat melihat punggung istrinya di depan meja rias.

Dominic mengerutkan keningnya dalam-dalam. Matanya menyipit, menatap pantulan bayangan Ester di cermin yang berpakaian setebal astronot di tengah musim panas.

Dominic berdehem pelan, mencoba memasang ekspresi angkuh dan acuh tak acuh khas seorang pria yang gengsinya setinggi langit. Ia melipat kedua tangannya di dada, lalu bersandar malas di kusen pintu kamar mandi.

"Apa yang sedang kau kenakan, Mrs. Ashford?" tanya Dominic dengan nada suara datar, berusaha terdengar sedingin dan seformal mungkin. "Kau berniat merintis karier sebagai pinguin kutub selatan di dalam kamarku?"

Ester menoleh perlahan lewat pantulan cermin. Tanpa rasa bersalah, ia merapikan kerah bajunya yang benar-benar menutupi lehernya—terutama bagian bekas luka bakar puntung rokok yang kemarin ia tancapkan sendiri untuk membuktikan ketegarannya di hadapan Florence.

"Udara di ruangan ini terasa sangat dingin, Tuan Ashford," jawab Ester dengan nada suara yang dibuat semanis dan sepolos mungkin. "Dan lagi... saya sedang menjaga diri saya dari segala bentuk 'kontak fisik' yang tidak diinginkan. Kulit saya sensitif terhadap udara malam."

Dominic mendengus pelan, sebelah alisnya terangkat tinggi.

Harga diri seorang Dominic Ashford seketika tercolek. Pria itu menyunggingkan senyum sinis, melangkah mendekat dengan gaya arogan yang dibuat-buat.

"Kontak fisik yang tidak diinginkan?" Dominic mengulangi kalimat itu dengan tawa hambar.

"Oh, ayolah, Ester. Kau tidak perlu berpura-pura menjadi suster gereja yang suci di hadapanku. Dua malam lalu di rumah tua Boston, kau bahkan merengek dan bertindak seperti kucing liar yang meminta lebih."

Wajah Ester memerah padam seketika, bukan karena malu, melainkan karena kesal diingatkan akan momen ketika ia terseret dalam emosi putus asa malam itu.

Ester bangkit berdiri dari kursi meja rias, membalikkan badan, lalu menatap Dominic dengan tangan berkacak pinggang—meskipun penampilannya tertutup rapat dari ujung kepala hingga ujung kaki.

"Itu malam lalu, Tuan! Malam di mana saya sedang berduka dan stres berat!" balas Ester sengit.

"Sekarang status saya adalah istri yang sah... tapi istri yang tidak dicintai, tidak diinginkan, dan baru saja dilemparkan ke penjara bawah tanah kemarin sore! Jadi, tolong hargai privasi piyama tebal saya ini!"

Dominic tertegun sekejap.

Ia menatap wanita di hadapannya dengan perasaan campur aduk.

Di satu sisi, ia masih menyimpan segunung kekesalan atas kebohongan besar dan obat perangsang yang pernah diberikan Ester padanya.

Tapi di sisi lain, melihat wanita itu berani membalas ucapannya dengan gaya ketus membuat Dominic merasa tertantang luar biasa.

Gengsi Dominic membumbung tinggi ke langit. Pria itu menaikkan dagunya, memasang wajah angkuh.

"Baguslah kalau kau sadar diri," cerca Dominic dingin, berjalan melewati Ester menuju ranjang king size.

"Karena aku juga tidak punya niat sedikit pun untuk menyentuhmu malam ini. Kau pikir aku sudi berbagi ranjang dengan seorang pembohong ulung sepertimu? Silakan nikmati piyama pinguinmu itu sendirian."

Dominic langsung merebahkan tubuhnya di sisi kiri tempat tidur, menarik selimut hingga sebatas pinggang, lalu memunggunginya dengan mata terpejam—berpura-pura langsung tidur pulas.

Ester mendengus kesal di tempatnya.

Sok jual mahal sekali pria ini, batin Ester mendengus. Ia berjalan ke sisi kanan ranjang, naik ke atas tempat tidur, dan mengambil bantal guling tebal untuk diletakkan di tengah-tengah kasur sebagai pembatas mutlak antara mereka berdua.

"Batas suci," gumam Ester pelan namun cukup nyaring untuk didengar Dominic. "Jangan sampai melewati garis ini, Tuan Ashford."

Dominic membuka sebelah matanya di dalam gelap, melirik sekilas ke arah pembatas guling tersebut. Ia mendengus dalam hati. Lihat saja berapa lama kau bisa bertahan dengan pembatas konyol itu, batin Dominic sinis.

Tengah malam merayap naik.

Suasana di dalam kamar pengantin itu berubah menjadi sunyi senyap.

Pukul dua pagi.

Dominic Ashford membuka matanya. Ia tidak bisa tidur.

Bukan karena ia merasa bersalah, melainkan karena aroma sabun vanila bercampur wangi khas tubuh Ester yang menguar tipis dari sisi sebelah tempat tidur berhasil merusaknya secara perlahan.

Dominic membalikkan badannya secara perlahan.

Di sebelah kanannya, Ester tidur dengan posisi telentang kaku, kedua tangannya terlipat di atas perut dengan gaya seperti mumi Mesir yang tertidur pulas.

Guling pembatas yang tadi dipasang dengan bangga kini sudah tergeser sedikit ke bawah karena gerakan tidur Ester.

Dominic menatap wajah wanita itu dalam-dalam.

Di dalam remang-remang cahaya lampu tidur, wajah Ester tampak begitu damai, polos, dan sama sekali tidak mencerminkan sosok manipulator licik yang kemarin membuat keluarganya jungkir balik.

Sialnya... gengsi besar Dominic tidak bisa menghentikan matanya untuk turun menelusuri lekuk tubuh wanita itu.

Meskipun Ester mengenakan piyama flanel tertutup rapat, bahan katun lembut itu justru melekat pas di tubuh rampingnya.

Dominic menelan ludahnya perlahan.

Sial... kenapa pakaian tertutup seperti itu malah terlihat jauh lebih menggoda daripada gaun transparan? batin Dominic mulai bergejolak.

Dengan gerakan sangat pelan—seperti seorang pencuri profesional yang sedang menjalankan misi rahasia—Dominic mengulurkan tangan kanannya, menggeser guling pembatas suci itu sejauh mungkin dari tengah kasur.

Lalu, ia menggeser tubuhnya mendekat.

Tangan kokoh Dominic melingkar di pinggang ramping Ester, menarik tubuh gadis itu agar merapat ke dada bidangnya.

Ester, yang sebenarnya belum tidur sepenuhnya karena merasakan pergerakan di sampingnya, langsung terperanjat kecil. Ia mencoba mendorong dada Dominic.

"Katanya... tidak sudi berbagi ranjang, Tuan Ashford?" sindir Ester dengan suara serak khas bangun tidur, mencoba melepaskan diri.

Dominic tidak melepaskan pelukannya.

Pria itu justru membenamkan wajahnya di ceruk leher Ester, menghirup aroma tubuh wanita itu dalam-dalam, sementara sebelah kakinya menindih selimut Ester agar tidak bisa bergerak.

Suara Dominic terdengar serak, berat, dan sarat akan bisikan yang kalah oleh nafsunya sendiri.

"Diamlah, Ester..." bisik Dominic rendah tepat di telinga gadis itu. "Udara malam ini mendadak berubah menjadi sangat dingin. Aku butuh penghangat ruangan... dan kebetulan piyama pinguinmu terlihat sangat fungsional."

Ester mendengus di dalam dekapan pria itu, meskipun sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyuman kemenangan yang tertahan di dalam gelap.

"Pihak pabrik piyama tidak menyediakan jasa sewa pelukan untuk pria sepertimu, Tuan," balas Ester mengejek.

Dominic tertawa rendah di dada Ester. Tanpa memedulikan argumen istrinya, tangan Dominic mulai merayap naik, membuka kancing atas piyama flanel itu dengan sabar.

"Kalau begitu, biarkan aku yang membayar sewanya secara tunai malam ini, Mrs. Ashford," bisik Dominic panas, sebelum akhirnya membungkam bibir Ester dengan ciuman dalam yang membuat seluruh perdebatan mereka lenyap ditelan malam.

...ΩΩΩΩ...

Pagi hari datang menyambut dengan cahaya matahari yang cerah menyusup melalui celah tirai.

Di atas tempat tidur king size yang berantakan, Ester Alba terbangun dengan tubuh terasa remuk redam.

Piyama flanel hijau lumut berkerah tingginya kini sudah terbuka setengah, kancing-kancingnya berserakan entah ke mana, dan selimut tebal menutupi separuh tubuh mereka.

Ester menoleh ke sebelah kanannya.

Dominic Qiel Ashford sedang tidur telungkup dengan sebelah tangan masih memeluk pinggangnya erat-erat.

Wajah pria itu tampak sangat tenang, damai, dan terlihat begitu tampan tanpa raut angkuh yang biasa ia pamerkan.

Ester tersenyum tipis. Ia mengangkat tangan kanannya, menyentuh helaian rambut hitam Dominic dengan lembut.

Tiba-tiba, mata abu-abu Dominic terbuka perlahan.

1
Mei TResna Rahmatika
nunggu gong nya nihh thor,thank thor hari ini update nya buanyakk 😍
Yusry Ajay
semangat berkarya Thor 💪🤗🤗
Yusry Ajay
makasih uda up bnyk Thor 🤗🤗
Yusry Ajay
ya ampun kasian Ester 🥺🥺
Yusry Ajay
masih pagi dom😁😁😁
Isma Nayla
semoga flo,dapat mengikhlaskan Dominic bersama Ester dan semoga flo dapat pengganti Dominic .
Rosdianah 🌷: Amiin🫶
total 1 replies
Isma Nayla
di episode sebelumnya di katakan Ester sudah meminumnya tanpa ketahuan Dominic kok sekarang bilang belum meminumnya Thor?
Isma Nayla
Ester juga egois tidak mikir perasaan Dominic.
sudah jelas Dominic akan melindungi tp kayak gak percaya.
Asriani Rini
Tenang ester yg penting dominic sudsh percaya sama kamu hidupmu akan trrus dilinfungi
Asriani Rini
Apa kunilang ester kalu ksu jujur pd dominic tentang mada lalu pasti dia akan melindungimu
Isma Nayla
apa mungkin nanti Ester pergi dari hidup Dominic ? dan mengandung bayi dom2 ?
deg-degan nunggu up selanjutnya Thor
Mei TResna Rahmatika
wahh klimaks nya nih,lanjut thor💪
Yusry Ajay
ester sangat trauma dgn masalalu nya🥺🥺🥺
Yusry Ajay
kasian Ester Thor 🥺🥺
Asriani Rini
Jgn kawatir ester yg penting kamu mencitai Dominic dgn tulus apapun masalalumu klan asford akan menrrimamu tapi satu saranku jujurlah sama dominic tentang masa lalumu
Rosdianah 🌷: kasih tau Ester kak🤣
total 1 replies
Isma Nayla
sungguh tragis kehidupan Ester 😭😭😭
jangan naruh bawang banyak2 Thor 😭😭😭😭
Rosdianah 🌷: tenang kak🤭
total 1 replies
Isma Nayla
di tunggu kelanjutannya lagi ya Thor 🤭
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Isma Nayla
kasihan sebenarnya Tristan tapi lebih kasihan Ester karena ayah keluarga Ester satu2 telah pergi😭
makasih sudah up Thor 🙏
Rosdianah 🌷: ma'aciww komentarnya kak🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
semangat berkarya 💪💪💪
Rosdianah 🌷: Ma'aciww kak komentarnya 🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
makasih uda up bnyk Thor 🤗🤗🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!