NovelToon NovelToon
Ternyata Bukan Aku

Ternyata Bukan Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:14.5k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Misya dan Reyden menikah selama dua tahun. pernikahan yang mereka jalani karena perjodohan, tak ada masalah dalam rumah tangga mereka yang monoton itu.

namun menjelang pernikahan ke dua mereka, ternyata Misya baru tahu kalau Reyden belum menerima dan bisa mencintai dia bukan karena belum siap. tapi karena hatinya masih ada pada wanita masa lalunya yang akhirnya kembali.

apakah Reyden akan kembali kepada wanita di masa lalunya atau mungkin dia mulai menyadari cintanya kepada Misya?

ikuti terus kelanjutan kisah cinta mereka ya kak...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Misya 28

"Jadi... kamu benar-benar sudah dibutakan oleh perempuan itu, Rey...?" cicit Aurelia parau, bibirnya bergetar hebat.

"Perempuan yang bahkan tidak selevel dengan pola pikirmu, perempuan yang cuma tahu cara menangis dan mengadu pada suaminya... Kamu rela mengorbankan hubungan kita yang sudah bertahun-tahun demi dia?"

Mendengar penghinaan yang kembali dilontarkan Aurelia pada istrinya, kesabaran Reyden benar-benar habis.

"Cukup, Aurelia! Jangan pernah sekali pun kamu merendahkan Misya di depan saya!" bentak Reyden menggelegar, membuat seluruh isi ruangan bergetar.

"Misya jauh lebih mulia, jauh lebih tulus, dan jauh lebih berharga daripada seluruh ambisi dan kelicikan yang ada di dalam diri kamu! Dia tidak pernah berpura-pura menjadi malaikat seperti yang kamu lakukan selama ini!"

Aurelia tertegun. Kalimat itu menghujam jantungnya bagaikan belati tajam. Ia menatap Reyden dengan tatapan kosong, menyadari bahwa pria di hadapannya ini telah sepenuhnya hilang dari genggamannya, bukan lagi milik masa lalu, melainkan pelindung setia bagi wanita lain. Selama ini dia terlalu percaya diri kalau Rey akan setia padanya dan masih mengharapkan dia. Apalagi dengan segala prestasi yang dia miliki saat ini.

Reyden menegakkan tubuhnya, menarik napas dalam-dalam untuk meredam sisa emosinya, lalu menunjuk ke arah pintu keluar dengan jari telunjuknya.

"Waktu bicara kamu habis," ucap Reyden dengan nada dingin tanpa emosi, kembali memasang topeng CEOnya yang tak tersentuh.

"Urusan revisi kontrak kerja sama silakan serahkan lewat jalur resmi kepada tim legal atau Anggara. Jangan pernah datang ke ruangan saya secara pribadi lagi. Keluar dari ruangan saya sekarang, Aurelia!"

Aurelia mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangan. Harga dirinya diinjak-injak di hadapan asisten dan kenyataan pahit yang telak. Dengan napas memburu, air mata amarah yang meleleh di pipinya, dan sisa-sisa harga diri yang compang-camping, Aurelia menyambar tas tangannya.

Ia berdiri, menatap Reyden dengan kilatan kebencian yang mendalam.

"Kamu akan menyesal, Rey... Kamu akan menyesal memperlakukan aku seperti ini demi perempuan itu. Dan aku yakin suatu hari setelah kamu sadar, kamu akan datang padaku!"

Tanpa menunggu balasan, Aurelia membalikkan badan dengan hentakan kaki yang kuat, mendorong pintu ruangan hingga terbuka lebar, lalu melangkah pergi dengan sejuta rasa dendam yang membara di dadanya.

Begitu sosok Aurelia menghilang di balik pintu, Reyden menghempaskan tubuhnya kembali ke kursi kerja. Ia memijit pelipisnya yang berdenyut kencang, lalu memanggil pelan asisten setianya.

"Angga..."

"Ya, Pak Rey?" sahut Anggara cepat, langsung berbalik masuk ke dalam ruangan.

"Pastikan setelah ini tidak ada lagi celah bagi Aurelia untuk masuk ke ruangan saya tanpa jadwal resmi. Dan perketat semua pengawasan kontrak kerja sama agensinya. Kalau ada satu saja gelagat mencurigakan dari mereka untuk mengusik urusan pribadi saya, langsung laporkan ke saya, kita batalkan proyek itu detik itu juga."

"Baik, Pak! Akan saya laksanakan instruksinya," jawab Anggara tegas.

Reyden mengangguk kecil. Pikirannya kini kembali melayang pada satu-satunya wanita yang bertahta di hatinya. Di tengah kesibukan kantor yang melelahkan ini, ia tahu ia harus segera pulang secepat mungkin, memastikan bahwa istrinya di rumah baik-baik saja, dan membuktikan lewat pelukan hangat bahwa tidak ada lagi bayang-bayang masa lalu yang bisa merusak kebahagiaan mereka.

Pukul tiga sore, suasana di ruang kerja utama Nusantara Tower masih menyisakan ketegangan pasca kepergian Aurelia. Reyden duduk di balik meja kerjanya, menatap layar ponsel yang menyala terang di hadapannya. Jari-jarinya mengetikkan sebuah pesan untuk wanita yang paling ia cintai saat ini, memastikan Misya tidak cemas atau salah paham.

Reyden:

“Sayang... maaf ya, sepertinya saya akan pulang sedikit telat hari ini. Bunda menelepon barusan, meminta saya mampir dulu ke rumah utama untuk menyelesaikan masalah Merlyn dan sepupu-sepupu yang lain secara langsung. Ada beberapa hal keluarga yang harus saya bereskan tuntas supaya tidak ada lagi duri di antara kita. Jangan menunggu makan malam ya, nanti saya kabari kalau sudah jalan pulang. I love you.”

Tak berselang lama, balasan dari Misya masuk:

Misya:

“Iya, Mas... Hati-hati di jalan ya. Selesaikan baik-baik sama keluarga, jangan emosi. Aku tunggu di rumah.”

Melihat balasan penuh pengertian itu, sudut bibir Reyden terangkat membentuk senyuman tipis. Beban di dadanya sedikit terangkat. Ia lantas mengunci ponselnya, memasukkannya ke dalam saku jas, lalu bangkit berdiri dari kursi kerja.

Tok... tok... tok!

Pintu ruang kerja diketuk, dan Anggara melangkah masuk dengan setelan jas rapi serta membawa map hitam di tangannya.

"Pak Rey, mobil sudah disiapkan di basement. Sopir sudah standby, atau Bapak ingin saya yang mengemudi?" tanya Anggara sigap.

"Kamu yang bawa mobil saja, Angga. Ada hal-hal di jalan yang ingin saya diskusikan soal sanksi struktural untuk sepupu-sepupu saya itu," jawab Reyden tegas sambil menyambar jasnya yang tersampir di kursi.

"Baik, Pak. Mari," balas Anggara mempersilakan.

Di dalam perjalanan menuju kediaman utama keluarga Dirgantara, suasana di dalam kabin mobil sedan mewah itu terasa cukup hening. Hanya terdengar deru AC dan suara bising kendaraan ibu kota di luar jendela. Reyden menyandarkan punggungnya, menatap lurus ke luar jendela dengan raut wajah yang masih menyisakan ketegangan.

"Angga," panggil Reyden tiba-tiba, memecah keheningan.

"Ya, Pak Rey? Ada instruksi tambahan?" tanya Anggara langsung melirik lewat spion tengah.

"Bagaimana progres penurunan jabatan Merlyn dan pembekuan fasilitas untuk Sherly dan Natasha? Apa semuanya sudah diproses bersih oleh HRD dan bagian keuangan?" tanya Reyden dengan nada dingin.

"Sudah beres, Pak. Surat keputusan pemecatan Merlyn dari tim kreatif dan penurunan jabatannya sebagai staf junior administrasi gudang sudah ditandatangani pagi tadi. Begitu pula dengan pembatasan fasilitas kartu kredit perusahaan dan akses fasilitas kantor untuk Sherly dan Natasha juga untuk Merlyn sendiri. Sesuai perintah Bapak, tidak ada celah toleransi," jelas Anggara rinci.

Reyden mengangguk pelan. "Bagus. Jangan beri ampun. Keluarga besar harus tahu batasan, bahwa kelakuan buruk tidak bisa ditutupi sekadar karena status hubungan darah."

"Maaf sebelumnya, Pak... Tapi sepertinya pertemuan di rumah utama nanti sore akan cukup panas. Bu Rina, ibunya Merlyn tadi sempat menelepon HRD sambil marah-marah, tidak terima anaknya diperlakukan sekeras itu," tambah Anggara hati-hati.

Mendengar nama bibinya disebut, rahang Reyden mengeras seketika. Decihan keluar dari bibirnya.

"Biar saja dia marah-marah," desis Reyden tajam.

"Selama ini mereka terlalu dimanja dan merasa berhak mengatur hidup orang lain. Kali ini, saya sendiri yang akan memegang kendali dan menegaskan di hadapan Ayah, Bunda, dan semua tante saya bahwa istri saya adalah garis batas yang tidak boleh disentuh oleh siapa pun!"

Anggara mengangguk paham, memilih fokus kembali pada jalanan ibu kota yang mulai padat menjelang jam pulang kantor.

Tak lama kemudian, mobil mewah hitam itu memasuki gerbang tinggi kediaman utama keluarga Dirgantara, sebuah rumah megah berarsitektur klasik modern dengan halaman luas yang dipenuhi pepohonan asri. Badai keluarga yang sebenarnya sudah menunggu di dalam sana, dan Reyden sangat siap untuk menyelesaikannya sampai tuntas demi melindungi wanita yang bertahta di hatinya.

1
Susan Paulina
Lanjut lagi Thor, ditunggu ya 👍
Ambu Rinddiany Thea
untung mertua s misya tidak seperti emaknya s abi hadeeeeh amsiong we lmn kitu mah ..🤭
Sri Angga
good job reyden.
ryuka
xiihhh gila ni cewe.. dia yg ninggalin dia yg ga terima pas udah ga di pikirin
Oma Gavin
ulet bulu gatel aurela ngga kapok juga sudah di cuekin sudah di bentak ngga di anggap kok masih saja menggatal
ryuka
haduhhh ada ulet keket gabtau diri muncul
ryuka
untung bapak ibu mertua nya baik ya misya
Oma Gavin
ulet bulu gatel mulai menggatal
Heni Setiyaningsih
/Heart/
Heni Setiyaningsih
bersyukur Misya punya mertua yg selalu menyayangi dan melindungi
nining cahyaningrum
bagus
Lembang Azam
bagus Rey sebelum trlambat, untung kamu cpt menyadarinya dan bergerak cp, klw enggak kamu yg tak ulek JD bergedel🤣
Oma Gavin
akhirnya reydhan tegas juga itu semua orang kenapa berkomplot musuhi misya dan bela aurelia
ryuka
diiihh dasar cewe cewe gila.. 🔥🔥🔥🔥🔥
nely_48
ku pegang kata² mu ya rey,,,
nely_48
hmmmm tunggu hukuman mu merlyn,, sok anggun sok merasa tinggi setinggi langit kau aurelia, gataunya cewe arogan n egois, pantas az bunda nya Rey lbh memilih menjodohkan dgn misya
Sri Angga
jgn cm dg kata tp buktikan
Ambu Rinddiany Thea
sok buktikan ters rey sm s misya kalo cinta kamu hanya buat ambu seorang eh salah , buat misya seorang maksdnya 🤭
Susan Paulina: Di tunggu Up selanjutnya Thor, tambah seruu 👍
total 1 replies
Ambu Rinddiany Thea
lanjuuut maak
Ambu Rinddiany Thea
kenapa sih ga apada terbuka aja 2 2 nya , s rey masih mendem soal s aurelia s misya masih mendem soal sepupu dajalna nu ngirim2 foto te bermerk , maenya ambu kudu turu gunung ie teh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!