NovelToon NovelToon
Tuan Muda Kota Terjebak Di Desa

Tuan Muda Kota Terjebak Di Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sibee

Gara gara terlibat balapan liar berujung skandal di ibu kota, Arkananta Dewangga Tuan muda berusia 25 tahun yang tampan, angku, dan gila hormat. Harus menerima hukuman paling gila dalam hidupnya. Sang ayah membekukan fasilitas mewahnya dan membuangnya ke sebuah desa terpencil. Perintahnya mutlak: "Jangan kembali ke Jakarta sebelum bisa hidup mandiri."

Di Desa Sukmawarna, semua uang dan keangkuhan Arkan tidak berlaku, alih-alih hidup manja. ia harus menghadapi di siplin ketat dari Pak Barkah, yang tidak mempan di sogok. Dirumah pedesaan yang sederhana itu, Arkan di paksa turun ke ladang berlumpur jika tidak ingin kelaparan dan tidur di teras bersama nyamuk kebun.

Di tengah siksaan fisik dan kejutan budaya yang menguras emosi, takdir mempertemukannya dengan Nayla Rahmadania, gadis desa lulusan sarjana yang mandiri dan begitu tegas.

sanggupkah sang tuan muda bertahan melewati ujian berat ini, ataukah ia memilih menyerah dan memilih cara untuk kabur kembali ke kemewahan kota?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: Kumpul Sore dan Tiga Sahabat

Sore hari di Desa selalu membawa suasana yang menenangkan. Matahari yang mulai bergerak turun membuat udara terik perlahan berubah menjadi sejuk. Sepulang dari kegiatannya merapikan administrasi di balai desa, Nayla berjalan kaki menyusuri jalan setapak kampung yang dikelilingi pohon-pohon rindang. Tujuannya sore ini adalah rumah Siti, tempat di mana sahabat-sahabat dekatnya sudah berjanji untuk berkumpul bersama.

Begitu melangkah masuk melalui pagar bambu halaman rumah Siti, Nayla langsung disambut oleh tawa renyah yang sangat ia kenali. Di atas teras lantai semen sederhana yang bersih, tampak tiga orang gadis sedang duduk lesehan melingkar. Mereka adalah Siti, Wulan, dan Tika. Di tengah-tengah mereka, terdapat tumpukan bilah bambu halus yang sedang dibersihkan untuk dijadikan bahan kerajinan tangan, ditemani sepiring pisang rebus hangat dan beberapa gelas teh manis.

"Nah, ini dia orang yang dari tadi kita tunggu-tunggu akhirnya datang juga!" seru Siti dengan nada suara ceria yang ceplas-ceplos. Gadis yang sehari-hari membantu ibunya berjualan anyaman bambu di pasar desa itu langsung menggeser duduknya, memberikan ruang untuk Nayla.

Nayla tersenyum manis, melepas sandal jepitnya lalu ikut duduk lesehan bergabung bersama ketiga sahabat lamanya. "Maaf ya membuat kalian menunggu lama. Tadi di balai desa ada beberapa laporan bulanan kelompok tani yang harus saya rapikan dulu bersama Pak Kades," ucap Nayla sambil meraih sepotong pisang rebus yang masih mengepulkan asap tipis.

"Tidak apa-apa, Nay. Kami juga baru berkumpul kok setelah saya selesai mengajar anak-anak di PAUD tadi siang," sahut Wulan dengan nada suara yang sangat lembut dan tenang. Wulan, yang berprofesi sebagai guru honorer anak usia dini, selalu menjadi sosok yang paling dewasa dan pembawa kedamaian di dalam geng persahabatan mereka.

Tika, gadis yang sedikit tomboi karena setiap hari terbiasa bekerja keras mengurus warung kelontong milik keluarganya, mendadak mencondongkan tubuhnya ke arah Nayla dengan mata berbinar penuh rasa ingin tahu.

"Nayla, sudahlah, jangan bahas urusan dokumen balai desa dulu. Sekarang, coba cerita kepada kami. Seisi kampung ini sedang heboh membicarakan soal tamu kota dari Jakarta yang menginap di rumah Mbah Harjo. Katanya, kemarin dia ikut Pak Barkah ke ladang timur dan kamu yang mengantarkan makan siangnya?"

Mendengar pertanyaan langsung dari Tika, Siti dan Wulan ikut menghentikan aktivitas tangan mereka yang sedang memegang bambu. Ketiga pasang mata gadis desa yang polos dan tulus itu kini kompak menatap lurus ke arah Nayla, menuntut sebuah cerita yang sangat menarik.

Nayla seketika merasa wajahnya sedikit memanas. Ia buru-buru memalingkan wajahnya ke arah lain, berpura-pura sibuk meniup teh hangatnya yang masih panas demi menyembunyikan rasa kikuk. "Aduh, kalian ini kenapa jadi ikut-ikutan kepo seperti orang-orang pasar sih? Tidak ada cerita yang spesial kok. Dia itu cuma anak kota yang sedang dihukum oleh orang tuanya untuk tinggal di desa kita."

"Ah, masa cuma begitu saja?" goda Siti sambil menyenggol bahu Nayla dengan jahil. "Orang-orang yang berpapasan dengannya di jalan bilang, pria kota itu badannya tinggi tegap dan wajahnya tampan sekali mirip artis-artis Jakarta yang sering muncul di televisi. Apa benar dia setampan itu, Nay?"

Nayla mendengus pelan, mengingat kembali bagaimana angkuhnya sikap Arkan saat pertama kali mereka bertemu di dapur Mbah Harjo. "Tampan dari mana? Memang sih badannya tinggi, tapi sifatnya itu sombong, angkuh, gila hormat, dan manjanya minta ampun! Kalian tahu tidak? Baru satu jam ikut Pak Barkah turun ke sawah berlumpur kemarin pagi, mukanya sudah cemong berantakan penuh cipratan lumpur cokelat karena salah memegang cangkul. Dia bahkan terengah-engah seperti orang mau pingsan hanya karena kepanasan."

Mendengar cerita blak-blakan dari Nayla, tawa Siti dan Tika seketika pecah memenuhi teras rumah sederhana itu. Bahkan Wulan yang biasanya kalem tidak bisa menahan senyuman gelinya membayangkan seorang pria metropolitan kota besar harus menderita di tengah kubangan sawah pedesaan.

"Lalu, apa benar kemarin siang dia mampir ke rumahmu dan kamu mengobati tangannya?" tanya Wulan dengan nada lembut namun penuh selidik.

"Iya, terpaksa," jawab Nayla dengan nada sebal yang dibuat-buat, meskipun di dalam hatinya ada rasa hangat yang aneh saat mengingat kembali bagaimana Arkan mengucapkan kata terima kasih dengan sangat pelan di bawah pohon beringin kemarin. "Kulit tangannya yang halus itu melepuh parah sampai mengelupas karena tidak terbiasa bekerja berat. Jadi saya oleskan saja ramuan daun binahong dari kebun samping rumah agar lukanya tidak infeksi terkena kotoran sawah."

"Ciyeee... Nayla ternyata perhatian sekali ya dengan Tuan Muda Jakarta," puji Tika sambil tertawa jahil, menyenggol lengan Siti yang langsung ditanggapi dengan sorakan heboh menggoda dari sahabat-sahabatnya. Wajah manis Nayla yang biasanya tenang kini benar-benar merona merah padam akibat godaan beruntun dari ketiga temannya itu.

Sementara itu, di jalan setapak yang tidak jauh dari rumah Siti, Arkananta Dewangga sedang berjalan kaki sendirian. Sore itu, Bude Lastri memintanya untuk pergi membeli beberapa keperluan bumbu dapur dan sabun cuci yang habis. Karena tangan kanannya masih terbalut kain kasa putih bersih, Arkan hanya berjalan santai menikmati udara sore desa yang sejuk, menuju satu-satunya warung kelontong terdekat di persimpangan jalan, yang tidak lain adalah Warung Tika.

Langkah kaki jangkung Arkan yang dibalut celana kain santai mendadak melambat saat ia berjalan melewati sebuah rumah dengan pagar bambu rendah. Telinga tajam pria itu menangkap suara tawa jernih seorang gadis yang terdengar sangat lepas, tulus, dan penuh kebahagiaan. Suara tawa yang begitu indah, sebuah suara tawa yang belum pernah Arkan dengar selama hidup di tengah dinginnya persaingan bisnis dan kepalsuan lingkungan sosial kota metropolitan Jakarta.

Arkan menolehkan kepalanya ke arah teras rumah tersebut. Di sana, ia melihat Nayla sedang duduk lesehan, wajah manis gadis desa itu tampak merona merah cerah di bawah siraman cahaya senja yang keemasan, dikelilingi oleh ketiga temannya yang masih asyik tertawa lepas.

Tepat pada saat itu, entah karena ikatan batin yang tidak disengaja, Nayla ikut mengalihkan pandangannya ke arah jalan pagar depan.

Sepasang manik mata manis milik Nayla seketika bertatapan langsung dengan manik mata cokelat gelap milik Arkan yang sedang berdiri mematung di pinggir jalan. Waktu seolah berhenti berputar sesaat di bawah langit senja. Suara tawa heboh dari Siti, Wulan, dan Tika mendadak senyap seketika begitu mereka menyadari kehadiran pria kota bertubuh tegap dan tampan luar biasa yang sejak tadi mereka bicarakan kini sedang berdiri diam menatap ke arah teras mereka. Suasana sore itu mendadak berubah menjadi penuh kecanggungan yang manis dan menggemaskan.

1
Tina
Hallo semuanya... semoga suka sama bukunya ya, kalo ada masukan ataupun kritikan dari kalian Author sangat menerima ya, kedepannya nanti bakal diperbaiki, soalnya Author juga baru belajar nih🥰🫶🏻
Tina
Hallo semuanya... semoga suka sama bukunya ya, kalo ada masukan ataupun kritikan dari kalian author sangat menerima ya, kedepannya nanti bakal diperbaiki, soalnya author juga baru belajar nih🥰🫶🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!