OUTPLAYED BY YOU
He wins every game. She wins every argument.
"Aku tidak akan menikah denganmu kalau kamu masih menyembunyikan sesuatu dariku!"
Raka Adhitama memijat pelipisnya. Di hadapannya, Nadira Prameswari berdiri dengan piyama biru dan ekspresi siap membatalkan pernikahan mereka, padahal pria itu bahkan belum selesai menjelaskan.
"Aku belum mengatakan apa-apa."
"Tepat! Kamu selalu begitu. Diam, menghindar, lalu memasang wajah tampan seolah semuanya akan selesai sendiri."
"Aku tidak pernah menggunakan wajahku untuk menyelesaikan masalah."
Nadira mendengus. "Sayang sekali. Padahal itu satu-satunya kemampuanmu yang kuakui di luar permainan."
Raka hampir tersenyum. Hampir.
Di arena esports, ia dikenal sebagai Vex, pemain profesional yang mampu mengalahkan lawan terkuat tanpa kehilangan ketenangan. Namun, menghadapi calon istrinya sendiri ternyata membutuhkan keterampilan yang tidak tersedia dalam buku strategi mana pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars Is Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
Raka baru menyadari ada sesuatu yang salah ketika ayahnya meminta sebuah dokumen dikembalikan sebelum ia selesai membacanya.
“Bagian itu tidak perlu kamu simpan,” kata Adrian sambil mengulurkan tangan.
Raka menatap lembar yang sedang dipegangnya.
“Ini laporan program bantuan medis lima tahun lalu.”
“Aku tahu.”
“Kenapa bagian catatan administrasinya harus dikembalikan?”
Adrian tidak segera menjawab. Ia merapikan dokumen lain di atas meja sebelum akhirnya menatap putranya.
“Karena ada informasi pribadi yang tidak relevan dengan evaluasi yang sedang kamu lakukan.”
Raka mengamati wajah ayahnya.
Selama bertahun-tahun, ia sudah terbiasa dengan cara Adrian menjawab pertanyaan: singkat, tegas, dan sering kali menyisakan ruang bagi pertanyaan berikutnya.
Biasanya, Raka memilih untuk tidak memperpanjang perdebatan.
Namun, kali ini ia teringat Nadira.
Perempuan itu sedang berusaha mencari tahu siapa yang membayar operasi ibunya lima tahun lalu. Jika dokumen yang sedang diperiksanya ternyata berkaitan dengan keluarga Nadira, ia tidak ingin menjadi orang yang tanpa sadar menghalangi pencarian tersebut.
“Aku tidak meminta informasi pribadi siapa pun,” kata Raka. “Aku hanya ingin memahami apakah ada prosedur yang tidak berjalan sebagaimana mestinya.”
“Kalau ada masalah administratif, tim yayasan akan menanganinya.”
“Dan kalau masalahnya lebih dari itu?”
Tatapan Adrian mengeras.
“Jangan membuat kesimpulan sebelum kamu memiliki bukti.”
Raka menahan napas sejenak.
Kalimat itu sebenarnya benar. Ia sendiri tidak ingin menuduh siapa pun tanpa dasar.
“Baik,” jawabnya. “Aku akan mengikuti prosedur resmi.”
Ia menyerahkan kembali dokumen tersebut.
Namun, saat meninggalkan ruangan, satu pertanyaan terus mengikutinya.
Jika semuanya hanya persoalan administrasi biasa, mengapa ayahnya terlihat begitu ingin mengakhiri pembicaraan?
Amplop itu ditemukan kembali pada pukul sebelas lewat dua puluh pagi.
Ratna Wibisono berdiri di ruang arsip bersama Sari, staf administrasi yang sehari sebelumnya menemukan dokumen tersebut. Amplop berwarna krem itu kini diletakkan di atas meja, di samping formulir pencatatan dan kamera dokumentasi.
“Sudah dipastikan bahwa amplop ini memang berasal dari kotak AP-17?” tanya Ratna.
“Sudah, Bu. Posisi penemuannya juga sudah kami dokumentasikan. Tidak ada nomor arsip lain yang menempel pada amplop.”
Ratna mengangguk.
Ia tidak ingin membuka dokumen lama tanpa mencatat kondisi awalnya, terlebih karena amplop itu memiliki catatan yang menyebutkan bahwa isinya tidak boleh dimasukkan ke dalam salinan umum.
Catatan tersebut belum tentu menunjukkan adanya pelanggaran. Bisa saja isinya merupakan dokumen internal yang mengandung data pribadi.
Tetapi, setelah menemukan ketidaksesuaian pada catatan pengiriman AP-17, ia tidak ingin mengabaikan kemungkinan bahwa amplop itu berkaitan dengan perkara yang sedang diperiksa.
Dengan disaksikan Sari, Ratna membuka amplop tersebut.
Di dalamnya terdapat dua lembar kertas.
Lembar pertama merupakan salinan pemberitahuan mengenai bantuan biaya medis. Nama Ratih Prameswari tercetak di bagian atas, diikuti nomor referensi AP-17.
Nadira akhirnya memiliki bukti bahwa ibunya memang tercatat sebagai penerima bantuan.
Namun, perhatian Ratna segera beralih ke lembar kedua.
Dokumen itu bukan surat pembayaran, melainkan catatan tindak lanjut administratif.
Di bagian tengah terdapat kalimat yang dicetak dengan huruf kecil:
Pemberitahuan kepada keluarga belum dapat dikonfirmasi. Salinan kedua disiapkan untuk pengiriman ulang. Pelaksanaan menunggu persetujuan penanggung jawab program.
Di bagian bawah terdapat dua kolom tanda tangan.
Kolom petugas administrasi sudah terisi.
Kolom persetujuan penanggung jawab program masih kosong.
Ratna membaca dokumen tersebut dua kali.
“Berarti kita belum bisa memastikan apakah surat kedua pernah dikirim,” kata Sari.
“Benar.”
“Apakah kita perlu meminta catatan pengiriman dari bagian keuangan?”
“Bukan hanya bagian keuangan. Kita perlu memeriksa prosedur korespondensi dan daftar penanggung jawab pada periode itu.”
Ratna memotret dokumen tersebut untuk keperluan pencatatan, lalu memasukkannya kembali ke dalam map sementara.
Ia tidak tahu mengapa persetujuan itu tidak tercatat.
Mungkin seseorang lupa menandatangani dokumen.
Mungkin ada proses yang tidak pernah diselesaikan.
Atau mungkin ada alasan lain yang hanya dapat dijelaskan oleh orang-orang yang terlibat pada saat itu.
Satu-satunya hal yang bisa ia pastikan adalah bahwa arsip tersebut belum memberikan jawaban lengkap.
Ratna memutuskan untuk menghubungi Nadira.
Perempuan itu berhak mengetahui bahwa dokumen yang dicari keluarganya telah ditemukan, meskipun penjelasannya masih terbatas.
Nadira sedang memeriksa transkrip wawancara ketika teleponnya berdering.
“Selamat siang, Bu Ratna.”
“Selamat siang, Nadira. Saya ingin memberi kabar tentang arsip AP-17.”
Nadira langsung menghentikan pekerjaannya.
“Apakah ada perkembangan?”
“Kami menemukan dua dokumen yang tersimpan dalam amplop terpisah dari arsip umum. Salah satunya mengonfirmasi bahwa Ibu Ratih tercatat sebagai penerima bantuan biaya medis.”
Nadira memejamkan mata sesaat.
Akhirnya.
Setelah berminggu-minggu menghadapi potongan informasi, ia mendapatkan konfirmasi yang jelas.
“Apakah dokumen itu menyebutkan siapa yang membayar operasi Ibu?”
“Belum. Dokumen yang kami temukan merupakan pemberitahuan mengenai bantuan dan catatan tindak lanjut administrasi.”
Ratna menjelaskan isi catatan tersebut, termasuk kolom persetujuan yang masih kosong.
Nadira segera menuliskan setiap detail.
“Jadi, pengiriman ulang suratnya belum bisa dipastikan?”
“Betul. Kami belum menemukan bukti bahwa surat kedua benar-benar dikirim.”
“Apakah ada nama penanggung jawab program?”
“Ada nama petugas administrasi, tetapi untuk memastikan siapa yang berwenang memberikan persetujuan pada waktu itu, kami perlu memeriksa struktur pengelolaan program yang lama.”
Nadira mengembuskan napas perlahan.
Ia merasa lega sekaligus kecewa.
Dokumen itu mengonfirmasi bahwa bantuan memang diberikan, tetapi belum menjawab pertanyaan utama tentang sumber dana maupun alasan keluarganya tidak menerima pemberitahuan.
“Apakah saya bisa melihat salinannya?”
“Kami akan menyiapkan dokumen yang dapat diberikan setelah pemeriksaan kerahasiaan selesai. Saya tidak ingin menjanjikan tanggal sebelum semuanya dipastikan.”
“Baik. Terima kasih sudah menghubungi saya.”
Setelah panggilan berakhir, Nadira menyandarkan punggung ke kursi.
Selama ini ia mengira pencarian tersebut akan berakhir ketika menemukan nama yang membayar operasi ibunya.
Sekarang ia mulai memahami bahwa persoalannya lebih rumit.
Ada bantuan yang benar-benar diberikan.
Ada pemberitahuan yang belum terkonfirmasi.
Dan ada dokumen yang sengaja atau setidaknya secara administratif dipisahkan dari arsip umum.
Ia belum tahu apakah ketiganya berkaitan dengan suatu kesalahan, keputusan yang disengaja, atau sekadar kekacauan administrasi bertahun-tahun lalu.
Namun, ia tahu bahwa ia tidak boleh berhenti di sini.
Ponselnya bergetar.
Raka: Sudah makan siang?
Nadira tersenyum kecil meskipun pikirannya masih penuh dengan dokumen.
Nadira: Kamu dan pertanyaan soal makanan sepertinya punya hubungan yang sangat serius.
Raka: Aku sedang memastikan kamu tidak lupa makan karena sibuk mengejar misteri.
Nadira terdiam sesaat.
Nadira: Aku baru mendapat kabar tentang arsip AP-17.
Balasan Raka tidak langsung muncul.
Raka: Kamu baik-baik saja?
Nadira membaca pertanyaan itu dengan perasaan hangat yang sulit dijelaskan.
Nadira: Aku belum tahu. Ada beberapa jawaban, tapi justru muncul lebih banyak pertanyaan.
Raka: Kalau kamu ingin bercerita, aku akan mendengarkan.
Kali ini, Nadira tidak menunda jawabannya.
Nadira: Aku ingin bertemu denganmu nanti. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan.
Raka: Tentu. Kamu mau bertemu di mana?
Mereka sepakat bertemu setelah Raka selesai berlatih.
Nadira kembali bekerja dengan pikiran yang sedikit lebih tenang.
Ia tidak tahu apakah Raka akan memiliki jawaban untuk pertanyaannya.
Namun, ia ingin memberinya kesempatan untuk mendengarkan sebelum memutuskan apa yang harus ia lakukan berikutnya.
Di rumah keluarga Adhitama, Adrian menerima panggilan dari seseorang yang nomornya tidak tersimpan dalam daftar kontak kantor.
Ia memandang layar beberapa saat sebelum menjawab.
“Ya?”
Suara di seberang terdengar pelan.
“Dokumen AP-17 sudah ditemukan.”
Adrian tidak langsung berbicara.
“Bagaimana kamu tahu?”
“Saya masih memiliki akses ke informasi yang relevan.”
“Itu bukan jawaban.”
“Yang penting sekarang, seseorang sudah mulai memeriksa dokumen lama tersebut.”
Adrian berdiri dan berjalan menuju jendela.
“Apakah ada yang sudah diberikan kepada keluarga penerima?”
“Belum. Yayasan sedang melakukan pemeriksaan.”
Adrian menutup mata sesaat.
“Pastikan semua dokumen ditangani sesuai prosedur. Jangan ada yang dihilangkan, dipindahkan, atau diubah.”
Orang di seberang terdiam sebentar.
“Apakah Anda yakin ingin semuanya diperiksa?”
Adrian menoleh ke arah meja kerjanya.
Di sana terdapat beberapa map lama yang belum disentuh selama bertahun-tahun.
“Aku tidak akan meminta siapa pun menyembunyikan dokumen,” katanya tegas. “Kalau ada kesalahan, kita harus mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.”
“Baik.”
Panggilan berakhir.
Adrian masih berdiri di dekat jendela ketika ponselnya kembali menyala.
Sebuah pesan masuk dari nomor yang sama.
Ada satu salinan lain yang belum ditemukan.
Adrian membaca pesan itu dengan wajah mengeras.
Untuk beberapa detik, ia tidak bergerak.
Kemudian ia membuka laci meja dan mengeluarkan sebuah map tipis berwarna biru tua.
Di bagian depannya terdapat label yang sudah mulai pudar.
Program Bantuan Medis — Evaluasi Internal.
Adrian membuka map itu, memeriksa beberapa halaman, lalu berhenti pada sebuah lembar yang mencantumkan nomor AP-17.
Dokumen tersebut tidak berisi nama penerima bantuan.
Hanya sebuah catatan mengenai sumber dana dan instruksi tindak lanjut yang dibuat lima tahun lalu.
Adrian membaca baris terakhirnya.
Kemudian ia menutup map tersebut.
Ada hal-hal yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan menjelaskan apa yang tercatat di atas kertas.
Terutama jika keputusan yang dibuat pada masa lalu telah memengaruhi kehidupan orang lain dengan cara yang tidak pernah mereka ketahui.
Malam itu, Raka datang menjemput Nadira di depan kantornya.
Ia turun dari mobil untuk membukakan pintu penumpang, tetapi Nadira berhenti sebelum masuk.
“Kamu terlihat serius,” kata Raka.
“Aku memang sedang serius.”
“Haruskah aku bersiap menghadapi wawancara?”
Nadira mengangkat alis.
“Kalau kamu terus bercanda, mungkin.”
Raka tersenyum, lalu menutup pintu setelah Nadira duduk.
Mereka pergi ke sebuah kedai kopi yang tidak terlalu ramai. Setelah memesan minuman, Nadira menceritakan perkembangan terbaru tentang AP-17.
Ia menjelaskan bahwa yayasan telah menemukan bukti bantuan medis untuk Ratih, tetapi belum dapat memastikan siapa yang membayar operasi tersebut atau mengapa pemberitahuan kepada keluarganya tidak terkonfirmasi.
Raka mendengarkan tanpa memotong pembicaraan.
Ketika Nadira selesai, ia bertanya, “Apa langkah berikutnya?”
“Memeriksa catatan pengiriman, mencari siapa penanggung jawab program saat itu, dan memastikan apakah ada dokumen lain yang belum ditemukan.”
Raka mengangguk.
“Kamu akan mendapatkan jawaban yang bisa dipertanggungjawabkan.”
Nadira menatapnya.
“Aku berharap begitu.”
Ada jeda sebelum ia melanjutkan.
“Raka, aku ingin bertanya sesuatu.”
“Tanya saja.”
“Kamu bilang sedang memeriksa beberapa dokumen yayasan bersama ayahmu. Apakah kamu menemukan sesuatu tentang program bantuan medis lima tahun lalu?”
Raka tidak segera menjawab.
Ia bisa mengatakan bahwa dirinya baru melihat laporan umum. Ia juga bisa menyebutkan bahwa ayahnya membatasi akses terhadap beberapa dokumen.
Namun, ia tidak ingin menjawab setengah-setengah hanya karena takut percakapan itu menjadi rumit.
“Aku melihat laporan program dan beberapa catatan administrasi,” katanya. “Nama rumah sakit tempat ibumu menjalani operasi ada dalam salah satu laporan. Tapi aku belum menemukan dokumen yang secara langsung menyebut nama ibumu atau menjelaskan sumber dananya.”
Nadira mengamati wajahnya.
“Kenapa kamu tidak memberitahuku sebelumnya?”
“Karena waktu itu aku belum tahu apakah informasi tersebut berkaitan dengan keluargamu. Aku tidak ingin membuatmu berharap berdasarkan dugaan.”
Jawaban itu masuk akal.
Namun, Nadira masih memiliki satu pertanyaan.
“Kalau nanti kamu menemukan sesuatu yang berkaitan langsung dengan ibuku, kamu akan memberitahuku?”
Raka menatapnya tanpa mengalihkan pandangan.
“Ya. Aku akan memberitahumu apa yang kutemukan, dan aku tidak akan berpura-pura tidak tahu hanya karena kebenarannya mungkin tidak nyaman.”
Nadira mengangguk perlahan.
Ia tidak meminta Raka menjanjikan bahwa keluarganya tidak terlibat dalam persoalan tersebut.
Ia hanya ingin tahu bahwa laki-laki itu tidak akan sengaja menyembunyikan informasi darinya.
“Terima kasih,” katanya.
Raka mengulurkan tangan di atas meja.
Nadira menyambutnya.
“Aku tahu ini sulit,” ujar Raka. “Tapi kamu tidak harus menghadapi semuanya sendirian.”
Nadira menggenggam tangannya.
“Aku tahu. Tapi aku juga tidak ingin kamu merasa harus menyelesaikan masalah keluargaku.”
“Aku tidak merasa begitu.”
“Bagus. Karena aku tidak sedang mencari pahlawan.”
Raka tersenyum tipis.
“Aku tahu. Kamu sedang mencari jawaban.”
“Dan terkadang, jawaban itu datang dari orang yang sangat menyebalkan.”
“Untungnya, kamu sudah terbiasa denganku.”
Nadira tertawa.
Untuk beberapa menit, mereka membicarakan hal-hal yang lebih ringan. Tentang latihan ASTRAL, artikel terbaru Nadira, dan Bima yang rupanya mulai membuat taruhan tidak resmi tentang kapan Raka akan mengakui bahwa dirinya sedang jatuh cinta.
Namun, ketika Raka mengantarnya pulang, Nadira kembali memikirkan pesan anonim yang diterimanya.
Cari tahu siapa yang memastikan keluargamu tidak pernah menerima pemberitahuan.
Ia belum tahu siapa pengirimnya.
Ia juga belum tahu apakah orang itu benar-benar ingin membantunya atau sekadar mengarahkannya menuju kesimpulan tertentu.
Satu hal yang pasti: seseorang mengetahui lebih banyak daripada yang telah diungkapkan yayasan.
Dan orang itu masih mengawasinya.
Di dalam mobilnya, setelah memastikan Nadira sudah masuk ke rumah, Raka menerima sebuah pesan dari sekretaris ayahnya.
Pak Adrian meminta Anda memeriksa satu berkas tambahan terkait evaluasi program bantuan medis. Berkas tersebut akan disiapkan besok pagi.
Raka membalas bahwa ia akan datang setelah latihan.
Lalu ia menyalakan mesin dan meninggalkan kompleks rumah Nadira.
Ia tidak tahu bahwa berkas yang akan diterimanya besok berkaitan dengan dokumen yang baru saja dibicarakan bersama Nadira.
Ia juga tidak tahu bahwa di ruang arsip yayasan, sebuah amplop lain masih tersimpan di dalam kotak yang belum selesai diperiksa.
Pada bagian belakang amplop itu terdapat sebuah tulisan tangan yang nyaris tidak terbaca.
Jika keluarga Prameswari akhirnya mengetahui kebenarannya, pastikan mereka juga mengetahui siapa yang mengambil keputusan tersebut.
Nama penulisnya tidak tercantum.
Dan untuk saat ini, tidak seorang pun tahu siapa yang menulis kalimat itu.