Di ujung terlupakan Kerajaan Tianhe, seorang anak yatim bernama Qin Mu tumbuh di Desa Canglan bersama seorang pemabuk tua yang mengaku petani. Yang ia miliki hanyalah pisau berburu berkarat, liontin batu hitam peninggalan ayah yang tak pernah kembali, dan satu pertanyaan yang tak terjawab: mengapa ia ditinggalkan?
Ketika dunia kultivator yang selama ini hanya ia dengar sebagai legenda tiba-tiba menghancurkan kedamaian desanya, Qin Mu dipaksa memasuki jalan yang telah ditentukan jauh sebelum ia lahir jalan yang berlumuran darah, penuh pengkhianatan, dan dibayar dengan harga yang tak seorang pun mau membayarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 26
Asap hitam pekat yang berbau amis bangkai dan logam terbakar mengepul tipis dari celah tutup Tungku Alkimia Perunggu Hitam.
Di dalam sebuah gua batu sempit di perbukitan barat Kota Provinsi Cangzhou hanya berjarak dua li dari Vila Bambu Merah cahaya matahari senja yang merah darah menyusup masuk melalui celah bebatuan, menyinari pemandangan yang ganjil sekaligus mengerikan.
Dua sosok pemuda yang memiliki wajah dan perawakan identik sedang bekerja dalam keheningan.
Di sudut kiri gua, Klone Bayangan duduk bersila di depan tungku perunggu. Tangan pucat sang klone bergerak dengan presisi mekanis tanpa sedikit pun rasa lelah, mengatur nyala api dari pecahan Batu Roh di bawah tungku sambil memasukkan Bunga Bangkai Malam, Abu Kalajengking Besi, dan Cairan Pelumer Tulang secara bertahap. Setiap kali cairan di dalam tungku mendidih dan mengeluarkan uap ungu yang mematikan, tidak ada sehelai rumput liar pun di dekat tungku itu yang bertahan hidup semuanya langsung layu dan meleleh menjadi lendir hitam.
Sementara itu, di sudut kanan gua, tubuh asli Qin Mu duduk memegang sebilah pisau ukir berujung baja bintang.
Di pangkuannya berjajar dua belas Bendera Formasi Tingkat Satu yang terbuat dari kain sutra tulang dan tiang besi hitam. Dengan napas yang teratur, ujung pisau di tangan Qin Mu bergerak cepat menggoreskan garis-garis rune rumit di sepanjang tiang bendera, lalu meneteskan campuran darahnya sendiri dan bubuk Batu Roh ke dalam lekukan ukiran tersebut.
Srek. Srek.
Setiap satu goresan selesai, mata hitam Qin Mu memancarkan kilatan dingin yang semakin tajam.
Di dunia ini, orang-orang selalu membicarakan keadilan dan aturan. Namun bagi Qin Mu, aturan hanyalah tali yang digunakan oleh orang kuat untuk mengikat leher orang lemah agar mudah disembelih. Ketika Wei Canglan membakar ratusan penduduk tak berdosa di Distrik Barat Kota Linlang, tidak ada aturan yang menghukumnya. Ketika Wei Tian dan Diaken Ma menguncinya di dalam tambang bersama serangga pemakan daging, hukum akademi justru menjadi tameng mereka.
Oleh karena itu, di dalam hati Qin Mu, batas antara baik dan buruk telah lama mati bersama abu Gu Shanyin dan Penatua Luo.
Siapa pun yang mengayunkan pisau ke arahnya maka ia akan memastikan orang itu merasakan penderitaan seratus kali lipat lebih mengerikan sebelum nyawanya tercabut dari kerongkongan!
Klak!
Tutup Tungku Alkimia Perunggu Hitam terbuka. Klone Bayangan mengulurkan tangannya yang terbungkus kain pelindung, mengambil dua belas butir mutiara lunak berwarna merah gelap seukuran mata burung gagak dari dasar tungku.
Inti Kabut Pembusuk Darah.
Begitu kedua belas mutiara racun itu dimasukkan ke dalam rongga ujung kedua belas bendera formasi yang baru selesai diukir oleh Qin Mu, keduanya saling terhubung.
Formasi Penjara Kabut Darah — Tingkat Satu Puncak!
"Waktunya sudah tiba," gumam Qin Mu datar.
Ia menyimpan tungku alkimianya ke dalam Kantung Penyimpan, membagikan enam bendera formasi kepada Klone Bayangannya, lalu keduanya melangkah keluar dari mulut gua melebur langsung ke dalam kegelapan malam yang mulai turun menyelimuti hutan bambu di kaki bukit.
Malam di pinggiran barat Kota Provinsi Cangzhou terasa lembap dan sunyi.
Di tengah lebatnya hutan bambu berbatang merah tua yang terisolasi dari jalan raya, berdirilah Vila Bambu Merah sebuah kediaman mewah berpagar tembok batu tinggi yang menjadi tempat peristirahatan rahasia milik Klan Wei di ibu kota provinsi.
Di halaman depan vila, delapan orang pengawal kultivator tahap Awal dan Tengah Qi Gathering berpatroli dengan tombak dan golok terhunus. Sementara di dalam aula utama yang diterangi oleh lentera minyak wangi, tiga orang sedang duduk mengelilingi meja kayu jati yang penuh dengan hidangan daging dan arak hangat.
Di kursi tengah, duduk Wei Tian dengan jubah brokat birunya. Di sebelah kirinya duduk Diaken Ma dari Aula Penegak Hukum Akademi Kekaisaran, sedangkan di sebelah kanannya duduk seorang pria tua berwajah tirus dengan bekas luka bakar baru di lehernya Pengurus Gui, tangan kanan kepercayaan Wei Canglan yang baru tiba dari Kota Linlang sore tadi.
BRAK!
Pengurus Gui menghantamkan cangkir araknya ke atas meja hingga pecah, wajahnya yang suram memancarkan kemarahan.
"Tuan Muda Wei Tian! Diaken Ma! Sebelum saya berangkat dari Kota Linlang, Tuan Muda Canglan hampir membunuh tiga tabib karena rasa sakit dari luka bakar api racun di wajah dan meridiannya!" suara Pengurus Gui terdengar tajam dan penuh tekanan.
Ia mendorong sebuah kotak kayu berisi lima ratus keping Batu Roh tingkat rendah ke tengah meja. "Tuan Muda Canglan mengirimkan uang tambahan ini bukan untuk mendengar alasan bahwa delapan ekor anjing kalian mati di dalam tambang! Dia ingin keempat anggota tubuh bocah bernama Qin Mu itu dipotong dan dikirim ke Kota Linlang dalam keadaan hidup minggu ini juga!"
Wajah Diaken Ma berkedut tidak nyaman saat melihat kotak Batu Roh itu, namun keserakahannya dengan cepat mengalahkan rasa takutnya.
"Pengurus Gui, kau tidak tahu betapa liciknya bocah gembel itu," gerutu Diaken Ma sambil menarik kotak Batu Roh itu ke dekatnya. "Entah bagaimana dia berhasil bertahan di dalam tambang dan mendapat perlindungan dari Instruktur Yan Zhen. Tapi tenang saja, lusa adalah jadwal patroli luar bagi murid baru. Aku sudah mengatur jalurnya agar melewati Lembah Angin Hitam. Di sana, aku sendiri yang akan mematahkan tulang punggungnya dan mencungkil kedua matanya untuk Tuan Muda Canglan!"
"Tidak perlu menunggu lusa untuk mematahkan tulangnya," sela Wei Tian dengan suara sedingin es.
Pemuda berusia tujuh belas tahun yang berada di Puncak Qi Gathering itu mengusap gagang pedang perak di pinggangnya dengan mata menyipit kejam. "Kematian Chen Hu dan Zhao Kun telah mencoreng wajahku di seluruh Gerbang Luar. Begitu kau menangkapnya di luar akademi lusa, bawa dia ke hadapanku dulu. Aku ingin menguliti kulit dadanya sedikit demi sedikit agar dia tahu akibat dari menatapku dengan mata sombong itu."
Diaken Ma dan Pengurus Gui tertawa serempak, mengangkat cangkir arak mereka untuk merayakan rencana penyiksaan tersebut.
Namun, tepat ketika cangkir arak itu menyentuh bibir mereka—
ZING—! HUMMMM!
Tanah di bawah seluruh area Vila Bambu Merah tiba-tiba bergetar halus selama satu detik.
Di luar tembok halaman vila, di dua belas titik sudut mata angin yang tersembunyi di balik rimbunnya pohon bambu merah, dua belas bendera besi hitam yang ditancapkan oleh Qin Mu dan Klone Bayangannya menyala secara serentak setelah menyerap energi dari dua belas keping Batu Roh Tingkat Menengah!
Garis-garis rune merah darah melesat dari satu bendera ke bendera lainnya, merajut sebuah kubah cahaya merah gelap raksasa yang terbalik, menutup seluruh bangunan Vila Bambu Merah dari langit hingga ke bawah tanah!
Di dalam aula, senyum di wajah Wei Tian mendadak membeku. Sebagai murid elit akademi, kepekaan spiritualnya langsung menangkap perubahan tekanan udara di luar. "Formasi penyegel?! Siapa yang berani memasang formasi di kediaman Klan Wei?!"
Belum sempat mereka bertiga berdiri dari kursi, terdengar suara letupan pelan dari halaman depan.
Puk. Puk. Puk.
Dua belas mutiara Inti Kabut Pembusuk Darah di ujung bendera formasi pecah serentak, menyemburkan kabut berwarna merah karat yang tebal dan berbau manis memuakkan, yang langsung diputar oleh arus angin formasi hingga memenuhi seluruh halaman vila dalam tiga tarikan napas!
"A-asap apa ini?! Tutup gerbang—"
Salah satu dari delapan pengawal Qi Gathering di halaman depan baru saja berteriak memperingatkan rekannya ketika kabut merah itu menyentuh kulit wajahnya dan terhirup sedikit ke dalam paru-parunya.
Detik berikutnya, teriakan peringatan itu berubah menjadi jeritan paling mengerikan yang pernah terdengar di dunia manusia.
"AAAARGH!! Kulitku! Kulitku meleleh!!"
Pengawal itu menjatuhkan tombaknya dan mencakar wajahnya sendiri dengan gila. Begitu Kabut Pembusuk Darah menyentuh pori-pori yang mengandung Qi, racun dari Cairan Pelumer Tulang dan Bunga Bangkai Malam langsung bereaksi ganas, mengubah darah di bawah kulit mereka menjadi asam panas yang membusukkan daging dari dalam!
Hanya dalam lima tarikan napas, halaman depan Vila Bambu Merah berubah menjadi neraka hidup. Kedelapan pengawal itu bergulingan di atas tanah batu sambil menjerit pilu; kulit dan otot lengan mereka mengelupas seperti lilin yang dibakar api, namun racun itu sengaja diracik oleh Qin Mu agar tidak langsung merusak jantung, memaksa mereka merasakan setiap detik daging mereka membusuk dalam kesadaran penuh!
"Racun! Nyalakan perisai Qi kalian dan jangan hirup udaranya!"
Wei Tian, Diaken Ma, dan Pengurus Gui menerobos keluar dari pintu aula utama dengan wajah pucat pasi, masing-masing membungkus tubuh mereka dengan lapisan Qi tebal untuk menahan rembesan kabut merah tersebut.
Namun pemandangan di halaman membuat darah Diaken Ma dan Pengurus Gui berdesir dingin.
Di tengah kabut merah yang pekat dan jeritan pengawal yang sedang meleleh hidup-hidup, dua sosok bayangan hitam berjalan berdampingan dengan langkah yang sangat tenang dan santai seolah mereka sedang berjalan-jalan di taman bunga.
Sring! Jleb!
Setiap kali kedua sosok itu melewati pengawal yang sedang merangkak kesakitan di tanah, sepasang bilah transparan menyabet tanpa suara, bukan untuk memberikan kematian yang cepat, melainkan memotong urat kaki mereka agar mereka tetap terendam di dalam genangan kabut racun di lantai!
"Siapa kalian?! Keluar dari balik kabut!" raung Pengurus Gui sambil mencabut sepasang golok pendek berlapis Qi kuning, punggungnya menempel rapat dengan Diaken Ma.
Kabut merah di depan tangga aula terbelah perlahan.
Qin Mu melangkah keluar dari balik tirai kabut, sementara Klone Bayangannya berhenti tiga tombak di sisi kirinya, menutup jalur menuju gerbang depan.
Di bawah pendaran cahaya merah formasi, mata hitam Qin Mu yang dingin tanpa belas kasihan menatap lurus ke arah tiga orang di teras aula. Ujung Bilah Kembar Taring Hantu di tangannya meneteskan darah segar yang mendesis saat menyentuh batu.
"Q-Qin Mu...?!"
Mata Diaken Ma hampir melompat keluar dari rongganya. Suaranya bergetar hebat antara ketidakpercayaan dan teror murni. "Kau... bagaimana mungkin kau ada di sini?! Dan formasi tingkat satu serta racun iblis ini... bukankah kau hanya bocah desa dari pegunungan?!"
"Diaken Ma, bukankah baru satu menit yang lalu kau bilang ingin mematahkan tulang punggungku dan mencungkil kedua mataku di Lembah Angin Hitam?" suara Qin Mu terdengar begitu lembut dan datar, namun membuat bulu kuduk di leher Diaken Ma berdiri tegak. "Aku orang yang tidak suka berutang. Karena kalian sudah repot-repot merencanakannya, aku datang malam ini untuk menyerahkan semuanya lebih awal."
"Hanya bocah satu orang! Jangan takut padanya!" bentak Pengurus Gui dengan mata memerah. Sebagai algojo veteran dari Kota Linlang yang berada di Tahap Akhir Qi Gathering, ia menolak gentar pada remaja empat belas tahun. "Dia hanya menggunakan trik cermin atau boneka untuk membuat bayangan kedua itu! Diaken Ma, bunuh bayangan di sebelah kiri, aku dan Tuan Muda Wei akan mencincang tubuh aslinya!"
WUSH!
Pengurus Gui dan Diaken Ma bergerak serentak, menerjang turun dari tangga aula untuk mendahului serangan sementara Wei Tian mengincar celah mematikan dari belakang mereka!
Namun begitu kedua pria tua tahap Akhir Qi Gathering itu terpisah sejauh tiga tombak di dalam kabut, bibir Qin Mu melengkung membentuk seringai sadis yang dingin.
"Kalian pikir formasi yang kupasang dengan dua belas Batu Roh Tingkat Menengah ini hanya berfungsi untuk menyebarkan asap?"
Qin Mu menghentakkan tumitnya ke lantai batu.
Ubah Array — Rantai Kabut Darah!
ZING! ZING!
Dari dua belas bendera formasi di sekeliling halaman, sulur-sulur energi formasi berwarna merah gelap tiba-tiba melesat menembus kabut dan melilit pergelangan kaki Diaken Ma serta Pengurus Gui! Meskipun lilitan formasi tingkat satu itu hanya mampu menahan gerakan praktisi Qi Gathering Akhir selama satu kedipan mata, di hadapan pembunuh secepat Qin Mu, satu kedipan mata sudah lebih dari cukup untuk menentukan hidup dan mati!
Di sisi kiri, Klone Bayangan Qin Mu tidak menghindar saat pedang Diaken Ma menebas ke arahnya.
Dengan kerangka tulang Puncak Penempaan Tubuh yang sekeras besi bintang, Klone Bayangan itu sengaja membiarkan bahu kirinya menerima tebasan pedang Diaken Ma hingga berdarah demi mengunci bilah pedang tersebut, lalu tangan kanan sang klone menghantamkan segenggam penuh Bubuk Pelumer Tulang Murni langsung menembus perisai Qi yang menipis ke wajah dan dada Diaken Ma!
"AAAARGH! Mataku! Tanganku!!"
Diaken Ma menjerit melengking saat bubuk racun konsentrasi tinggi itu langsung membakar matanya dan melelehkan daging di tangan kanannya hingga tulang putihnya terlihat!
Dan di saat yang bersamaan, di sisi kanan, tubuh asli Qin Mu telah melesat menggunakan Langkah Pertama: Jejak Hantu Tanpa Suara, muncul tepat di hadapan Pengurus Gui yang kakinya baru saja terbebas dari lilitan formasi!
"Mati kau, bocah sialan!" Pengurus Gui mengayunkan kedua golok pendeknya secara menyilang dengan seluruh kekuatan Qi Gathering Akhir miliknya.
Namun di udara, bilah di kedua tangan Qin Mu mendadak lenyap menjadi transparan.
TRANG! SRING—!
Sisi lengkung Bilah Taring Hantu menepis golok Pengurus Gui dari sudut yang tak terlihat oleh mata, sementara bilah kedua di tangan kiri Qin Mu berputar cepat seperti kincir kematian empat sabetan kilat beruntun langsung memotong putus kedua pergelangan tangan dan kedua urat lutut Pengurus Gui!
"GUAAAAH!!"
Pengurus Gui ambruk berlutut di atas genangan darah, kedua telapak tangannya yang masih memegang golok tergeletak terpisah di lantai batu!
Qin Mu bahkan tidak berhenti untuk melihatnya. Dengan satu tendangan dingin ke dada Pengurus Gui, ia melontarkan tubuh pria tua yang buntung itu jatuh tepat ke sebelahnya Diaken Ma yang sedang bergulingan memegangi wajahnya yang meleleh.
Qin Mu melangkah mendekati Diaken Ma, lalu menginjak dada diaken korup dari Aula Penegak Hukum itu hingga tulang rusuknya patah berderak.
"A-ampun... Qin Mu, ampuni aku! Aku Diaken Akademi! Aku punya banyak Batu Roh di kamarku!" tangis Diaken Ma dengan suara gemetar hebat, darah dan nanah hitam mengalir dari sela-sela jarinya.
Qin Mu menatap pria tua di bawah sepatunya itu tanpa sedikit pun riak di matanya.
"Ketika kau menutup pintu tambang itu tadi pagi, kau sudah bukan manusia lagi di mataku," bisik Qin Mu dingin.
Sring! Sring!
Bilah Kembar Taring Hantu bergerak cepat memotong kedua lengan dan kedua kaki Diaken Ma persis seperti apa yang dijanjikan Diaken Ma kepada Wei Tian di meja makan tadi lalu Qin Mu menendang tubuh Diaken Ma ke tengah pusaran Kabut Pembusuk Darah paling pekat di sudut halaman!
Diaken Ma dan Pengurus Gui bahkan tidak bisa mengakhiri hidup mereka sendiri karena tidak lagi memiliki tangan. Di dalam kabut merah itu, jeritan pilu keduanya yang dagingnya perlahan meleleh menjadi genangan air darah menggema menyayat malam, menjadi musik latar yang membuat wajah Wei Tian di tangga aula berubah sepucat kertas mayat!
Sadis. Kejam. Tanpa ampun sedikit pun!
Wei Tian akhirnya sadar mengapa adiknya, Wei Canglan, menjadi setengah gila karena ketakutan setelah berhadapan dengan bocah ini di Kota Linlang. Pemuda berusia empat belas tahun di depannya ini bukanlah murid akademi biasa dia adalah iblis berdarah dingin yang merangkak keluar dari tumpukan mayat!
"Kau... kau benar-benar gila!" suara Wei Tian bergetar hebat, bukan lagi karena kesombongan, melainkan karena rasa dingin yang mencengkeram jantungnya.
Ia tahu bahwa di dalam formasi yang terkunci ini, tidak ada bala bantuan yang akan datang, dan memohon ampun pada Qin Mu hanya akan membuatnya mati dengan cara yang sama mengerikannya seperti Diaken Ma!
"Jika aku tidak membunuhmu di sini sekarang, aku tidak akan pernah bisa keluar dari halaman ini!"
Wei Tian meraung keras, menggigit ujung lidahnya dan menyemburkan darah esensi ke atas pedang perak panjangnya!
BOOM—!
Aura Puncak Qi Gathering yang selama ini ia timbun selama dua tahun di Akademi Kekaisaran meledak sepenuhnya tanpa ditahan lagi! Pusaran angin Qi berwarna biru keperakan berputar liar di sekeliling tubuh Wei Tian, meniup mundur kabut racun di radius lima tombak di sekitarnya dan membuat ubin batu di bawah kakinya hancur terangkat ke udara.
Sebagai salah satu murid terkuat di Gerbang Luar yang sudah selangkah menyentuh ambang Foundation Establishment, kekuatan Wei Tian berada di dimensi yang jauh melampaui Chen Hu!
"Mati kau, Qin Mu! Teknik Pedang Klan Wei — Sembilan Gelombang Pemecah Karang!"
Wei Tian melompat turun dari tangga aula. Pedang peraknya berkelebat sembilan kali dalam satu tarikan napas, menciptakan sembilan gelombang cahaya pedang biru yang saling bertumpuk bagaikan ombak laut raksasa yang mengamuk, menghantam lurus untuk mencabik tubuh Qin Mu menjadi serpihan daging!
Tekanan gelombang pedang Puncak Qi Gathering itu begitu dahsyat hingga formasi bendera di sekeliling halaman bergetar keras.
Dengan kekuatan Puncak Tahap Awal Qi Gathering di tubuh aslinya saat ini, Qin Mu tahu ia masih kalah dua -ranah penuh dalam hal kepadatan Qi jika berbenturan secara lansung dengan teknik terkuat Wei Tian.
Namun, mata hitam Qin Mu justru menyala terang dengan keganasan yang dingin.
"Ingin adu kekuatan denganku?" desis Qin Mu. "Penyatuan Bayangan!"
Tepat saat gelombang pedang pertama Wei Tian berjarak dua tombak dari dadanya, Klone Bayangan yang berdiri di sisi kiri tiba-tiba melesat mengubah wujudnya menjadi seberkas bayangan hitam cair dan menghantam masuk langsung menyatu ke dalam punggung tubuh asli Qin Mu!
DUAAAAR—!
Saat Klone Bayangan dan tubuh asli menjadi satu, rahasia pertempuran dari gulungan Tingkat Surgawi Langkah Bayangan Pemutus Langit meledak di dalam Dantian dan meridian Qin Mu!
Akumulasi energi dan kekuatan fisik dari Klone Bayangan menyatu sempurna dengan tubuh aslinya, mendobkrak paksa batas kultivasi Qin Mu dalam sekejap mata!
Sekat Tahap Tengah Qi Gathering hancur seketika, dan aura abu-abu kehitaman yang memancar dari tubuh Qin Mu terus melonjak naik hingga menembus masuk ke ranah Tahap Akhir Qi Gathering dipadukan dengan kekuatan kerangka tulang perak Sutra Penempaan Tulang Kehampaan yang kini berlipat ganda!
Rambut hitam Qin Mu berkibar liar di tengah badai kabut darah. Ia tidak menghindar selangkah pun.
Dengan kedua tangan menggenggam erat Bilah Kembar Taring Hantu yang diselimuti Qi bayangan pekat hingga sepanjang tiga kaki, Qin Mu menghentakkan kakinya hingga lantai halaman ambles sedalam setengah kaki, lalu menerjang lurus menabrak sembilan gelombang pedang Wei Tian secara lansung!
TRANG! TRANG! CRAAASH!!
Bunga api dan ledakan Qi mengguncang seluruh Vila Bambu Merah hingga tiang-tiang aula utamanya runtuh sebagian!
Mata Wei Tian membelalak tak percaya saat melihat pemandangan yang menghancurkan akal sehatnya.
Satu gelombang, tiga gelombang, enam gelombang hingga gelombang pedang kesembilan miliknya ditebas hancur berkeping-keping secara brutal oleh sepasang bilah hitam di tangan Qin Mu! Meski jubah di lengan Qin Mu robek tercabik oleh sisa Qi pedang dan darah segar mengalir dari sela-sela jarinya, langkah maju Qin Mu sama sekali tidak melambat sedikit pun!
"Mustahil!! Bagaimana Qi-mu bisa melonjak dua tingkat dalam sekejap?!" jerit Wei Tian dengan suara pecah karena panik saat sosok Qin Mu tiba-tiba sudah menembus gelombang terakhir dan berada tepat satu langkah di depan wajahnya!
"Tanyakan saja pada saudaramu di neraka nanti," bisik Qin Mu sedingin maut.
Dalam jarak rapat itu, Wei Tian berusaha menarik pedang peraknya untuk melindungi dada, sambil tangan kirinya merogoh saku untuk mengaktifkan jimat pelindung nyawanya.
Namun Bilah Kembar Taring Hantu yang berubah transparan di dalam bayangan malam bergerak jauh lebih cepat daripada tangannya.
SRING—!
Bilah di tangan kiri Qin Mu menebas dari bawah ke atas, memotong putus lengan kiri Wei Tian bersama kantung jimatnya hingga melayang ke udara!
Sebelum jeritan rasa sakit sempat keluar dari kerongkongan Wei Tian, bilah kedua di tangan kanan Qin Mu yang membawa seluruh bobot Sutra Penempaan Tulang Kehampaan dan lonjakan Qi Penyatuan Bayangan menghantam pedang perak Wei Tian hingga bengkok, lalu menancap lurus menembus Dantian di perut Wei Tian sebelum ditarik naik merobek dadanya!
JLEB—!
Waktu terhenti di tengah halaman Vila Bambu Merah yang bersimbah darah.
Wei Tian sang penguasa Faksi Bangsawan di Gerbang Luar Akademi Kekaisaran membeku dengan mata melotot lebar, mulutnya menyemburkan darah hangat ke atas bahu Qin Mu. Dantiannya yang telah ia bangun dengan penuh kesombongan selama bertahun-tahun kini hancur lebur tak bersisa di ujung bilah hitam pemuda yang kemarin pagi masih ia pandang sebagai semut dari atas balkon.
"K-kau..." Wei Tian jatuh berlutut di depan Qin Mu, tangannya yang tersisa mencengkeram jubah Qin Mu dengan lemah, menatap mata hitam pemuda itu yang sama sekali tidak menunjukkan kegembiraan maupun keraguan—hanya kehampaan yang dingin. "Klan Wei... dan Tuan... di balik layar... tidak akan..."
Qin Mu tidak memberinya waktu untuk menyelesaikan kalimatnya.
Dengan satu tarikan menyilang dari kedua bilahnya, kepala Wei Tian terlepas dari bahunya, mengakhiri hidup sang jenius Klan Wei di tengah kepulan kabut merah yang perlahan mulai menipis.
Qin Mu berdiri terengah-engah di tengah halaman yang kini telah berubah menjadi lautan mayat yang meleleh. Efek lonjakan kekuatan dari Penyatuan Bayangan perlahan mereda, namun menariknya, berkat pertarungan hidup dan mati barusan serta serapan energi dari klonenya, ranah asli Qin Mu tidak turun kembali ke tahap Awal, melainkan telah resmi menembus dan menetap kokoh di Tahap Tengah Qi Gathering!
Tanpa membuang waktu, Qin Mu menarik kembali kedua belas bendera formasinya, mengambil kotak berisi lima ratus Batu Roh dari dalam aula, memenggal kepala Diaken Ma dan Wei Tian untuk dimasukkan ke dalam kotak kayu milik Pengurus Gui sebagai "kiriman balasan" yang akan ia lempar ke kereta dagang menuju Kota Linlang, lalu menyambar Kantung Penyimpan pribadi milik Wei Tian.
Namun, tepat ketika Qin Mu memeriksa isi Kantung Penyimpan milik Wei Tian dan hendak meninggalkan vila yang mulai terbakar itu, jarinya menyentuh sebuah benda dingin di dasar kantung Wei Tian yang membuat gerakannya terhenti seketika.
Itu bukan Batu Roh, dan bukan pula lencana Klan Wei.
Di telapak tangan Qin Mu, terbaring sebuah Lempeng Perunggu Hitam berukir gambar Mata Satu di atas Bulan Sabit dan di balik lempeng itu, tertulis daftar nama target yang harus dihabisi di dalam Akademi Kekaisaran, di mana di urutan paling atas bukanlah nama Qin Mu, melainkan nama Instruktur Yan Zhen dan Su Ruyan!
Belum sempat Qin Mu menyimpan lempeng misterius tersebut, di kejauhan langit malam Kota Provinsi Cangzhou, sebuah lonceng peringatan perang dari puncak menara tertinggi Akademi Kekaisaran tiba-tiba berbunyi menggelegar menembus malam!
DONG—! DONG—! DONG—!
Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.
Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.
TERIMA KASIH.... ✌️
ini enak nih gak bertele2,tinggal musuh yg lebih kuat udah nunggu
Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.
Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.
TERIMA KASIH.... ✌️