Sepuluh persen. Itu bagian Elang Nugroho dari warisan keluarganya. Sembilan puluh persen sisanya jatuh ke tangan sang kakak, sementara tunangannya berdiri di sisi orang yang mengkhianatinya.
Elang tidak memohon. Ia pergi, dan memutus ikatan dengan keluarga yang tidak pernah menganggapnya setara.
Namun sarung tangan hitam yang ia kenakan sejak SMA ternyata menyimpan rahasia. Satu sentuhan, satu permintaan, dan apa pun yang ia inginkan bisa menjadi miliknya: kemampuan, benda, bahkan orang. Di balik sistem itu, ada ruang yang menyimpan hal-hal yang tidak pernah ada di dunia manusia.
Dunia mengira ia kehilangan segalanya.
Mereka belum tahu, ia baru saja mulai memintanya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Putih menyambutnya lagi, dingin dan sunyi.
Elang tidak berhenti untuk memandang sekeliling. Ia sudah hafal bentuk lorong itu, dan lorong itu seolah hafal langkahnya. Benda-benda melayang di kiri dan kanan seperti deretan etalase yang menunggu tamu.
Ada yang baru sejak terakhir kali ia ke sini.
Sebuah cincin hitam berukir spiral berputar pelan di atas bantalan cahaya. Satu botol berisi cairan jernih yang tidak mau tenang di dalamnya. Sebuah buku tipis bersampul kulit tanpa judul, dan di sampingnya, selembar peta yang garis-garisnya berpindah sendiri tiap kali ia mengedip.
Ia melewati semuanya dengan pandangan sekilas.
'Aku tidak butuh yang pamer. Aku butuh yang membuat orang tidak bisa menyentuhku.'
Di ujung lorong, hampir di bawah bayangan, sebuah plakat tipis melayang tanpa pendar. Huruf-hurufnya perak, ramping dan tajam, seperti ditulis dengan ujung jarum.
[Refleks dan Insting Dewa.]
[Kemampuan menghindar dalam 0,000001 detik.]
[Kemampuan merasakan niat membunuh dari jarak ribuan meter.]
Elang berhenti.
Ia membaca baris itu sekali, lalu sekali lagi, dan alisnya naik sedikit.
"Satu per sejuta detik." Ia menyebutnya perlahan. "Peluru tadi bahkan terlalu lambat untuk disebut peluru."
Ia teringat laras pistol yang diarahkan ke wajahnya tadi pagi. Jarinya yang menjepit peluru berasap. Zirah perak yang memantulkan hujan logam. Semuanya bisa ia lakukan karena kuat, bukan karena melihat lebih dulu.
Ada satu hal yang tidak bisa ia beli dengan kekuatan: tahu kapan sesuatu datang sebelum benda itu datang.
Dan niat membunuh. Ribuan meter.
Ia membayangkan atap gedung yang jauh, sebuah lensa, sebuah jari di pelatuk. Ia membayangkan Ray, yang tidak pernah menyentuh apa pun sebelum menyuruh orang lain melakukannya lebih dulu. Ia membayangkan Dimas, yang tangannya selalu cukup panjang.
'Mereka tidak akan datang sendiri. Tentu saja.'
Ia mengulurkan telapak tangan kanannya ke depan plakat itu.
"Aku mau ini."
[Permintaan dikabulkan.]
Sensasi itu datang tanpa suara. Bukan panas seperti gulungan bela diri, bukan dingin seperti zirah. Lebih tipis dari keduanya. Seperti seseorang membersihkan kaca di dalam kepalanya yang selama ini ia kira bening.
Dunia di sekelilingnya tiba-tiba terlalu jelas. Ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri dalam tiga lapis berbeda. Ia merasakan arah angin dari tiap pori di kulit lengannya. Udara di lorong putih itu, yang tidak berbau dan tidak bergerak, ternyata berdenyut, sangat pelan, dari suatu tempat yang jauh.
Elang berdiri diam, kedua mata setengah terpejam.
"Jadi begini rasanya," gumamnya. "Orang-orang biasa hidup dalam gelap."
[Host dipindahkan kembali ke dunia.]
...------...
Ruang tamu itu kembali di sekitarnya, televisi masih menyala, dan wajahnya masih tersenyum di layar.
Ia mematikan televisi dengan remote, dan ruangan mendadak sunyi.
Pelayan di sudut hampir tersentak. Ia tidak mendengar Elang bicara, tetapi ia melihat tuannya berdiri di tengah ruangan seperti orang yang baru melepas beban.
"Tuan, makan malam sudah siap," katanya.
"Tidak perlu." Elang melewatinya, naik tangga lengkung. "Aku mau tidur."
Kamar di lantai dua masih sama, besar dan hangat. Ia membuka kancing kemejanya satu per satu, menggantungnya di kursi, dan merebahkan diri di ranjang. Kasur itu tenggelam pelan di bawah punggungnya.
Langit-langit di atasnya tinggi dan putih. Tidak ada noda air membentuk pulau.
Ia menutup mata. Kali ini ia tidur tanpa memikirkan apa pun, dan tidak ada yang mengusiknya.
...------...
Pagi datang dengan cahaya miring di balik tirai.
Elang membuka mata dan langsung tahu ada yang berbeda. Bukan sesuatu yang mengancam. Hanya jernih. Ia mendengar pelayan di lantai bawah menyusun piring, dan dari suara langkahnya ia bisa menebak orang itu baru dua bulan bekerja di rumah ini.
Ia mengangkat tangan kanannya dan menekan sarung tangan.
[Kuota permintaan: 5/5.]
[Tidak ada misi baru.]
Hanya itu.
"Kosong." Ia mengangguk, tidak kecewa. "Berarti hari ini milikku."
Ia mandi, memilih kemeja putih dari lemari, dan menarik sarung tangan hitam sampai pas di pergelangan. Di cermin, bayangannya tampak sama seperti kemarin, tetapi ada kilatan baru di ujung matanya, dingin dan sangat awas.
Pesan Lastri masih terbuka di layar ponselnya. Aku ingin melihatmu langsung.
Elang menatapnya sebentar, lalu memasukkan ponsel ke saku.
"Baiklah," katanya pada bayangannya sendiri. "Aku akan menemui tunanganku."
Ia turun, dan sopir sudah menunggu di bawah.