“Dia menikahiku untuk menyelamatkan kerajaannya. Aku menikahinya untuk menyelamatkan keluargaku. Namun, tak satu pun dari kami menyadari bahwa cinta akan menjadi pengkhianatan paling berbahaya.”
• Dante Alessandro Vieri (32 tahun): Bos mafia Italia yang tampan, gagah, bermata biru safir, dingin, penuh perhitungan, dan tidak pernah memaafkan pengkhianatan. Di balik kekuasaannya, ia menyimpan luka lama yang membuatnya tidak percaya pada cinta.
• Bianca Elena Laurent (24 tahun): Gadis cantik keturunan Spanyol dan Timur Tengah, bermata cokelat keemasan, berambut hitam panjang, cerdas, berani, serta memiliki harga diri yang tidak mudah dihancurkan. Ia tidak pernah membayangkan akan menjadi istri rahasia seorang mafia.
• Luciano Vieri: Adik tiri Dante yang menginginkan takhta keluarga.
• Isabella Moretti: Perempuan dari masa lalu Dante yang menyimpan rahasia tentang kematian ibunya.
• Adrian Laurent: Kakak Bianca yang menghilang setelah membawa sebuah dokumen berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 — Kecemburuan Sang Mafia
Malam itu, Villa Vieri terasa lebih dingin daripada biasanya.
Bianca Elena Laurent masih berdiri di ruang kerja Dante, menggenggam secarik kertas yang baru saja ditemukan dari amplop milik Isabella. Kalimat di atasnya terus berputar dalam pikirannya.
Anak yang dilahirkan Elena bukan satu-satunya rahasia yang dibawa perempuan itu ke dalam keluarga Vieri.
Apa maksudnya?
Apakah ibunya memiliki anak lain? Apakah ada hubungan antara Elena, Alessandro, dan keluarga Vieri yang jauh lebih rumit daripada yang dibayangkan Bianca?
Sebelum ia sempat bertanya, Dante mengambil kertas itu dari tangannya.
“Mulai sekarang, jangan menerima pesan atau dokumen dari orang yang tidak kau kenal,” katanya tegas.
Bianca menatapnya tajam.
“Dan bagaimana aku bisa mengetahui siapa yang bisa dipercaya kalau kau sendiri tidak mau menjelaskan apa pun?”
“Aku sedang berusaha melindungimu.”
“Kalimat itu sudah mulai terdengar seperti alasan favoritmu.”
Dante mengatupkan rahang. Ia terlihat ingin membantah, tetapi akhirnya memilih memasukkan kertas tersebut ke dalam laci meja.
“Besok kita akan membicarakan semuanya.”
“Besok?” Bianca tertawa hambar. “Tentu. Rahasia keluarga Vieri selalu punya jadwal sendiri.”
Ia berbalik dan meninggalkan ruang kerja tanpa menunggu jawaban.
Dante tidak mengejarnya.
Namun, ketika pintu tertutup, ia mengepalkan tangan di atas meja.
Ia dapat menghadapi musuh bersenjata tanpa berkedip. Ia dapat mengambil keputusan yang menentukan nasib seluruh keluarganya dalam hitungan detik.
Tetapi menghadapi Bianca yang mulai kehilangan kepercayaan kepadanya ternyata jauh lebih menyakitkan daripada yang pernah ia bayangkan.
Dan keadaan akan semakin buruk ketika ia mengetahui siapa yang datang menemui istrinya keesokan harinya.
Pukul sepuluh pagi, Bianca menerima undangan makan siang dari seorang perempuan bernama Sofia Bellini.
Sofia adalah teman lama keluarga Laurent yang pernah bekerja bersama ayah Bianca dalam sebuah proyek bisnis di Roma. Menurut pesan singkat yang dikirimkannya, ia memiliki informasi mengenai Adrian.
Bianca segera bersiap.
Ia mengenakan blus putih, celana panjang hitam, dan mantel krem. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai, sementara sebuah tas kecil menggantung di bahunya.
Ketika ia turun ke lobi, seorang pengawal langsung menghampirinya.
“Maaf, Signora. Tuan Dante memerintahkan agar Anda tidak meninggalkan villa tanpa pendamping.”
Bianca menghela napas.
“Aku akan bertemu seorang teman keluarga, bukan merencanakan pembunuhan.”
“Perintah Tuan tetap berlaku.”
Bianca mengambil ponselnya dan menghubungi Dante.
Pria itu menjawab setelah dering kedua.
“Ada apa?”
“Aku akan makan siang dengan Sofia Bellini. Dia mungkin mengetahui sesuatu tentang Adrian.”
“Batalkan.”
Bianca memejamkan mata, berusaha menahan emosinya.
“Dante, aku sedang memberitahumu, bukan meminta izin.”
“Dan aku sedang mengatakan bahwa situasinya terlalu berbahaya.”
“Kalau begitu, kirim pengawal. Tetapi jangan mengurungku di rumah ini.”
Hening sejenak.
“Baik. Dua pengawal akan mengikutimu.”
“Terima kasih.”
“Bianca.”
“Ya?”
“Jangan pergi ke mana pun tanpa memberi tahu mereka.”
Bianca mengakhiri panggilan sebelum pria itu sempat menambahkan aturan baru.
Untuk pertama kalinya, ia merasa sedikit menang.
Sayangnya, ia belum tahu bahwa makan siang sederhana itu akan menimbulkan masalah yang jauh lebih besar daripada sekadar pertengkaran dengan suaminya.
Restoran tempat Sofia memilih bertemu terletak di sebuah jalan kecil yang tenang di pusat Roma.
Bianca tiba tepat waktu. Kedua pengawalnya menunggu beberapa meja darinya, cukup dekat untuk mengawasi keadaan tanpa mengganggu percakapan.
Sofia sudah duduk di dekat jendela.
“Bianca!” Perempuan berambut cokelat itu berdiri dan memeluknya singkat. “Kau terlihat berbeda.”
“Mungkin karena akhir-akhir ini hidupku terasa seperti novel kriminal.”
Sofia tertawa kecil.
“Menikah dengan Dante Vieri memang bukan keputusan yang sederhana.”
Bianca duduk.
“Kau mengenal Dante?”
“Tidak secara pribadi. Tetapi semua orang di Roma mengenal nama keluarga Vieri.”
Sofia kemudian mengeluarkan sebuah foto dari tasnya.
“Aku menemukan ini di antara dokumen lama ayahmu.”
Bianca mengambilnya.
Foto itu memperlihatkan Adrian berdiri di depan sebuah bangunan tua. Di sampingnya ada seorang pria yang wajahnya sebagian tertutup bayangan.
“Di mana kau menemukan ini?”
“Di dalam berkas bisnis ayahmu. Aku tidak tahu kapan foto itu diambil, tetapi bagian belakangnya memiliki alamat gudang di pinggiran Roma.”
Jantung Bianca berdegup kencang.
“Apakah kau yakin ini Adrian?”
“Lihat gelang di tangannya.”
Bianca mengenali gelang kulit hitam yang selalu dipakai kakaknya sejak mereka masih remaja.
“Ya,” bisiknya. “Itu dia.”
Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, harapan muncul di dadanya.
“Mungkin dia masih hidup.”
“Aku berharap begitu.”
Bianca menggenggam foto itu erat-erat.
“Terima kasih, Sofia. Kau tidak tahu betapa berartinya ini bagiku.”
Sofia tersenyum.
“Aku hanya berharap kau bisa menemukan jawaban yang kau cari.”
Mereka melanjutkan percakapan selama hampir setengah jam. Sofia menceritakan beberapa hal yang ia ketahui tentang transaksi bisnis keluarga Laurent, tetapi tidak memiliki informasi lebih jauh mengenai keberadaan Adrian.
Ketika makan siang berakhir, Sofia berdiri dan memeluk Bianca sekali lagi.
“Jaga dirimu.”
“Kau juga.”
Bianca tidak menyadari bahwa dari seberang jalan, seseorang sedang mengambil foto mereka.
Seseorang yang kemudian mengirimkan foto itu kepada Dante Vieri.
Dante sedang berada di ruang kerjanya ketika ponselnya bergetar.
Sebuah foto muncul di layar.
Bianca duduk berhadapan dengan seorang pria muda yang baru saja bergabung dengan mereka sebelum foto kedua diambil. Pria itu tampak berbicara sambil tersenyum, sementara Bianca menatapnya dengan ekspresi ramah.
Di bawah foto itu terdapat pesan singkat.
Istrimu tampaknya menikmati waktu bersama pria lain.
Dante menatap layar tanpa bergerak.
Pria muda itu adalah Matteo Ricci, putra seorang pengusaha yang beberapa kali berurusan dengan keluarga Vieri. Dante mengenalnya sebagai seseorang yang pandai berbicara dan terlalu mudah mendekati perempuan.
Jemari Dante mengencang di sekitar ponselnya.
Ia tahu foto itu tidak membuktikan apa-apa.
Ia tahu Bianca berhak bertemu siapa pun yang diinginkannya.
Namun, bayangan istrinya tersenyum kepada pria lain membangkitkan perasaan yang tidak pernah ia sukai.
Kecemburuan.
Perasaan itu terasa asing, tidak masuk akal, dan sangat mengganggu.
“Cari tahu siapa yang mengambil foto ini,” perintahnya kepada pengawal yang berdiri di dekat pintu. “Dan pastikan Matteo Ricci tidak memiliki urusan apa pun dengan istriku.”
Pengawal itu mengangguk.
“Baik, Tuan.”
“Sekarang.”
Begitu pria itu pergi, Dante berdiri dan berjalan menuju jendela.
Ia tidak berhak menuntut kesetiaan emosional dari Bianca ketika dirinya sendiri masih menyembunyikan banyak rahasia. Ia menyadari itu.
Tetapi kesadaran tersebut sama sekali tidak menghilangkan kecemburuannya.
Justru membuatnya semakin marah kepada dirinya sendiri.
Bianca baru saja memasuki Villa Vieri ketika melihat Dante berdiri di tengah lobi.
Wajah pria itu dingin. Kedua tangannya berada di saku celana, sementara tatapan birunya langsung tertuju kepada Bianca.
“Bagaimana makan siangmu?” tanyanya.
Bianca melepas mantelnya.
“Baik. Aku mendapat informasi tentang Adrian.”
“Dan Matteo Ricci?”
Bianca mengernyit.
“Apa hubungannya Matteo dengan ini?”
Dante melangkah mendekat.
“Kau terlihat cukup akrab dengannya.”
Bianca terdiam selama beberapa detik, lalu tertawa tidak percaya.
“Kau mengirim seseorang untuk mengawasiku?”
“Aku memastikan keselamatanmu.”
“Jangan gunakan alasan itu untuk menutupi kecemburuanmu.”
Rahang Dante mengeras.
“Aku tidak cemburu.”
“Benarkah? Lalu mengapa kau bertanya tentang pria yang bahkan tidak sedang makan siang denganku?”
Dante tidak menjawab.
Bianca menyilangkan tangan di depan dada.
“Matteo hanya datang sebentar untuk menyampaikan salam. Sofia yang mengundangnya. Tidak ada apa-apa di antara kami.”
“Aku tidak menyukai caranya memandangmu.”
“Dan aku tidak menyukai caramu memperlakukanku seolah aku milikmu.”
Kalimat itu menghantam Dante lebih keras daripada yang diperkirakan Bianca.
Pria itu terdiam.
Bianca melanjutkan, suaranya lebih pelan tetapi tegas.
“Aku istrimu, Dante. Tetapi aku bukan barang yang bisa kau jaga di dalam lemari agar tidak disentuh siapa pun.”
Dante menatapnya lama.
“Aku tahu.”
“Kalau kau tahu, berhentilah bersikap seperti ini.”
Bianca hendak melewatinya, tetapi Dante memanggil namanya.
“Bianca, tunggu.”
Ia berhenti.
Dante menarik napas panjang, seolah kalimat berikutnya merupakan sesuatu yang sangat sulit diucapkan.
“Aku tidak menyukai kenyataan bahwa pria lain bisa membuatmu tersenyum ketika aku justru menjadi alasan kau marah.”
Bianca menatapnya, terkejut oleh kejujuran itu.
Dante menurunkan pandangan sesaat sebelum kembali menatapnya.
“Aku tidak tahu bagaimana caranya menjadi suami yang baik. Aku hanya tahu bagaimana melindungi sesuatu yang penting bagiku.”
“Seseorang,” koreksi Bianca pelan. “Bukan sesuatu.”
Dante mengangguk.
“Seseorang.”
Keheningan menyelimuti mereka.
Bianca ingin tetap marah, tetapi ada sesuatu dalam ekspresi Dante yang membuat kemarahannya perlahan mereda.
“Kalau kau ingin aku mempercayaimu, kau juga harus belajar memercayaiku,” katanya.
“Aku akan mencoba.”
“Dan berhenti mengirim orang untuk memotretku.”
Dante menghela napas.
“Aku akan menyelidiki siapa yang melakukannya. Tetapi aku tidak akan membatasi pertemuanmu dengan orang lain selama pengamanannya jelas.”
Bianca mengangkat alis.
“Itu kemajuan.”
“Jangan terlalu senang. Aku masih tidak menyukai Matteo Ricci.”
Bianca akhirnya tersenyum kecil.
“Itu masalahmu, Don.”
Dante menatap senyum itu seolah baru saja memenangkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada kekuasaan.
Malamnya, Bianca menemukan sebuah amplop baru di atas meja kamarnya.
Di dalamnya terdapat salinan foto Adrian di depan gudang tua, beserta selembar kertas dengan alamat yang sama seperti yang diberikan Sofia.
Namun, ada tambahan tulisan di bagian bawah.
Adrian masih hidup. Tetapi jika kau ingin bertemu dengannya, jangan bawa Dante.
Bianca merasakan tubuhnya menegang.
Di balik kertas itu terdapat simbol delapan kelopak yang sama seperti pada liontin milik ibunya.
Ia baru saja hendak menyimpan amplop tersebut ketika suara Dante terdengar dari pintu.
“Apa yang kau temukan?”
Bianca mengangkat wajah.
Untuk sesaat, ia mempertimbangkan apakah harus menyembunyikan surat itu seperti yang disarankan pengirimnya.
Namun, ia teringat percakapan mereka sore tadi.
Kepercayaan harus berjalan dua arah.
Bianca menyerahkan amplop tersebut kepada Dante.
Pria itu membaca isinya, dan dalam sekejap seluruh kelembutan yang muncul di wajahnya menghilang.
“Gudang ini,” katanya pelan, “adalah tempat terakhir seseorang melihat Adrian.”
Bianca menatapnya dengan napas tertahan.
“Kalau begitu, kita harus pergi ke sana.”
Dante melipat surat itu.
“Ya. Tetapi kita tidak akan pergi tanpa persiapan.”
Ia menatap Bianca, sorot matanya kembali menjadi tajam.
“Dan siapa pun yang mengirim surat ini ingin kita bertindak terburu-buru.”
Bianca mengangguk, tetapi pikirannya tertuju pada satu hal.
Adrian mungkin masih hidup.
Di sisi lain, Dante menyimpan surat itu dengan hati-hati, tanpa menyadari bahwa bagian belakang amplop memuat sebuah pesan tambahan yang nyaris tidak terlihat.
Pesan yang hanya terbaca ketika kertas itu terkena cahaya.
Luciano sudah mengetahui lokasi Adrian. Dan sebelum fajar, salah satu dari kalian akan dikhianati.
Di luar, malam Roma semakin gelap.
Sementara itu, di sebuah ruangan rahasia di ujung kota, Luciano Vieri berdiri di depan seorang pria yang tangannya terikat.
“Apakah Bianca sudah menerima pesannya?” tanya Luciano.
Pria itu mengangguk ketakutan.
Luciano tersenyum tipis.
“Bagus. Biarkan dia percaya bahwa kakaknya masih bisa diselamatkan.”
Ia menoleh ke arah jendela, menatap lampu-lampu kota yang berkilauan.
“Karena ketika Bianca akhirnya menemukan Adrian, dia akan menyadari bahwa musuh terbesar keluarganya bukanlah Dante.”
Luciano berhenti sejenak.
“Melainkan darah yang mengalir dalam dirinya sendiri.”
jangan lupa mampirr🤭