NovelToon NovelToon
Simpanan Kesayangan Sang CEO

Simpanan Kesayangan Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Dendam konglomerat / Sekretaris
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Elara Chandrakanta

Dua tahun Anala Paramitha menjadi sekretaris pribadi—sekaligus "simpanan"—Damar Hadiwijaya, pewaris paling berbahaya di Jakarta. Semua orang mengira Nala mencintainya. Padahal setiap ciuman di mata pria itu adalah bagian dari dendam.

Dibius dan dilelang di Batam, Nala menikam penculiknya, lalu pulang membawa barang curian Damar dan menyebut harganya: sepuluh miliar. Damar membayar, menghancurkan musuhnya demi dia, lalu menjadikannya miliknya—tanpa nama, tanpa status.

Makin gila Damar mencintainya, makin dekat Nala pada bukti untuk menjatuhkannya. Tapi bagaimana kalau pria yang ingin dia hancurkan bukan pembunuh yang dia cari… dan ternyata yang selama ini jadi pengganti bukan dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 21: Kancing Manset Perak

Dua laki-laki berkemeja hitam berdiri di pintu kedatangan Bandara Hang Nadim, dan Nala mengenali salah satunya.

Laki-laki berkumis tipis itu pernah duduk di atas sepeda motor yang sama tiga kali di spion mobil Pak Ujang. Sekarang dia berdiri dengan tangan terlipat, matanya menyisir setiap penumpang yang keluar dari ban berjalan bagasi.

Nala tidak membawa bagasi. Dia hanya membawa tas punggung kecil.

Dia berbalik sebelum melewati pintu kaca, berjalan kembali ke arah toilet, lalu ke lorong panjang menuju area keberangkatan. Di sana, dia keluar bersama serombongan ibu-ibu pengajian yang baru turun dari bus wisata, berjalan di tengah-tengah mereka sampai ke halte taksi di lantai atas.

Pukul delapan pagi, dia sudah di Nagoya.

***

Toko itu terletak di lantai dua sebuah ruko tua di belakang pasar, di antara toko emas dan agen penukaran uang. Papan namanya sudah pudar. Di etalasenya berjajar sendok perak berukir, kotak sirih, jam saku, cincin-cincin tua yang batunya sudah kusam.

Pemiliknya laki-laki tua berkacamata tebal yang tangannya penuh bekas luka kecil. Dia menatap Nala dari balik etalase ketika Nala menjelaskan apa yang dia inginkan.

"Manset? Sepasang?"

"Saya mau buat sendiri, Pak. Bapak yang ajari."

Laki-laki tua itu tertawa. "Buat sendiri? Ini bukan kerajinan tangan anak SD, Neng. Butuh seharian."

"Saya punya seharian."

Dia membayar di depan, tiga kali lipat dari harga yang disebutkan. Laki-laki tua itu berhenti tertawa.

Lalu sepanjang hari itu, Nala duduk di bangku kayu di belakang etalase dan belajar. Memotong lempengan perak. Membentuknya dengan palu kecil. Mengikir pinggirannya sampai halus. Memasang dudukan untuk sebuah bunga mungil dari platina, lima kelopak, tidak lebih besar dari biji kacang hijau, yang dia pilih dari kotak berisi pernak-pernik tua di laci laki-laki itu.

Kikir itu lebih tajam dari kelihatannya. Ujung jari telunjuknya tergores sekali, lalu dua kali, lalu dia berhenti menghitung. Laki-laki tua itu memberinya plester dan tidak berkata apa-apa.

Sore hari, tinggal satu langkah terakhir. Huruf.

"Mau diukir apa, Neng?"

"H," kata Nala. "Di yang kiri. Dan A di yang kanan."

Laki-laki tua itu menyerahkan alat ukirnya. Nala memegangnya. Tangannya tidak gemetar ketika mengukir huruf A. Tapi ketika dia mulai mengukir huruf H, garis vertikal pertama, dia berhenti di tengah-tengah.

Lama.

Laki-laki tua itu memperhatikannya dari balik kacamatanya.

"Buat suaminya?" tanyanya.

Nala tidak menjawab. Dia menyelesaikan garis itu. Garis kedua. Garis tengah. Huruf H itu sedikit lebih dalam daripada huruf A, seperti tangan yang mengukirnya menekan lebih keras.

***

Pukul sembilan malam, dia keluar dari toko itu dengan kotak beludru kecil di saku jaketnya.

Pasar sudah tutup. Gang di belakang ruko gelap dan sepi, hanya diterangi lampu neon dari sebuah warung kopi di ujung jalan. Ponselnya, yang dia nyalakan lagi setelah turun dari pesawat, sejak sore tidak ada sinyal yang bagus. Dua pesan tidak masuk. Dia sudah mencoba menelepon Damar tiga kali. Tidak tersambung.

Di belakangnya, terdengar langkah kaki.

Dia tidak menoleh. Dia terus berjalan dengan kecepatan yang sama. Langkah itu ikut. Dia berbelok ke gang yang lebih sempit. Langkah itu ikut juga.

Dia berhenti di bawah sebuah tangga besi, berbalik dengan cepat, dan menekan pisau lipatnya ke leher orang di belakangnya.

"Wow. Oke. Oke."

Arka mengangkat kedua tangannya. Dia tersenyum, tapi matanya tidak.

"Kamu," kata Nala.

"Aku."

"Kenapa kamu di sini?"

"Aku ngikutin kamu dari Soekarno-Hatta. Pesawat yang sama, kursi paling belakang. Kamu nggak lihat?" Dia melirik pisau di lehernya. "Boleh diturunin dulu nggak? Aku belum makan malam, rasanya nggak lucu kalau mati sebelum makan."

Nala tidak menurunkannya.

Senyum Arka menghilang.

"Dengar," katanya. Suaranya pelan sekarang, serius. "Jam enam sore tadi, di jalan lintas timur Bintan, ada mobil yang ditabrak truk dan ditembaki dari kebun karet. SUV hitam. Tiga orang di dalamnya."

Pisau di tangan Nala bergeser sedikit.

"Yang dua, katanya, berhasil kabur pakai motor. Satu nggak. Orang-orang Gilang lagi nyisir hutan di pinggir jalan itu sekarang." Arka menatapnya lurus. "Kekasihmu sebentar lagi mati, Nala."

Nala menurunkan pisaunya.

Dia tidak sadar dia melakukannya. Tangannya hanya jatuh begitu saja, dan pisau itu tergantung di sisi tubuhnya. Gang itu terasa lebih gelap daripada sebelumnya.

"Ikut aku saja," kata Arka. "Aku punya mobil di depan. Aku antar kamu ke hotel, besok pagi kamu pulang ke Jakarta. Ini bukan urusanmu. Kamu nggak bisa apa-apa di sana."

Nala menatapnya.

"Damar," katanya pelan, "tidak semudah itu mati."

Dia menyelipkan pisaunya kembali ke sarung. Lalu dia melangkah mendekat ke Arka, seolah dia berubah pikiran, seolah dia akan setuju. Tangannya menyentuh lengan jaket laki-laki itu, turun ke saku samping.

"Terima kasih sudah memberi tahu," katanya.

Dia berbalik dan berjalan cepat ke ujung gang. Di sana, sebuah sedan putih dengan stiker rental di kaca belakang terparkir di bawah lampu jalan.

Arka baru sadar ketika Nala sudah membuka pintu pengemudi.

"Hei! Itu..." Dia meraba sakunya. Kosong. "Nala! Itu mobil sewaan! Atas namaku!"

Nala menyalakan mesin dan melaju pergi. Di spion, dia melihat Arka berdiri di tengah jalan dengan kedua tangan di pinggang. Dia tidak mengejar. Dia hanya menggeleng, dan Nala bisa bersumpah dia sedang tertawa.

Satu utang lagi kepada laki-laki itu, pikirnya. Dia akan membayarnya nanti.

***

Pukul sebelas lewat sepuluh, ponselnya berdering.

Dia sedang menyetir di jalan menuju Telaga Punggur, satu-satunya pelabuhan yang masih punya kapal penyeberangan malam itu. Nama di layar membuat tangannya mencengkeram kemudi.

Damar.

Dia menepi dan mengangkatnya. "Damar? Damar, kamu di mana?"

Suara di seberang hampir tidak terdengar. Ada bunyi angin. Ada bunyi seperti daun-daun bergesekan. Lalu napas yang berat, terputus-putus.

"Anala..."

"Aku di sini. Kamu di mana?"

"Kenapa..." Suaranya pecah. Seperti orang yang bicara dari dalam mimpi. "Kenapa kamu tidak datang menolongku..."

Sambungan terputus.

Nala menatap layar ponselnya. Panggilan berakhir. Dia menekan nomor itu lagi. Tidak aktif. Lagi. Tidak aktif.

Tangannya gemetar. Dia melihatnya sendiri, tangannya yang memegang ponsel, gemetar seperti tangan orang tua. Dia mencoba menghentikannya. Tidak bisa.

Aku hanya tidak mau dia mati sekarang, katanya kepada dirinya sendiri. Aku hanya tidak mau dia mati sebelum aku selesai. Itu saja.

Tangannya masih gemetar.

Dia membuka aplikasi peta. Berbagi lokasi. Nama Damar ada di sana, dengan sebuah titik merah yang berkedip-kedip lemah. Bintan. Di sebelah timur laut pulau, sedikit di luar garis jalan lintas timur, di tengah area hijau yang di peta tidak bernama.

Hutan.

Titik itu tidak bergerak.

***

Kapal RoRo terakhir malam itu berangkat pukul sebelas empat puluh. Nala membayar tiket kendaraan dengan uang tunai dan mengemudikan sedan putih itu masuk ke perut kapal, di antara truk-truk pengangkut sayur dan sepeda motor.

Dia tidak tinggal di dalam mobil. Dia naik ke dek atas.

Angin laut malam itu kencang dan asin. Lampu-lampu Batam semakin jauh di belakang. Di depan, Bintan hanya garis hitam di atas air yang lebih hitam lagi.

Dia berdiri di pagar dek dan menatap ponselnya. Titik merah itu masih di sana. Berkedip. Berkedip. Tidak bergerak.

Di saku jaketnya, kotak beludru kecil itu terasa berat.

Satu jam kemudian, kapal itu menyentuh dermaga Tanjung Uban. Nala sudah duduk di balik kemudi sebelum klakson tanda sandar berbunyi. Di depannya, pintu rampa kapal mulai turun pelan-pelan, menyingkapkan dermaga yang basah dan jalan gelap di baliknya.

Rampa itu menyentuh aspal.

Nala menginjak gas dan melaju ke dalam gelap.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!