Celine Wang pernah percaya bahwa cinta mampu mengubah hati seorang pria yang dingin.
Selama tiga tahun pernikahannya dengan Alexander Wu, pewaris keluarga konglomerat Wu Group, Celine berusaha menjadi istri yang sempurna. Ia merawat rumah mereka, mendampingi Alexander ketika menghadapi kesulitan, dan diam-diam membantu menyelamatkan perusahaan suaminya dari krisis keuangan.
Namun, semua pengorbanannya tidak pernah dianggap berarti.
Bagi Alexander, Celine hanyalah wanita biasa yang beruntung mendapatkan tempat di keluarga Wu. Terlebih lagi, kehadiran Evelyn Zhao, cinta pertama Alexander yang kembali ke Shanghai, perlahan menghancurkan rumah tangga mereka.
Atas hasutan Evelyn dan tekanan keluarganya, Alexander menuduh Celine sebagai wanita yang tidak tahu diri, menandatangani surat perceraian, lalu mengusirnya dari rumah tanpa memberinya kesempatan menjelaskan kebenaran.
Pada malam yang sama, Celine mengetahui bahwa sebagian besar penderitaan yang dialaminya bukanlah kebetulan. Ada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 (B) — TAWARAN DARI PRIA MISTERIUS
Harga Sebuah Kesempatan
Adrian Shen mendorong map hitam ke hadapan Celine.
“Saya ingin menawarkan kerja sama kepada Anda, Nona Wang.”
... ...
Celine tidak langsung menyentuh map tersebut.
“Kerja sama seperti apa?”
“Saya ingin Anda bergabung dengan perusahaan investasi saya sebagai konsultan strategis. Anda akan memiliki akses ke sejumlah proyek besar di Shanghai, termasuk beberapa perusahaan yang memiliki hubungan bisnis dengan Wu Group.”
Nama itu membuat tatapan Celine berubah.
Wu Group.
Bahkan setelah perceraian mereka, nama Alexander masih mengikuti ke mana pun ia melangkah.
“Apakah Anda sengaja memilih saya karena saya mantan istri Alexander Wu?” tanyanya tajam.
Adrian tidak tersinggung. Ia justru tampak menghargai pertanyaan tersebut.
“Jika saya hanya membutuhkan seseorang yang memiliki hubungan dengan Alexander, saya bisa menghubungi puluhan orang lain. Saya memilih Anda karena kemampuan Anda.”
“Kalau begitu, mengapa Anda tidak menawarkan pekerjaan ini kepada saya tanpa mengungkit masalah keluarga Shen dan Wu?”
Adrian terdiam sesaat.
“Karena kedua hal itu ternyata saling berhubungan.”
Ia membuka map tersebut dan memperlihatkan sebuah laporan keuangan. Beberapa transaksi ditandai dengan tinta merah. Di bagian bawah terdapat nomor yang langsung dikenali Celine.
Nomor yang sama dengan catatan peninggalan ibunya.
Celine mengambil dokumen itu, lalu membaca setiap baris dengan saksama.
“Dari mana Anda memperoleh laporan ini?”
“Arsip keluarga saya.”
“Dan Anda baru memperlihatkannya sekarang karena ingin saya menerima tawaran Anda?”
“Tidak.” Adrian menatapnya lurus. “Saya memperlihatkannya karena Anda berhak mengetahui bahwa penyelidikan kita mungkin mengarah pada orang-orang yang masih memiliki kekuasaan besar.”
Celine meletakkan dokumen tersebut.
“Jangan menyebutnya penyelidikan kita. Saya bahkan belum memutuskan apakah saya bisa mempercayai Anda.”
“Bagus,” jawab Adrian tenang. “Jangan percaya kepada saya hanya karena saya menawarkan bantuan.”
Jawaban itu membuat Celine terdiam.
Adrian kemudian mengeluarkan selembar dokumen kontrak.
“Baca semuanya sebelum memutuskan. Tidak ada kewajiban bagi Anda untuk menerima.”
Celine membuka halaman pertama. Gaji yang ditawarkan cukup besar untuk membiayai hidupnya selama berbulan-bulan. Posisi itu juga memberinya kebebasan untuk mengembangkan strategi investasi sendiri.
Namun, pada halaman terakhir, ia menemukan sebuah klausul yang membuatnya mengerutkan kening.
Pihak konsultan diwajibkan melaporkan setiap potensi konflik kepentingan yang berkaitan dengan perusahaan-perusahaan dalam portofolio Adrian.
Di bawah klausul tersebut, terdapat daftar perusahaan yang sedang menjadi target investasi.
Salah satunya adalah perusahaan pemasok utama Wu Group.
Celine mengangkat wajah.
“Jika saya menerima pekerjaan ini, saya mungkin harus terlibat dalam transaksi yang dapat merugikan perusahaan Alexander.”
“Jika transaksi itu sah dan menguntungkan klien saya, saya berharap Anda memberikan analisis profesional yang jujur.”
“Dan jika transaksi itu sengaja dirancang untuk menghancurkan Wu Group?”
“Kalau begitu, saya ingin Anda menemukan buktinya.”
Celine menyipitkan mata.
“Jadi, Anda ingin saya menjadi konsultan investasi sekaligus menyelidiki keluarga Wu?”
“Saya ingin Anda melakukan pekerjaan Anda dengan benar. Jika dalam prosesnya Anda menemukan bukti yang relevan, kita akan menanganinya melalui jalur hukum.”
Jawaban Adrian terdengar masuk akal. Namun, Celine tahu bahwa dalam dunia bisnis, kata-kata yang terdengar benar tidak selalu menyembunyikan niat yang benar.
Ia kembali membaca kontrak itu.
“Jika saya menolak?”
“Anda tetap boleh membawa salinan laporan yang sudah saya berikan. Saya tidak akan menahan Anda di sini.”
“Dan jika saya menerima, apakah Anda akan memberi saya akses ke seluruh dokumen tentang Shengyuan Financial Group?”
“Dokumen yang secara hukum dapat saya bagikan, ya. Tetapi saya tidak akan menjanjikan sesuatu yang belum bisa saya pastikan.”
Celine menutup map tersebut.
“Saya punya satu syarat.”
Adrian mengangkat alis.
“Katakan.”
“Saya tidak akan menjadi alat untuk membalas dendam kepada Alexander. Saya juga tidak akan membantu Anda menghancurkan Wu Group hanya karena Anda memiliki masalah dengan keluarga mereka. Jika saya menemukan bukti kejahatan, saya akan menyerahkannya kepada pihak berwenang. Tetapi jika yang Anda inginkan hanyalah menjatuhkan pesaing bisnis, saya tidak tertarik.”
Untuk pertama kalinya, senyum Adrian tampak lebih tulus.
“Itulah alasan saya ingin bekerja dengan Anda.”
“Jangan mencoba mengambil hati saya dengan pujian.”
“Saya tidak sedang memuji Anda, Nona Wang. Saya sedang memastikan bahwa kita memahami batas masing-masing.”
Celine hampir menjawab ketika ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
Ia membukanya.
Seketika, wajahnya kehilangan warna.
Pesan itu hanya berisi satu foto.
Foto Daniel Zhou sedang keluar dari gedung kantornya pada sore hari.
Di bawahnya tertulis:
Berhentilah mencari nama yang sudah dihapus dari sejarah. Orang berikutnya yang kehilangan segalanya mungkin bukan keluargamu, melainkan orang yang membantumu.
Jari Celine mendingin.
“Siapa yang mengirimnya?” tanya Adrian.
Celine segera mematikan layar ponselnya.
“Bukan urusan Anda.”
Adrian tidak memaksa. Namun, ia memperhatikan perubahan pada wajah Celine.
“Seseorang mengancam Anda?”
“Saya bisa mengurusnya sendiri.”
“Bisa jadi. Tetapi jika orang itu mengetahui tempat Anda bertemu saya, berarti dia mungkin juga mengetahui bahwa Anda sedang menyelidiki Shengyuan.”
Celine berdiri mendadak.
“Saya tidak akan menerima tawaran yang membuat orang-orang di sekitar saya menjadi sasaran.”
Adrian ikut berdiri, tetapi tidak menghalangi jalannya.
“Celine, dengarkan saya. Menolak pekerjaan ini tidak menjamin orang itu akan berhenti mengancam Anda. Dia sudah mengetahui bahwa Anda membuka brankas keluarga Wang.”
Celine menatap Adrian dengan mata menyala.
“Jadi, menurut Anda saya harus menerima pekerjaan Anda agar bisa melindungi diri sendiri?”
“Tidak. Saya ingin Anda memahami bahwa ancaman itu sudah ada sebelum kita bertemu malam ini.”
Kata-kata tersebut menghantam Celine karena ia tahu Adrian mungkin benar.
Sejak membuka brankas ibunya, seseorang telah mengawasinya. Ancaman itu tidak muncul karena tawaran pekerjaan ini, tetapi karena ia telah mendekati rahasia yang selama bertahun-tahun disembunyikan.
Celine kembali duduk perlahan.
“Apa yang sebenarnya Anda ketahui tentang kematian Shen Guowei?”
Adrian terdiam cukup lama sebelum menjawab.
“Kakek saya meninggal setelah sebuah kecelakaan yang menurut keluarga kami tidak pernah dijelaskan secara tuntas. Sebelum meninggal, ia mengatakan bahwa seseorang telah mengambil sesuatu yang bukan haknya.”
“Apa yang diambil?”
“Bukti kepemilikan aset Shengyuan.”
Celine merasakan jantungnya berdegup lebih cepat.
“Dan Anda percaya keluarga Wu yang mengambilnya?”
“Saya percaya ada seseorang yang memperoleh keuntungan dari hilangnya bukti tersebut. Saya belum tahu siapa yang bertanggung jawab.”
“Apakah Anda pernah mempertimbangkan kemungkinan bahwa keluarga Anda sendiri terlibat?”
Adrian menatapnya tanpa menghindar.
“Ya.”
Jawaban itu membuat Celine terkejut.
“Saya tidak ingin mencari kambing hitam,” lanjut Adrian. “Saya ingin mengetahui kebenarannya, sekalipun kebenaran itu menghancurkan nama keluarga saya sendiri.”
Untuk beberapa saat, keduanya hanya saling memandang.
Celine teringat pesan ibunya tentang keberanian. Ia juga teringat tahun-tahun ketika dirinya mengorbankan segalanya demi mempertahankan pernikahan yang akhirnya tidak mampu menyelamatkannya.
Ia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama dengan menyerahkan kepercayaannya kepada orang asing hanya karena membutuhkan pertolongan.
Namun, ia juga tidak bisa terus bersembunyi sambil berharap semua rahasia itu akan terungkap dengan sendirinya.
Akhirnya, Celine mengambil pena.
“Saya akan menerima posisi konsultan investasi Anda selama tiga bulan sebagai masa percobaan.”
Adrian mengangguk.
“Baik.”
“Semua keputusan investasi harus berdasarkan analisis yang bisa saya pertanggungjawabkan. Saya berhak menolak proyek yang menurut saya melanggar hukum. Dan saya tidak akan menyerahkan dokumen asli peninggalan ibu saya kepada siapa pun tanpa alasan hukum yang jelas.”
“Setuju.”
“Selain itu, saya ingin salinan seluruh dokumen yang Anda miliki tentang transaksi nomor 0917.”
Adrian menatapnya sejenak sebelum mengangguk kembali.
“Saya akan meminta tim hukum menyiapkannya.”
Celine menandatangani kontrak tersebut.
Ujung pena berhenti bergerak setelah tanda tangannya selesai.
Ia baru saja mengambil langkah pertama untuk membangun hidupnya kembali. Namun, alih-alih merasa lega, ia justru merasakan beban baru di pundaknya.
Ia tidak tahu apakah Adrian akan menjadi sekutu atau seseorang yang kelak harus dihadapinya.
Yang ia tahu, keputusan ini akan membawanya semakin dekat kepada rahasia yang mungkin telah menghancurkan keluarganya.
Adrian mengulurkan tangan.
“Selamat bergabung, Celine.”
Celine menyambutnya dengan genggaman singkat.
“Jangan membuat saya menyesali keputusan ini.”
“Saya akan berusaha tidak melakukannya.”
Ketika Celine keluar dari ruang pertemuan, ia tidak menyadari bahwa seorang pria berdiri di dekat lift sambil mengamati dari kejauhan.
Pria itu mengangkat ponsel dan memotret Celine yang berjalan menuju lobi.
Beberapa detik kemudian, sebuah pesan terkirim kepada seseorang.
Dia menerima tawaran Adrian Shen.
Balasan datang hampir seketika.
Kalau begitu, mulai sekarang kita tidak bisa lagi membiarkannya bergerak bebas.
Di kediaman keluarga Wu, Alexander menerima foto yang sama.
Ia menatap layar ponselnya dengan rahang mengeras. Di dalam foto itu, Celine berdiri di samping Adrian, membawa map hitam yang sama dengan yang terlihat dalam laporan penyelidikan keluarga Wang.
Alexander tahu ia tidak berhak mempertanyakan keputusan mantan istrinya.
Namun, ketika membaca nama Adrian Shen, ia teringat peringatan ayahnya tentang pria itu beberapa bulan sebelumnya.
Jangan pernah meremehkan keluarga Shen.
Alexander segera menelepon sekretarisnya.
“Cari tahu semua yang bisa kita dapatkan tentang kerja sama antara Adrian Shen dan Celine Wang.”
“Baik, Tuan Wu.”
“Dan jangan biarkan siapa pun mengetahui bahwa kita sedang menyelidikinya.”
Setelah panggilan berakhir, Alexander kembali menatap foto tersebut.
Ia telah membiarkan Celine pergi karena mengira wanita itu tidak lagi memiliki tempat dalam kehidupannya.
Kini, Celine justru memasuki dunia bisnis yang sama dengannya, berdiri di samping seorang pria yang memiliki kekuatan untuk menantang Wu Group.
Alexander mengepalkan tangannya.
Ia belum menyadari bahwa keputusan Celine menerima tawaran itu bukanlah awal dari usaha untuk merebut kembali dirinya.
Itu adalah awal dari kehidupan yang tidak lagi membutuhkan Alexander Wu.
Dan ketika kebenaran tentang Shengyuan akhirnya terungkap, mungkin bukan hanya keluarga Wu yang akan kehilangan segalanya.
Mungkin juga Celine akan menemukan alasan untuk membenci pria yang pernah dicintainya lebih dalam daripada sebelumnya.