Nayara tak pernah menyangka, pria yang dinikahinya dengan penuh cinta, justru tega mengkhianatinya.
Adrian berselingkuh, bahkan menghamili wanita lain, di belakang dirinya.
Di tengah luka dan pengkhianatan, hadir seorang pria yang mencintainya.
Rendra, pria yang mencintai Nayara dalam diam dan bersedia memberinya ketulusan, dan cinta yang tak pernah ia dapatkan dari suaminya sendiri.
Kini, Nayara dihadapkan pada pilihan yang menyakitkan: bertahan demi pernikahan yang telah dikhianati atau pergi bersama luka yang belum sembuh.
Sementara itu, ada hati lain yang menunggunya, berharap suatu hari Nayara mampu membuka kembali pintu cintanya.
Namun, ketika Nayara akhirnya menentukan pilihannya, siapa yang akan ia genggam, suami yang mengkhianatinya, atau pria yang mencintainya? Dan akankah Adrian rela kehilangan istri yang selama ini ia sia-siakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24: Apa yang Kamu Sembunyikan, Mas?
____🌺
Nayara berhenti, lalu menatap suaminya dengan sorot mata menantang.
"Kamu bisa menahan-ku hari ini, Mas. Tapi kamu tidak bisa mencegahku selamanya," tegas Nayara. "Minggir, atau aku panggil polisi sekarang!"
Adrian mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Urat di lehernya menonjol karena menahan amarah.
Namun, ketika melihat tatapan Nayara yang begitu tegas, nyalinya perlahan ciut. Ia tahu istrinya tidak sedang menggertak. Jika keributan itu sampai melibatkan pihak luar atau kepolisian, kariernya di perusahaan bisa benar-benar terancam.
Dengan napas kasar, Adrian akhirnya menurunkan kedua tangannya dan melangkah mundur.
Nayara tidak membuang waktu. Ia memutar kenop pintu, lalu masuk ke ruang kerja. Langkahnya langsung tertuju pada sudut ruangan, tempat sebuah brankas besi berukuran sedang tertanam di dalam lemari.
Adrian berdiri di ambang pintu sambil mengawasi setiap gerak-gerik istrinya dengan wajah tegang.
Nayara berjongkok di depan brankas, lalu menekan enam digit angka pada tombol digitalnya. Angka-angka itu merupakan kombinasi tanggal lahir mereka berdua, kode yang tidak pernah diganti Adrian sejak awal pernikahan.
Lampu hijau menyala, diiringi bunyi klik yang menandakan kunci telah terbuka.
Nayara menarik pintu besi itu.
Bagian dalam brankas terlihat cukup penuh.
Ada beberapa kotak perhiasan, tumpukan dokumen sertifikat rumah, serta sejumlah map tebal berwarna merah dan kuning.
Nayara segera mengambil map merah yang berada di tumpukan paling atas. Map itu berisi dokumen pribadinya. Buku nikah, kartu keluarga, akta kelahiran, dan ijazah sarjananya tersimpan rapi di dalamnya.
"Sudah ketemu, kan?" tanya Adrian dari belakang dengan nada ketus. "Sekarang simpan lagi. Jangan bawa dokumen itu keluar dari rumah ini."
Nayara mengabaikan ucapan suaminya. Ia memegang map merah tersebut dan hendak berdiri.
Namun, karena gerakannya terburu-buru, tumpukan dokumen di bawah map merah ikut bergeser. Sebuah amplop cokelat tua yang terselip di bagian paling bawah brankas tertarik keluar, lalu jatuh ke lantai kayu.
Beberapa lembar kertas di dalamnya ikut berhamburan.
Nayara menunduk dan mengamati benda-benda yang terjatuh itu.
Kertas-kertas tersebut tampak sedikit menguning. Bentuk ketikannya pun berbeda dari dokumen perusahaan yang biasa ia lihat. Ini bukan dokumen bisnis biasa, melainkan surat resmi yang tampaknya dibuat beberapa tahun lalu.
Pandangan Nayara tanpa sengaja tertuju pada sebuah nama yang tercetak jelas di bagian tengah halaman pertama.
Nayara Adisty.
Alisnya langsung berkerut.
"Kenapa namaku ada di sini?" gumam Nayara lirih.
Ia mengulurkan tangan, lalu mengambil kertas yang menguning itu dari lantai. Matanya menelusuri tanggal yang tertera di bagian atas halaman.
Dokumen tersebut dibuat jauh sebelum pernikahannya dengan Adrian.
Mengapa namanya tercantum dalam dokumen lama milik keluarga Mahendra?
"Nay, jangan sentuh itu!" seru Adrian tiba-tiba.
Wajah pria yang semula hanya tampak tegang kini berubah pucat pasi. Ia melangkah cepat mendekati Nayara dan mengulurkan tangan untuk merebut kertas tersebut.
Namun, Nayara bergerak lebih cepat. Ia menepis tangan suaminya, lalu memutar tubuh membelakanginya sambil menggenggam dokumen itu erat-erat di depan dada.
"Apa ini, Mas?" tanya Nayara curiga.
Ia menatap Adrian sekilas sebelum kembali membaca barisan kalimat yang tercetak rapi di atas kertas.
Adrian terdiam.
"Kenapa kamu panik sekali?" tanyanya lagi, kali ini dengan nada penuh kecurigaan. "Kamu tahu sesuatu, tentang surat ini?"
"Aku tidak panik," jawab Adrian cepat. "Berikan surat itu kepadaku."
"Kalau memang tidak ada apa-apa, kenapa kamu takut aku membacanya?" balas Nayara.
"Nayara, aku bilang berikan!"
Adrian kembali berusaha merebut dokumen itu.
"Jangan mendekat!" bentak Nayara sambil mengangkat tangannya menjauh dari jangkauan suaminya.
Adrian terpaksa berhenti.
Nayara kembali menunduk dan mulai membaca isi surat tersebut. Jantungnya seakan berhenti berdetak ketika pandangannya sampai pada bagian bawah halaman.
Di sana terdapat dua tanda tangan.
Yang pertama milik Surya, ayah Adrian.
Nayara mengenali tanda tangan itu dari beberapa dokumen keluarga yang pernah dilihatnya.
Namun, tanda tangan kedua membuat seluruh tubuhnya seketika membeku.
Ia mengenali bentuk hurufnya. Mengenali goresan pena yang sedikit menanjak di bagian akhir. Bahkan setelah bertahun-tahun, ia masih ingat betul tanda tangan tersebut.
Itu tanda tangan mendiang ayahnya sendiri.
Napas Nayara tertahan.
Tangannya gemetar hebat ketika ia kembali memegang ujung kertas tersebut. Dengan susah payah, ia membaca paragraf kedua yang mencantumkan namanya secara gamblang.
Surat itu membahas penyelesaian hutang-piutang dan sengketa bisnis lama antara kedua keluarga.
Namun, di antara kalimat-kalimat resmi tersebut, terdapat sebuah syarat penyelesaian yang melibatkan pernikahan anak-anak mereka.
Nayara membaca kalimat itu sekali lagi.
Lalu sekali lagi.
Perutnya terasa melilit. Dunia di sekelilingnya seolah berputar begitu cepat hingga ia harus mencengkeram tepi meja untuk menjaga keseimbangan.
Beberapa menit lalu, Adrian bersikeras bahwa pernikahan mereka merupakan keputusannya sendiri. Ia mengaku menentang keluarganya demi menikahi Nayara karena cinta.
Namun, kini sebuah surat lama dengan tanda tangan kedua ayah mereka berada di tangannya.
Surat yang dibuat sebelum pernikahan mereka.
Surat yang mencantumkan namanya.
Dan surat yang selama ini tersembunyi di dalam brankas suaminya.
Nayara perlahan mengangkat wajah. Matanya mulai berkaca-kaca ketika menatap Adrian.
"Mas ...," panggilnya lirih.
Adrian berdiri beberapa langkah darinya. Wajahnya pucat, bibirnya tertutup rapat, dan kedua tangannya mengepal di sisi tubuh.
"Kamu tahu tentang surat ini?" tanya Nayara dengan suara bergetar.
Adrian tidak menjawab.
"Jawab aku!" bentak Nayara. "Kamu tahu kalau ayahku pernah membuat kesepakatan dengan ayahmu tentang pernikahan kita?"
Adrian membuka mulut, tetapi tidak ada satu kata pun yang keluar.
Keheningan itu terasa lebih menyakitkan daripada pengakuan apa pun.
Nayara menggeleng perlahan. Air matanya jatuh membasahi pipi.
"Selama ini, kamu bilang memilihku karena cinta. Kamu bilang, Kamu memperjuangkan aku ,di hadapan keluargamu, Mas," ujar Nayara dengan suara patah-patah.
Ia mengangkat surat itu dengan tangan gemetar. "Lalu, apa ini, Mas?"
Adrian akhirnya melangkah mendekat.
"Nayara, dengarkan aku dulu. Ada hal-hal yang belum kamu pahami tentang surat itu," pintanya dengan nada memohon.
Nayara segera mundur. "Jangan mendekat!"
Adrian menghentikan langkahnya.
Nayara kembali menatap dokumen di tangannya. Ada bagian lain yang belum sempat dibacanya, sebuah paragraf di halaman berikutnya yang masih tertutup lipatan amplop.
Dengan jemari gemetar, ia membuka lipatan tersebut perlahan.
Namun, sebelum matanya sempat membaca seluruh kalimat di halaman itu, Adrian kembali berseru dengan suara panik.
"Nayara, jangan baca bagian itu!" cegahnya.
Gerakan Nayara seketika terhenti.
Perlahan, ia mengangkat wajah dan menatap suaminya.
Untuk pertama kalinya malam itu, Nayara tidak lagi melihat seorang suami yang sedang berusaha mempertahankan rumah tangganya.
Ia melihat seorang pria yang ketakutan karena rahasia masa lalu hampir terbongkar.
Genggaman Nayara pada surat itu semakin erat.
"Apa sebenarnya yang kalian sembunyikan dariku?" bisiknya dengan suara bergetar.
Adrian tetap terdiam.
Apa sebenarnya yang telah disepakati ayahnya dengan keluarga Mahendra, dan mengapa Adrian begitu takut ia mengetahui isi perjanjian tersebut?
emang lu doang yang bisa 🤣🤣