Di balik kemegahan dan keagungan Kerajaan Veldora, tersimpan rahasia busuk yang menjijikkan. Kalyca, sang putri kandung yang sah, dibuang sejak bayi ke sebuah gubuk reot di pinggiran kota dan hidup dalam penderitaan. Sementara itu, gadis licik, Edelyn putri palsu yang merampas takhtanya, menikmati kemewahan istana.
Rasa sakit dan ketidakadilan, membuat jiwa lemah itu membangkitkan jiwa gelap dari seorang alkemis genius, berdarah dingin, yang sudah mati ribuan tahun yang lalu.
Di tengah misi balas dendam dan intrik berdarah di istana, takdir mempertemukannya dengan Grand Duke Erik Klaus, pria bermata tajam yang dijuluki sebagai dewa perang yang terkenal kejam pada musuh, namun menyimpan rahasia kelam.
“Ribuan tahun lalu, aku gagal melindungi mu. Kali ini, biarkan aku merobek dunia ini untuk membawamu pulang...”
~Grand Duke Erik Klaus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DI USIR
"Ada apa ini?" tanya Gale, tegas.
Gale muncul bersama sosok pria tinggi berbadan tegap dengan jubah militer hitam berhias lencana perak, Aura membunuh yang pekat langsung menyebar ke sekeliling halaman, itu adalah Erik Klaus, sang Dewa Perang.
Mata tajam kelamnya menatap dingin ke arah halaman depan, tempat Edelyn sedang berteriak-teriak.
Melihat kemunculan pria yang diincarnya, ekspresi Edelyn seketika berubah. Kemarahannya lenyap, digantikan oleh senyuman paling manis dan genit di wajah tebal nya.
Dengan penuh percaya diri, Edelyn segera mengangkat gaunnya, berjalan setengah berlari menghampiri Erik.
"Yang Mulia Erik! Aku sangat merindukanmu. Kudengar kamu baru saja kembali dari perbatasan, jadi aku langsung kemari untuk memastikan kau baik-baik saja," ucap Edelyn dengan suara yang dibuat semanis mungkin.
Gale yang berada di samping Tuan nya, hampir saja memuntahkan isi perutnya, mendengar suara menjijikan dari sang putri di depan nya itu.
Ini bukan kali pertama nya, Edelyn datang dan menganggu Erik, sudah ratusan kali di usir, tapi wanita itu seolah tidak punya malu.
"Mohon maaf Yang Mulia Putri, hari ini Grand Duke tidak menerima tamu," ucap Gale, seperti yang di ucapkan kepala pelayan tadi.
"Diam kamu pengawal rendahan, aku tidak berbicara dengan mu!" bentak Edelyn, memaki Gale.
Gale mengepalkan tangannya kuat, andai saja wanita itu bukan seorang putri Raja, sudah dia injak lehernya dan robek mulut busuk nya.
Edelyn berhenti tepat beberapa langkah di hadapan Erik, menatap pria itu dengan binar kekaguman, sambil sedikit memamerkan kalung berlian di leher jenjangnya.
Namun, Erik sama sekali tidak bergeming pria itu menatap Edelyn dingin, tidak ada sapaan, tidak ada senyuman, bahkan tidak ada sedikit pun rasa hormat selayaknya seorang pahlawan perang menyambut seorang putri mahkota, tatapan mata Erik begitu tajam, dingin, dan mematikan.
Para pengawal dan pelayan menunduk ketakutan, tahu betul bagaimana watak sang Grand Duke jika ada yang berani mengusik ketenangannya.
"Siapa yang mengizinkan makhluk menjijikkan ini menginjakkan kaki di kediaman ku?" tanya Erik, suaranya terdengar rendah, berat.
Wajah Edelyn langsung memucat, senyum manisnya langsung hilang.
"E-erik? Apa maksudmu? Aku... aku Putri Mahkota Veldora, aku datang berkunjung dengan niat baik-"
"Persetan dengan status mu! Di mata ku, kamu bukan siapa-siapa. Gelar yang kamu banggakan itu tidak ada artinya!" potong Erik, tegas.
"Y-Yang Mulia! Jaga ucapanmu!" bentak salah satu pengawal Edelyn yang tidak terima junjungannya direndahkan di muka umum.
"Dia adalah calon pewaris kerajaan! Beraninya Anda-"
BOM
BRAKKK
"AAAAKKKKKKHHHH!"
Uhuk
Uhuk
Uhuk
Tanpa Erik mengangkat satu jari pun, tekanan sihir dari tubuh sang Grand Duke meluncur, menghantam pengawal tersebut hingga terpental ke belakang dan membentur pagar batu dengan keras.
Pengawal itu langsung memuntahkan darah segar dan tak sadarkan diri.
Edelyn menjerit kecil, tubuhnya bergidik ngeri melihat pemandangan mengerikan di hadapannya.
Erik melangkah maju selangkah, menatap Edelyn dari atas dengan pandangan jijik yang tidak lagi dia sembunyikan, dari semalam suana nya hati nya sedang buruk, di tambah pagi-pagi begini kedatangan tamu tidak di undang itu.
Bau busuk ambisi dan kepalsuan wanita itu membuat perutnya mual.
"Pergi, sebelum aku robek isi kepala mu," desis Erik, dingin.
"Jangan pernah datang ke tempatku lagi, dan jangan pernah menyebut namaku dengan bibir kotor itu," lanjut Erik, penuh penekanan.
Edelyn gemetar hebat, air mata ketakutan dan rasa malu bercampur aduk di wajahnya, dia tidak pernah dipermalukan sehebat ini seumur hidupnya.
"Kau... kau akan menyesal..." cicit Edelyn dengan suara bergetar ketakutan, tidak berani melawan lebih jauh karena dia tahu pria di hadapannya adalah monster yang benar-benar bisa membunuhnya tanpa ampun.
"Gale" panggil Erik dingin tanpa mengalihkan pandangannya dari Edelyn.
"Saya, Yang Mulia," jawab Gale sigap.
"Seret sampah ini keluar dari wilayah ku! Dan jika dia berani datang lagi, buang dia ke kandang harimau di belakang!" perintah Erik menyeringai tipis, penuh ancaman mematikan.
"Baik, Yang Mulia!" jawab Gale, menyeret Edelyn.
"LEPASKAN! BERANI SEKALI TANGAN KOTOR KALIAN MENYENTUH KU!"
"DASAR MANUSIA MENJIJIKAN! LEPASKAN AKU!"
Jerit Edelyn, riasan wajah nya sudah berantakan.
Brak
Gale melempar tubuh Edelyn ke dalam kereta kuda nya, dan menutup nya dengan keras.
"Pergi dari sini, sebelum aku hancurkan kereta kuda kalian!" bentak Gale, dingin.
Pengawal istana yang mengawal Edelyn tidak berani membantah, mereka langsung pergi meninggalkannya kediaman Klaus.
"Sialan... Sialan! Sialan!" teriak Edelyn histeris, di dalam kereta kuda nya.
Rasa malu akibat dipermalukan di hadapan para pengawal dan pelayan oleh Erik Klaus membakar harga dirinya, pria dingin itu tidak hanya menolaknya, tetapi juga menyebutnya sebagai sampah.
Semakin Edelyn memikirkan tatapan jijik Erik, dada Edelyn semakin terasa sesak oleh amarah.
"Kalyca..." desis Edelyn penuh kebencian, giginya bergemeletuk tajam.
"Pasti gara-gara pembawa sial itu hariku menjadi sial! Ya... ini semua salah si gadis rendahan itu!" batin Edelyn, tidak sadar diri.
Edelyn menatap keluar jendela dengan sorot mata mengerikan, bagaikan seorang iblis yang mencari mangsa untuk dirobek-robek.
"Hentikan kereta nya!" perintah Edelyn keras.
Kereta kuda langsung berhati, sesuai perintah sang putri.
Tanpa memperdulikan gaun mewahnya yang terseret kotor di atas tanah berlumpur, Edelyn melompat turun dari kereta kuda nya, tanpa bantuan pengawal nya.
"Putri Anda mau kemana?" tanya sang pengawal, khawatir.
"Diam disana! Jangan ikuti aku!" teriak Edelyn, keras.
Dia berjalan tergesa-gesa dengan napas memburu, dengan pisau kecil yang selalu dia sembunyikan di balik lipatan gaunnya khusus untuk menyiksa Kalyca.
"Hari ini... hari ini aku akan membuatmu memohon agar kematian segera menjemputmu, Kalyca!" gerutu Edelyn penuh murka, mempercepat langkah kakinya menuju gubuk reyot di tengah hutan.
Brak
"Kalyca! Keluar kau, anak sialan!" teriak Edelyn melengking, napasnya memburu dan matanya menyala-nyala penuh amarah.
Di dalam ruangan yang remang-remang, Cassandra, yang masih mendiami tubuh Kalyca tengah duduk bersila di atas dipan kayu, dia baru saja selesai meracik ramuan pembersih racun tingkat dasar dari sisa-sisa tanaman liar untuk menstabilkan kondisi fisik tubuh baru nya.
Cassandra perlahan mengangkat kepalanya. Sorot mata yang tadinya tajam dan dingin kini berubah menjadi tatapan datar yang menusuk, dia menatap Edelyn dari atas ke bawah, melihat gaun mewah berdebu, rambut acak-acakan, serta tangan yang menggenggam pisau kecil.
"Ah, tikus kecil ini datang lebih cepat dari perkiraan," batin Kalyca tenang.
Edelyn, yang melihat Kalyca hanya duduk diam tanpa menunjukkan rasa takut atau bersujud memohon ampun seperti biasanya, merasa harga dirinya semakin diinjak-injak.
Kemarahannya yang tadi meluap akibat ditolak mentah-mentah oleh Grand Duke Erik kini menemukan pelampiasan yang sempurna.
makaci crazy up nya 😍👍