NovelToon NovelToon
Pernikahan Kontrak Sang CEO Posesif

Pernikahan Kontrak Sang CEO Posesif

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: S RIANA

Tanda tangani ini. Ingat, kita menikah hanya di atas kertas. Jangan pernah bermimpi aku akan menyentuhmu, apalagi mencintaimu!"

Demi melunasi biaya pengobatan ibunya yang kritis, Naura Ayu terpaksa menjual kebebasannya. Dia setuju menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Adrian Mahendra, seorang CEO tampan yang terkenal dingin, kejam, dan tidak tersentuh wanita.

Bagi Adrian, Naura hanyalah 'istri pajangan' demi memuaskan tuntutan sang kakek agar posisinya sebagai pewaris tahta perusahaan aman.Awalnya, semua berjalan sesuai kesepakatan. Mereka hidup dalam dinding pembatas yang dingin. Namun, pesona Naura yang mandiri, tegar, dan tidak silau akan hartanya perlahan mulai mengusik pertahanan hati Adrian.

Saat kontrak hampir berakhir dan Naura bersiap untuk pergi, Adrian justru mengunci pintu rapat-rapat. Tatapan dingin pria itu berubah menjadi kilat obsesi yang membara."Siapa yang mengizinkanmu pergi? Kontrak bisa berakhir, tapi kamu... selamanya milikku!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Batasan yang hampir runtuh

Jantung Naura berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya. Suasana malam yang sunyi berpadu dengan langkah kaki Adrian yang lambat namun pasti membuat atmosfer di lobi mendadak terasa mencekam. Gadis itu refleks mundur satu langkah, mengeratkan cengkeraman tangannya pada gelas susu hangat yang dipegangnya.

Adrian berhenti tepat satu jengkal di hadapan Naura. Bau alkohol yang menguar dari napas pria itu bercampur dengan aroma parfum maskulin yang tajam seketika memenuhi indra penciuman Naura. Tatapan mata Adrian yang biasanya setajam elang kini tampak sayu akibat kelelahan dan pengaruh minuman, namun kilat di dalamnya justru terasa jauh lebih intens dan membakar.

Mata pria itu perlahan turun, menelusuri setiap lekuk tubuh Naura yang terbalut gaun tidur satin putih tipis. Di bawah temaram lampu lobi, gaun itu jatuh dengan pas di tubuh ramping Naura, memperlihatkan garis leher dan lekuk pinggangnya dengan sangat jelas. Adrian menelan ludah secara refleks. Sesuatu di dalam dadanya mendadak bergejolak, meruntuhkan logika dingin yang selalu dia agungkan.

"T-Tuan Adrian... Anda mabuk. Sebaiknya Anda segera beristirahat," ucap Naura dengan suara yang sedikit bergetar, mencoba memecah keheningan yang mengintimidasi ini.

Adrian tidak menjawab. Alih-alih menjauh, dia justru memajukan tubuhnya. Tangan kanannya bergerak cepat, mencengkeram pergelangan tangan Naura yang bebas, lalu mendorong gadis itu perlahan hingga punggung Naura kembali membentur dinding marmer yang dingin.

Ting.

Sendok kecil di dalam gelas susu Naura berdenting karena guncangan. Naura menahan napas. Wajah Adrian kini hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya. Dia bisa merasakan kehangatan yang menjalar dari tubuh besar pria itu.

"Siapa yang mengizinkanmu memakai pakaian seperti ini di luar kamar, hm?" suara Adrian terdengar lebih berat dan serak dari biasanya, berbisik tepat di depan bibir Naura.

"Ini... ini kan pakaian yang dibeli desainer pilihan Anda tadi siang, Tuan," balas Naura, mencoba membela diri meski suaranya ketakutan. Dia berusaha menarik pergelangan tangannya, namun kekuatan Adrian jauh di atasnya. Cengkeraman itu tidak menyakitkan, namun sangat mengunci.

Adrian mendengus tipis, matanya terpaku pada bibir Naura yang sedikit terbuka. Pikiran pria itu berkecamuk. Mengapa gadis miskin yang awalnya dia anggap sebagai pajangan ini bisa terlihat begitu memikat malam ini? Mengapa kata-kata sombong yang dia ucapkan dua hari lalu tentang 'jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu' mendadak terasa seperti batu besar yang menyumbat tenggorokannya sendiri?

Tangan kiri Adrian terangkat perlahan. Jari-jemarinya yang panjang dan hangat menyentuh dagu Naura, menaikkan wajah gadis itu agar menatap langsung ke matanya. Ibu jari Adrian bergerak lembut, mengusap sudut bibir Naura dengan gerakan yang terkesan sangat intim.

"Kau sengaja ingin memancingku, Naura Ayu?" bisik Adrian lagi, matanya menggelap penuh kilat obsesi yang berbahaya. Wajahnya mulai merunduk, mengikis jarak yang tersisa di antara bibir mereka.

Naura memejamkan matanya rapat-rapat. Ketakutan sekaligus sensasi aneh yang belum pernah dia rasakan sebelumnya membuat tubuhnya gemetar. Namun, tepat sebelum bibir Adrian menyentuh miliknya, bayangan kalimat kejam Adrian di ruang kerja kembali terlintas di benak Naura. 'Di mataku, kau tidak lebih dari sebuah pajangan yang bergerak.'

Kesadaran Naura tersentak. Rasa perih di harga dirinya seketika membakar energinya kembali. Dengan sekuat tenaga, Naura menggunakan tangan yang memegang gelas untuk mendorong dada bidang Adrian, menjaga jarak di antara mereka.

"Cukup, Tuan Adrian!" seru Naura tegas, matanya terbuka dan menatap Adrian dengan binar kemarahan serta harga diri yang terluka. "Ingat aturan Anda sendiri! Anda bilang kita hanya menikah di atas kertas dan Anda tidak akan pernah sudi menyentuh saya. Jangan biarkan alkohol membuat Anda melanggar ucapan Anda yang terhormat itu!"

Kata-kata Naura bagaikan siraman air es yang langsung memadamkan api di kepala Adrian. Pria itu terpaku. Perlahan, kilat sayu di matanya menghilang, digantikan oleh kesadaran yang kembali pulih. Adrian menatap Naura yang sedang terengah-engah menahan amarah di depannya, lalu menatap tangannya sendiri yang masih mencengkeram dagu dan pergelangan tangan gadis itu.

Adrian melepaskan cengkeramannya dengan sentakan kasar, seolah-olah dia baru saja menyentuh sesuatu yang panas. Dia mundur dua langkah, membelakangi Naura sambil memijat pelipisnya yang mendadak terasa pening. Sial. Dia hampir saja kehilangan kendali atas dirinya sendiri hanya karena seorang gadis miskin.

"Kembali ke kamarmu sekarang," perintah Adrian dingin, suaranya kembali datar dan ketat tanpa emosi, sangat berbeda dengan suaranya beberapa detik lalu. "Dan jangan pernah berkeliaran di malam hari dengan pakaian seperti itu lagi."

Naura tidak membalas. Tanpa membuang waktu, dia langsung melangkah cepat melewati Adrian, menaiki anak tangga satu per satu dengan setengah berlari tanpa menoleh lagi ke belakang. Begitu sampai di dalam kamarnya, Naura langsung mengunci pintu penghubung dari sisinya rapat-rapat, mengabaikan ancaman Adrian semalam. Dadanya naik turun, tangannya memegangi jantungnya yang masih berdetak liar.

Malam itu, Naura bersumpah akan menjaga jarak sejauh mungkin dari CEO gila itu.

Sementara di lobi bawah, Adrian masih berdiri mematung. Dia menatap telapak tangannya yang masih menyisakan kehangatan dari kulit Naura. Pria itu mengumpat lirih dalam hati, merasa sangat murka pada dirinya sendiri karena telah menunjukkan kelemahan di depan wanita yang dia beli.

Keesokan harinya, atmosfer di antara mereka berubah menjadi sangat canggung dan jauh lebih dingin. Adrian berangkat kerja sangat pagi bahkan sebelum Naura bangun, dan pulang larut malam hanya untuk langsung mengunci diri di kamarnya sendiri. Pintu penghubung di antara kamar mereka tetap tertutup rapat, menjadi batas tak kasat mata yang tidak berani dilewati oleh keduanya.

Tiga hari berlalu dalam keheningan yang menegangkan itu, hingga tibalah hari yang paling dihindari oleh Naura. Hari perjamuan makan malam keluarga besar Mahendra.

Sore itu, kamar Naura kembali dipenuhi oleh para penata rias. Sesuai dengan pilihan Adrian sebelumnya, Naura mengenakan gaun beludru biru tua dengan potongan sabrina yang elegan. Rambut hitamnya disanggul modern dengan menyisakan beberapa helai yang membingkai wajahnya yang cantik. Riasan wajahnya dibuat natural namun tetap memancarkan aura anggun seorang wanita berkelas.

Saat Naura turun ke lobi bawah, Adrian sudah menunggu di sana. Pria itu mengenakan setelan jas hitam formal dengan dasi yang senada dengan warna gaun Naura. Ketika mendengar suara langkah sepatu hak tinggi Naura, Adrian mendongak.

Pria itu sempat tertegun selama beberapa detik saat melihat penampilan Naura. Gadis yang biasanya tampak kusam dan sederhana itu kini menjelma menjadi wanita yang luar biasa cantik dan memikat, bahkan mampu menyaingi para wanita sosialita papan atas. Namun, Adrian dengan cepat menguasai ekspresi wajahnya kembali menjadi datar.

"Ingat, malam ini kakekku dan seluruh anggota keluarga besar akan hadir. Kau hanya perlu tersenyum, bersikap ramah, dan ikuti semua alurku. Jangan membuat kesalahan sedikit pun yang bisa memicu kecurigaan," ucap Adrian datar saat Naura sudah berdiri di dekatnya.

"Saya tahu tugas saya, Tuan," jawab Naura pendek tanpa ekspresi.

Adrian mengulurkan lengan kanannya. Naura menatap lengan itu sejenak dengan ragu, lalu perlahan melingkarkan tangannya di sana. Mereka melangkah keluar menuju mobil yang sudah siap mengantar mereka ke kediaman utama keluarga Mahendra.

Sepanjang perjalanan di dalam mobil mewah yang sunyi, tidak ada percakapan di antara mereka. Naura menatap keluar jendela dengan cemas, memikirkan apa yang akan dia hadapi nanti. Dia tahu, masuk ke dalam keluarga konglomerat seperti Mahendra tidak akan pernah berjalan mudah, instingnya mengatakan bahwa malam ini akan menjadi awal dari ujian yang sesungguhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!