Di Roma, satu nama diucapkan dengan bisikan dan rasa takut: Il Macellaio. Matteo Vitalle, Don 'Ndrangheta yang berdarah dingin, sudah lama mengubur hatinya, sejak perempuan yang dicintainya lenyap tanpa jejak sembilan tahun silam.
Ribuan kilometer jauhnya, di sudut kumuh sebuah kota, Ágata berjuang mati-matian demi satu hal: mengumpulkan biaya operasi yang akan mengembalikan penglihatan putra kecilnya yang buta sejak lahir. Terdesak ke tepi jurang, ia mengambil keputusan paling nekat dalam hidupnya, menjual diri kepada seorang pria kaya raya. Yang tak ia duga, klien pertamanya adalah hantu dari masa lalunya sendiri, sang Don yang paling ia takuti.
Satu malam itu membuka kembali luka lama, cinta yang membara, dan sebuah rahasia yang bisa meruntuhkan sebuah imperium: bocah cerdik berbola mata dua warna itu adalah darah daging Sang Jagal.
Namun bayang-bayang masa lalu tak pernah benar-benar mati. Pengkhianat dalam keluarga, perintah pembunuhan yang tak kunjung padam, dan seorang musuh yang bersembunyi di antara orang-orang terdekat, semuanya mengintai. Untuk melindungi perempuan dan anak yang nyaris direnggut takdir darinya, Matteo siap menjungkirbalikkan dunia dan membakar siapa pun yang berani menghalangi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Ferrer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mata yang Tak Melihat, Tulang Kering yang Merasakan
Jamuan siang ulang tahun itu sedang berada di puncaknya, tetapi suasananya justru mencekik Matteo. Melihat lautan anak-anak yang berlarian, tertawa, dan berulah hanya mengorek luka yang masih terbuka di dadanya: anaknya semestinya ada di sana, berlari di antara para sepupu, membuat keributan yang sama.
Ia sudah hampir menyendiri ketika merasakan tarikan di ujung celananya. Itu Rudá, tengah menyeimbangkan dengan sangat hati-hati sebuah piring berisi sepotong kue raksasa.
"Om, ini kubawakan untuk Om!" ujar bocah itu bangga. "Ini brigadeiro! Kata Nenek Júlia ini kesukaan Om dari Brasil!"
Matteo memandangi piring yang penuh brigadeiro dan cokelat butir itu, lalu membungkuk untuk menerima hadiah dari anak baptisnya.
"Terima kasih, jagoan, kau benar-benar tahu cara menyuapku," ujar Matteo dengan senyum yang langka.
Ia menyantap kue itu di tempat, mendengarkan cerita-cerita seru keponakannya. Namun begitu Rudá berlari kembali ke taman, Matteo mengambil kunci salah satu SUV lapis baja di garasi Orion dan pergi. Ia butuh udara, butuh memusatkan pikiran pada apa saja selain hantu-hantunya.
Ia menyetir tanpa tujuan. Ia meninggalkan gerbang-gerbang berlapis emas Long Island, menembus jalan raya, dan menyeberangi jembatan yang membawanya keluar dari lingkaran kemewahan. Tanpa sadar, ia masuk ke jalan-jalan kusam dan kelabu sebuah lingkungan kumuh, dengan gedung-gedung tua dan trotoar yang berlubang-lubang.
Saat membelok di sebuah tikungan, Matteo memelankan mobilnya. Pemandangan di gang di depan menarik perhatiannya: seorang bocah sendirian tengah menghajar habis-habisan tiga anak yang lebih besar.
Matteo meminggirkan SUV-nya dan mengamati dari jendela. Bocah kecil itu bergerak dengan kelincahan yang aneh. Ia seolah tak melihat pukulan-pukulan yang datang, tetapi menghindar berdasarkan suara langkah kaki di aspal dan membalas dengan ketepatan yang mengerikan.
Anak itu pasti seumuran anakku…, pikir Matteo, merasakan dadanya berdenyut sesak.
Karena penasaran, sang Don 'Ndrangheta mematikan mesin dan turun dari mobil. Ketika ia mendekat, sinar matahari menerpa wajah bocah itu, dan Matteo membeku di tempat. Napasnya seakan terhisap keluar dari paru-parunya.
Bocah itu memiliki mata Ágata, persis sama. Ia mengidap heterokromia—mata dua warna: satu matanya biru pekat dan yang lainnya benar-benar hijau.
Adrenalin Matteo melonjak. Ia menerjang kelompok itu dan mencengkeram ketiga jagoan kampung tadi di kerah bajunya, menyeret mereka menjauh seolah mereka hanya karung kentang.
"Enyah dari sini sebelum kupatahkan kaki kalian," geram Matteo, suaranya bagai guntur membuat anak-anak itu menjerit ketakutan dan lari terbirit-birit menyusuri jalan.
Matteo berbalik ke arah petarung cilik itu dan mencengkeram lengannya erat-erat, mencegahnya kabur.
"Siapa namamu, Nak?" tanya Matteo.
Bocah itu membeku begitu mendengar suara berat tersebut. Logat yang kental dan pelafalan konsonan yang tajam menusuk telinganya. Pria ini orang Italia. Persis seperti logat yang ditirukan Mama kalau sedang marah. Alarm di kepala Pietro berbunyi pada volume tertinggi.
Pietro berbohong tanpa mengedipkan mata.
"Namaku Benjamin, Tuan."
Matteo mengernyitkan dahi, tatapannya terpaku pada sepasang mata yang magnetis dan tak biasa itu.
"Lalu siapa nama ibumu? Apa matanya sama seperti matamu?"
Pietro merasakan bahaya di udara dan mengarang cerita paling panjang yang bisa ia buat dalam sedetik saat ia menarik napas.
"Bukan, Tuan, ayahku yang bermata seperti ini. Ibuku bernama Helena, Tuan."
Kebohongan yang terang-terangan dan sikap ketus bocah itu membuat pria Italia tersebut jengkel. Matteo benci dianggap bodoh, apalagi oleh seorang bocah jalanan.
"Apa orang tuamu tidak mengajarimu bahwa kita harus menatap mata seseorang ketika sedang berbicara dengannya?" bentak Matteo, mengencangkan sedikit cengkeramannya di lengan bocah itu.
Pietro memalingkan wajah ke arah perkiraan sumber suara, menyunggingkan senyum mengejek sambil mengangkat kedua alisnya.
"Kalau Tuan belum sadar… aku ini buta!"
Matteo mengerjap, benar-benar terkejut. Buta?
Memanfaatkan sedetik keraguan si "raksasa Italia"—yang dari gema suaranya Pietro perkirakan pasti setinggi dua meter—bocah itu bertindak.
Dengan menghitung sempurna jarak pinggang pria itu dari arah suara napasnya, Pietro melompat dan melancarkan tendangan lutut yang tepat sasaran ke bagian selangkangan Matteo.
"Maledetto!" raung sang Don 'Ndrangheta yang perkasa, langsung membungkuk terlipat dan melepaskan lengan bocah itu untuk mencengkeram selangkangannya sendiri.
Tapi Pietro belum selesai. Selagi Matteo membungkuk meraung kesakitan, bocah itu memutar tubuhnya dan melepaskan tendangan sekuat tenaga tepat ke tulang kering Matteo. Bunyi tulang berbenturan dengan tulang bergema di gang itu.
"Sialan!" umpat Matteo, jatuh berlutut ke tanah, buta oleh rasa sakit dan syok. Pria yang membuat mafia Eropa gemetar baru saja dibantai habis oleh seorang bocah cebol berusia sembilan tahun.
Pietro menarik tongkat lipat dari saku jaketnya, membukanya dengan satu bunyi klik cepat, lalu melesat pergi menyusuri gang. Ia tak perlu melihat: ia hafal setiap retakan aspal itu. Ia membelok di tikungan, masuk ke koridor gedung, dan memanjat tangga darurat lincah bagai kucing, lenyap ke dalam bayang-bayang atap menuju apartemennya.
Di lantai gang itu, Matteo Vitalle memijat tulang keringnya dengan satu tangan dan selangkangannya dengan tangan yang lain, mengumpat dalam semua dialek Italia yang ia tahu. Namun saat mencoba bangkit, bersandar pada ban mobil, ia memandang ke arah tempat si bocah menghilang.
Meski rasa sakitnya luar biasa, sebuah senyum penuh ketidakpercayaan dan syok murni mulai terbit di sudut bibirnya. Bocah buta itu punya iblis dalam tubuhnya… dan mata milik wanita yang telah menghancurkannya.