CINTA SEMANIS PARE
Seorang playboy komersil yang terkenal di kampusnya, sangat terkejut ketika bangun tidur mendapati tubuhnya berubah menjadi seorang wanita cantik.
Wanita cantik itu sebenarnya adalah Awen, seorang mahasiswi tercantik di kampus namun sudah meninggal beberapa hari yang lalu.
Alu mempunyai saudara kembar bernama Afu, di mana Afu sangat menyukai awen pada saat Awen masih.
Seiring perjalanan waktu, dari kerumitan yang dialami alu dan perjalanan hidupnya Dia pun akhirnya benar-benar menjadi Awen.
Walaupun awalnya sempat terkendala tentang hubungan darah.
Akhirnya Afu dan Awen, yang sebelumnya adalah alu, akhirnya mereka berpacaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAKUT TIDUR SENDIRI
Sesampainya di apartemen, Alu langsung merebahkan tubuhnya di sofa. Afu justru terpaku menatap saudaranya yang terbaring itu.
Entah kenapa, dadanya terasa berdebar-debar. Melihat wajah polos Alu yang kini menyerupai wanita yang pernah dia sukai , hal itu membuat Afu kesulitan membedakan antara saudara kembarnya dan wanita pujaannya.
Setelah merapikan belanjaan, Afu duduk di sofa seberang Alu. Dia memperhatikan baju yang dikenakan saudaranya itu, lalu tersadar bahwa baju tersebut adalah miliknya.
Awalnya, Afu hendak menegur Alu karena memakai pakaiannya tanpa izin. Namun, saat kembali menatap wajah di depannya, yang terbayang justru wajah Awen. Afu pun tersenyum manis.
“Seandainya lo benar-benar Awen, gue rela ngabisin tabungan gue buat beliin lo baju-baju bagus.”
Tiba-tiba, Alu bangkit dan langsung duduk di samping Afu. Jarak mereka begitu dekat hingga tubuh keduanya saling berhimpitan.
Alu kemudian berbisik di telinga Afu.
“Afu, mulai besok gue pakai baju lo dulu, ya. Baju gue nggak ada yang muat. Gue juga belum sempat beli baju. Lo tahu, kan, uang saku kita belum dikirim lagi?”
Afu mengangguk.
“Pakai aja mana yang cocok buat lo.”
Namun, sambil menjawab, Afu terus memperhatikan tubuh Alu. Dia pun kembali berkomentar.
“Alu, menurut gue, lo harus mulai diet, deh. Kalau nggak, kayaknya nanti lo juga bisa-bisa minjem celana gue.”
Alu mendengus. Dia hendak menolak saran saudaranya itu, tetapi setelah memperhatikan tubuhnya sendiri, dia mengurungkan niatnya.
Mereka pun berbincang-bincang hingga malam menjelang.
Karena sudah merasa lelah, Afu meninggalkan Alu yang masih duduk di sofa ruang tamu. Dia masuk ke kamar, merebahkan tubuhnya di tempat tidur, dan hanya dalam hitungan menit sudah terlelap.
Namun, beberapa saat kemudian, Afu terbangun. Tangannya menyentuh sesuatu yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Dia membuka mata perlahan, lalu terkejut saat melihat seorang wanita terbaring di sampingnya. Wanita itu hanya mengenakan singlet tanpa bra.
Afu segera menyadari bahwa wanita tersebut adalah Alu yang kini memiliki tubuh Awen.
Dia langsung bangkit dan melompat turun dari tempat tidur. Sesaat, Afu sempat memandangi tubuh saudaranya itu.
Ada perasaan aneh yang menghinggapi pikirannya. Walaupun tahu bahwa itu adalah Alu, Afu tidak bisa membohongi dirinya sendiri sebagai seorang laki-laki. Melihat tubuh wanita yang terbaring di sampingnya, apalagi dalam posisi memeluknya, membuat Afu merasa serba salah.
Posisi tidur Alu pun masih sama seperti biasanya, seenaknya sendiri.
Afu membuka lemari, mengambil selimut lebar, lalu membentangkannya di atas tubuh Alu.
Dia hendak kembali berbaring di samping saudaranya itu. Namun, setelah duduk perlahan di tepi tempat tidur, Afu justru ragu untuk merebahkan tubuhnya.
Dia memandangi Alu yang tidur telentang dengan posisi berantakan. Walaupun tubuhnya sudah tertutup selimut, pikiran Afu masih membayangkan kebiasaan tidur Alu selama ini.
Sepertinya kita harus beli tempat tidur satu lagi. Kalau terus tidur bersama, gue nggak tahu apa yang bakal terjadi sama kita.
Sebagai cowok yang cukup perasa, Afu akhirnya mengambil bantal dan keluar kamar. Dia memilih merebahkan tubuhnya di sofa.
Namun, kali ini keinginannya untuk tidur tidak berjalan semulus sebelumnya.
Afu justru teringat saat beberapa waktu lalu dia memeluk tubuh wanita pujaannya. Bahkan, dia terbayang senyum manis Awen ketika memandanginya sebelum Afu menyelimuti tubuh Alu.
Afu segera tersadar. Bagaimanapun cantiknya wanita itu, tubuh tersebut tetaplah milik Alu, saudara kembarnya sendiri. Selama tinggal di apartemen, mereka memang terbiasa tidur bersama.
Pikirannya kemudian kembali melayang pada sosok Awen semasa hidupnya. Gadis manis itu selalu membawa payung hitam, baik saat hujan maupun ketika matahari sedang terik.
Tiba-tiba, Afu teringat sebuah kejadian beberapa waktu lalu.
“Afu, tunggu, ya!”
Awen melambaikan tangan sambil membawa payung hitam di bawah terik matahari. Tangan kanannya memegang payung, sedangkan tangan kirinya membawa sebuah kotak makanan.
Dia berjalan tergesa-gesa menghampiri Afu yang masih memandanginya.
Setelah tiba di samping Afu, Awen menyerahkan payung tersebut kepadanya.
“Afu, tolong pegangin payungnya sebentar, ya.”
Awen kemudian membuka kotak makanan itu perlahan. Di dalamnya terdapat kue lapis pelangi.
Dia mengambil beberapa potong, lalu menyuapkannya ke mulut Afu yang masih terpaku.
“Gimana, Fu? Enak nggak rasanya?”
Afu mengangguk malu-malu.
Awen tersenyum, lalu kembali menyuapkan potongan kue berikutnya ke mulutnya.
Melihat senyum manis Awen dan tangannya yang terulur mendekati mulutnya, Afu kembali terpaku. Namun, tiba-tiba dia membuka mata ketika sebuah tangan menepuk bahunya.
“Afu, kenapa lo ninggalin gue? Lo kan tahu gue takut tidur sendirian!”
Tepukan itu membuat Afu tersentak. Dia pun tersadar dari lamunannya.
“Astaga, Alu! Kalau jalan kasih suara dikit, dong! Gue kaget!”
“Lagian, lo pindah nggak ngajak-ngajak gue! Untung lampunya nggak lo matiin. Lo kan tahu gue takut gelap, takut juga tidur sendirian!”
Afu bangkit, lalu merapikan selimut yang masih melingkar di tubuh Alu.
Kali ini, Afu berbicara dengan nada serius.
“Alu, kayaknya kita harus beli kasur satu lagi, deh!”
Alu memicingkan mata. Tatapannya menunjukkan bahwa dia kurang setuju dengan usulan saudaranya itu.
“Kenapa harus beli kasur satu lagi? Kalau tidur gue rusuh, lo tinggal bangunin gue dan suruh gue benerin posisi lagi.”
Afu menarik napas panjang, kemudian mengembuskannya perlahan. Dia menyentuh pundak Alu.
“Bukan masalah posisi tidur yang nggak gue suka. Itu udah gue nikmati selama berpuluh-puluh tahun.”
“Terus masalahnya apa?”
Afu bangkit dan pindah ke sofa di seberangnya.
“Gue tahu lo saudara kembar gue. Tapi, bagaimanapun juga, tubuh lo sekarang adalah tubuh Awen. Gue nggak bisa tidur nyaman di samping wanita. Gue belum terbiasa.”
Perkataan Afu membuat Alu kembali menyadari kondisi fisiknya sekarang. Wajahnya pun murung.
Dia berpindah dari tempat duduknya ke sisi Afu. Sofa yang sebenarnya hanya cukup untuk satu orang itu akhirnya memaksa mereka duduk berhimpitan.
Dengan wajah tanpa ekspresi, Alu bertanya kepada saudaranya.
“Afu, menurut lo, gue benar-benar kena kutukan dari kuburan Awen?”
Selama ini, Afu tidak terlalu memedulikan perubahan yang dialami Alu. Namun, kini dia mulai merasakan dampaknya. Afu pun mencoba mendengarkan keluh kesah saudaranya dan ikut memikirkan penyebab serta solusinya.
“Gue nggak yakin kalau itu kutukan.”
“Jadi, menurut lo, gue harus bagaimana? Gue nggak mungkin terus-terusan jadi Awen. Nanti bagaimana dengan popularitas gue sebagai cowok terganteng di kampus?”
Afu berpikir sejenak. Kemudian, dia seperti mendapatkan sebuah ide, meskipun belum yakin apakah itu akan berhasil.
“Bagaimana kalau besok kita ke makam Awen?”
Alu membelalakkan mata dan mengerutkan kening.
“Afu, malam-malam begini jangan bicara yang bikin gue merinding, dong!”
“Itu nggak penting, Alu. Kita cari solusi terbaik buat hidup lo dan tubuh lo!”
Alu semakin mendekat hingga tubuhnya hampir benar-benar menempel pada Afu. Afu pun menahan tubuh saudaranya dengan kedua tangan agar jarak di antara mereka tidak semakin dekat.
“Terus, kita ngapain pergi ke makam Awen?”
“Gue juga sebenarnya nggak yakin ini solusi terbaik. Tapi, coba deh lo minta maaf di makam Awen. Barangkali memang ada hubungannya dengan perubahan yang lo alami.”
Alu mengangguk-anggukkan kepala. Setelah itu, dia menarik tangan Afu untuk kembali masuk ke kamar dan menemaninya tidur.
Mereka sempat bertengkar soal tidur bersama atau tidur terpisah. Namun, Alu yang memang tidak berani tidur sendirian terus merengek, meminta Afu tidur bersamanya.
Walaupun masih ragu-ragu, Afu akhirnya merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Kali ini, dia membuat batasan dengan meletakkan dua buah bantal guling di antara mereka.
Akhirnya, malam itu mereka bisa tertidur dengan lelap, mUngkin karena terlalu mengantuk setelah berbincang hingga larut malam.