Shen Ruozi, mahasiswi kedokteran modern yang super judes dan matre, terlempar ke zaman kuno dan terpaksa tinggal di gua. Ogah hidup miskin, ia berniat menjadi juragan obat kaya raya memanfaatkan ilmu medis abad ke-21 miliknya.
Takdirnya berubah kocak saat ia menyelamatkan Long Tianxu, Jenderal Besar berwajah kaku seperti papan tripleks yang sekarat karena racun kronis. Bukannya tunduk pada wibawa sang Dewa Perang, Ruozi malah menjadikannya asisten magang tanpa gaji, buruh numbuk jamu, hingga investor paksaan untuk mendanai apotek barunya di ibu kota!
Menghadapi musuh politik kekaisaran dengan modal lencana emas Jenderal, tabib matre yang tidak pernah mau rugi ini siap mengguncang dunia medis kuno!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heldahell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 17: Detak jantung sang dewa perang dan bisnis terselubung
Mata Shen Ruozi hampir saja keluar dari rongganya melihat kain sutra tebal di atas meja. Akta sewa ruko tiga lantai di pusat pasar utama ibu kota kini resmi berada di tangannya. Otak bisnisnya yang canggih langsung berputar, membayangkan pundi-pundi emas yang akan mengalir deras ke kantongnya. Baru hari kedua di kediaman ini, dan langkah menjadi juragan apotek sudah di depan mata!
"Wah, Mas Jenderal, ternyata di balik muka tripleksmu itu, ada bakat jadi malaikat penolong juga ya!" seru Ruozi girang, langsung menyambar kain sutra itu dan memeluknya erat seolah takut terbang ditiup angin.
Long Tianxu hanya mendengus dingin melihat kelakuan ajaib gadis di depannya. "Jangan senang dulu, Shen Ruozi. Aku tidak memberikan itu secara cuma-cuma. Sebagai gantinya, kau harus..."
"Eh, sebentar," potong Ruozi tiba-tiba. Suaranya yang tadi ceria mendadak turun beberapa oktaf. Matanya yang jeli menangkap sesuatu yang tidak beres pada gerak-gerik sang Dewa Perang.
Saat Tianxu melangkah lebih dekat, Ruozi melihat ada sedikit getaran halus di ujung jari pria itu, dan warna bibirnya yang biasanya kemerahan tampak sedikit keunguan di bawah terik matahari siang. Napas pria itu juga terdengar terlalu berat untuk ukuran seorang master bela diri tingkat tinggi.
Tanpa permisi, Ruozi langsung menyambar pergelangan tangan kekar Long Tianxu.
"Lancang! Apa yang kau lakukan?!" desis Tianxu. Auranya langsung menegang, dan secara refleks ia ingin menarik tangannya kembali. Namun, Ruozi menahannya dengan cengkeraman yang luar biasa pas pada titik nadinya.
"Diam dulu bisa tidak, Mas? Aku lagi mode dokter ini, jangan banyak gerak!" semprot Ruozi galak.
Tianxu entah mengapa terpaku. Belum pernah ada satu orang pun di kekaisaran ini bahkan Kaisar sekalipun yang berani membentaknya dengan begitu tidak tahu aturan.
Ruozi memejamkan mata, memfokuskan seluruh indra perasanya pada denyut nadi Tianxu. Detik pertama, nadinya terasa sekuat badai, khas seorang kultivator tangguh. Namun di detik ketiga, Ruozi merasakan ada getaran aneh yang terputus-putus, seperti ada jarum tak kasat mata yang menusuk-menusuk aliran darah pria itu. Jam terbang Ruozi di dunia modern dan pengetahuannya tentang toksikologi langsung memberikan alarm merah.
Wajah Ruozi berubah serius. Ia melepaskan tangan Tianxu, lalu menatap pria itu dengan pandangan menyelidik.
"Kamu... sering merasa dada kiri seperti ditusuk belati karatan setiap tengah malam, kan? Terutama pas bulan purnama, atau pas kamu habis maksa mengeluarkan tenaga dalam tingkat tinggi?" tanya Ruozi, nadanya datar tanpa nada bercanda.
Mata elang Long Tianxu seketika melebar. Kilatan syok dan waspada memancar dari matanya. Rahangnya mengeras. "Dari mana kau tahu? Siapa yang mengirimmu?" tuntutnya dengan suara yang sangat rendah dan berbahaya. Rahasia ini adalah kelemahan terbesarnya yang bahkan tidak diketahui oleh Lei Jin maupun tabib kekaisaran paling senior sekalipun.
"Tidak usah menuduhku jadi mata-mata, deh. Nadimu yang teriak-teriak menahan sakit," ketus Ruozi sambil bersedekap. "Itu racun kronis tingkat dewa, Mas Jenderal. Sudah bersarang di tubuhmu bertahun-tahun dan sengaja dicampur sama aliran tenaga dalammu. Setiap kali kamu tanding atau latihan ekstrem, racun itu makin masuk ke jantung. Kalau dibiarkan setengah tahun lagi tanpa diobati dengan benar... ya wassalam, kamu tinggal nama doang di buku sejarah."
Suasana Paviliun Bambu Hitam mendadak menjadi begitu sunyi. Tianxu mengepalkan tangannya di balik jubah. Apa yang dikatakan gadis aneh ini seratus persen akurat. Selama ini ia selalu menahan rasa sakit luar biasa setiap tengah malam sendirian, mengandalkan obat penekan rasa sakit sementara yang justru membuat tubuhnya semakin mengikis.
Melihat kepasrahan dan ketegangan di wajah sang Dewa Perang, otak oportunis Shen Ruozi langsung melihat sebuah celah bisnis yang luar biasa menguntungkan. Sebuah senyuman manis yang di mata Tianxu terlihat seperti senyuman rubah licik terulas di bibir Ruozi.
"Nah, kebetulan banget kan? Kamu punya penyakit mematikan, dan aku punya ilmu buat menghilangkan itu racun sampai akar-akarnya," ujar Ruozi sambil mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya.
Tianxu menyipitkan mata. "Kau bisa menyembuhkannya?"
"Tentu saja bisa! Shen Ruozi dilawan," sahutnya sombong. "Tapi... di dunia ini tidak ada makan siang gratis, Mas Jenderal. Akta ruko ini baru modal awal buat tempatnya doang."
"Apa maumu?" tanya Tianxu langsung pada intinya.
Ruozi menegakkan tubuhnya, menatap Tianxu dengan mata berbinar penuh kelicikan. "Aku mau kamu yang membiayai seluruh modal awal toko obatku. Mulai dari renovasi ruko, pembelian seluruh stok tanaman herbal langka, alat-alat lab kuno, sampai gaji karyawan pertamaku. Pokoknya aku terima beres tinggal buka! Sebagai gantinya, aku jamin racun di tubuhmu bakal bersih total dalam waktu tiga bulan, dan tenaga dalammu bakal pulih dua kali lipat lebih kuat dari sekarang. Bagaimana? Deal?" Ruozi mengacungkan telapak tangannya ke depan.
Long Tianxu menatap telapak tangan kecil gadis itu, lalu beralih ke wajah Ruozi yang penuh rasa percaya diri tanpa ada keraguan sedikit pun. Keberanian dan kemampuan medis gadis ini benar-benar di luar nalar.
Long Tianxu baru saja hendak menarik kembali tangannya, namun Ruozi menahannya lebih lama. Ia membalik telapak tangan besar sang Dewa Perang, lalu mengetukkan jari telunjuknya di atas pergelangan tangan pria itu dengan ketukan berirama. "Ingat ya, karena mulai besok kamu sudah resmi jadi investor utama sekaligus pasien VIP eksklusif, ada aturan tambahan. Selama masa pengobatan tiga bulan ini, kamu dilarang keras mengonsumsi arak, makanan pedas, dan yang paling penting: kurangi pasang muka tripleks begitu. Bikin stres pasien lain yang mau berobat tahu!" cerocos Ruozi tanpa memedulikan tatapan mata elang Tianxu yang semakin menajam karena tidak terbiasa diperintah.
Tianxu hanya bisa menarik napas dalam-dalam untuk menekan rasa dongkol yang mendadak naik ke ubun-ubun. Entah mengapa, setiap kali berhadapan dengan gadis sekurus triplek ini, seluruh wibawa militernya seolah menguap tak berbekas. "Aku akan meminta Lei Jin mengirimkan emas batangan dan menyiapkan segala kebutuhan tokomu besok pagi. Tapi jika dalam tiga bulan racun ini tidak bersih..." Tianxu menggantung kalimatnya sengaja untuk memberi efek intimidasi, namun Ruozi justru membalasnya dengan cengiran lebar tak berdosa.
"Tenang saja, kalau sampai gagal, kamu boleh sita balik ruko tiga lantai itu beserta seluruh isinya," sahut Ruozi meremehkan ancaman sang jenderal besar.
Matanya kembali melirik kain sutra akta tanah di atas meja dengan pandangan penuh cinta. Dalam kamus hidup Shen Ruozi, tidak ada kata gagal jika taruhannya adalah sebuah bisnis apotek raksasa yang akan membuatnya kaya raya tujuh turunan di dunia kuno ini. Celah bisnis dari penyakit mematikan sang Dewa Perang benar-benar menjadi durian runtuh yang tidak boleh dilewatkan.
Sambil bersendekap, Ruozi menatap punggung tegap Long Tianxu yang mulai berbalik untuk meninggalkan teras Paviliun Bambu Hitam. "Oh ya, Mas Jenderal! Jangan lupa sekalian carikan papan nama toko yang paling bagus dari kayu jati pilihan ya! Tulis yang besar: Apotek Ruozi Jaya Medika Cabang Ibu Kota!" teriak Ruozi heboh melambaikan tangan, membuat langkah kaki Tianxu sempat tersandung kecil di halaman sebelum akhirnya melompat menghilang di balik pepohonan bambu.
Kesepakatan terselubung di hari kedua ini resmi ketok palu, dan Ruozi siap mengguncang seluruh kekaisaran dengan ilmu medis modern miliknya.