NovelToon NovelToon
Di Cerai Suami, Di Nikahi Tuan Muda

Di Cerai Suami, Di Nikahi Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:184.1k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Dilara di cerai oleh Kevin karena wanita yang di cintai Kevin kembali.

Setelahnya Dilara melamar menjadi seorang baby sitter, dan di terima pada salah satu keluarga kaya. Dilara memang seorang sarjana, namun dia butuh pergi cepat dari rumah Kevin dan juga butuh tempat tinggal baru. intinya dia ingin lepas dari Kevin dan memulai hidup barunya.

namun, ternyata di rumah itu ada seorang tuan muda bernama Elian yang selalu membuat Dilara kesal dengan sikap dinginnya. lalu apakah pada akhirnya mereka akan saling suka? apa keluarganya akan setuju dengan hubungan mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dilara 4

Siang harinya, sebelum resmi menempati kamar barunya di rumah Bu Melani, Dilara menyempatkan diri bertemu dengan Nisa, sahabat dekatnya sejak bangku kuliah. Mereka berjanji bertemu di sebuah kaf.

Di samping meja mereka, berdiri dua koper besar dan beberapa kardus berisi barang-barang pribadi Dilara yang sempat ia kemasi dengan terburu-buru pagi tadi.

Nisa menatap tumpukan koper itu, lalu beralih menatap Dilara yang sedang menyesap teh hangatnya. Dahi Nisa berkerut bingung.

"Ra, ini maksudnya apa?" tanya Nisa heran, menunjuk barang-barang di sebelah mereka. "Kamu mau liburan? Atau... mau ikut Kevin dinas keluar kota? Kenapa barangmu banyak banget sampai bawa kardus segala?"

Dilara meletakkan cangkirnya dengan perlahan. Ia menatap Nisa dengan senyum tipis yang amat tenang, senyum yang justru membuat perasaan Nisa mendadak tidak enak.

"Sa, aku mau minta tolong," ujar Dilara lembut.

"Boleh aku titip barang-barangku ini di rumahmu untuk sementara? Sampai aku dapat tempat yang benar-benar pas nanti."

Nisa makin mengernyit. "Titip? Kenapa harus titip di rumahku, Ra? Rumah kamu dan Kevin kan luas banget. Kenapa barang-barangmu malah dibawa keluar?"

Dilara menghela napas pendek. Ia merapikan ujung hijab kremnya, lalu menatap lurus mata sahabatnya itu.

"Aku dan Mas Kevin akan bercerai, Sa," ucap Dilara tanpa keraguan sedikit pun dalam suaranya.

Nisa membeku. Cangkir kopi yang hampir diangkatnya terhenti di udara, lalu dijatuhkannya kembali ke atas meja hingga menimbulkan denting nyaring.

"Kamu... kamu bercanda kan, Ra?" suara Nisa meninggi, matanya membelalak tak percaya.

"Bercerai?! Ra, kamu itu mencintai Kevin setengah mati! Satu tahun ini kamu berjuang mati-matian buat bikin dia luluh, dan sekarang kamu bilang mau cerai? Siapa yang minta?!"

"Mas Kevin yang minta tadi malam," jawab Dilara dingin namun jujur.

"Dan aku menyetujuinya."

"Pria itu benar-benar sinting!" Nisa menggebrak meja pelan, wajahnya memerah menahan amarah yang meledak.

"Apa alasannya?! Kurang apa kamu selama ini, Ra? Kamu melayani dia seperti raja, kamu sabar menghadapi dinginnya dia, kamu..."

"Asha kembali, Nisa," potong Dilara pelan.

Kalimat pendek itu seketika membungkam amarah Nisa. Tenggorokan Nisa mendadak menyempit. Ia kenal betul siapa Asha dan bagaimana rumitnya masa lalu Kevin dengan wanita itu.

"Asha... mantan pacarnya?" bisik Nisa ragu.

Dilara mengangguk kecil. "Dua minggu ini Asha rajin mengirimkan foto-foto kebersamaan mereka padaku. Dan tadi malam, Mas Kevin sendiri yang bilang ingin mengurus berkas perceraian kami. Semalam Mas Kevin bercerita kalau alasan Asha meninggalkannya karena dia sakit dan berobat ke luar negri,"

"Alasan basi! Lalu kamu diam saja?!" suara Nisa bergetar, kini dipenuhi rasa prihatin dan iba yang mendalam. "Kamu tidak menamparnya? Kamu tidak memarahi wanita itu? Kenapa kamu malah mengalah dan keluar dari rumah itu begitu saja, Dilara?!"

Dilara tersenyum, sebuah senyuman yang menyembunyikan luka yang amat dalam, namun juga memancarkan ketegaran yang luar biasa.

"Untuk apa aku mempertahankan pria yang hatinya tidak pernah ada untukku, Sa?" bisik Dilara pelan, matanya berkaca-kaca namun tidak ada air mata yang jatuh.

"Satu tahun aku menurunkan harga diriku hanya untuk secuil kasih sayang dari Mas Kevin. Tapi ternyata, tempatku memang bukan di sana. Masa lalunya selalu jadi pemenang."

Nisa meraih jemari Dilara yang dingin di atas meja, meremasnya erat-erat.

"Tapi kamu mau tinggal di mana sekarang, Ra? Kembali ke panti aku yakin kamu gak akan ke sana. Kamu mau kos? Kamu punya uang? Kalau tidak ada, pakai uangku..."

"Aku sudah dapat pekerjaan, Sa," potong Dilara lega. "Pagi tadi aku ikutan wawancara dan langsung diterima jadi babysitter mengasuh balita di perumahan elit dekat sini. Gajinya sangat besar dan aku dapat fasilitas kamar tinggal di sana."

"Jadi babysitter?!" Nisa membelalak, dadanya sesak mendengar keputusan sahabatnya.

"Ra, kamu itu lulusan Sarjana Ekonomi cumlaude! Kenapa harus jadi pengasuh anak?"

"Karena aku butuh kepastian tempat tinggal dan pekerjaan halal detik ini juga, Sa," jawab Dilara mantap.

"Aku ingin berdiri di atas kakiku sendiri tanpa bayang-bayang harta Mas Kevin. Dia menawarkan rumah itu, namun aku tolak. Aku ingin menyembuhkan lukaku dengan caraku."

Nisa menatap Dilara lama. Amarahnya perlahan luluh, berganti dengan rasa kagum dan haru. Ia menggenggam kedua tangan Dilara lebih erat.

"Baiklah..." lirih Nisa dengan mata memerah. "Titipkan barang-barangmu sebanyak apa pun di rumahku, Ra. Pintu rumahku selalu terbuka untukmu kapan saja. Tapi janji padaku... kamu harus bahagia setelah ini. Dan kalau ada apa-apa jangan lupa kabarin, kamu tidak sendirian.."

Dilara mengangguk pelan, menyapu sudut matanya yang sedikit basah. "Terima kasih banyak ya, Sa. Terima kasih sudah mau jadi temanku."

Sore harinya, Dilara kembali ke rumah untuk mengemas sisa barang-barangnya sebelum resmi berpindah ke rumah Bu Melani besok pagi. Namun, begitu langkah kakinya menapak masuk, pendengarannya disambut oleh suara denting alat masak dan aroma tumisan dari arah dapur, disusul suara kekeh feminin yang terasa begitu asing.

Dilara menghentikan langkah di ruang tengah. Di sana, di balik meja bar dapur, tampak Asha bergaun merah tanpa lengan sedang sibuk memotong bahan makanan. Sementara Kevin berdiri beberapa langkah di jauhnya dengan raut wajah yang amat tegang dan serba salah.

"Asha, aku sudah bilang berkali-kali, kamu tidak perlu repot-repot seperti ini. Lebih baik kamu pulang sekarang," ujar Kevin dengan suara tertahan, menolak halus apron yang disodorkan Asha.

"Aduh Kev, kamu ini kenapa sih?" potong Asha manja, mengabaikan penolakan itu.

"Aku kan cuma mau masakin kamu makan malam. Kamu pasti capek, lagipula sebentar lagi kamu kan bakal bebas dari..."

Kalimat Asha terhenti saat manik matanya menangkap sosok Dilara yang berdiri di ruang tengah, Kevin yang menyadari arah tatap Asha ikut menoleh. Seketika, raut wajah pria itu berubah pucat pasi.

"Dilara..." bisik Kevin parau. Ia langsung menjauh dari area dapur, melangkah cepat menghampiri istrinya.

Asha menyilangkan tangan di dada, melemparkan senyum tipis yang sarat akan nada kemenangan.

"Oh, halo Dilara. Maaf ya, aku datang tiba-tiba. Aku cuma kasihan melihat Kevin yang kelihatan lelah, jadi aku inisiatif mau masakin dia. Kamu nggak marah kan?"

Dilara menatap pemandangan itu. Satu tahun ia berjuang di dapur tersebut, mengabaikan rasa lelahnya demi menyajikan makanan hangat untuk suami yang tak pernah menganggapnya ada. Kini, Asha bahkan sudah bertindak seolah dialah pemilik rumah ini.

Namun, tidak ada ledakan emosi di wajah Dilara. Ia hanya menghela napas pendek dan menatap mereka berdua dengan raut datar.

"Tidak apa-apa, Mbak Asha. Silakan dilanjutkan," jawab Dilara pelan. Ia beralih menatap Kevin.

"Mas, aku masuk ke kamar dulu untuk membereskan sisa barang-barangku."

"Dilara, tunggu!" Kevin menahan lengan kemeja Dilara, matanya menyiratkan kepanikan yang luar biasa.

"Ini bukan kemauanku. Aku tidak pernah meminta Asha datang atau memasak di sini. Tolong dengarkan aku..."

"Mas Kevin," potong Dilara halus sembari melepaskan pegangan tangan Kevin dari lengannya.

"Kamu tidak perlu merasa bersalah atau menjelaskan apa pun padaku. Permisi, aku mau ke kamar."

Tanpa menunggu balasan lagi, Dilara melangkah menuju kamar utama, meninggalkan area dapur.

Kevin mengepalkan tangannya rapat-rapat. Rasa malu, bersalah, dan amarah membakar dadanya sekaligus. Ia memutar tubuhnya dan menatap Asha dengan tatapan paling tajam yang pernah wanita itu lihat.

"Pulang, Asha," bentak Kevin dengan suara berat dan penuh penekanan.

Asha terperanjat, matanya membelalak tak percaya. "Kev? Kamu membentakku cuma gara-gara wanita itu? Kalian kan mau cerai!"

"Aku bilang PULANG!" tegas Kevin tanpa kompromi.

"Kita bicara lagi nanti... Tolong, saat ini Dilara masih istriku, makanya aku melarang kamu datang ke sini dulu... Aku pesankan taxi..."

Asha menghentakkan kakinya kesal, menyambar tas mewahnya dari atas meja bar, lalu pergi meninggalkan rumah dengan pintu yang dibanting keras.

Keheningan melingkupi rumah besar itu. Kevin berjalan perlahan menuju depan kamar utama. Pintu kamar terbuka sedikit. Di dalam, ia melihat Dilara sedang melipat sisa pakaiannya satu per satu dengan tenang, memasukkannya ke dalam koper tanpa sedikit pun derai air mata.

Ketenangan Dilara di tengah kehancuran ini justru membuat dada Kevin terasa makin hampa dan sesak, menyadari bahwa ia telah benar-benar kehilangan wanita yang pernah mencintainya tulus.

1
nely_48
sungguh menegangkan baca nya ge ahhh
nely_48
msh kecolongan kneh,,, orgil bebas dr penjara sungguh berbahaya s melly
nely_48
shaka sll yg terasbun 😂😂
nely_48
jangan ² pake Szuitsal baby Cologne
nely_48
robot Wijaya cnah shaka mh ngasih nama buat adik nya 😆😆😆
nely_48
borong semua az dilara
Lia Rahmawati
Alhamdulillah selamat dilara,udah tegang banget😔
Iffanaya 😽
lanjut Thor, bikin deg²an wey pls tu Rani langsung dobrak pintu nya gk usah manggil petugas keamanan kelamaan wey
Rohmi Yatun
haduuhh bikin deg2an aja ni... lanjut thor
nely_48
Selamat ya dilara,, atas kehamilan mya
nely_48
bucin² d rmh,, ai d luaran mh dilara ga ada pengawalan
Ambu Rinddiany Thea
dilara ambu pilihin atu aja baju busui nya 🤭
nely_48: mau nyusuin elian ath 🤭
total 1 replies
Nur Bani
pak andrian itu..twrnyata bpknya eelan..di kira asistenye
Ambu Rinddiany Thea
dilara boleh gantian ga sejenak posisinya sm Ambu gt .. 🤭😩
Ambu Rinddiany Thea: sujud sukur ambu mah lmn s abah ampe ka langsing 🤣🤣🤣
total 2 replies
Lim Kursini
dunia halu emang mudah hamil kembar aku jadi iri pingin punya bayi kembar
Yam_zhie: aku juga pengen punya anak kembar. tapi inget ada bocah di rumah yang bikin emosi tiap hari. othor mengurungkan niat punya anak lagi dan tutup pabrik 🤣
total 1 replies
nely_48
ko bisa d Terima jd asisten sekretaris sih org tdk ber adab n nol etitude kya s mely
nely_48
elian kata nya kau cinta mati pd istri mu,, Knp istri tercinta mu ga ada pengawalan ketat n pengawal bayangan yg melindungi nya saat istri mu sedang tdk bersama mu ❓
mana bukti keposesifan cinta mu elian, mana ❓❓ lihat istri mu d serang, d hina staf bawahan mu loh
gemes pd elian ih😤😤
nely_48
itu peringatan buat mu ya elian n dilara,, sesuaikan standar penampilan org kaya itu hrs elegan n berkelas,,, jgn bilang sederhana. big no ya,,, semurah² nya standar gamis org kaya pst kelihatan elegan mahal biarpun tdk glamor
nely_48
gagal ngadon kn elian,, gmn mau jd baby triplets ath dilara
Ambu Rinddiany Thea
aslina hyg nyered awakna make kuda talian hela beheng na 🤣
Ambu Rinddiany Thea: /Good/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!