Sama sekali tidak terbayangkan dalam hidup Zain harus menikahi perempuan yang sama sekali ia belum kenal sebelumnya. Keadaan yang membuatnya harus melakukan tanggung jawab besar. Tidak ada orang yang ingin terkena musibah. Namun karena sudah takdir, maka semua harus tetap berjalan semestinya.
Dengan berjalannya waktu, takdir pula yang membuka hati Zain untuk mencintai orang yang memang seharusnya ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda RH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keluarga Zain
"Tiyas, kamu baik-baik saja kan?" Tanya Indri.
Tiyas hanya mengangguk. Indri pun membantu Tiyas keluar dari mobil dan dibawa ke dalam rumahnya. Di rumah itu masih ada beberapa tetangga dekat yang bantu-bantu untuk persiapan tahlilan.
"Mas Zain, apa mas masih mau di sini?" Tanya, Pak Jali."
"Em... pak, sepertinya lebih baik saya pulang saja dulu. Tapi saya tidak akan lari dari tanggung jawab saya ini."
Zain mengeluarkan amplop coklat yang berisi uang sekitar 10 juta. Ia menyerahkannya kepada Pak Jali.
"Pak, tolong berikan ini kepada Tiyas. InsyaAllah saya akan kembali nanti saat 7 hari pak Zakir. Biarkan Tiyas memiliki ruang untuk dirinya. Saya tidak ingin membuatnya semakin kalud dengan melihat saya di sini. Saya sangat mengerti perasaannya."
"Mas Zain, mas sudah sangat bertanggung jawab dalam hal ini. Jika pun nanti masalah ini akan dibawa ke tanah hukum, saya yakin mas Zain tidak bersalah."
"Terima kasih, pak."
"Sama-sama, Hati-hati di jalan. Salam sama Abinya, mas."
"Iya, pak. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Zain masuk ke dalam mobil dan langsung tancap gas menuju hotel. Ia sudah menelpon ummi kalau ia akan pulang besok pagi karena hari ini ia lelah.
Pak Jali menyampaikan amanah dari Zain kepada Tiyas. Tiyas terpaksa menerima pemberian dari Zain untuk biaya tahlilan selama 7 hari. Sebenarnya ia punya sedikit tabungan. Namun tentu uangnya itu tidak akan cukup.
"Mas Zain sudah pulang, Tiyas. Mungkin nanti beberapa hari lagi akan ke sini."
"Terima kasih, pak."
"Iya sama-sama."
Pak Jali pamit pulang dan meminta maaf belum bisa ikut tahlilan karena ada sesuatu yang harus diurus.
Keesokan harinya
Zain sudah menyiapkan barang-barangnya lalu pulang ke Surabaya dengan beban pikiran yang belum usai. Namun Zain harus tetap konsentrasi dalam berkendara agar tidak melakukan kesalahan lagi.
Singkat cerita, Zain sudah sampai di rumah. Ummi yang dari tadi menunggunya, langsung keluar saat mengetahui putranya sudah sampai. Zain turun dari mobil dan menurunkan barang-barangnya.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam.... akhirnya kamu sampai juga. "
Zain mencium punggung tangan ummi. Ummi pun memeluk putranya yang sudah dua minggu meninggalkan rumah.
"Ummi kenapa kok seperti mau nangis gini?"
"Nggak pa-pa. Ummi lega lihat kamu baik-baik saja. Berarti firasat ummi salah. Ummi terlalu overthinking."
"Firasat apa, ummi?"
"Nggak tahu, bang. Beberapa hari ini firasatnya nggak enak. Tapi alhamdulillah anak-anak ummi baik-baik saja."
Tiba-tiba Zain teringat pada peristiwa yang menimpa dirinya. Mungkin hal itu yang membuat firasat umminya tidak baik.
"Bang, kok bengong?"
"Eh tidak kok. Ayo kita masuk, ummi."
Mereka pun masuk ke dalam.
Tidak lama kemudian, abi keluar dari kamarnya.
Abi menanyakan progres pembangunan yang dipantau oleh Zain.
"Abi putra kita pasti masih capek. Abi kok malah nanyain masalah kerjaan saja. Nggak di telpon nggak di rumah yang dibahas proyek."
"Hem... ya sudah nggak jadi. Abi mau bahas yang lain saja."
Abi mengedipkan matanya kepada ummi seolah memberi kode.
"Ehem... bang, abi kira kamu betah di sana karena sudah menemukan calon istri."
"Tuh kan, pasti bahasnya itu." Batin Zain.
"Abi, ummi, Zain mau masuk ke kamar dulu."
" Ah iya, kamu istirahat saja dulu bang." Sahut ummi.
Zain membawa kopernya ke dalam kamarnya.
Setelah kepergian Zain, ummi dan abi langsung berdebat.
"Abi... ih, malah bahas cewek. Jadi bad mood kan anaknya."
"Ya, bahas kerjaan salah bahas cewek juga salah. Ummi, anak kita itu sudah cukup dewasa dan sudah waktunya berumah tangga. Abi juga pingin gendong cucu lagi."
"Kan abi tahu sendiri Zain itu gimana. "
"Hem nggak Zain nggak Zean sama saja. Zain jelas introvert susah dekat sama perempuan. Zean ekstrovert tapi nggak pernah mau serius sama perempuan. Pusing abi. Nggak ada yang nurun abi."
"Ummi juga pingin mereka cepat menikah bi. Syukur-syukur langsung punya anak."
"Ya sudah, ummi. Daripada pusing mikirin mereka, mending kita buat anak sendiri."
"Astaghfirullah, abi. Awas ada yang dengar. Udah tua juga!"
Abi terkekeh.
Saat ini Zain sedang berbaring di kamarnya. Tiba-tiba ia ingat ucapan Pak Zakir saat berbicara dengannya beberapa menit sebelum Pak Zakir meninggal dunia. Zain merasa punya tanggung jawab besar terhadap kepergiannya. Apa lagi setelah tahu bahwa mereka sudah tidak ada keluarga. Tyas hanya seorang diri.
"Ya Allah... aku harus bagaimana." Gumamnya.
Malam pun tiba.
Zain keluar dari kamarnya untuk makan malam bersama kedua orang tuanya dan keempat saudaranya serta ipar dan keponakannya.
"Nah ini dia yang kita tunggu-tunggu." Ujar Zean.
"Dek, sini dek duduk di sampingku. Mbak kangen sama kamu." Ujar Alya.
"Sama dek Zean nggak kangen, mbak?" Sahut Zean.
"Nggak, soalnya abang rese'."
"Haha... kapok kamu dem." Sahut Arya.
Zain pun duduk di kursi samping Alya. Biasanya ia duduk di samping Arya.
Ummi sangat senang saat kelima anaknya berkumpul. Apa lagi ada menanti dan cucu-cucunya.
Kebetulan saat ini Arya pulang dari Jakarta dan menginap di rumah orang tuanya.
"Sudah, nanti lagi ngobrolnya, sekarang makan dulu." Ujar abi.
Mereka pun berdo'a sebelum makan.
Zain yang biasanya sangat bersemangat makan kalau umminya masak ayam rica-rica, saat ini terlihat lemas. Ummi dapat melihat perubahan pada putra sulungnya itu.
"Bang, kamu nggak enak badan?"
"Tidak ummi, Zain baik-baik saja kok."
"Tumben kamu ambil ayamnya sedikit, bang. Biasanya nambah terus." Sahut Zean.
"Em... nggak pa-pa, nanti nambah lagi kok."
Setelah selesai makan malam, seperti biasa, dalam keluarga itu selalu menyempatkan diri untuk berkumpul walau hanya 30 menit. Hal itu mereka biasakan agar keharmonisan antara orang tua dan anak serta hubungan anak-anak tetap terjaga meski mereka sudah dewasa. Dan agar nantinya mereka akan membawa kebiasaan tersebut dalam kehidupan rumah tangga mereka.
Hal tersebut berbanding terbalik di dengan keadaan di rumah Tiyas.
Rumah itu nampak sepi setelah orang-orang yang ikut tahlil pulang. Orang-orang yang membantu di dapur pun jga pulang. Tinggal Tiyas, Indri dan ibunya Indri yang juga menemani Tiyas. Mata Tiyas terlihat bengkak karena menangis dari kemarin.
"Tiyas, apa pamanmu belum memberi kabar?"
Tiyas menggelengkan kepala. Ia tidak habis pikir kepada saudara bapaknya itu. Padahal Tiyas sudah menghubunginya berkali-kali, namun tidak ada jawaban. Tiyas juga sudah mengirim pesan, namun juga tidak ada balasan. Mulai saat ini Tiyas tidak ingin berharap lagi.
Tiyas masuk ke kamar sang bapak dan membuka lemarinya. Ia mengambil baju koko bapaknya yang warnanya sudah tidak cerah lagi. Baju itu adalah baju kesayangan bapaknya. Air mata Tiyas kembali menetes.
"Bapak.... hik hik... "
Bersambung....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
maju Zain pantang mundur.. hehehehe
sabar, sabar.... 🤣🤣🤣