Lula, bocah 5 tahun yang hidup luntang-lantung di kerasnya jalanan Jakarta, mendadak jadi putri bungsu kesayangan keluarga konglomerat Ayodhya setelah kekuatan supernya menyelamatkan nyawa sang istri CEO. Kini, dengan kemampuannya berbicara dengan hewan dan melihat kabut nasib buruk, Lula bukan cuma jadi jimat penyelamat Grup Lentera, tapi juga pusat dunia bagi empat kakak laki-lakinya yang kelewat protektif.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Hari Minggu pagi ini terasa berbeda di kediaman keluarga Ayodhya.
Arini sudah mengumpulkan semua anak laki-lakinya di dapur bersih yang sangat luas.
Lula berdiri di atas kursi kecil khusus agar tingginya sejajar dengan meja dapur.
Gadis kecil itu memakai celemek berwarna kuning bergambar anak bebek.
"Hari ini kita libur membahas bisnis dan urusan sekolah," umum Arini dengan senyum cerah.
"Kita akan membuat kue stroberi spesial untuk merayakan hari libur Lula."
Cakra bersorak heboh sambil memakai celemek berwarna biru.
"Tenang saja Ma, aku ini koki rahasia yang masakannya lebih enak dari restoran bintang lima!" sombong Cakra.
Dewa mendengus pelan sambil mengikat tali celemek hitam di pinggangnya.
"Masak mi instan saja kau masih sering keasinan, apanya yang koki rahasia," ejek Dewa tanpa ampun.
Di ujung meja, Bastian sedang menyusun timbangan digital dan gelas ukur dengan sangat presisi.
"Membuat kue itu seperti meracik obat, takarannya harus pas sampai ke satuan miligram," ucap Bastian logis.
Namun pemandangan yang paling aneh ada di sebelah Lula.
Adrian berdiri kaku dengan wajah ditekuk dan rahang mengeras.
CEO dingin yang biasa membuat musuhnya gemetar itu kini memakai celemek berwarna merah muda.
Ada gambar bunga aster besar di bagian dada celemek itu.
"Ma, apa tidak ada warna lain selain merah muda ini?" keluh Adrian merasa harga dirinya hancur.
Arini menahan tawa melihat wajah tertekan putra sulungnya.
"Celemek yang lain sedang dicuci Adrian, pakai saja itu atau kamu tidak boleh ikut masak," ancam Arini lembut.
Adrian baru saja berniat melepas celemek itu dan kembali ke kamarnya.
Namun tangan kecil Lula tiba-tiba menarik ujung celemek merah muda itu.
"Kak Adrian lucu sekali pakai warna pink, seperti kembang gula raksasa," puji Lula dengan senyum sangat lebar.
Mendengar pujian dari adiknya, tangan Adrian yang memegang tali celemek langsung berhenti.
Ego dan harga dirinya langsung menguap entah ke mana.
"Ya sudahlah, warna ini tidak terlalu buruk," gumam Adrian menyerah pada pesona adiknya.
Cakra dan Dewa langsung membuang muka untuk menahan tawa agar tidak meledak.
Mereka tahu Adrian tidak akan berani memarahi mereka jika ada Lula di sebelahnya.
"Baiklah, ayo kita mulai dari memecahkan telur dan mengocok adonan!" instruksi Arini.
Cakra mengambil dua butir telur dan berniat memecahkannya dengan gaya koki profesional.
Dia melempar telur itu ke udara dan berniat menangkapnya.
Prak.
Telur itu meleset dari tangannya dan jatuh berantakan di atas lantai marmer.
"Cakra! Bersihkan lantai itu sekarang juga!" bentak Arini langsung pusing.
Cakra tersenyum canggung dan buru-buru mengambil tisu untuk membersihkan kekacauannya.
Di sisi lain, Dewa sedang memotong buah stroberi segar menggunakan pisau dapur.
Wajah Dewa sangat serius dan gerakannya sangat cepat seperti sedang memotong musuhnya.
Tak tak tak tak.
"Dewa, potong stroberinya pelan-pelan saja, kau bisa memotong jarimu nanti," tegur Bastian khawatir.
Lula menatap stroberi-stroberi merah di atas talenan Dewa.
"Aduh sakit, jangan potong aku tipis-tipis!" suara kecil terdengar dari arah stroberi itu.
Lula tertawa pelan mendengarnya. "Kak Dewa, stroberinya bilang sakit kalau dipotong tipis-tipis," ucap Lula polos.
Dewa langsung menghentikan gerakan pisaunya dan menatap stroberi itu dengan wajah bingung.
Tentu saja Dewa tidak percaya kalau buah bisa bicara.
Tapi karena Lula yang memintanya, Dewa akhirnya memotong stroberi itu menjadi ukuran yang lebih tebal.
"Begini cukup?" tanya Dewa menuruti permintaan absurd adiknya.
Lula mengangguk cepat sambil mengacungkan kedua jempolnya.
Kini giliran Adrian yang harus mengaduk adonan tepung mentega menggunakan mixer listrik.
Ini adalah pertama kalinya pria jangkung itu memegang peralatan dapur.
"Biar Kakak yang aduk adonannya Lula, ini butuh tenaga besar," kata Adrian percaya diri.
Adrian memasukkan ujung mixer ke dalam mangkuk besar berisi tepung dan susu.
Tanpa membaca petunjuknya, Adrian langsung menggeser tombol kecepatan ke angka paling tinggi.
Wunggg.
Mesin mixer itu berputar dengan sangat gila dan tidak terkendali.
Tepung putih dari dalam mangkuk langsung terbang menyembur ke segala arah seperti badai salju.
Puh.
Wajah Adrian langsung berubah menjadi putih total tertutup debu tepung.
Tidak hanya Adrian, Dewa yang berdiri di sebelahnya juga ikut menjadi korban.
Rambut hitam Dewa kini dipenuhi tepung putih seperti kakek-kakek.
"Kak Adrian! Matikan mesinnya bodoh!" teriak Dewa panik sambil menutup matanya.
Adrian mencoba mematikan tombolnya namun tangannya licin karena mentega.