Dendam akibat pembantaian keluarganya menjadikan Leo Cristian Theodore (18) seorang pembunuh bayaran berdarah dingin sejak usia sepuluh tahun. Namun, hidupnya berubah drastis saat ia menjalankan misi membasmi sebuah keluarga dan menemukan seorang anak perempuan bernama Vellora Zavendra (5thn) bersembunyi di dalam lemari.
Alih-alih merasa takut saat ditodong pistol, Vellora justru memeluk erat Leo dan memohon untuk dibawa pergi karena sebatang kara. Pelukan polos tersebut meruntuhkan pertahanan sang pembunuh bayaran, membuatnya melihat bayangan dirinya sendiri di masa lalu.
Sejak pertemuan dengan gadis kecil itu kini mengubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rienza27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. MISI
Sinar matahari pagi merayap melalui sela-sela pintu shoji, membangunkan Vellora dari lelapnya. Mengucek mata sambil mengusap sisa air liur di pipi gembilnya, ia terperanjat mendapati tumpukan kardus dan tas belanjaan tertata rapi di dekat tempat tidurnya—barang-barang yang semalam masih berada di ruang tamu.
"Wah, tas sekolah baru!" gumam Vellora berbinar, langsung memeluk tas punggung berwarna cerah itu erat-erat. "Pasti Kak Leo yang membawanya kemari."
"Bukannya anak nakal itu, tapi Kakek yang membelikannya," suara Liam memecah keheningan sembari membuka lebar pintu kamar tatami.
"Emm, terima kasih, Kakek!" Vellora berseru girang, langsung menghambur memeluk pinggang lelaki tua itu.
"Sama-sama, Sayang. Sekolah yang rajin, ya," balas Liam lembut sambil mengelus pucuk kepala sang cucu.
Kegembiraan Vellora mendadak terhenti ketika melihat Leo melangkah melewati koridor dengan balutan pakaian serba hitam yang pekat, aura dingin menguar dari setiap langkahnya.
Liam menyipitkan mata, menatap cucunya penuh curiga. "Mau kemana kamu pagi-pagi begini dengan pakaian seperti itu, Leo?"
"Bukan apa-apa. Hanya urusan kecil," jawab Leo ketus tanpa menoleh.
Mendengar itu, Vellora langsung bangkit dengan muka bantalnya, berlari kecil menyambar ujung jubah Leo. "Kakak mau kemana?" tanyanya dengan mata memelas.
Leo menghela napas berat. Ia berlutut menyetarakan tingginya dengan Vellora, melirik sekilas ke arah Liam yang berdiri mengawasi dengan tatapan tajam. "Bukan apa-apa, Kakak hanya ada urusan sebentar. Kamu di rumah saja sama Kakek, ya."
Bibir Vellora langsung mengerucut sedih. "Tapi aku mau main kolam balon... aku mau mandi bola sama Kak Leo," rengeknya.
Menyadari anak itu mulai rewel, Leo buru-buru mencari alasan. "Ah, anak kecil. Disini tidak ada kolam balon, nanti Kakak belikan dulu, ya."
"Emm... benar?" tanya Vellora, matanya kembali berbinar.
"Tentu saja benar. Tapi Kakak harus pergi dulu untuk membelinya. Sekarang bermainlah dengan Kakek dulu," ujar Leo melancarkan tipu dayanya demi bisa segera pergi.
Liam yang mendengar kebohongan itu mendengkus kesal. Ia sangat tahu, perginya Leo bukan untuk mencari kolam mainan, melainkan memburu bayangan masa lalu yang kelam.
"Dadah, Kakak!" tangan kecil Vellora melambai ceria, tak menyadari bahaya yang sedang dijemput oleh pemuda itu. Sementara Liam hanya bisa menatap punggung Leo dengan debaran cemas yang menghantam dada.
Begitu Leo melesat pergi meninggalkan gerbang, Liam segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi salah satu anak buah kepercayaan cucunya. "Jaga dia baik-baik. Jangan biarkan dia bertindak gegabah sendirian," perintah Liam dingin sebelum menutup sambungan.
Waktu merangkak lambat. Matahari sore perlahan tenggelam, menggantikan langit jingga dengan temaram malam yang dingin, namun bayangan Leo tak kunjung menampakkan diri di halaman rumah.
Vellora duduk seorang diri di pinggir kolam air terjun mini, memeluk erat boneka kelinci pemberian Leo. Matanya menyapu gerbang depan dengan tatapan kosong penuh kekecewaan. "Emm, Timi... di mana Kakak? Apa dia berbohong padaku? Katanya mau belikan kolam balon, tapi dari tadi tidak pulang-pulang..." gumam anak itu lirih, suaranya bergetar menahan tangis.
Liam melangkah mendekat, duduk di samping Vellora lalu merangkul pundak kecil yang gemetar itu. "Kak Leo tidak bohong, Sayang. Mungkin dia sedang membawa kolam balon untukmu, tapi urusannya di luar sana sangat banyak hingga membuatnya terlambat."
"Begitu ya, Kek?" cicit Vellora pelan.
"Oh iya, bukankah besok hari pertamamu sekolah? Kakek akan mengantarmu dengan baju baru," bujuk Liam berusaha mengalihkan kesedihan anak itu.
"Emm! Apa nanti aku punya banyak teman di sana?" tanya Vellora bersemangat, senyum tipis kembali terukir di wajahnya.
"Tentu saja, Vellora akan punya banyak teman."
Malam semakin larut. Usai makan malam, Vellora akhirnya tertidur pulas di atas futon, masih memeluk erat boneka kelincinya di tengah lelap. Liam menatap sendu cucu tirinya itu, hatinya dipagut rasa iba yang mendalam melihat kesetiaan polos sang anak.
"Kemana anak itu... apa dia benar-benar sudah menemukan manusia bertopeng itu?" gumam Liam cemas menatap gelapnya malam.
Jauh dari kediaman Theodore, di tengah lorong pabrik tua yang lembab dan berdarah, Leo berdiri tegak dengan tatapan membunuh. Di hadapannya, jerit kesakitan anak buah sang pria bertopeng elang menggema, menyisakan bau amis darah yang pekat—sebuah pertanda bahwa badai pembalasan dendam akhirnya resmi dimulai.