Setelah akar spiritual emasnya dirampas secara paksa oleh sepupunya sendiri dan tubuhnya dibuang ke Jurang Abu Api, Lin Xuan—seorang pemuda klan cabang yang sekarat—justru menyatu dengan Tungku Abu Takdir peninggalan zaman purba. Dari abu kehancuran, ia menempuh jalur kultivasi terlarang yang mampu melebur kutukan, meracik pil dari racun mematikan, dan menebas tatanan langit yang korup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Pada siang hari ketiga, ketika Tetua Jian Chen sedang turun gunung untuk membeli persediaan arak tahunannya, sepuluh sosok berjubah hitam bersulam rantai perak melangkah menyeberangi jembatan rantai besi menuju Puncak Kesembilan dengan langkah penuh arogansi.
Mereka adalah Pasukan Penegak Hukum Sekte Luar dari Puncak Ketiga!
Di barisan paling depan, berjalan seorang pemuda berusia sembilan belas tahun dengan tubuh tinggi besar dan sebilah golok berat di pinggangnya. Ia adalah Wang Lie, murid kepercayaan Diakon Lin Cang yang menduduki peringkat ketujuh di Daftar Murid Luar dengan kultivasi Alam Pembukaan Meridian Lapis Delapan!
Di samping Wang Lie, tampak Zhao Feng yang dadanya masih dibalut perban sedang menunjuk ke arah lereng Puncak Kesembilan dengan wajah penuh dendam.
"Kakak Senior Wang, Tetua tua pemabuk di Puncak Kesembilan itu baru saja pergi turun gunung sejam yang lalu!" ujar Zhao Feng penuh semangat. "Diakon Lin Cang berpesan, gunakan surat perintah pemeriksaan barang curian ini sebagai alasan. Begitu Lin Xuan berani melawan sedikit saja, Kakak Senior Wang diizinkan langsung menghancurkan meridian dan Dantian-nya atas tuduhan melawan penegak hukum!"
Wang Lie menyeringai kejam sambil meremas gagang goloknya. "Tenang saja. Seorang bocah baru yang baru tiga hari masuk sekte, meskipun punya sedikit kekuatan fisik aneh saat memukul lonceng, di hadapan kultivator Pembukaan Meridian Lapis Delapan sepertiku tidak akan sanggup bertahan lebih dari tiga jurus!"
Sesampainya di depan gerbang batu Puncak Kesembilan, Wang Lie menendang papan nama kayu bertuliskan Puncak Pedang Patah hingga terbelah dua!
BRAK!
"Murid baru Lin Xuan, cepat keluar dan berlutut untuk menerima pemeriksaan dari Paviliun Penegak Hukum!" teriak Wang Lie dengan suara menggelegar yang menggema di seluruh lereng gunung. "Kami menerima laporan bahwa kau menyembunyikan barang curian milik Klan Lin dan melukai sesama calon murid secara ilegal! Jika dalam tiga hitungan kau tidak keluar dengan tangan terikat, kami akan meratakan gubukmu dengan tanah!"
Dari balik kabut di antara deretan ribuan pedang berkarat, terdengar suara langkah kaki yang tenang.
Lin Xuan melangkah keluar seorang diri. Enam jalur meridian utama di dalam tubuhnya berdenyut halus, sementara tangan kanannya memegang gagang Pedang Abu Hitam.
Tatapan mata Lin Xuan jatuh pada papan nama Puncak Pedang Patah yang hancur di bawah kaki Wang Lie, lalu beralih menatap kesepuluh anggota penegak hukum tersebut dengan sorot mata sedingin es abadi.
"Diakon Lin Cang tampaknya benar-benar sudah bosan hidup," ucap Lin Xuan pelan. "Mengirim sepuluh ekor anjing untuk menghancurkan papan nama puncakku di hari ketiga aku berada di sini."
"Lancang! Berani-beraninya kau menghina Diakon Penegak Hukum!" bentak Wang Lie sambil mencabut golok beratnya yang langsung memancarkan delapan lingkaran Qi kuning kecokelatan yang ganas. "Anak-anak, kepung dia! Patahkan kedua tangan dan kakinya dulu untuk dibawa ke hadapan Tuan Muda Tianhao!"
Sembilan anggota Pasukan Penegak Hukum yang semuanya berada di Alam Pembukaan Meridian Lapis Enam langsung melompat maju sambil melemparkan rantai besi pengikat roh dari berbagai penjuru!
"Menyentuh gerbang Puncak Kesembilan tanpa izin... hukumannya adalah patah tulang!"
CRINGGG!
Lin Xuan mencabut Pedang Abu Hitamnya. Kali ini, selain kekuatan dari Pembukaan Meridian Lapis Enam yang tiga kali lebih padat dari kultivator biasa, secercah Niat Pedang Abu yang baru ia pahami di Kuburan Pedang ikut menyatu ke dalam bilah pedangnya!
"Jurus Ketiga Pedang Abu: Hujan Abu Pemutus Takdir!"
SLASH! SLASH! SLASH!
Langit di depan gerbang Puncak Kesembilan mendadak dipenuhi oleh badai bayangan pedang kelabu yang menderu bagaikan ribuan arwah pedang kuno yang bangkit bersama!
Rantai-rantai besi pengikat roh milik kesembilan anggota penegak hukum itu putus terbelah berkeping-keping di udara! Belum sempat mereka menarik napas kaget, bayangan tubuh Lin Xuan telah menembus tengah-tengah formasi mereka!
Krak! Buk! Aaaargh!
Sembilan jeritan kesakitan meledak secara bersamaan. Dalam satu kali sapuan pedang, seluruh sembilan anggota elit Penegak Hukum Lapis Enam itu terhempas jatuh ke tanah dengan senjata patah dan tulang bahu remuk!
Senyum arogan di wajah Wang Lie dan Zhao Feng langsung membeku menjadi kengerian luar biasa!
"L-Lapis Enam?! Bukankah tiga hari lalu saat di Ngarai Angin Hitam dia baru berada di Lapis Lima?! Dan aura tajam di pedangnya itu... mungkinkah itu Niat Pedang?!" jerit Wang Lie dengan suara tercekat.
Menyadari dirinya berhadapan dengan monster sejati, Wang Lie tidak berani lagi menahan kekuatan. Ia meraung keras dan menebaskan golok beratnya dengan jurus terkuat tingkat tinggi dari Puncak Ketiga:
"Golok Angin Puyuh Penghancur Baja!"
Gelombang angin golok setinggi satu tombak menerjang ganas ke arah dada Lin Xuan.
"Di hadapan Pedang Abu, baja terkeras pun hanyalah debu!"
Lin Xuan melangkah maju satu tindak, dan Pedang Abu Hitam di tangannya menebas lurus membelah pusat angin puyuh tersebut!
"Jurus Keempat Pedang Abu: Nirwana Tanpa Sisa!"
CRAAANGGG — SLASH!
Golok berat milik Wang Lie hancur terbelah dua! Sisa cahaya pedang abu-abu keemasan yang mengandung Niat Pedang tidak berhenti sedikit pun, langsung menebas putus lengan kanan Wang Lie yang memegang golok sekaligus menghempaskan tubuhnya menabrak tebing batu jembatan!
"Aaaarghhh! Tanganku!!" Wang Lie berguling-guling di tanah sambil memegangi bahu kanannya yang bersimbah darah segar.
Sementara Zhao Feng yang berdiri di belakang sudah jatuh terduduk di tanah karena kakinya lemas ketakutan.
Lin Xuan melangkah maju, lalu menancapkan Pedang Abu Hitam tepat di lantai batu di depan wajah Wang Lie, menggoreskan satu garis batas yang dalam di mulut jembatan Puncak Kesembilan.
"Bawa sampah-sampah ini kembali ke Puncak Ketiga dan sampaikan kata-kataku kepada Lin Cang," suara Lin Xuan menggema dingin di atas jurang awan. "Mulai hari ini, garis pedang di jembatan ini adalah batas hidup dan mati. Siapa pun dari Paviliun Penegak Hukum yang berani melangkah melewati garis ini satu inci saja tanpa seizinku... tidak akan pernah turun dari Puncak Kesembilan dalam keadaan bernyawa!"