NovelToon NovelToon
Simpanan Kesayangan Sang CEO

Simpanan Kesayangan Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Dendam konglomerat / Sekretaris
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Elara Chandrakanta

Dua tahun Anala Paramitha menjadi sekretaris pribadi—sekaligus "simpanan"—Damar Hadiwijaya, pewaris paling berbahaya di Jakarta. Semua orang mengira Nala mencintainya. Padahal setiap ciuman di mata pria itu adalah bagian dari dendam.

Dibius dan dilelang di Batam, Nala menikam penculiknya, lalu pulang membawa barang curian Damar dan menyebut harganya: sepuluh miliar. Damar membayar, menghancurkan musuhnya demi dia, lalu menjadikannya miliknya—tanpa nama, tanpa status.

Makin gila Damar mencintainya, makin dekat Nala pada bukti untuk menjatuhkannya. Tapi bagaimana kalau pria yang ingin dia hancurkan bukan pembunuh yang dia cari… dan ternyata yang selama ini jadi pengganti bukan dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 22: Jangan Datang

Bau bensin adalah hal pertama yang kembali.

Lalu panas. Lalu bunyi kaca yang masih berjatuhan, butir demi butir, seperti hujan es di atas atap seng.

Damar membuka mata. Dunia terbalik. Atap mobil ada di bawahnya, aspal ada di atas jendela, dan sabuk pengaman menekan dadanya seperti tangan seseorang yang ingin mencekiknya. Di depan, kap mesin mengeluarkan asap hitam. Di bawah asap itu, ada cahaya jingga yang mulai menjilat.

Api.

"Mar! Mar, bangun!"

Reza. Suaranya dari luar. Damar meraba gesper sabuk, menekannya, dan jatuh ke atap mobil dengan bahu lebih dulu. Rasa sakit menyambar dari rusuk kanannya, tajam dan panas. Dia tidak tahu apa itu. Dia tidak punya waktu untuk tahu.

Dia merangkak keluar lewat jendela yang sudah tidak berkaca. Serpihan menggores telapak tangannya. Di luar, langit sudah ungu tua. Truk itu berhenti dua puluh meter dari situ, melintang di tengah jalan, lampunya masih menyala. Sopirnya tidak ada.

Dari arah kebun karet, tiga bayangan berjalan mendekat. Wajah mereka tertutup kain hitam. Di tangan mereka ada senjata.

Reza sedang bergulat dengan salah satunya di aspal, di samping roda mobil yang masih berputar pelan. Tagih tidak terlihat.

Lalu suara itu terdengar. Dari belakang tiga bayangan itu, dari seseorang yang tidak ikut maju.

"Damar sudah mati. Serahkan barangnya."

Damar membeku.

Suara itu rendah, serak, dengan cara mengucapkan huruf r yang sedikit tertelan. Dia pernah mendengarnya. Dia tidak ingat di mana. Tapi tubuhnya ingat, karena tengkuknya merinding sebelum otaknya sempat berpikir.

Letupan.

Reza berteriak. Laki-laki bertopeng yang tadi dia gumuli sudah terlepas, dan Reza tersungkur dengan kedua tangan memegangi betis kirinya. Darah merembes di antara jari-jarinya, hitam di bawah cahaya api.

Damar menyambar sebongkah batu dari pinggir jalan dan melemparnya. Batu itu mengenai pelipis laki-laki bertopeng itu. Orang itu terhuyung, senjatanya terlepas ke aspal. Damar menendangnya ke kolong mobil.

"Za."

"Aku nggak apa-apa." Wajah Reza pucat, keringatnya mengilat. "Mar. Suara itu. Kamu dengar?"

"Aku dengar."

"Truk yang sengaja nabrak, tembakan dari kebun, semua rapi kayak sudah dilatih. Ini orang-orang yang sama dengan yang ngiris rem mobil kita tahun lalu. Aku yakin." Reza mencengkeram lengan Damar. "Ini bukan cuma Gilang, Mar."

Deru motor membelah suara api. Dari balik truk, Tagih muncul di atas sebuah sepeda motor trail, entah dia rebut dari siapa. Dahinya berdarah. Kaki kirinya yang pincang menapak di aspal dengan canggung.

"Bos! Naik!"

Hanya ada satu jok di belakang.

Damar menarik Reza berdiri dan mendorongnya ke arah motor.

"Nggak." Reza menahan tubuhnya. "Kamu yang naik. Kamu yang mereka cari."

"Naik."

"Mar, jangan bego..."

"Kakimu tidak bisa lari. Kakiku bisa."

Reza menatapnya. Dan dalam cahaya api yang bergoyang itu, wajah sahabatnya berubah. Seperti anak sepuluh tahun yang dulu menangis di gang belakang pasar di Bekasi.

"Dulu kamu ketusuk gara-gara aku," kata Reza dengan suara pecah. "Sekarang gantian. Biar aku yang..."

Damar mendorongnya ke jok motor. Keras. Reza hampir jatuh, dan Tagih menangkap lengannya.

"Bawa dia ke klinik," kata Damar kepada Tagih. "Jangan berhenti. Jangan kembali."

Tagih menatapnya sebentar. Lalu dia memutar gas.

Motor itu melesat ke arah barat, ke arah Tanjung Uban. Dua peluru mengejar mereka dan meleset. Damar berbalik menghadap tiga bayangan yang tersisa, mengambil sebatang besi dari bak truk yang terbuka, dan berjalan ke arah yang berlawanan, sengaja keluar dari bayang-bayang mobil supaya mereka melihatnya.

"Di sini," katanya.

Mereka melihatnya.

Dia berlari ke pinggir jalan, ke arah semak dan lereng gelap di baliknya. Sesuatu menghantam rusuk kanannya, panas seperti besi yang baru diangkat dari bara, dan kakinya kehilangan pijakan.

Lereng itu lebih curam dari yang dia kira. Dia berguling. Ranting, batu, akar. Langit dan tanah bertukar tempat, berkali-kali, sampai punggungnya menghantam batang pohon dan semuanya menjadi hitam.

***

Gelap itu dia kenal.

Gelap yang berbau tanah basah dan karat. Gelap ruang bawah tanah tanpa jendela, dengan satu lampu bohlam yang hanya menyala ketika pintu di atas tangga dibuka. Lantai semen yang dingin. Sepiring nasi di sudut, yang sudah basi sejak hari kedua dan tidak pernah diganti.

Dia empat belas tahun.

Dia menghitung hari dari berapa kali pintu itu terbuka. Lima belas kali. Setiap kali pintu terbuka, ada langkah kaki di tangga, dan ada sabuk kulit yang direndam air garam supaya lebih perih. Dia tidak mengingat rasa sakitnya lagi. Yang dia ingat adalah suara laki-laki di atas tangga, berbicara di telepon dengan seseorang.

"Lima puluh miliar. Kalau tidak, anaknya kami kirim pulang sepotong-sepotong."

Dia menunggu. Lima belas hari dia menunggu. Ayahnya kaya. Leluhurnya ikut membangun separuh Jakarta. Keluarganya bisa membayar lima puluh miliar dengan uang yang mereka simpan di laci.

Hadiwijaya tidak membayar satu rupiah pun.

Pada malam kelima belas, para penculik itu pergi begitu saja. Pintu dibiarkan terbuka. Anak laki-laki itu naik tangga sendiri, berjalan tanpa alas kaki di jalan tanah yang tidak dia kenal, dan ketika akhirnya seseorang menemukannya di pinggir jalan raya, dia tidak menangis. Dia sudah tidak punya air mata.

Malam itu, di dalam kepalanya, dia memutuskan. Darah yang mengalir di tubuhnya bukan lagi miliknya. Nama itu bukan lagi miliknya. Kalau dia hidup, dia hidup untuk dirinya sendiri.

***

Ketika dia membuka mata lagi, ada daun di atas wajahnya.

Langit di antara pucuk-pucuk pohon karet sudah hitam pekat. Tidak ada api. Tidak ada suara motor. Hanya bunyi serangga, dan napasnya sendiri yang pendek-pendek.

Dia mencoba bergerak. Rusuk kanannya menjerit. Dia meraba kemejanya. Basah. Lengket. Ketika dia mengangkat tangannya ke depan mata, dia tidak bisa melihat warnanya. Matanya sudah tidak bisa melihat apa-apa dengan jelas di gelap seperti ini. Tapi dia tahu itu darah.

Ponselnya masih di saku celana. Layarnya retak, tapi menyala. Satu garis sinyal, berkedip-kedip.

Dia tidak memutuskan untuk menelepon. Jarinya bergerak sendiri. Satu nama di urutan paling atas riwayat panggilan.

Nada sambung. Sekali.

"Damar? Damar, kamu di mana?"

Suara itu. Dia memejamkan mata.

"Anala..."

"Aku di sini. Kamu di mana?"

Dia tidak tahu apa yang dia katakan selanjutnya. Kata-kata itu keluar dari tempat yang lebih dalam dari kesadarannya, dari ruang bawah tanah yang tidak pernah benar-benar dia tinggalkan. Dari anak empat belas tahun yang menunggu lima belas hari.

"Kenapa..." Suaranya sendiri terdengar asing. "Kenapa kamu tidak datang menolongku..."

Sambungan terputus.

Damar menatap layar yang retak itu, dan kesadaran kembali kepadanya seperti air dingin.

Apa yang baru saja dia lakukan?

Dia baru saja memanggilnya. Ke sini. Ke hutan yang penuh orang bersenjata, yang mencari dia. Dia tahu perempuan itu ada di Batam. Dia tahu perempuan itu tidak bisa diam. Dia tahu, kalau perempuan itu mendengar suaranya seperti tadi, dia akan datang.

Dia menekan nomor itu lagi. Jangan datang. Dia hanya perlu mengatakan dua kata itu. Jangan datang.

Tidak ada sinyal.

Dia mencoba lagi. Lagi. Garis sinyal itu sudah hilang. Layar menampilkan tulisan kecil di pojok kiri atas: tidak ada layanan.

Dia mengangkat ponsel itu tinggi-tinggi di atas kepalanya, setinggi lengannya bisa terangkat tanpa membuat rusuknya robek. Tidak ada apa-apa.

"Jangan datang," katanya kepada pohon-pohon karet. Suaranya hampir tidak terdengar. "Jangan datang. Bodoh. Jangan datang."

Dia menyandarkan kepalanya ke batang pohon. Baterainya tinggal sembilan persen. Lalu tujuh. Lalu dia berhenti melihatnya.

Waktu tidak lagi punya bentuk. Dia tertidur, atau pingsan, atau keduanya. Setiap kali dia terbangun, dia mendengarkan. Langkah kaki? Suara mesin? Tidak ada. Hanya serangga, dan sesekali bunyi sesuatu jatuh dari dahan. Dia memeluk sebatang kayu yang dia temukan di dekat tangannya, satu-satunya senjata yang dia punya.

Kalau mereka datang, pikirnya, setidaknya dia tidak di sini. Setidaknya dia tidak di sini.

***

Cahaya itu datang dari atas lereng.

Kecil. Berayun-ayun. Seperti senter ponsel yang dipegang seseorang yang berjalan terlalu cepat di tanah yang licin.

Damar mencengkeram kayu di tangannya. Dia menahan napas. Cahaya itu turun, berhenti, berputar ke kiri, lalu ke kanan. Lalu menyorot tepat ke wajahnya.

"Damar!"

Cahaya itu jatuh. Ponsel itu jatuh ke tanah, dan sebelum Damar sempat mengerti apa yang terjadi, ada seseorang yang menabrak tubuhnya. Lengan yang melingkari lehernya. Rambut yang basah oleh embun di wajahnya. Bau sabun dan keringat dan laut.

Dia mengenali bau itu. Dia mengenalinya bahkan sebelum dia mengenali suaranya.

"Kamu hidup," kata Anala di lehernya. Suaranya gemetar. "Kamu hidup. Kamu hidup."

Untuk satu detik, Damar tidak bergerak. Satu detik itu terasa seperti seluruh hidupnya. Dia ingin melingkarkan lengannya ke punggung perempuan itu dan tidak pernah melepasnya lagi.

Lalu detik itu berakhir.

Kenapa dia di sini?

Bagaimana dia bisa tahu dia di sini? Di tengah hutan karet, di malam yang segelap ini, ketika bahkan orang-orang bersenjata itu tidak bisa menemukannya? Siapa yang memberi tahunya? Dari mana dia tahu soal Bintan, soal jalan lintas timur, soal kilometer tiga puluh dua?

Lima belas hari di ruang bawah tanah. Orang yang seharusnya datang tidak pernah datang. Dan orang yang akhirnya datang, sepanjang hidupnya, selalu datang membawa sesuatu yang lain di balik punggungnya.

Damar mendorongnya.

Tidak keras. Dia tidak punya tenaga untuk keras. Tapi Anala tidak menyangka, dan dia jatuh terduduk di tanah yang becek, di antara akar-akar dan daun busuk.

"Kenapa kamu bisa di sini?" Suaranya parau. "Siapa yang memberitahumu?"

Anala menatapnya dari tanah. Senter ponsel yang tergeletak di sebelahnya menerangi separuh wajahnya. Ada lumpur di pipinya. Ada luka-luka kecil di ujung jari-jarinya yang terbungkus plester.

"Damar..."

"Siapa?" Dia mencengkeram kayu itu lebih erat. "Pergi."

Anala tidak bergerak.

"Pergi! Kamu dengar aku? Pergi dari sini!"

Perempuan itu berdiri. Lumpur menetes dari celananya. Damar menunggu dia berbalik. Menunggu dia pergi, seperti yang seharusnya, seperti semua orang.

Anala melangkah maju.

Dia berlutut di depannya, menepis kayu dari tangan Damar seolah itu hanya ranting kering, lalu mencengkeram kerah kemejanya yang basah oleh darah dengan kedua tangan.

Dan merobeknya.

Kancing-kancingnya berhamburan ke tanah. Udara malam yang dingin menyentuh luka di rusuknya, dan Damar mendesis.

"Diam," kata Anala. Matanya tidak lagi gemetar. "Aku tidak akan pergi."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!