NovelToon NovelToon
Perjalanan Menuju Pendekar Dewa

Perjalanan Menuju Pendekar Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Fantasi
Popularitas:123.8k
Nilai: 5
Nama Author: Boqin Changing

Ini adalah cerita tentang seorang pria yang kembali ke masa lalunya.

Petualangannya terus dimulai. Ia kini harus menghadapi pendekar kuat yang datang dari alam lain. Seorang pendekar yang bahkan tidak ia temui di kehidupan pertamanya.

Jalan takdir telah berbeda akibat dirinya yang telah banyak membuat perubahan sejarah.

Apakah kali ini ia akan mampu bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Manusia yang Tidak Bisa Boqin Changing Kalahkan

Ujian penerimaan murid Sekte Dua Pedang Petir akhirnya dimulai. Belasan ribu calon murid mulai bergerak mengikuti arahan para murid senior yang bertugas mengatur jalannya ujian. Mereka dibagi menjadi beberapa barisan agar proses pengujian bakat dapat berlangsung lebih cepat.

Di depan setiap barisan telah tersedia sebuah batu penguji bakat. Batu-batu itu berukuran cukup besar, dengan permukaan halus yang memancarkan kilau samar ketika terkena cahaya matahari.

Seorang murid senior duduk di samping setiap batu, membawa sebuah buku catatan untuk mencatat hasil pengujian.

"Berikutnya, maju!"

Seorang anak laki-laki segera melangkah ke depan. Ia tampak gugup ketika berdiri di hadapan batu penguji tersebut.

"Tempelkan telapak tanganmu di permukaannya," perintah murid senior itu.

Anak tersebut mengangguk. Ia kemudian mengangkat tangan dan menempelkannya pada batu. Beberapa saat kemudian, batu itu memancarkan cahaya berwarna putih.

Murid senior yang duduk di sampingnya segera mencatat hasil tersebut, lalu mempersilakan anak itu meninggalkan tempat pengujian.

"Berikutnya!"

Seorang anak perempuan maju menggantikannya. Ketika telapak tangannya menyentuh batu, cahaya berwarna kuning muncul dari dalamnya. Murid senior kembali mencatat hasil pengujian.

Proses tersebut terus berulang. Ada batu yang memancarkan cahaya putih, kuning, hijau, bahkan beberapa warna lain. Setiap warna menunjukkan tingkat bakat kultivasi yang berbeda, sehingga para murid senior harus mencatat hasilnya dengan teliti.

Tidak semua calon murid menunjukkan bakat yang menonjol. Sebagian hanya menghasilkan cahaya yang sangat redup, sedangkan sebagian lainnya mampu membuat batu penguji bersinar lebih terang.

Meski demikian, tidak seorang pun langsung dinyatakan gagal pada tahap ini. Hasil pengujian akan digunakan untuk menentukan peringkat mereka sebelum menjalani ujian berikutnya.

Dari tempat duduknya di atas panggung, Boqin Changing mengamati seluruh proses itu. Ia tidak terlalu terkejut melihat bagaimana sektenya mengatur ujian penerimaan murid baru. Namun, pandangannya sesekali tertuju pada batu-batu penguji yang tersebar di lapangan. Seharusnya Sekte Dua Pedang Petir belum memiliki artefak seperti ini.

Boqin Changing mengetahui kondisi sektenya dengan cukup baik. Seharusnya, pengujian bakat biasanya dilakukan melalui cara yang lebih merepotkan. Bahkan, beberapa sekte harus menghabiskan banyak waktu untuk mengetahui potensi seorang anak. Batu penguji seperti ini tentu akan membuat proses penerimaan murid jauh lebih efisien.

Tatapannya kemudian beralih kepada Wu Xing yang duduk tidak jauh darinya.

"Sepertinya benda-benda itu milikmu," ujar Boqin Changing sambil tersenyum tipis.

Wu Xing langsung tertawa.

"Tetua Keempat, bukankah semakin cepat semakin baik? Dengan batu-batu itu, Sekte Dua Pedang Petir bisa menghemat banyak waktu. Para tetua juga tidak perlu bersusah payah memeriksa setiap calon murid secara terpisah."

Boqin Changing mengangguk kecil.

"Memang lebih praktis."

Ia kembali memandang lapangan. Para calon murid terus maju secara bergantian, sementara para murid senior sibuk mencatat hasil pengujian. Sesekali terdengar seruan terkejut ketika sebuah batu mengeluarkan cahaya yang lebih terang daripada biasanya.

Boqin Changing tidak berniat terus mengamati proses tersebut. Ujian penerimaan murid baru merupakan urusan Patriak Zhou dan para tetua yang bertugas. Selama semuanya berjalan sesuai aturan, ia tidak perlu ikut campur.

Ia kemudian bangkit dari kursinya dan menoleh kepada Wang Zhou.

"Patriak Zhou, aku akan kembali ke rumah terlebih dahulu. Sudah cukup lama aku tidak bertemu dengan orang tuaku."

Wang Zhou segera mengangguk.

"Tentu saja, Tetua Keempat. Silakan pergi. Urusan di sini serahkan saja kepada kami."

Tetua lainnya juga tidak keberatan. Mereka tahu bahwa orang tua Boqin Changing tinggal di dalam kediaman Sekte Dua Pedang Petir. Keluarganya memang memperoleh perlakuan khusus sejak awal, bahkan ketika banyak orang di sekte belum sepenuhnya memahami potensi luar biasa yang dimilikinya. Lagipula kedudukan Boqin Changing sekarang bukanlah sesuatu yang bisa dipermasalahkan oleh siapa pun di sekte.

Setelah berpamitan, Boqin Changing melangkah ke tepi panggung. Ia kemudian mengangkat tubuhnya dan melayang ke udara.

Pemandangan itu kembali menarik perhatian sejumlah calon murid yang sedang menunggu giliran. Mereka menghentikan percakapan dan menengadah, mengikuti sosoknya yang perlahan menjauh.

"Tetua Keempat itu benar-benar hebat!"

"Suatu hari nanti, aku juga ingin bisa terbang seperti dirinya!"

Boqin Changing mendengar sebagian ucapan tersebut, tetapi ia tidak menanggapinya. Ia hanya tersenyum tipis sebelum mempercepat gerakannya.

...******...

Perjalanan menuju rumahnya tidak memakan waktu lama. Karena rumah orang tuanya masih berada di dalam wilayah kediaman sekte, ia segera tiba di sana.

Boqin Changing menurunkan tubuhnya di depan sebuah rumah yang sudah sangat dikenalnya. Rumah itu tidak terlalu besar, tetapi terawat dengan baik. Ada halaman kecil di bagian depan, sementara beberapa tanaman tumbuh di sisi bangunan. Tidak ada kemewahan yang mencolok, tetapi suasananya terasa hangat dan menenangkan.

Ia berdiri sejenak di depan pintu. Kemudian, ia mengangkat tangan dan mengetuknya perlahan.

Tok! Tok! Tok!

Terdengar suara dari dalam.

"Kau sudah pulang? Masuklah ke dalam!"

Boqin Changing tertegun. Ia mengenali suara tersebut dengan sangat baik. Itu adalah suara ibunya, Ehuang Baiye.

Namun, bagaimana ibunya bisa mengetahui bahwa dirinya telah pulang? Boqin Changing sempat terdiam beberapa saat sebelum mendorong pintu dan melangkah masuk. Ia berpikir pasti murid senior di lapangan bergegas ke sini mengabarkan kedatangannya pada ibunya.

"Aku pulang, Ibu."

Rumah itu masih terasa tenang seperti biasanya. Tidak ada banyak perubahan pada perabotan maupun susunan ruangan. Dari arah dapur, terdengar suara peralatan masak yang beradu pelan.

Ehuang Baiye rupanya masih berada di sana.

"Tunggulah sebentar," ujar ibunya. "Sebentar lagi Ibu selesai memasak."

Boqin Changing tersenyum kecil.

"Baik, Ibu."

Ia tidak mengganggu ibunya. Setelah menutup pintu, ia berjalan menuju meja di ruang utama, lalu duduk di salah satu kursi.

Pandangan Boqin Changing berkeliling, memperhatikan setiap sudut rumah yang telah dikenalnya sejak kecil. Semuanya masih sama.

Ia kemudian memusatkan perhatiannya, mencoba merasakan keberadaan ayahnya. Namun, tidak ada tanda-tanda bahwa Boqin Feng sedang berada di dalam rumah.

“Mungkin Ayah masih berada di ladang.”

Pikiran itu membuatnya mengangguk kecil.

Boqin Changing lalu kembali memandangi rumahnya. Di alam ini, ia hanya meninggalkan tempat ini selama beberapa bulan. Akan tetapi, jika menghitung waktu yang dihabiskannya dalam Pagoda Serpihan Surga, ia sebenarnya telah menjalani latihan tertutup selama lima tahun. Lima tahun yang dipenuhi tantangan, perjuangan, dan usaha untuk meningkatkan kekuatannya.

Selama waktu itu, ia terus berusaha mencapai tingkat yang lebih tinggi. Ia menghabiskan berbagai sumber daya, menghadapi kesulitan dalam kultivasi, hingga akhirnya berhasil menembus Pendekar Langit tahap menengah.

Namun, saat duduk di rumahnya sendiri, semua pencapaian itu terasa jauh dari pikirannya. Ia hanya ingin menikmati ketenangan seperti ini.

Dalam kehidupan pertamanya, kedua orang tuanya meninggal ketika ia masih berusia belasan tahun. Kehilangan mereka telah menjadi salah satu penyesalan terbesar dalam hidupnya selama lebih dari seratus tahun.

Saat itu, meskipun memiliki kekuatan yang terus meningkat, ia tidak mampu mengubah kenyataan bahwa orang-orang yang paling berharga baginya telah tiada.

Kini, ia memperoleh kesempatan kedua. Ia kembali ke masa lalu dan berhasil mengubah banyak hal yang sebelumnya tidak bisa ia lakukan. Kedua orang tuanya masih hidup, dan ia masih bisa pulang untuk menemui mereka.

Boqin Changing mengepalkan tangannya perlahan.

“Tidak akan kubiarkan siapa pun merenggut kebahagiaan ini dariku lagi.”

Ia telah kehilangan terlalu banyak dalam kehidupan sebelumnya. Kali ini, ia akan melindungi keluarganya dengan segala kemampuan yang dimilikinya.

Tidak peduli siapa yang mencoba menghalangi. Selama ia masih hidup, kedua orang tuanya tidak boleh mengalami nasib yang sama seperti dalam kehidupan pertamanya.

Boqin Changing menarik napas panjang, kemudian mengendurkan tangannya. Ia tidak ingin memikirkan hal-hal buruk ketika akhirnya bisa kembali ke rumah.

Beberapa saat kemudian, suara langkah kaki terdengar dari arah dapur. Ehuang Baiye muncul sambil membawa sebuah nampan. Di atasnya terdapat semangkuk bubur hangat beserta beberapa lauk sederhana.

Melihat ibunya datang, Boqin Changing segera berdiri dan memberikan hormat dengan penuh kesungguhan.

"Ibu."

Ehuang Baiye tersenyum ketika melihat putranya.

"Untuk apa berdiri? Duduklah. Makanannya masih hangat."

Boqin Changing menurut. Ia kembali duduk di depan meja, sementara ibunya meletakkan nampan di hadapannya.

Ehuang Baiye kemudian mengambil teko dan menuangkan teh ke dalam sebuah cangkir.

"Minumlah sedikit teh, lalu makanlah. Ibu sengaja memasak bubur karena kau pasti belum makan dengan benar."

Boqin Changing memandang makanan di hadapannya. Aroma bubur hangat dan lauk sederhana itu membuat hatinya terasa semakin hangat.

"Ibu, tapi..."

Ehuang Baiye memotong perkataannya dengan lembut.

"Kau pasti lelah, bukan, setelah berada di luar sana?"

"Sekarang makanlah dulu. Kalau ada sesuatu yang ingin kau ceritakan, kita bisa membicarakannya setelah itu."

Boqin Changing terdiam.

Ia telah bertemu dengan banyak orang selama perjalanan kultivasinya. Ada yang menghormatinya karena kekuatan, ada yang mendekatinya demi keuntungan, dan ada pula yang merasa takut hanya dengan mendengar namanya.

Di mata dunia persilatan, ia adalah Dewa Kematian, salah satu dari Lima Raja Dunia. Namun, di hadapan ibunya, ia tetaplah seorang anak yang baru pulang ke rumah.

Ehuang Baiye tidak bertanya seberapa tinggi kultivasinya sekarang. Ia juga tidak menanyakan prestasi apa yang telah diraihnya atau musuh kuat apa yang berhasil dikalahkannya. Hal-hal seperti itu tidak menjadi perhatian utamanya.

Yang ia pedulikan hanyalah apakah putranya sudah makan, apakah tubuhnya sehat, dan apakah ia merasa lelah setelah bepergian jauh. Boqin Changing menundukkan kepala, menyembunyikan perasaan haru yang perlahan memenuhi dadanya.

Ibu tetaplah Ibu. Tidak peduli seberapa tinggi kedudukannya di dunia persilatan, Ehuang Baiye tidak pernah memandangnya berdasarkan gelar atau kekuatannya. Bagi perempuan itu, ia tetaplah putra kesayangannya.

Boqin Changing mengangkat wajah dan tersenyum kepada ibunya.

"Baik, Ibu. Aku akan makan sekarang."

Ehuang Baiye mengangguk puas.

"Bagus. Makanlah selagi masih hangat."

Boqin Changing mengambil sendok, lalu mulai menyantap bubur di hadapannya.

Setelah sekian lama, ia bisa duduk dengan tenang di rumah sendiri, menikmati makanan buatan ibunya tanpa harus memikirkan pertarungan, kultivasi, atau urusan sekte.

Saat ini, Boqin Changing merasa bahwa kebahagiaan sederhana seperti inilah yang ingin ia pertahankan seumur hidupnya.

1
y@y@
⭐👍🏾👍🏿👍🏾⭐
ibarumbung
💛💛💛💛💛
Mahayabank: lanjuuut keenn
total 1 replies
Mahayabank
Mantap Lanjuuuut lagi.. 🔁👍💪💪
Mahayabank
Yaudah lanjuuuut lagi 🔁🔁👀👀
Akhmad Baihaki
👍👍👍👍👍
Ipung Umam
lanjutkan
Sarip Hidayat
waaah knapa ini
mbono keling
💪👍💪👍💪👍💪👍💪👍💪💪💪💪👍💪
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Andi Heryadi
dengan sumber daya yg berlimpah dr boqin chanqing,mestinya wan tian sdh diranah pendekar suci puncak thor😄
Rinaldi Sigar
lanjut
y@y@
👍🏼🌟👍🏻🌟👍🏼
Nanik S
Apakah Wang Tian juga akan membantu
Nanik S
Pendekar Lbah Angin dan kenapa sampai uang saja cuman keping Tembaga... Chang"er sangat jeli sekali
Mahayabank: 👍👍👍👍👀
total 1 replies
Eko🍤
traktiran🤣👍👍 bantaaaaaaaiiiiii
meiii
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!