NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Jendral Sains Di Kultus Iblis

Reinkarnasi Jendral Sains Di Kultus Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Epik Petualangan
Popularitas:173
Nilai: 5
Nama Author: Ahmad Mikyail Ilham

Sinopsis:
Ethan Vance—Panglima Tertinggi Pasukan Gabungan Bumi dan jenius biomekanika—tewas mengenaskan akibat sabotase reaktor fusi. Namun, bukannya masuk neraka, jiwanya justru terlempar ke dunia Murim dan lahir kembali sebagai Cheon Ryeon, bayi dari klan paling bawah di Kultus Iblis.
​Keluarga Cheon yang dulunya berjaya kini hanya dianggap sampah dan terus ditindas oleh klan-klan utama lainnya. Tidak punya pil energi mahal atau kitab pusaka? Tidak masalah. Bagi seorang mantan jenderal, Dantian manusia tidak ada bedanya dengan reaktor mikro, dan jurus pedang tak lebih dari kalkulasi arah dan sudut jatuh!
​Bersama sahabat-sahabat senasib yang tak kalah aneh—mulai dari anak buangan ahli racun yang matre, gadis perkasa bertulang tebal, sampai pembunuh jalanan yang sinis—Ryeon mulai membangun kekuatannya dari nol.
​"Dunia ini bertarung pakai takdir dan mistis? Lucu sekali. Mari kuajarkan cara bertarung menggunakan logika dan sains!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad Mikyail Ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Pelatihan Saraf dan Langkah Pertama Menuju Akademi

Empat tahun berlalu dalam heningnya persiapan.

​Di usia delapan tahun, Cheon Ryeon bukan lagi balita mungil yang hanya bisa mengamati dari balik bayangan. Tubuhnya kini tinggi, tegap, dan proporsional. Otot-ototnya terbentuk rapat tanpa lemak berlebih—hasil dari latihan biomekanika yang terus disempurnakan setiap hari.

​Sementara itu, Tang Jin-Bao mengalami perubahan yang tak kalah drastis. Anak gempal yang dulunya selalu menangis dan gemetaran tiap kali melihat bayangan anak-anak Klan Ma, kini berani berdiri tegak. Meski tubuhnya masih agak berisi, reflek dan kelincahannya sudah jauh melampaui standar anak seusianya.

​Di dalam gua rahasia mereka, Jin-Bao sedang melakukan gerakan aneh: melompat mundur sambil memutar pergelangan tangannya dengan sudut presisi untuk melempar jarum-jarum tipis ke arah target kayu.

​JEK! JEK! JEK!

​Tiga jarum berbahan baja mikro-karbon menancap sempurna di titik tengah batang pohon kering, membentuk pola segitiga presisi.

​"Bagaimana, Bos?!" seru Jin-Bao sambil menyapu keringat di dahinya dengan bangga. "Lemparanku makin cepat, kan?!"

​Ryeon yang sedang duduk memeriksa cetak biru peta wilayah luar Pegunungan Shiwan melirik pelan.

​"Kecepatan pelepasan jarummu naik nol koma dua detik," komentar Ryeon datar. "Tapi saat melompat mundur, tumpuan lutut kananmu masih terlalu kaku. Kalo lawanmu master ranah Kondensasi, dia cuma butuh setengah detik buat membaca pergerakanmu dan mematahkan kakimu."

​Jin-Bao mendesah pasrah, menjatuhkan dirinya di atas batu datar. "Aduh, Ryeon... kau ini tidak pernah memuji sedikit pun, ya? Padahal kalau di Klan Tang dulu, anak seumuranku yang bisa melempar tiga jarum presisi tanpa melihat titik tumpu sudah dipuji-puji sampai ke langit!"

​"Klan Tang membuangmu karena kau dianggap tidak berbakat, kan?" sahut Ryeon dingin, melipat lembaran peta. "Aku melatihmu bukan buat dipuji-puji orang tua klan. Aku melatihmu supaya kau tidak mati di hari pertama masuk Akademi."

​Mendengar kata 'Akademi', wajah Jin-Bao berubah serius. Rasa lelahnya mendadak menguap.

​Dua tahun lagi, saat usia mereka menginjak sepuluh tahun, seluruh penerus dari sepuluh Keluarga Utama dan klan-klan cabang Kultus Iblis wajib mendaftarkan diri ke Akademi Kultus Iblis (Tian Mo Xueyuan). Akademi itu adalah kawah candradimuka yang paling berdarah di wilayah Barat Daya. Di sana, hukum rimba berlaku mutlak: yang kuat memangsa yang lemah.

​"Bicara soal Akademi..." Jin-Bao memiringkan kepalanya. "Klan Cheon kan berada di urutan ke-10, urutan paling bawah. Jatah kuota masuk kita cuma dapat dua orang, kan?"

​"Tiga orang," koreksi Ryeon. "Ibu dan Tetua Boma sudah menyerahkan pendaftaran. Aku, kau, dan satu lagi anak dari panti asuhan klan."

​Ryeon berdiri, berjalan menuju mulut gua sambil memandangi deretan pemukiman Klan Cheon di bawah bukit.

​Selama empat tahun terakhir, Ryeon tidak hanya melatih dirinya dan Jin-Bao. Secara diam-diam, Ryeon membagikan metode pernapasan sirkulasi efisien dan cetak biru perbaikan alat-alat pertukangan kepada Tetua Boma. Tanpa disadari oleh klan-klan lain, ekonomi internal Klan Cheon yang tadinya sekarat perlahan mulai stabil kembali. Pengawal-pengawal tua klan yang tadinya menderita kelumpuhan akibat serangan meridian tua, kini bisa berjalan kembali setelah diberikan pijatan titik saraf yang diajarkan Ryeon.

​Klan Cheon memang masih miskin di mata luar, tapi fondasi internal mereka sudah mulai pulih dari dalam.

​Sore harinya, Ryeon berjalan kembali ke pemukiman klan.

​Di perjalanan, dia melihat kerumunan orang berkumpul di halaman utama. Suara teriakan marah dan tangisan terdengar memenuhi udara.

​"Ada apa ini?" gumam Ryeon sambil mempercepat langkahnya. Jin-Bao mengintil rapat di belakangnya.

​Di tengah halaman, Tetua Cheon Boma sedang berlutut sambil memegangi dadanya yang memar. Di depannya berdiri seorang pria muda berusia belasan tahun dengan pakaian serba mewah bersulam benang emas. Di dada pria muda itu terukir lambang seekor serigala hitam melompat—lambang khas Klan Baek, klan urutan ke-5 di Kultus Iblis.

​"Tetua Boma!" jerit ibu Ryeon yang berlari menghampiri pria tua itu.

​"Tua bangka tak berguna," cemooh pemuda Klan Baek itu sambil mengibaskan debu di ujung sepatunya. "Disuruh menyerahkan hak sewa hutan belakang saja banyak alasan. Kalian pikir Klan Cheon masih punya wewenang atas tanah ini?"

​"Hutan itu sumber kayu bakar dan tanaman obat terakhir keluarga kami, Tuan Muda Baek Rang!" seru Tetua Boma dengan suara serak, terbatuk-batuk menahan sakit. "Kalau wilayah itu diambil lagi, anak-anak klan kami mau makan apa?!"

​"Itu bukan urusanku!" Baek Rang tertawa dingin. "Bulan depan Akademi dibuka. Klan Baek butuh wilayah tambahan buat tempat latihan berburu murid-murid elit kami. Lebih baik tanah itu dipakai kami daripada cuma jadi sarang sampah seperti kalian!"

​Para pengawal Klan Cheon mengepalkan tangan mereka dengan amarah yang membakar. Tapi tak ada satu pun yang berani maju. Klan Baek punya puluhan master ranah Pembentukan (Solidification) dan dilindungi langsung oleh tetua tinggi Kultus. Sekali membuat masalah, seluruh pemukiman Klan Cheon bisa dibantai habis malam itu juga.

​Ryeon memperhatikan sosok Baek Rang dari jarak sepuluh meter.

​Ranah Kondensasi tingkat akhir. Ki-nya cukup tebal, tapi kestabilan Dantiannya kacau akibat terlalu banyak makan pil penguat instan, analisis Ryeon dalam hitungan detik. Kaki kanannya agak condong ke dalam, tanda kalau sirkulasi meridian bawahnya tersumbat.

​"Bos..." bisik Jin-Bao gelisah di samping Ryeon. "Jangan gegabah. Pria itu Baek Rang, sepupu dari calon ketua generasi muda Klan Baek. Kalau kita cari masalah sama dia sekarang, pendaftaran kita ke Akademi bisa dibatalkan!"

​Ryeon tidak menjawab. Matanya tetap tenang bagaikan air telaga yang tak terimbas angin.

​Dia melangkah maju perlahan, melewati kerumunan warga klan yang sedang meratap.

​"Tetua Boma," suara tenang Ryeon menghentikan kegaduhan di halaman.

​Seluruh pandangan mendadak tertuju pada Ryeon. Tetua Boma terbelalak melihat anak delapan tahun itu berjalan mendekatinya tanpa rasa takut sedikit pun.

​"Ryeon-er! Jangan ke sini! Berbahaya!" jerit ibunya panik, mencoba menarik lengan Ryeon.

​Ryeon menepuk pelan tangan ibunya dengan lembut, memberi isyarat bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dia lalu menatap Baek Rang yang sedang memandangnya dengan tatapan bingung berkemas hinaan.

​"Siapa bocah ingusan ini?" tanya Baek Rang tertawa geli. "Anak dari klan sampah yang belum tahu caranya takut?"

​"Perjanjian sewa tanah Kultus Iblis diatur oleh Hukum Dasar Pegunungan Shiwan bab ketiga pasal kelima," ucap Ryeon datar, menatap tepat ke mata Baek Rang. "Penyitaan wilayah klan resmi cuma bisa dilakukan kalau klan bersangkutan tidak bisa mengirimkan perwakilan ke Akademi selama tiga periode berturut-turut."

​Seluruh orang di halaman membeku. Siapa yang menyangka seorang bocah delapan tahun bisa menghafalkan hukum tertulis Kultus Iblis yang sangat rumit itu dengan sangat lancar?

​Bahkan Baek Rang sendiri sempat tertegun sejenak sebelum wajahnya memerah karena malu dan marah.

​"Bocah keparat!" bentak Baek Rang murka. "Kau berani mengajariku soal hukum Kultus?! Di sini, kekuatan adalah hukum! Siapa kau berani angkat bicara di depanku?!"

​Baek Rang mengumpukan Ki di telapak tangannya, menciptakan tekanan angin keras yang menghempaskan daun-daun kering di sekitarnya. Dia melangkah maju hendak menampar wajah Ryeon untuk memberi pelajaran.

​Ryeon sama sekali tidak bergerak mundur. Dia tidak memasang kuda-kuda, juga tidak memancarkan Ki sedikit pun.

​Saat telapak tangan Baek Rang meluncur deras menuju wajahnya, Ryeon hanya mencondongkan kepala ke kiri sejauh dua sentimeter—membiarkan angin tamparan itu lewat tipis di samping telinganya.

​SWOOSH!

​Di saat yang bersamaan, jari telunjuk kanan Ryeon meluncur kilat bagaikan patukan ular, menotok tepat di titik saraf femoralis di paha kanan Baek Rang—titik di mana sirkulasi Ki Baek Rang yang tersumbat berada.

​TAK!

​"Ugh!"

​Seketika itu juga, aliran Ki di seluruh kaki kanan Baek Rang berbalik arah secara liar (Backfire). Rasa sakit luar biasa menembus sampai ke tulang belakangnya, membuat seluruh tenaga di tubuh Baek Rang hilang mendadak.

​BRUK!

​Pemuda sombong dari Klan Baek itu berlutut tepat di depan kaki Ryeon dengan wajah pucat pasi dan peluh dingin bercucuran di dahinya. Dia bahkan tidak bisa mengangkat kepalanya karena seluruh sistem saraf kakinya kejang hebat.

​"A-apa yang kau lakukan... pada kakiku?!" raung Baek Rang ketakutan dan kesakitan.

​Ryeon menunduk, memandangi Baek Rang yang berlutut di depannya dengan tatapan dingin tanpa emosi.

​"Kaki kananmu kekurangan pasokan oksigen dan sirkulasi darah akibat tumpukan racun pil," bisik Ryeon pelan, hanya bisa didengar oleh Baek Rang. "Satu totokan lagi di pinggangmu, dan kau bakal lumpuh permanen seumur hidup."

​Baek Rang gemetaran hebat. Ketakutan mendalam menyeruak dari dasar jiwanya. Anak delapan tahun di depannya ini tidak menggunakan Ki yang besar, tapi anak ini mengerti anatomi tubuh manusia melebihi tabib mana pun yang pernah dia temui!

​"M-mundur... kita mundur!" jerit Baek Rang panik kepada pengawalnya yang bingung. Dengan dibantu dua pengawalnya, Baek Rang diseret pergi meninggalkan tempat itu sambil meringis kesakitan.

​Halaman klan kembali hening.

​Warga Klan Cheon menatap Ryeon dengan mulut terbuka lebar. Mereka tidak mengerti apa yang baru saja terjadi. Yang mereka lihat hanyalah seorang Tuan Muda dari Klan Baek yang mendadak jatuh berlutut hanya karena didekati oleh Ryeon.

​Tetua Boma menatap Ryeon dengan tangan gemetaran. "Ryeon... kau..."

​Ryeon berbalik, menyunggingkan senyum polos khas anak-anak seolah tidak terjadi apa-apa. "Aku cuma memijat bagian kakinya yang terkilir, Tetua. Tampaknya Tuan Muda dari Klan Baek itu kurang latihan."

​Tentu saja, tidak ada yang percaya dengan alasan konyol itu. Tapi satu hal yang pasti: nama Cheon Ryeon mulai menjadi teka-teki besar di benak orang-orang tua Klan Cheon.

​Di balik bukit, Ryeon menatap Istana Akademi Kultus Iblis yang puncaknya terlihat samar di balik awan hitam.

​Dua tahun lagi, batin Ryeon tegas. Saat pendaftaran Akademi dibuka, aku tidak cuma akan mempertahankan tanah klan ini... tapi aku akan merombak seluruh tatanan Kultus dari bawah.

1
Scorpy
mencoba baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!