Isabella adalah mantan pembunuh bayaran paling berbahaya dan paling di takuti di dunia gelap. Selama bertahun-tahun tangannya telah berlumuran darah.
Namun semuanya berubah saat Isabella menemukan seorang bayi perempuan di depan apartemennya. Sejak saat itu dia memutuskan pensiun demi keselamatan anaknya. Tapi sayangnya sang bos tidak menyukai itu, hingga dia membunuh anak Isabella karena menganggap jika anak itu adalah penghalang Isabella.
Melihat sang putri tewas, Isabella marah dan mulai memburu satu persatu orang yang telah membunuh putrinya. Setelah dendamnya terbayar, Isabella memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri.
Namun kematian ternyata bukan akhir baginya, karena setelah membuka mata kembali. Isabella mendapati dirinya berada di tubuh seorang wanita bernama Isabella Iris, seorang ratu yang di buang dari istananya sendiri.
Bagimana kisah Isabella selanjutnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nitaastri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Monster Berkepala Tiga
Isabella mulai memasuki hutan, di pinggangnya hanya tergantung sebuah pedang yang diberikan Martha kepadanya pagi tadi. Menurut Martha, pedang itu diberikan oleh kakak Alicia, Nicholas Ryan Linfort. Isabella sebenarnya merasa sedikit aneh. Dia bahkan tidak tahu seperti apa kakaknya, karena tidak ada satu pun ingatan mengenai keluarganya yang tersisa di kepalanya. Yang dia ingat hanyalah, keluarganya yang tidak pernah menemuinya dirinya bahkan hari saat dia akan di kirim ke tempat ini.
Hanya itu saja, tidak ada satupun ingatan mengenai ayah, ibu, ataupun kakak laki-laki Alicia. Satu-satunya yang dia ingat hanyalah kakak perempuan Alicia, karena wanita itu kerap kali menasehati Alicia dan dia bahkan datang saat Alicia akan di asingkan.
Bahkan ketika Martha mengatakan bahwa cincin ruang yang diberikan kepadanya pagi tadi berasal dari ayah Alicia yang otomatis sekarang menjadi ayahnya, Isabella benar-benar terkejut.
"Jadi... ayahku memberikan ini kepadaku?"
Isabella menatap cincin di jarinya, cincin itu tampak sederhana, tetapi kemampuan di dalamnya benar-benar luar biasa. Monster yang dia dapatkan kemarin pun sudah dimasukkannya ke dalam cincin tersebut. Benda sebesar apa pun bisa disimpan di dalamnya selama masih berada dalam batas kapasitas ruang, Isabella menghela napas kecil.
"Sayang sekali aku lupa menanyakan semuanya pada Martha."
Dia benar-benar ingin tahu seperti apa keluarganya. Apakah ayahnya benar-benar peduli kepadanya? Kalau memang iya, mengapa tidak ada satu pun kenangan tentang pria itu? Isabella menggelengkan kepalanya.
"Sudahlah, Nanti saja aku menanyakannya pada Martha setelah aku pulang." Kata Isabella Akhirnya.
Untuk sekarang, dia harus berkonsentrasi pada tujuannya. Isabella terus berjalan semakin dalam ke dalam hutan, suara dedaunan yang bergesekan tertiup angin terdengar di sekelilingnya. Sesekali terdengar suara burung dan suara aneh dari kejauhan. Namun semakin jauh Isabella berjalan, semakin kuat pula perasaan aneh yang muncul di dalam dirinya. Isabella merasa jika ada sesuatu yang mengikuti, instingnya tidak pernah salah sejak dulu. Jadi Isabella berhenti, tangannya perlahan menggenggam gagang pedangnya. Matanya menatap setiap pepohonan di sekelilingnya namun tidak ada apa-apa di sana. Hanya pepohonan besar dan semak-semak yang bergerak tertiup angin, tetapi Isabella tidak akan tertipu.
"Keluar, berhenti bersembunyi seperti pengecut." Kata Isabella, tatapannya menajam. Tapi makhluk itu sama sekali tidak menampakkan dirinya.
"Aku tahu kau mengikutiku sejak tadi."
Beberapa detik kemudian—
GRAAAAURRR!
Suara geraman mengerikan tiba-tiba terdengar dari balik pohon, Isabella langsung mundur beberapa langkah.
BRAK!
Sebuah bayangan besar melompat keluar dari balik pepohonan, mata Isabella melebar saat melihat monster yang mengadangnya saat ini. Monster itu menyerupai seekor anjing, tetapi ukurannya jauh lebih besar daripada anjing biasa. Bahkan ukuran tubuh makhluk itu sama seperti monster yang sudah dia bunuh kemarin. Kira-kira 3 kali lipat ukuran tubuh manusia, tubuh monster itu juga dipenuhi bulu kusam dan kotor, yang paling mengerikan adalah kepalanya. Monster itu memiliki tiga kepala dan ketiganya menatap Isabella dengan mata merah menyala, tatapannya benar-benar tajam, tigi-giginya juga panjang dan runcing, air liur menetes dari mulut ketiga kepalanya.
"Menjijikkan."
Isabella mengangkat pedangnya, ketiga kepala monster itu menunduk.
Kemudian—
GRAAAAURRRR!
Monster itu langsung menerjang Isabella, namun Isabella berhasil melompat ke samping.
Dan....
BOOM!
Tubuh monster itu menghantam tanah hingga membuat tanah dan dedaunan beterbangan. Isabella sama sekali tidak memberikan kesempatan pada monster itu. Isabella mengangkat tangannya ke atas lalu udara di sekelilingnya langsung berubah menjadi dingin.
Kristal-kristal es muncul di udara.
"Pergilah." Kata Isabella, tatapannya dingin.
SHUUU!
Lalu belasan tombak es melesat dengan kecepatan tinggi.
DUK! DUK! DUK!
Beberapa tombak menancap di tubuh monster tersebut, namun monster itu hanya menggeram, ternyata serangan itu belum cukup untuk membunuh monster itu. Monster berkepala tiga tersebut kembali menyerang, kali ini serangannya jauh lebih cepat. Isabella memutar tubuhnya dan menghindari gigitan dari kepala pertama.
Kepala kedua menyusul dari samping, Isabella segera menunduk.
WHUSSH!
Rahang monster itu hanya menggigit udara, kemudian kepala ketiga mencoba menerkam dari belakang. Namun Isabella sudah menyadarinya,
Dia segera berbalik sambil mengayunkan pedangnya.
SLASH!
Satu kepala monster itu tertebas.
BRUK!
Kepala tersebut jatuh ke tanah.
Namun—
GROOOOW!
Isabella melihat sesuatu yang membuat alisnya terangkat. Dari leher monster itu, daging baru mulai tumbuh dan dalam hitungan detik, sebuah kepala baru muncul.
Isabella terdiam, menatap monster itu terkejut. Dia tidak menyangka jika kepala monster itu akan tumbuh kembali.
"Waw, kepalanya bahkan bisa tumbuh kembali. Ku pikir monster seperti ini hanya di film-film saja." Kata Isabella takjub.
Monster itu kembali menggeram marah, dia merasa kesal karena Isabella telah melukainya.
Mendengar geraman monster itu itu, Isabella sama sekali tidak takut, dia justru tersenyum tipis.
"Kalau begitu, aku tinggal menebasnya berkali-kali."
Monster itu kembali menerjang Isabella, saat monster itu semakin dekat, dengan gerakan cepat Isabella kembali menebas kepala monster itu dari kanan ke kiri.
SLASH!
Satu kepala kembali terputus.
Kemudian tombak-tombak es melesat.
SHUUU! SHUUU! SHUUU!
Tubuh monster itu dipenuhi luka, monster itu semakin mengamuk dan menghantamkan cakarnya ke tanah.
BOOM!
Isabella melompat tinggi.
Di udara, hawa dingin kembali berkumpul di sekeliling tangannya. Kali ini jauh lebih banyak, puluhan tombak es muncul di belakang Isabella seperti pasukan tombak yang siap menyerang.
Mata Isabella menjadi tajam.
"Kalau satu serangan tidak cukup..."
Semua tombak es melesat.
"maka gunakan lebih banyak serangan."
BOOOOOOM!
Serangan tombak es menghantam monster itu secara bersamaan, tubuh monster berkepala tiga tersebut terlempar dan menghantam beberapa pohon. Isabella mendarat dengan tenang, namun dia tidak boleh lengah karena monster itu masih bergerak.
"Masih hidup rupanya!" Isabella menyeringai, menatap monster itu tajam. Lalu menggenggam pedangnya lebih erat dan kemudian kembali berlari ke arah monster itu. Sedangkan monster tadi mencoba bangkit namun terlambat, karena Isabella sudah berada tepat di depannya.
SLASH!
Satu kepala tertebas.
SLASH!
Kepala kedua menyusul.
SLASH!
Kepala terakhir juga terputus, Kali ini Isabella tidak berhenti. Dia terus menyerang tubuh monster tersebut sebelum regenerasinya selesai. Es membekukan kaki monster itu, kemudian sebuah tombak es menembus tubuhnya, monster itu mengeluarkan raungan terakhir.
GRAAAAAAURRRR!
Lalu tubuh besarnya ambruk ke tanah.
Hutan kembali sunyi.
Isabella berdiri di depan monster itu sambil mengatur napasnya, ternyata melawan monster seperti ini jauh lebih melelahkan dibanding melawan anak buah bosnya dulu.
"Sudah mati? Wah, cepat sekali. Ku pikir kepalanya akan kembali beregenerasi." Ucap Isabella takjub.
Bagaimana tidak mati, jika dia menyerang monster itu seganas itu.
Isabella menunggu beberapa saat, ketika tidak ada lagi gerakan dari monster itu barulah Isabella mendekat.
Dia tahu bahwa monster seperti ini kemungkinan memiliki inti sihir, dengan menggunakan pedangnya, Isabella membelah bagian dada monster tersebut. Setelah beberapa saat mencari, matanya menemukan sebuah benda kecil yang memancarkan cahaya samar. Sebuah inti sihir, Isabella segera mengambilnya.
"Setidaknya tidak sia-sia aku membunuhmu."
Isabella lalu memasukkan inti sihir monster tersebut ke dalam cincin ruang miliknya, kemudian Isabella menatap bangkai monster di hadapannya.
"Mungkin monster ini tidak akan laku di jual, lihat saja tubuhnya bahkan sejelek ini, siapa yang mau membelinya. Ku beri gratis saja, Orang-orang tidak akan mau, apalagi ku jual."
Selain monster ini jelek, Isabella merasa tidak banyak bagian tubuh monster ini yang berguna.
"Kalau begitu, tinggalkan saja dia di sini. Lumayan untuk makan siang monster yang lain, tapi apa para monster di hutan ini mau memakannya? Dagingnya pasti tidak enak, lihat saja bentuknya yang aneh itu."
Isabella lalu berbalik pergi, namun baru beberapa langkah berjalan, dia kembali berhenti. Instingnya kembali berbicara, ada sesuatu yang sejak tadi mengawasi dirinya. Isabella perlahan menoleh ke belakang, tatapannya menjadi dingin.
"Jadi bukan hanya monster berkepala tiga itu yang mengikutiku."
Di antara pepohonan yang gelap, sepasang mata samar terlihat. Isabella menggenggam pedangnya kembali. Kali ini, dia tidak tahu apa yang akan keluar dari balik pepohonan. Tetapi satu hal sudah pasti, hutan ini menyimpan lebih banyak rahasia daripada yang dia bayangkan.
Bersambung