Kisah cinta yang tak usia saat masih berseragam abu-abu, akankah bisa terjalin kembali? Disaat keduanya sudah tak lagi sama, namun hati tak bisa dibohongi, cinta mereka nyatanya masih ada.
Namun, disaat cinta kembali mengalahkan logika, keadaan justru menyudutkan keduanya.
Akankah SANTANA masih bisa menjadi milik SENJANA?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon little ky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak asing
Begini ya rasanya jadi bawahan, apa aja yang pimpinan suruh harus jalan. Panas, hujan, badai, gempa bumi, gunung meletus pun tetap tidak akan bisa dijadikan alasan untuk tidak melakukan perintah pimpinan.
Seperti sekarang, Senjana harus bersabar ditengah kemacetan kota. Tahu kalau dia disuruh jemput adik pak bos ke bandara, mendingan Senjana berangkat pagi tadi langsung dari apartemennya. Nggak akan kena macet seperti sekarang, yang pastinya membuat Senjana ingin sekali panggil buldozer agar kena dorong semua mobil di depannya.
" Awas bonus gue nggak naik akhir bulan ini.. Resign gue, yakin lah sumpah. " gerutu Senjana yang mengancam resign entah sudah berapa kali sepanjang 5 tahun jadi sekretaris Angkatan. Nyata masih betah aja dia.
" Bandara udah di depan mata tuh.. Atasnya aja udah nampak, tapi mobil di depan kenapa nggak jalan-jalan sih.. Ya ampun, apa salah ku Ya Tuhan, padahal sudah ku lakukan penebusan dosa saat ini, tapi ada aja rintangannya.. "
Dugh..
Senjana hantam setir mobil dengan jidat. Sakit biarkan, dia sudah berteman dengan rasa sakit sejak ditinggalkan tanpa tahu apa yang salah, sejak kenyataan membuatnya merasa sebagai orang paling hina, sejak ibunya memilih mengakhiri hidup daripada membersamainya.
*****
" Halo... "
" Udah landing? "
" Baru aja.. ini lagi nunggu jemputan. Sopir kantor pada nggak ada, mas Ang suruh sekretarisnya yang jemput aku. "
" Oke.. "
" Gitu doang? "
" Terus? "
" Kamu udah tiga tahun lho aku, masak nggak ada kreatifnya sama sekali sih? Oke, Terus, Ya, Nggak, gitu doang komennya. "
Wajah wanita cantik itu langsung cemberut. Sudah ternyata bikin gunung es ini mencair. Padahal sudah tiga tahun bersama, dua tahun lalu sudah bertunangan, nyatanya tetap saja tidak bisa membuat pujaan hatinya ini mencair.
" Kapan nyusul? " tanyanya setelah lama terdiam. Mengharap apa, tunangan ini memang miskin inisiatif.
" Lusa.. "
" Kenapa nggak bareng aja sih? Kan aku pengen gitu sekali-kali kelihatan jalan sama kamu. " protes si wanita.
" Sorry.. Kerjaan aku belum selesai. "
" MBA... YARRRRRRRRRR... "
Yang dipanggil rasanya pengen masuk lubang buaya aja. Bener-bener nih orang satu, dimana aja selalu sukses membuat keramaian.
" Se.. Nggak usah teriak dong, di depan mata juga. "
" Habisnya mba Yar di dada-dada nggak nengok-nengok. Ternyata pakai kacamata hitam to. " Senjana sudah senyam senyum menyebalkan.
" Ayo mba Yar.. Biaya parkir mahal!! " tanpa tedeng aling-aling, Senjana main tarik aja koper Miyara, adik pak bosnya sekaligus CFO LIQUOR GROUP.
" Se.. tungguin dong... ", Yara bergegas mengejar langkah kaki Senjana yang selalu sukses membuat Yara heran selama lima tahun. Itu kaki orang apa kaki cheetah, cepet banget jalannya. "
" Miya.. Siapa itu tadi? " tanya tunangan Yara yang ternyata masih terhubung dengannya.
" Itu... Si Sese, sekretaris mas Ang.. Kenapa? tumben banget kamu tertarik sama orang. " Yara keheranan.
" Nggak.. Udah, matiin aja teleponnya. Aku kabari kalau aku udah ke sana. "
Tut.. Tut.. Tut..
Yara melongo, walaupun sudah mengenal lama tapi tetap aja Yara selalu terkejut dengan semua sikap tunangannya ini. Kadang kesal, kadang muak, kadang pengen mengakhiri, tapi Yara sudah terlanjur kecintaan, gimana dong?
*******
Di belahan bumi yang lain, seseorang yang baru saja mematikan telepon bersama tunangannya, terlihat duduk merenung menatap hamparan langit biru dari balkon penthouse miliknya.
Suara itu, suara yang tidak asing, suara yang selalu terngiang di telinganya meski sudah bertahun-tahun berlalu, suara yang menjadi candu untuknya sekaligus menjadi pahit hidupnya. Suara seseorang yang sampai kapan pun tidak bisa dia lupakan.
Cintanya..
Hatinya..
Hidupnya..
Pelitanya..
Sukanya..
Dukanya..
" Apa itu kamu..... Senjaku???? "
Flashback
" Kalau lo suka, kenapa musti lo tinggalin sih? Kasian tahu Senja. Semenjak lo tiba-tiba aja ngilang, dia jadi sedih terus... " protes yang dilayangkan Welly padanya, tak bisa membuatnya mengubah keputusan yang sudah dia buat dengan menghancurkan hatinya sendiri.
" Waktu akan menyembuhkannya.. " harap dan doanya.
" Mana ada.. Lo pergi gitu aja nggak ngasih aba-aba. " Welly sendiri tak habis pikir dengan semua tingka Santana.
Siapa yang tidak tahu betapa indah kisah cinta Santana dan Senjana. Jatuh cinta sejak pertama kali ketemu di kelas satu, mata Santana hanya tertuju pada Senjana. Kemana pun Senjana pergi, pasti di sana juga ada Santana.
Lalu sekarang, cowok yang cintanya udah mirip orang gila, justru dia yang meninggalkan. Alasannya...
Nggak ada yang tahu, siapapun kecuali Santana sendiri.
" Ini yang terbaik. Gue tetep cinta kok, tapi gue nggak bisa sama-sama Senjana lagi. Ini buat kebaikan dia sendiri.. " ujar Santana setelah lama terdiam.
" Bullshit.. Kalau cinta ya kejar lah.. Ini malah disakiti trus ditinggal. Ntar Senjana sama cowok lain, tahu rasa lo. "
Ucapan Welly berhasil membuat panas hati Santana. Kedua tangannya terkepal kuat sampai memutih, demi meluapkan amarah dalam dadanya. Santana cinta, dia sayang, hanya Senjana hidupnya tapi...
Kata tapi itu selalu bisa membuat Santana mundur ratusan langkah, demi bisa menjauh dari cintanya. Dia sungguh sangat mencintai, tapi dia tidak mau justru berakhir saling menyakiti. Daripada sakitnya lebih parah saat nanti, lebih baik diakhiri sekarang..
Flashback off..
" Kalau benar itu kamu, apa aku bisa tetap seteguh dulu, Senjaku.. "
****
" Saya suruh kamu jemput adik saya,, kenapa jam segini baru balik? Kamu nantang saya, ya? " bentak Angkara yang amat sangat kesal pada Senjana. Dosa nggak sih, lempar nih anak orang dari jendela kantornya yang lantainya 20?
" Pak bos kan cuma suruh saya jemput bu Yar, nggak suruh cepetan balik kan? " masih aja bisa jawab.
Angkara jambak rambut sendiri demi bisa menahan diri tidak memberi tampol sayang untuk sekretaris gendengnya ini.
" Saya lempar kamu dari sini ke bawah kira-kira kamu mati nggak? "
" Ih pak bos nyeremin... Saya kan balik telat juga karena diajak gosip sama ibu besar, pak bos. Saya udah pamit dari sesudah jam makan siang, katanya " sekali-kali Sen " , gitu pak bos.. " ujar Senjana persis menirukan gaya bicara ibu Angkara.
" Tapi ini jam 3, Sen.. Jam 3.. Yang mana satu jam lagi udah waktunya balik kerja. Kamu itu berangkat dari jam 10, balik jam 3 maksud kamu mau gantiin saya jadi bosnya disini? " gemas sekali Angkara, tangannya dipinggang dipakai mencubit diri sendiri saking gemasnya.
" He.. he.. " Senjana nyengir. Mau bagaimana kalau dia saja ditahan ibu besar karena memang lama mereka nggak ketemu saking sibuknya Senjana mengurusi tantrum anak ibu besar.
" Lembur kamu!! Itu yang ada di meja kerja kamu harus selesai hari ini, kalau tidak.... " tangan Angkara menunjukan gesture menggorok leher.
Glek...
" Siap pak bos.. Saya laksanakan. " Larilah Senjana.
Mending lawan preman daripada lawan Angkara. Holoh-holoh, singa aja sungkem kali kalau lihat Angkara Antasena anaknya Ibu Rahayu Antasena itu.
Ibunya aja malaikat yang menyamar jadi manusia, lha kok anaknya sendiri itu manusia setengah iblis..
Ck.. Ck.. Ck...