Hampir tiga tahun menikah, Laras dan Robby belum juga memiliki anak. Hingga suatu hari, terjadi kesalahpahaman. Robby dan Soraya, ibu Laras mengira jika Laras mengalami masalah kesuburan.
Robby memanfaatkan kekurangan Laras untuk berpura-pura menjadi suami setia yang mau menerima Laras apa adanya. Ia bahkan mengajak Laras untuk mengadopsi anak.
Hal itu membuat Robby mendapat nilai plus dari Soraya. Ia bahkan menjanjikan jabatan tinggi untuk Robby di perusahaan.
Tentu, Robby sangat senang. Ia lalu mengajak keluarga dan selingkuhannya untuk bekerjasama merebut harta dan perusahaan milik keluarga Laras.
Tapi sayangnya, Laras mengetahui semuanya. Dan kali ini, Laras tidak akan menjadi korban. Justru, Laras yang akan memastikan keluarga parasit itu kehilangan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengasuh Baru
Sejak kehadiran Bara di tengah keluarga kecilnya, kehidupan Laras perlahan berubah. Wanita itu mulai menikmati perannya sebagai seorang ibu.
Meski Bara bukan anak yang ia lahirkan sendiri, kasih sayang Laras terhadap bayi mungil itu tidak pernah berkurang sedikit pun.
Ia mencurahkan hampir seluruh waktunya untuk merawat Bara, mulai dari memandikannya, memberikan susu, hingga menemaninya bermain. Bahkan, pekerjaan sebagai wakil direktur di perusahaan mulai terbengkalai karena Laras terlalu sibuk mengurus putranya.
Siang itu, Soraya pulang lebih awal dari biasanya. Ia menuju ruang keluarga dan, mendapati putrinya sedang duduk di sofa sambil menggendong Bara.
"Sayang." Soraya menghampiri mereka, lalu duduk di sofa seberang. Tatapannya tertuju pada cucu mungilnya yang tengah menggerakkan kedua tangan.
Laras menoleh. "Kenapa Mama pulang cepat hari ini?"
Soraya menghela napas panjang. "Mama lelah. Itu semua karena kamu sudah lama tidak masuk kantor, Sayang. Mama sampai kewalahan mengurus semuanya sendirian."
Laras menunduk, sedikit merasa bersalah. "Maaf, Ma. Tapi, aku hanya ingin fokus menjaga Bara."
Soraya menggeleng pelan. "Tidak apa-apa. Mama mengerti. Kamu memang perlu waktu untuk menyesuaikan diri."
"Kalau begitu, kenapa Mama tidak meminta Mas Robby membantu pekerjaan Mama?"
Soraya terdiam sejenak. Meskipun ia mulai membuka hati untuk menerima Robby, bukan berarti ia bisa langsung memercayai pria itu sepenuhnya.
"Nanti Mama pikirkan," jawabnya singkat.
Laras mengangguk, kemudian kembali menatap Bara dengan senyum penuh kasih.
"Oh, ya, Ma. Bara sekarang sudah menjadi bagian dari keluarga kita. Bagaimana kalau kita mengadakan pesta penyambutan anggota baru? Kita umumkan kepada semua orang kalau Bara adalah bagian dari keluarga Adiguna. Kelak, dialah yang akan menjadi pewaris keluarga kita."
Soraya tidak langsung menjawab.
Ia memperhatikan wajah cucunya yang tampak polos. Entah mengapa, ada perasaan mengganjal di hatinya. Tapi, ia tidak ingin merusak kebahagiaan putrinya dengan menyampaikan kegelisahan yang bahkan belum bisa ia jelaskan sendiri.
"Ma?" panggil Laras saat menyadari ibunya terdiam.
Soraya tersenyum tipis. "Sayang, jangan terburu-buru. Biarkan semuanya menjadi rahasia untuk sementara waktu. Mama khawatir ada orang yang memanfaatkan kabar ini untuk merusak reputasi keluarga kita."
Laras akhirnya mengangguk. "Baiklah, Ma."
"Oh, ya. Besok Mama akan pulang."
Laras langsung menoleh dengan wajah sedikit kecewa. "Kenapa buru-buru? Apa enaknya tinggal di rumah itu sendirian?"
Soraya tersenyum lembut. "Rumah itu memang sepi, tetapi penuh kenangan bersama papamu. Mama merasa lebih tenang tinggal di sana. Lagipula, sekarang kamu sudah tidak kesepian lagi, bukan?"
Soraya mengulurkan tangan, lalu mengusap lembut kening Bara.
Laras tersenyum kecil. "Baiklah, Ma."
"Dalam beberapa hari, Mama juga harus pergi ke luar negeri untuk meninjau perusahaan di sana. Jadi, Mama harap kamu segera kembali bekerja."
"Iya, Ma."
Tanpa mereka sadari, percakapan itu terdengar jelas oleh Robby yang baru saja masuk ke ruang keluarga. Pria itu berdiri sejenak di dekat pintu, mendengarkan setiap perkataan mereka sebelum akhirnya melangkah mendekat.
"Iya, Sayang. Aku juga merasa kamu harus kembali ke perusahaan. Bagaimanapun, perusahaan membutuhkanmu."
Laras mendongak dan tersenyum pada suaminya. Sementara itu, Soraya hanya melirik Robby tanpa memberikan tanggapan.
Robby kemudian duduk di samping Laras dan melirik Bara yang berada dalam gendongannya.
"Bagaimana kalau aku carikan pengasuh untuk Bara? Dengan begitu, kamu tidak akan kelelahan dan bisa kembali fokus bekerja."
Laras mengerjap. "Pengasuh?"
"Iya, Sayang. Kita cari seseorang yang berpengalaman dan bisa dipercaya. Kamu tetap bisa menghabiskan waktu bersama Bara setelah pulang kerja."
Laras terdiam sejenak, mempertimbangkan usulan suaminya. Ia memang ingin terus berada di sisi Bara, tetapi ia juga menyadari jika tanggung jawabnya di perusahaan tidak bisa terus-menerus ia abaikan.
"Baiklah. Aku akan mengikuti saranmu, Mas."
Robby tersenyum puas, lalu merangkul bahu Laras dengan penuh kasih sayang.
Tapi, saat Laras kembali mengalihkan perhatian pada Bara, senyum di wajah Robby perlahan berubah. Tatapannya menyimpan sesuatu yang tidak diketahui oleh kedua wanita itu.
"Ya, sudah." Robby bangkit dari sofa. "Kalau begitu, aku mau ke ruang kerja dulu. Ada dokumen penting yang tertinggal."
Laras mengangguk, lalu kembali tersenyum pada Bara.
Tapi, begitu masuk ke ruang kerja, Robby langsung menutup pintu dan menguncinya. Ia merogoh saku, mengeluarkan ponsel, dan menghubungi seseorang yang sudah menunggu kabar darinya.
Panggilan itu tersambung dalam beberapa detik.
"Siapkan dirimu. Besok aku akan menjemputmu," ucap Robby dengan suara rendah.
Ia mendengarkan jawaban dari seberang telepon, lalu menyunggingkan senyum tipis. "Jangan khawatir. Semuanya sudah aku atur."
Setelah memutuskan panggilan, Robby memasukkan ponselnya kembali ke saku. Ia melirik ke arah pintu dengan sorot mata penuh perhitungan.
***
Keesokan paginya, setelah Soraya berpamitan dan kembali ke rumah utama keluarga Adiguna, suasana rumah kembali tenang.
Laras tengah bersantai di ruang keluarga bersama Robby dan Bara. Tapi, tiba-tiba terdengar ketukan dari pintu utama
TOK! TOK! TOK!
Bi Asih yang sedang sibuk membereskan peralatan dapur segera menuju pintu dan membukanya. Ia terdiam, melihat seorang wanita muda berdiri di ambang pintu dengan baju yang cukup mencolok.
"Maaf, apa benar ini rumah Pak Robby dan Bu Laras?" tanya wanita itu sambil tersenyum ramah.
"Iya, benar. Ada keperluan apa, ya?" tanya Bi Asih.
"Perkenalkan, saya Maya. Saya datang untuk bekerja sebagai pengasuh bayi."
Bi Asih mengangguk kecil. "Oh, begitu. Tunggu sebentar, ya. Saya sampaikan pada Nyonya dan Tuan dulu."
"Baik."
Bi Asih kembali masuk menghampiri Laras dan Robby. "Tuan, Nyonya, pengasuh Den Bara sudah datang."
Laras yang sedang menggendong Bara seketika menoleh. Robby pun mengalihkan pandangan dari ponselnya.
"Suruh masuk, Bi," ujar Robby.
"Baik, Tuan." Bi Asih kembali menghampiri Maya yang masih menunggu di depan.
"Silahkan masuk. Nyonya dan tuan, sudah menunggu."
"Terimakasih, Bi." Maya melangkah masuk dengan senyum tipis. Matanya sempat menyapu isi rumah yang tampak mewah sebelum mengikuti Bi Asih menuju ruang keluarga.
"Silahkan duduk!" ucap Robby.
Maya mengangguk pelan, lalu duduk di sofa seberang dan, mulai memperkenalkan diri.
"Perkenalkan, nama saya Maya. Saya pengasuh yang di kirim yayasan." Maya meletakan map di meja. "Ini surat resmi dari yayasan."
Robby mengambil map tersebut. "Aku sudah memeriksanya langsung ke yayasan, sayang. Jadi, aku yakin dia bisa menjaga Bara."
Laras mengangguk pelan. Tapi, pandangannya tidak bisa lepas dari penampilan Maya yang terlalu seksi.
Laras mengerutkan kening, berusaha tetap bersikap sopan.
"Maaf, Maya. Sebelum kita membicarakan hal lain, aku ingin kamu memperhatikan cara berpakaian mu. Kamu akan bekerja di rumah ini dan mengurus bayi. Aku harap kamu bisa memakai baju yang lebih sopan dan nyaman saat bekerja."
Maya sedikit terkejut, tetapi segera mengangguk. "Baik, Nyonya, saya mengerti."
"Aku tidak akan banyak bertanya karena suamiku sudah mengecek langsung ke yayasan." Tatapan Laras beralih pada Robby. "Aku percaya padanya."
Laras kembali menatap Maya. "Tapi, tetap saja kamu harus mematuhi aturan di rumah ini. Apa kamu mengerti?"
"Saya mengerti, Nyonya," jawab Maya.
Laras mengangguk. "Bagus. Kamu bisa mulai bekerja hari ini. Bi Asih akan menunjukan kamarmu dan menjelaskan peraturan di rumah ini. Tapi, ingat! Kamu harus benar-benar memperhatikan Bara. Jangan sampai terjadi sesuatu padanya."
Senyum Maya langsung mengembang. "Terima kasih banyak, Nyonya. Saya akan berusaha sebaik mungkin."
Laras mengangguk, lalu kembali menunduk untuk membenarkan posisi Bara dalam gendongannya.
Meski Maya berasal dari yayasan resmi, tapi kesan pertama saat bertemu, membuat Laras merasa ada sesuatu yang membuatnya belum sepenuhnya yakin. Tapi, mengingat dirinya harus segera kembali bekerja, ia hanya berharap Maya tidak mengecewakan nya.
Sementara itu, Maya mengangkat wajah, menatap Robby diam-diam.
Pria itu membalas tatapannya sekilas.
Tidak ada sepatah kata pun yang terucap di antara mereka. Tapi, senyum tipis yang muncul di sudut bibir Maya, disusul anggukan kecil Robby, seolah menjadi kode rahasia yang hanya dipahami oleh keduanya.
😒😒
itulah klo othor tdk tidur, pasti akan terbongkar wlo blm semua terbukti