PACAR KONTRAK SANG KETUA GENG
Fake Dating • Bad Boy • School Romance • Possessive Love
Nadine Kirana tidak pernah berniat terlibat dengan Axel Pratama—ketua kelompok Orbit yang terkenal dingin, sulit diatur, dan selalu mendapatkan apa yang diinginkannya.
Bagi Nadine, hidup sudah cukup rumit. Di tengah kesibukan sekolah dan pekerjaan paruh waktu, dia harus mencari uang untuk biaya perawatan ibunya. Sementara itu, impiannya melanjutkan kuliah di luar kota perlahan terancam oleh keadaan yang tidak bisa dia kendalikan.
Lalu Axel datang membawa tawaran yang tidak masuk akal.
Jadilah pacarku selama sembilan puluh hari, dan aku akan menanggung biaya yang kita sepakati.
Axel membutuhkan pacar pura-pura untuk menggagalkan rencana perjodohan keluarganya. Nadine membutuhkan uang. Kesepakatan itu seharusnya sederhana: berpura-pura saling mencintai di depan orang lain, menaati aturan, lalu berpisah ketika waktunya habis.
Tidak ada perasaan. Tidak ada tuntutan. Tidak ada masa depan bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Payung
Hujan belum juga reda ketika Nadine tiba di depan tempat fotokopi Pak Udin.
Ia berdiri di bawah kanopi sambil memeriksa ponselnya. Ada pesan dari Pak Udin yang mengingatkan bahwa beberapa pesanan harus selesai sore itu. Nadine membalas singkat, lalu setelah selesai bekerja, membuka aplikasi transportasi.
Tarif perjalanan naik hampir dua kali lipat dari biasanya.
Nadine mengembuskan napas.
Ia memeriksa isi dompetnya. Uangnya masih cukup untuk pulang, tetapi ia sedang berusaha menghemat pengeluaran sampai urusan beasiswa selesai. Mengeluarkan uang lebih banyak hanya karena hujan bukan pilihan yang menyenangkan. Ia melihat Axel masih berada di sana.
“Masih menghitung uang?”
Nadine menoleh. Axel berdiri di dekatnya, memegang payung hitam yang sama sejak mereka berjalan dari halte.
“Gue lagi mempertimbangkan pilihan,” jawab Nadine.
“Pilihan antara pulang atau tinggal di sini sampai besok?”
“Kalau hujannya nggak berhenti, pilihan kedua masih masuk akal.”
Axel melirik jalanan yang dipenuhi genangan.
“Gue antar pulang.”
“Nggak usah. Lo sudah mengantar gue sampai sini.”
“Gue tahu.”
“Terus kenapa masih menawarkan?”
“Karena hujannya belum berhenti dan tarif kendaraan sedang mahal.”
Nadine menatapnya, sedikit terkejut mendengar alasan yang begitu praktis.
Biasanya, Axel cenderung menawarkan bantuan seolah-olah keputusan sudah dibuat dan ia hanya menunggu Nadine menurut. Kali ini, ia sekadar menyebutkan pilihan yang tersedia.
Tetap saja, Nadine belum langsung menerima.
“Gue nggak mau merepotkan lo.”
“Lo nggak merepotkan.”
“Axel, gue serius.”
“Gue juga serius.” Ia berhenti sejenak. “Tapi kalau lo lebih nyaman pulang sendiri, gue nggak akan maksa.”
Nadine memandang layar ponselnya sekali lagi. Waktu penjemputan masih cukup lama, sementara hujan justru semakin deras.
Ia akhirnya memasukkan ponselnya ke dalam tas.
“Oke. Gue ikut, tapi turunkan gue di jalan utama dekat minimarket. Dari sana gue bisa lanjut sendiri.”
“Bisa.”
“Dan gue nggak punya kewajiban membalas bantuan ini.”
Axel mengangkat alis.
“Gue cuma menawarkan tumpangan, bukan mengajukan pinjaman.”
“Bagus. Gue cuma memastikan.”
“Semua harus pakai perjanjian tertulis, ya?”
“Kalau sama lo, mungkin perlu.”
Axel menggeleng kecil, tetapi tidak membantah.
Ia mengantar Nadine menuju mobil yang menunggu di dekat ruko. Sebelum masuk, Nadine memastikan map dokumen beasiswanya tersimpan aman di dalam tas.
Axel memperhatikan gerakan itu, lalu membukakan pintu mobil tanpa berkomentar.
Untuk pertama kalinya sore itu, Nadine merasa ia bisa menerima bantuan Axel tanpa harus bersiap menghadapi perdebatan panjang.
Dan ia menyadari bahwa hal itu cukup melegakan.
---
Perjalanan berlangsung pelan karena jalanan licin.
Nadine duduk di kursi belakang, sementara Axel berada di sebelahnya. Di luar jendela, deretan pertokoan tampak kabur di balik air hujan.
Beberapa menit berlalu sebelum Axel membuka percakapan.
“Lo sudah tahu kapan pendaftaran beasiswanya ditutup?”
“Sudah. Gue lagi menyelesaikan dokumen yang kurang.”
“Kalau lolos, berarti lo benar-benar pindah ke luar kota?”
“Kalau semuanya memungkinkan.”
“Lo sudah cari tempat tinggal?”
“Lagi membandingkan asrama sama kos. Gue juga harus menghitung biaya hidup dan memastikan jadwal pemeriksaan Ibu nggak berbenturan dengan urusan pendaftaran.”
Axel mengangguk.
“Banyak yang harus lo pikirkan.”
“Memang. Tapi kalau gue nggak mulai mengurusnya sekarang, semuanya bakal menumpuk nanti.”
Nadine membuka tas, memastikan mapnya masih berada di tempat semula, lalu kembali menyandarkannya di pangkuan.
Axel memperhatikan gerakan itu.
“Lo nggak takut tinggal jauh dari ibu lo?”
Pertanyaan tersebut membuat Nadine terdiam sebentar.
“Takut.”
Jawabannya sederhana, tanpa berusaha menyembunyikan kenyataan.
“Gue takut kalau Ibu butuh gue dan gue nggak bisa langsung pulang. Gue juga belum tahu apakah nanti bisa mengatur semuanya sendiri.”
“Terus kenapa tetap mau pergi?”
Nadine menoleh kepadanya.
“Karena gue juga punya masa depan yang harus gue pikirkan.”
Axel tidak langsung menjawab.
Nadine kembali memandang jendela.
“Gue nggak tahu nanti semuanya bakal berjalan seperti apa. Tapi gue mau mencoba dulu. Kalau ada masalah, gue cari jalan keluarnya ketika masalah itu benar-benar ada.”
“Lo selalu setenang ini kalau ngomongin hal yang bikin lo takut?”
Nadine tertawa pendek.
“Siapa bilang gue tenang? Gue cuma nggak bisa menyelesaikan semuanya dengan panik.”
Axel tersenyum tipis.
“Masuk akal.”
“Tumben.”
“Gue sedang berusaha menjadi orang yang menyenangkan.”
“Perkembangannya masih perlu dievaluasi.”
Axel menoleh kepadanya.
“Lo nggak bisa sekali saja memuji gue?”
“Bisa.”
“Coba.”
Nadine berpura-pura berpikir.
“Makasih sudah mengantar gue.”
“Itu bukan pujian.”
“Ya sudah. Jangan banyak menuntut.”
Axel tertawa kecil.
Percakapan itu terasa ringan. Tidak ada yang sedang berusaha memenangkan perdebatan, dan Nadine tidak perlu mengingatkan Axel tentang batasan setiap beberapa menit.
Ia mulai memahami bahwa berada di dekat Axel tidak selalu melelahkan.
Pikiran itu muncul begitu saja.
Nadine segera mengalihkan perhatian pada pemandangan di luar jendela.
Ia tidak perlu memikirkan hal tersebut lebih jauh.
Mereka masih punya kesepakatan yang jelas, dan ia tidak berniat membiarkan satu perjalanan di tengah hujan mengubah cara pandangnya terhadap hubungan mereka.
“Kalau lo sendiri?” tanya Nadine setelah beberapa saat. “Sudah menentukan mau kuliah di mana?”
Axel menyandarkan punggungnya.
“Belum.”
“Belum tahu universitasnya atau jurusannya?”
“Dua-duanya.”
Nadine menatapnya.
“Bukannya bokap lo sudah menyiapkan beberapa pilihan?”
“Sudah. Tapi semuanya lebih banyak berhubungan dengan bisnis keluarga.”
“Dan lo belum yakin?”
Axel menggeleng.
Ia sempat mempertimbangkan untuk menjawab singkat dan mengalihkan pembicaraan. Membicarakan masa depan bukan kebiasaannya, terlebih dengan seseorang yang mungkin akan pergi jauh setelah lulus.
Namun, Nadine tidak mendesaknya. Gadis itu hanya menunggu.
Akhirnya, Axel berkata, “Gue suka arsitektur.”
Nadine mengangkat alis.
“Serius?”
“Kenapa? Lo pikir gue cuma bisa bikin masalah?”
“Gue nggak bilang begitu.”
“Tapi ekspresi lo bilang begitu.”
Nadine menahan senyum.
“Gue cuma nggak menyangka. Lo suka menggambar bangunan?”
“Iya. Gue suka memikirkan bentuk ruangan, desain rumah, hal-hal seperti itu.”
“Pernah kepikiran kuliah di jurusan arsitektur?”
“Sudah. Tapi gue belum tahu bagaimana menjelaskannya ke bokap tanpa berakhir bertengkar.”
Nadine mengangguk kecil.
Ia tidak langsung mengatakan bahwa Axel harus berani atau bahwa ayahnya pasti akan mengerti. Ia tahu situasi mereka berbeda. Nadine tidak tahu bagaimana rasanya tumbuh dalam keluarga yang sudah menyiapkan masa depan anaknya dengan begitu rinci.
“Kalau lo memang menginginkannya, setidaknya cari tahu apa yang perlu lo persiapkan,” katanya. “Biar nanti lo bisa menjelaskan pilihan lo dengan jelas.”
Axel meliriknya.
“Jadi, gue harus bikin proposal buat bokap sendiri?”
“Kalau perlu.”
“Pacar kontrak atau konsultan pendidikan, sih, lo?”
“Kalau mau konsultasi lebih lanjut, silakan buat janji. Jadwal gue padat.”
Axel menggeleng sambil tersenyum.
“Galak banget.”
“Gue realistis.”
Kali ini, Axel tidak membalas.
Ia memikirkan sketsa yang masih tersimpan di buku catatannya, juga folder hitam dari ayahnya yang belum selesai ia baca. Untuk pertama kalinya, ia mulai mempertimbangkan langkah konkret yang bisa dilakukan, bukan hanya membayangkan pertengkaran yang mungkin terjadi.
“Gue bakal cari tahu soal jurusannya,” katanya akhirnya.
Nadine mengangguk.
“Bagus.”
“Cuma itu?”
“Lo mau gue kasih sertifikat?”
“Minimal tepuk tangan.”
“Jangan kebanyakan berharap.”
Axel tertawa.
Dan untuk beberapa saat, perjalanan yang seharusnya hanya menjadi cara praktis untuk pulang terasa sedikit berbeda.
Bukan karena mereka mengucapkan sesuatu yang istimewa, melainkan karena untuk pertama kalinya, Axel bisa menceritakan keinginannya tanpa merasa harus mempertahankan diri.
Sementara Nadine mulai melihat sisi dirinya yang tidak pernah ditunjukkan ketika ia sedang berusaha mengendalikan keadaan.
Ia tidak tahu apakah sisi itu akan bertahan ketika Axel kembali berhadapan dengan ayahnya.
Namun, setidaknya sore itu, ia telah melihatnya.
---
Mobil berhenti di depan minimarket yang berada di jalan utama dekat tempat tinggal Nadine.
Hujan sudah berubah menjadi gerimis, meskipun langit masih gelap.
“Di sini saja,” kata Nadine.
Axel menoleh ke luar jendela.
“Yakin aman?”
“Yakin. Tempatnya ramai, dan gue bisa lanjut dari sini.”
Axel mengangguk kepada sopirnya.
Setelah mobil berhenti dengan aman, Nadine merapikan tasnya lalu membuka pintu.
“Eh, tunggu.”
Nadine menoleh.
Axel mengambil payung hitam yang tadi digunakan mereka berjalan dari halte.
“Bawa ini.”
“Terus lo?”
“Gue tinggal di mobil.”
Nadine menerima payung itu.
“Gue balikin besok.”
“Ya sudah. Berarti besok gue ambil.”
“Jangan lupa.”
“Yang punya payung siapa, sih?”
Nadine tersenyum kecil.
“Gue cuma memastikan lo nggak lupa.”
“Perhatian banget.”
“Jangan ge-er.”
Axel mengangkat kedua tangan, seolah menyerah.
“Oke, Bu Nadine.”
Nadine turun dari mobil. Sebelum menutup pintu, ia kembali menoleh.
“Makasih buat tumpangannya.”
“Sama-sama. Hati-hati.”
“Lo juga.”
Pintu tertutup, dan mobil mulai bergerak meninggalkan tempat itu.
Nadine berdiri di bawah atap minimarket, memperhatikan mobil tersebut sampai menghilang di tikungan.
Kemudian, ia membuka payung dan berjalan menuju tempat angkutan biasa lewat.
Tidak ada yang istimewa dari sore itu.
Axel hanya mengantarnya pulang. Mereka membicarakan kuliah, saling meledek, lalu berpisah.
Seharusnya sesederhana itu.
Namun, sepanjang perjalanan pulang, Nadine beberapa kali teringat percakapan mereka.
Terutama ketika Axel bercerita tentang arsitektur.
Ia tidak pernah membayangkan bahwa di balik sikap keras kepala dan kebiasaannya mengatur keadaan, Axel memiliki keinginan yang selama ini bahkan sulit ia bicarakan kepada keluarganya sendiri.
Nadine tidak tahu harus berbuat apa dengan informasi itu.
Jadi, ia memutuskan untuk tidak memikirkannya terlalu jauh.
---
Malam harinya, setelah membantu Ratih menyiapkan makan malam dan merapikan beberapa pekerjaan rumah, Nadine masuk ke kamarnya.
Ia meletakkan tas di samping meja, mengeluarkan map dokumen beasiswa, lalu memeriksa kembali isinya.
Semua dokumen aman.
Nadine menghela napas lega.
Setidaknya, satu urusan selesai untuk hari ini.
Ketika hendak menggantung tasnya, ia melihat payung hitam bersandar di dekat pintu.
Nadine terdiam.
Lalu ia mengingat percakapan di depan minimarket.
Gue balikin besok.
kalau lupa mengembalikannya.
“Ya ampun.”
Nadine mengambil payung itu, memeriksa gagangnya, lalu meletakkannya di samping tas sekolah agar tidak tertinggal besok pagi.
Ponselnya bergetar.
Axel: Sudah sampai rumah?
Nadine: Sudah.
Axel: Dokumen lo aman?
Nadine: Aman. Nggak ada yang basah.
Axel: Bagus. Kalau sampai rusak, gue bisa kena ceramah satu bab.
Nadine tersenyum.
Nadine: Memangnya lo takut sama gue?
Axel: Gue menghargai kemampuan lo membuat orang menyesali keputusan mereka.
Nadine tertawa kecil.
Nadine: Berarti lo mulai belajar.
Axel: Sayangnya, iya.
Nadine membaca percakapan itu sekali lagi sebelum meletakkan ponselnya.
Matanya kembali tertuju pada payung hitam di samping tas.
Ia teringat cara Axel memiringkan payung agar air tidak mengenai mapnya. Ia juga teringat bagaimana Axel mendengarkan ketika ia bercerita tentang universitas yang ingin dituju, tanpa berusaha mengubah keputusannya.
Hal-hal kecil.
Tidak ada yang bisa dijadikan alasan untuk menganggap hubungan mereka berubah.
Namun, tanpa sadar, Nadine tersenyum lagi.
Ia segera menghentikan senyumnya sendiri.
“Jangan aneh-aneh, Nadine,” gumamnya. “Ini cuma payung.”
Ia mematikan layar ponsel, lalu kembali merapikan dokumen beasiswanya.
Besok ia harus mengembalikan payung itu.
Itu saja.
Setidaknya, itulah yang ia katakan kepada dirinya sendiri sebelum mematikan lampu kamar.
Sementara payung hitam itu tetap bersandar di samping tasnya, menunggu untuk dikembalikan kepada pemiliknya.
Dan Nadine tidak tahu mengapa, tetapi memikirkan pertemuan singkat mereka besok membuatnya tersenyum sekali lagi.