NovelToon NovelToon
Benci Jadi Cinta

Benci Jadi Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Cinta Seiring Waktu / Mafia / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: bubu1234

yuna adalah perempuan cantik mandiri, dan cantik dipaksa nikah dengan Marco hanya karena kesepakatan bisnis keluarga nya
Marco adalah laki-laki yang dinggin,cuek,dan dikenal sebagai raja mafia yang namanya disegani bahkan ditakuti diseluruh dunia baginya hidup hanyalah tentang kekuatan, kekuasaan,dan kekayaan semua orang memanggil nya "Qing"
Yuna memiliki 2 sahabat terbaik nya bernama Yona dan jisoo

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bubu1234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

benci jadi cinta (bab 4 )

Pagi itu Marco terbangun lebih awal dari biasanya. Saat matanya terbuka, dia melihat Yuna tertidur di kursi kayu di samping sofa tempat dia beristirahat. Wajahnya pucat, matanya sedikit bengkak — jelas dia tidak tidur semalaman. Hati Marco berdenyut aneh, tapi secepat itu datang, dia langsung menepis perasaan itu, bangkit berdiri dengan kasar.

"Bangun," suaranya tajam.

Yuna tersentak terjaga, segera berdiri. "Kamu sudah bangun? Bagaimana perasaanmu? Apakah lukanya sakit?"

"Pergilah. Aku tidak butuh belas kasihanmu." Marco memalingkan wajah, menutup kembali tembok tinggi di hatinya. "Dan jangan pernah anggap apa yang terjadi semalam membuat kita jadi berbeda. Ini tetap perjanjian. Tidak lebih."

Yuna menunduk, menelan rasa perih. "Baik. Aku mengerti."

Tiga hari berlalu. Keadaan terasa tenang, tapi itu hanyalah kedamaian sebelum badai sesungguhnya datang.

Siang itu Yuna sedang menunggu di lobi kediaman Marco. Dia berencana menelepon Yona dan Jisoo, namun tiba-tiba deru mobil liar terdengar mendekat. Belum sempat dia bersembunyi, dua mobil hitam berhenti dengan mendadak. Lima orang bertopeng melompat keluar, senjata di tangan mereka.

"Di mana Qing?!" bentak salah satu dari mereka.

Yuna terpaku. Tubuhnya gemetar, tapi dia tahu satu hal — jika mereka menemukan Marco di dalam, tidak akan ada pertempuran yang adil. Lukanya belum sembuh sempurna. Dia belum siap melawan.

Pintu utama terbuka lebar. Marco berdiri di sana, wajahnya tegas, namun matanya sedikit meringis menahan sakit. Dia sendirian. Dia sengaja menyuruh semua pengawalnya pergi agar Yuna tidak tahu betapa berbahayanya dunianya.

"Lepaskan dia. Urusan kalian denganku," ucap Marco dingin, melangkah maju.

"Kalau begitu, pilihlah — nyawamu… atau nyawa istrimu!" Salah satu penyerang menodongkan senjata tepat ke arah dada Yuna.

Detik itu waktu seakan berhenti. Marco terhenti. Untuk pertama kalinya, ketenangannya retak. Matanya melebar, terkejut, cemas — dan itu hanya membuat musuhnya semakin tersenyum licik.

Tangan orang itu menekan pelatuknya.

DOR!!

Tanpa berpikir dua kali, Yuna melompat ke depan. Dia mendorong Marco dengan sekuat tenaga, lalu berdiri tegak di tempat dia berdiri sedetik sebelumnya.

Rasa panas yang tajam menembus bahu kirinya. Tubuhnya tersentak, lalu perlahan lututnya melemah.

"YUUNAAA!!"

Jeritan itu keluar dari mulut Marco — bukan sebagai Qing yang ditakuti, tapi sebagai seorang lelaki yang ketakutan. Dia menangkap tubuh Yuna sebelum jatuh ke lantai. Matanya yang biasanya dingin kini basah, penuh kepanikan yang tak bisa disembunyikan.

"Kamu bodoh… kenapa kamu melakukan itu?! Kenapa kamu tidak lari?!" tangannya menekan luka di bahu Yuna, gemetar hebat.

"Kamu… tidak boleh mati…" napas Yuna tersengal, darah merembes di antara jari-jarinya. "Dunia ini… butuh kamu… dan aku… tidak bisa melihatmu terluka lagi…

Amarah meledak di dalam diri Marco. Dia menatap para penyerang yang masih terpaku terkejut melihat pengorbanan itu. Dengan satu gerakan cepat, dia mengambil alih senjata di dekatnya, dan dalam hitungan detik, situasi berbalik. Musuh-musuhnya lari ketakutan, tapi Marco tidak mengejarnya. Dia tidak peduli lagi pada mereka.

Satu-satunya hal yang penting di dunia ini saat ini… ada di pelukannya.

"Jangan menutup matamu, dengar aku! Tetaplah sadar! Bantuan akan segera datang!" Marco mengangkat tubuh Yuna dengan lembut, berlari secepat kilat ke arah mobilnya. Air mata jatuh di pipinya — air mata yang belum pernah tumpah sejak dia kecil. "Kamu tidak boleh pergi… Aku melarangmu pergi, Yuna! Dengar aku, aku butuh kamu! Aku… aku belum sempat meminta maaf… aku belum sempat bilang terima kasih…"

Yuna tersenyum lemah, tangannya yang dingin menyentuh pipinya.

"Jangan… menangis… Qing yang aku kenal… tidak akan menangis…"

"Namaku Marco! Namaku Marco untukmu saja! Tetaplah bersamaku, kumohon…!"

Mobil melaju membelah jalanan secepat kilat, menuju rumah sakit terdekat. Marco memeluknya erat, berdoa — sesuatu yang sudah lama tidak dia lakukan. Dia menyadari sesuatu yang terlambat dia ketahui: dia bisa menghadapi musuh terbesar sekalipun dengan berani, tapi kehilangan Yuna… adalah satu-satunya hal yang tidak akan sanggup dia hadapi.

BERSAMBUNG...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!