Pernikahan Nadira Alesya batal di depan mata ketika calon suaminya melarikan diri demi menikahi wanita lain. Terluka dan dipenuhi dendam, Nadira tak menyangka justru harus menikah dengan Rayzan Arjunawan, saudara dari pria yang telah meninggalkannya. Bagi Nadira, Rayzan hanyalah penebus dosa atas penghinaan yang ia terima.
Namun, Rayzan menghadapi sikap Nadira dengan kesabaran dan ketulusan. Perlahan, pernikahan yang awalnya dibangun atas dendam berubah menjadi sesuatu yang tak pernah Nadira rencanakan. Laki-laki yang seharusnya menjadi alat balas dendam justru membuat hatinya jatuh cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardzan J., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertengkar
Siang ini Rayzan sedang menemani ibunya di dapur. Wanita itu tengah memasak makanan untuk makan siang. Baru satu hari berlalu, Indah sudah merindukan kehangatan seperti ini. Biasanya, kedua putranya akan menemaninya memasak ketika Rayzan dan Daulat sedang tidak bekerja.
"Mending kamu pulang, ajak istri kamu ke sini."
"Nantilah, Mi. Suasana hati semua orang lagi nggak baik, yang ada malah tambah masalah."
"Ray."
"Hmmm..."
Sekilas Indah memandang Rayzan, kemudian kembali melakukan aktivitasnya untuk mengiris beberapa siung bawang.
"Gimana malam tadi?" tanya wanita berkerudung itu.
"Gimana apanya, Mi?" tanya Rayzan.
"Malam kamu sama Dira."
"Ya ampun ... Sampai ke sana Umi mikirnya." Rayzan menggeleng perlahan.
"Ya siapa tahu kalian berdua khilaf."
"Umi nggak perlu mikirin itu."
"Lho, kenapa enggak? Umi, kan, juga pengin cepat-cepat dapat cucu."
"Umi-ku sayang ... Anakmu ini menikah secara mendadak. Aku sama Dira nggak saling kenal, bahkan nggak pernah berkomunikasi. Umi malah mikir kalau Rayzan sudah melakukan—"
Rayzan kembali menggeleng pelan untuk menghentikan ucapannya sendiri. Indah menghentikan pekerjaannya. Ia menatap Rayzan dengan saksama.
"Umi ngapain lihatin aku segitunya? Umi jangan paksa aku harus melakukan—"
"Rayzan."
Ucapan pria itu langsung terhenti.
"Kamu nggak ada niat untuk mengakhiri pernikahan kalian?"
"Umi ada-ada aja. Aku memang nggak cinta sama Dira, dan Dira pun juga sama ... Tapi aku nggak kepikiran untuk cerai."
"Kalau Dira yang memintanya?"
Rayzan terdiam sejenak.
"Apa kamu akan tetap mempertahankan semuanya?"
"Aku akan—"
"Assalamu'alaikum..."
"Waalaikumsalam..." jawab Rayzan dan Indah secara serempak.
"Daulat!"
Indanhmenghampiri laki-laki yang sedang berdiri di depan dapur. Lelaki itu pun memperlihatkan senyuman manis untuk ibunya. Namun, pandangan tajam Indan justru mengarah kepada Resya.
Plak!
"Umi," lirih Rayzan.
Daulat mengusap wajahnya ketika tamparan itu mengenai pipinya.
"Dua puluh delapan tahun adikmu hidup, dan dia selalu mendapatkan masalah karena ulahmu."
Saat tamparan kedua hendak mengenai wajah Daulat, lengan wanita itu digenggam oleh putra keduanya.
"Jangan, Umi. Jangan diperpanjang lagi."
"Lihat! Dari dulu adikmu lebih berpikir dewasa dibandingkan kamu."
"Mi, udah."
"Kamu berharap apa?" tanya Indah sambil menatap Resya. "Kamu berharap jadi menantu?"
"Maafin Resya, Umi."
Indah tersenyum miring.
"Umi..." lirihnya.
"Maafin aku, Mi. Aku memang salah."
Indah membalikkan tubuhnya dan kembali melanjutkan pekerjaannya memasak.
"Umi lagi marah. Lebih baik kamu bawa istrimu ke kamar. Jangan tambah beban pikiran Umi."
"Maafin aku, Ray. Aku tahu, aku banyak salah."
Rayzan pun berlalu pergi dari hadapan kedua orang itu. Ia masih kecewa kepada saudaranya yang selalu membuatnya ikut terikat dalam berbagai permasalahan.
[] [] []
Makan siang sedang berlangsung. Tidak ada obrolan apa pun dari keempat orang itu. Resya merasa canggung berada di keluarga suaminya. Ia seperti seorang tamu yang tidak diinginkan kehadirannya oleh siapa pun.
Rayzan merasa kasihan kepada saudaranya. Ibunya sama sekali tidak memperlihatkan kesukaannya dengan kehadiran Daulat dan Resya.
"Hmmm ... Kamu kenapa nggak kerja?" tanya Rayzan. "Kasihan Ayah sendirian di kantor."
"Aku pikir kamu kerja hari ini," sambung Daulat.
"Terus kamu akan pindah dari rumah ini?"
"Enggak ... Kita, kan, sudah janji. Kalau kita berdua sudah memiliki rumah tangga, kita nggak boleh meninggalkan Umi sama Ayah," lirih Daulat. "Itu janji kita sama Ayah dan Umi ... Tapi kalau mereka nggak mengizinkan aku tinggal di sini, aku nggak bisa berbuat apa-apa lagi."
Daulat dan Rayzan memandang ibu mereka yang tengah mengunyah makanan. Wanita itu sadar dengan apa yang dilakukan kedua anaknya, tetapi ia enggan menatap satu per satu dari mereka, apalagi Daulat.
"Nggak usah pergi. Masa mau ingkar janji?" ujar Rayzan.
"Terus kamu?" tanya Daulat. "Tadi kami ketemu sama Dira di mall."
"Masa sih? Tadi aku tinggalin dia di kamar."
"Kalau kamu nggak percaya, tanya aja sama istriku."
Sekilas Rayzan memandang Resya.
"Tadi dia sempat bilang mau keluar, tapi dia nggak bilang pergi ke mana."
"Oh," lirih Daulat.
[] [] []
Acara makan siang sudah selesai. Pasangan suami istri itu sedang berada di dalam kamar. Resya tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya ketika ayah mertuanya sudah pulang.
Dalam bayangannya, ia akan diusir secara paksa oleh kedua orang tua suaminya.
"Sayang..."
"Iya, Sayang."
Resya menghampiri suaminya yang duduk di atas ranjang.
"Kenapa, hm?"
"Kamu rasa siapa yang bohong? Rayzan atau Dira?"
"Maksud kamu apa?"
"Sekarang gini ... Kita ketemu sama Dira. Kamu sendiri sudah dengar dia mau membalas dendam melalui Rayzan. Tapi Rayzan bilang Dira sudah izin keluar sama dia."
"Oh, iya. Aku baru sadar, Mas."
"Bingung, kan?"
Resya menganggukkan kepalanya.
"Mas khawatir sama Rayzan, ya?"
"Khawatir, lah ... Aku sama sekali nggak pernah berniat buruk sama adikku itu. Tapi nggak tahu kenapa, setiap kali aku berbuat masalah, pasti imbasnya ke Rayzan."
Resya mengelus lengan suaminya dengan penuh kelembutan.
"Mas nggak usah menyalahkan diri sendiri. Ingat, ada Allah yang sudah mengatur semuanya."
[] [] []
Setelah mengambil beberapa pakaiannya, Rayzan harus pulang lagi ke rumah mertuanya. Bagaimanapun, tidak baik jika suami istri berpisah atap, walaupun keduanya tidak saling mencintai.
Sesampainya di rumah itu, Rayzan segera masuk ke dalam. Namun, rumah terlihat sepi. Hanya ada Nadira yang sedang duduk di sofa sambil menonton televisi.
"Assalamu'alaikum..."
Nadira menoleh ke arah sumber suara. Bukannya menjawab, ia malah kembali fokus pada aktivitasnya.
Rayzan menggelengkan kepala. Ia harus bisa bersabar menghadapi wanita itu demi menepati janjinya kepada orang tuanya bahwa ia tidak akan mengakhiri pernikahan mereka.
Setelah masuk ke kamar untuk meletakkan beberapa barangnya, Rayzan menghampiri istrinya di ruang tamu. Ia ikut duduk di sana, tetapi tidak satu sofa dengan istrinya.
"Mama mana?"
Rayzan harus menghela napas demi menahan emosinya karena pertanyaannya tidak dijawab oleh Nadira.
"Pantas kamu ditinggal sama Daulat. Ditanya nggak jawab."
"Kamu bilang apa tadi?" tanya Nadira.
Kini giliran Rayzan yang tidak merespons wanita itu. Ia menatap layar televisi seolah-olah tidak sedang bersama siapa pun.
"Rayzan!"
Karena kesal, Nadira menghampiri Rayzan. Gerakannya yang cepat segera diketahui oleh pria itu. Rayzan langsung menepis tangan Nadira yang hampir saja menampar wajahnya.
"Kamu mau apa?" tanya Rayzan.
"Lepasin tangan aku."
"Masalahmu dengan Daulat kan. Jangan sekali-kali kamu mengangkat tangan kepadaku."
"Iya ... Masalahku dengan Daulat, dan aku akan membuat kamu menebus segala kesalahannya."
Rayzan tersenyum tipis menatap gadis itu.
"Lepasin tangan aku."
"Coba aja kalau bisa."
Nadira mencoba melepaskan genggaman Rayzan pada lengannya. Seberapa kuat pun ia berusaha, semuanya sia-sia karena tenaganya tidak sekuat Rayzan.
"Lepas!" bentak Nadira.
Rayzan menarik kedua tangan Nadira hingga wanita itu kehilangan keseimbangan dan jatuh menimpa dirinya. Beberapa detik lamanya mereka terdiam. Keduanya saling menatap dalam jarak yang sangat dekat.
Namun, Nadira segera tersadar. Ia menarik tangannya dari genggaman Rayzan dan buru-buru menjauh.
Rayzan hanya diam memandangi istrinya.
Sementara itu, Nadira berdiri dengan napas yang sedikit memburu. Ia kembali memasang wajah dingin seolah-olah tidak terjadi apa-apa di antara mereka.